
Bian sudah menunggu Mutia di depan pintu lift. Saat pintu lift basement terbuka Mutia sangat terkejut ternyata Bian menunggunya di sana.
"Lho Pak kok disini?" tanya Mutia.
"Sengaja mau nungguin kamu" jawab Bian dengan senyuman manisnya.
Mutia menundukkan pandangannya karena malu. Mereka berjalan menuju mobil Bian lalu pergi meninggalkan area kantor.
Bian menghentikan mobilnya di sebuah Restoran romantis, tempat kali ini berbeda dengan tempat saat mereka makan di malam Bian melamar Mutia.
Jantung Mutia berdetak semakin kencang. Dia sungguh tidak menyangka Bian akan melakukan semua ini untuknya.
Bian mengajak Mutia masuk ke ruangan private. Alunan musik sayup - sayup terdengar. Kini mereka sudah duduk di sebuah meja.
Tak lama kemudian pelayan datang menawarkan makanan yang akan mereka pesan untuk makan malam ini. Bian dan Mutia memesan makanan yang mereka inginkan.
Setelah mencatat semua pesanan Bian dan Mutia pelayan pergi meninggalkan mereka berdua. Bian menatap wajah malu - malunya Mutia. Mutia tak berani menatap balik mata Bian. Dia hanya menundukkan pandangannya.
Tak lama seorang pelayanan lain datang membawa hidangan dan memberikannya dihadapan Bian. Lalu Bian mengambilnya dan pelayan kembali pergi.
"Beberapa hari yang lalu mungkin lamaranku terkesan dadakan. Aku akui semua itu memang dadakan. Karena ide itu muncul tiba - tiba. Tapi hari ini aku sangat yakin dan ingin memperbaiki kenangan yang mungkin indah saat kita kenang di masa depan" ucap Bian memulai pembicaraan mereka.
Bian membuka penutup hidangan ternyata di dalamnya ada cincin indah yang di jepit di dalam kotak perhiasan. Bian bangkit dari duduknya lalu berjalan hingga di depan kursi Mutia.
"Mutia Annasya, mau kah kamu manjadi pendamping hidupku? Bersama - sama menjalani hidup ini dengan penuh kehangatan dan kebahagiaan. Aku tidak bisa berjanji apapun karena aku tidak pandai merangkai kata - kata. Yang pasti aku akan menjaga kamu dan menyayangi kamu hingga kelak kita tua" lanjut Bian.
Bian menatap dalam mata Mutia begitu juga Mutia. Mereka mencoba menyelami perasaan masing - masing.
"A.. aku mau Pak" jawab Mutia.
Bian tersenyum manis.
"Aku melamar seorang gadis Mutia, bukan seorang anak - anak yang memanggilku Bapak" protes Bian.
"Ah maaf.. Aku mau Ma.. Mas Bian" ralat Mutia.
Bian memasangkan cincin indah itu di jari manis sebelah kiri Mutia. Air mata bahagia Mutia jatuh perlahan. Dia tidak menyangka Bian akan memperlakukannya semanis ini.
Bian menghapus lembut air mata di pipi Mutia.
"Kamu tau saat membaca pesan kamu malam itu, sepanjang jalan aku tak henti - hentinya berdoa. Semoga kamu tidak apa - apa dan aku tidak terlambat menyelamatkan kamu. Saat itu aku semakin sadar kalau aku memang membutuhkan kamu" ungkap Bian.
"Aku juga merasakan hal yang sama. Saat kejadian itu hanya kamu yang aku ingat. Makanya aku mengirim pesan kepada kamu Mas. Dan didalam hati aku terus berdoa semoga kamu segera datang" sambut Mutia.
"Sudah.. jangan menangis lagi. Semua sudah berhasil kita lewati dengan baik. Semua itu memang rencana Allah untuk menyadarkan kita kalau kita saling membutuhkan dan tak ingin kehilangan. Melihat kamu tadi pagi aku semakin yakin pilihanku tidak salah. Kamu adalah wanita yang baik dan kelak juga akan menjadi istri yang solehah karena mau mendengarkan perkataan suami. Kamu sangat cantik sekali mengenakan jilbab ini" puji Bian.
"Kejadian malam itu semakin menyadarkan aku Mas kalau memang aku sudah salah selama ini dan aku berjanji pada diriku sendiri untuk menutup auratku" balas Mutia.
"Alhamdulillah kita sudah mengambil hikmah dari setiap kejadian dalam hidup kita" ujar Bian.
__ADS_1
Tak lama kemudian pelayan datang dengan membawa makanan yang mereka pesan tadi. Bian dan Mutia kembali ke kursi mereka masing - masing lalu mulai menikmati hidangan makan malam itu.
Tanpa terasa waktu terus berjalan hingga akhirnya mereka tersadar kalau jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
"Kita pulang?" ajak Bian.
"Iya" jawab Mutia.
"Apa kamu mau ke suatu tempat lagi?" tanya Bian.
"Tidak Mas, kita pulang saja" jawab Mutia.
Bian dan Mutia keluar dari Restoran dan berjalan menuju parkiran mobil. Mereka segera berlalu meninggalkan restoran dan menuju arah pulang ke rumah Mutia.
"Kabar gembira ini harus segera kita sampaikan kepada teman - teman. Mereka pasti sangat senang mendengarnya" ujar Bian.
Mutia hanya bisa tersenyum manis.
"Aku akan segera mengabarkan ini kepada keluargaku. Kapan aku bisa menemui keluarga kamu? Aku harap tidak lama lagi. Karena kita sudah sama - sama dewasa, sudah kenal lebih baik disegerakan. Untuk apa berlama - lama lagi" lanjut Bian.
"Iya Mas, aku akan segera menyampaikan kabar ini pada Papa dan Mamaku" sambut Mutia.
Bian berulang kali menatap wajah Mutia sambil tersenyum bahagia. Kali ini dia sangat yakin Mutia lah jodohnya. Selain Mutia baik, Mutia juga sedang dalam tidak terikat hati dengan pria manapun.
Sehingga perasaan Bian lebih lega ketimbang saat dia melamar Aluna. Ada ketakutan dan keegoisan dalam dirinya yang muncul dan ingin memiliki Aluna dengan cara apapun. Kali ini Bian merasa lebih tenang dan nyaman.
"Kenapa sih Mas mandangin aku begitu?" tanya Mutia malu.
Wajah Mutia kembali bersemu merah. Hatinya juga sangat bahagia saat ini, ingin rasanya Mutia berteriak pada semua orang kalau saat ini dia sedang bahagia.
"Besok pagi aku jemput ya, kamu dandan yang cantik. Aku akan jemput kamu lebih cepat dari biasanya" ucap Bian.
"Iya Mas" jawab Mutia.
Akhirnya mereka sampai di rumah Mutia.
"Sudah semakin larut Mut, aku langsung pulang ya. Besok baru aku datang lagi untuk jemput kamu" ujar Bian.
"Iya Mas, hati - hati" balas Mutia.
Bian melanjutkan perjalanan menuju rumahnya. Kini Mutia sudah sampai di rumahnya dan langsung bersorak senang.
"Yeees... akhirnya aku menikah" soraknya penuh bahagia.
Mutia segera memotret jari manisnya dan mengirimkan pesan kepada Aluna dan Gadis.
Mutia
Aku resmi dilamar malam ini.
__ADS_1
Mutia segera bergegas menuju kamarnya, mandi dan berganti pakaian. Setelah itu dia shalat Isya lalu siap - siap istirahat.
Ternyata sudah banyak pesan masuk di ponselnya. Salah satunya dari Bian calon suaminya.
Bian
Aku sudah sampai di rumah. Kamu istirahat ya, besok aku jemput.
Sambil tersenyum bahagia Mutia segera menjawab pesan Bian.
Mutia
Maaf Mas baru balas, aku baru selesai bersih - bersih lanjut shalat. Alhamdulillah kalau Mas sudah sampai di rumah dengan selamat. Besok pagi aku tunggu di rumah ya.
Mutia berbaring sambil bersorak diatas tempat tidur persis seperti orang yang sedang jatuh cinta dan kasmaran. Mutia tidak menyangka Bian yang beberapa tahun lalu dia jodoh - jodohkan dan bantu untuk dekat dengan Aluna kini malah menjadi calon suaminya.
Jodoh memang benar - benar rahasia Allah. Seperti inilah yang terjadi kepada Bian dan Mutia. Walau berliku - liku tapi pada akhirnya mereka akan bertemu juga.
Tring....
Pesan group masuk dari Aluna dan Gadis.
Aluna
Alhamdulillah akhirnya resmi dilamar. Selamat ya Mut 🥰
Gadis
Alhamdulillah, duh pasti senang banget ya Mut. Selama saat 😍
Aluna
Mut... kok hilang? udah tidur ya dan mimpi indah nikah sama Mas Bian.
Gadis
Mutia menghilang Lun.. Woooi Mutia.. kamu dimana?
Aluna
Mungkin dia pingsan sangkin senangnya 😁
Gadis
Bisa jadi hahahah 🤣🤣🤣
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG