
"Assalamu'alaikum" ucap Mama Aluna yang baru saja datang bersama Said.
"Wa'alaikumsalam" jawab Malik, Aluna dan semua yang ada di rumah Aluna.
"Mama" sambut Aluna langsung memeluk Mamanya.
Malik berjalan di belakang Aluna dan mencium tangan mertuanya.
"Kamu baik - baik saja Lik?" tanya Bu Maysaroh.
"Alhamdulillah baik Ma" jawab Malik sopan.
"Kaaak" sapa Dwi.
Bu Maysaroh berpelukan dengan Dwi. Lalu yang lainnya bergantian menjabat tangan Bu Maysaroh.
"Duduk dulu Ma" ujar Aluna.
Gadis dan Mutia berjalan ke dapur hendak membantu Aluna menyiapkan minum mereka semua.
"Lihat Dwi, untung saja Aluna dan Kakak tidak setuju dengan lamaran keluarga Kamal kemarin. Terlebih Said yang waktu itu menentang keras. Kamal ternyata belum bertaubat" ucap Bu Maysaroh langsung to the point kepada Dwi.
"Iya Kak, aku menyesal sekarang. Aku kira Kamal memang sudah benar - benar bertaubat" sambut Dwi.
"Mas Dimas pernah bilang Tante, penyakit seperti Mas Kamal itu sulit sekali sembuh, apalagi dia sudah melakukannya bertahun-tahun sejak kuliah. Makanya kemarin aku tentang dengan keras" potong Said.
Dwi terdiam.
"Apa orang tua Kamal sudah ada hubungi kamu?" tanya Bu Maysaroh.
Renol menggelengkan kepalanya.
"Belum ada Mbak" jawab Renol.
"Semoga Mas Kamal dan pasangannya mendekam lama di penjara" Doa Said.
"Tapi jangan satu penjara Said, bahaya banget" potong Mutia.
"Biarin aja Mbak dirame - ramein sama napi lain, biar mati sekalian" ujar Said geram.
"Huuussst" potong Aluna.
"Sebaiknya Mama makan dulu. Mama baru aja sampai pasti belum makan. Sekalian yuk Om, Tante makan bareng Mama" ajak Aluna.
"Iya, Mama sudah lapar memang. Tadi begitu sampai rumah ini lihat ada Dwi jadi gak sabar pengen bahas Kamal" sambut Bu Maysaroh.
"Ayo Om silahkan" ucap Malik.
__ADS_1
Bu Maysaroh, Dwi, Renol dan Said berjalan menuju dapur. Aluna segera mempersiapkan makan untuk keluarganya.
Sore hatinya teman - teman mereka pamit satu persatu. Kini hanya tinggal Aluna bersama keluarganya. Tiga - tiba Renol mendapatkan panggilan dari Regi Papanya Kamal.
"Eh Mas Regi telepon aku, apa ya kira - kira yang akan dia katakan?" tanya Renol.
"Udah Mas angkat saja. Kalau belum diangkat ya gak tau apa yang ingin dia bicarakan" samber Dwi tak sabar.
Renol langsung mengangkat telepon dari Regi dan menekan tombol speaker.
"Assalamu'alaikum Mas" sapa Renol dengan sopan.
"Wa'alaikumsalam. Nol Mas mau sampaikan kepada kalian dan seluruh keluarga besar. Sebelumnya Mas minta maaf atas apa yang dilakukan putra Mas kepada Malik suaminya Aluna. Harusnya Mas dan istri datang ke rumah Aluna tapi... Mas tidak bisa karena Lila masuk rumah sakit. Dia terkena serangan stroke yang kedua dan sampai hari ini Lila belum sadarkan diri Nol" ungkap Regi dengan suara lemah.
Terdengar sepertinya Renol sangat menyesal dan sedih. Sesekali dia menahan suaranya seperti orang yang sedang menangis.
Sontak semua yang mendengar berita tersebut terdiam sambil saling pandang.
"Oh ya Allah Mbak Lila.. di Rumah Sakit mana Mas Mbak Lila dirawat?" tanya Renol.
"Di Rumah Sakit Umum Kota Nol" jawab Regi.
"Baiklah Mas, jangan pikirkan tentang permintaan maaf dulu. Kami mengerti kok apa yang terjadi dengan keluarga Mas. Yang penting Mas fokus pada kesembuhan Mbak Lila. InsyaAllah kamu akan datang ke sana Mas secepatnya" sambut Renol.
"Sampaikan salam dan maaf kami kepada Aluna dan suaminya ya Nol. Mohon bantuan doa untuk kesembuhan Lila. Kami sangat terpukul sekali atas apa yang dilakukan Kamal. Hiks.. hiks.. kami sudah gagal mendidik anak kami menjadi anak yang soleh" tangis Regi pecah.
"Terimakasih ya Nol. Kalau begitu sudah dulu ya. Assalamu'alaikum" tutup Regi.
"Wa'alaikumsalam" jawab Renol.
Telepon terputus, Renol segera menyimpan ponselnya ke dalam saku bajunya.
"Kasihan juga orang tuanya Kamal. Sebagai seorang orang tua, mereka pasti sangat sedih sekali dan merasa sudah gagal mendidik anaknya" ujar Bu Maysaroh.
"Iya Kak. Dulu serangan stroke yang pertama Mbak Lila berhasil melewatinya dan sembuh karena hanya serangan stroke ringan. Kali ini serangannya lebih dahsyat karena pasti dia terkejut dan shock mendengar kabar tentang Kamal" sambut Dwi.
"Apa Mas Kamal itu gak mikir ya bagaimana malunya orang tuanya melihat dirinya melakukan se* menyimpan dan melawan kodrat seperti itu?" tanya Said.
"Hawa nafs* lebih kuat dari pada rasa malu. Buktinya dia berani melakukan hal itu secara terang - terangan" jawab Malik.
"Kamu benar Lik" sambut Renol.
Bu Maysaroh menarik nafas panjang.
"Ya sudah nanti malam sebaiknya kita jenguk Mbak Lila ke Rumah Sakit. Hari sudah sore, kita harus siap - siap untuk shalat maghrib" ujar Bu Maysaroh.
"Kami pulang dulu ya Kak, Malil, Luna, Said. Nanti kita janjian aja ketemu langsung di Rumah Sakit. Kami berangkat langsung dari rumah" ujar Dwi.
__ADS_1
"Baiklah Tante" sahut Malik.
"Habis Isya kita langsung berangkat ya Wi, ketemu di sana" ujar Bu Maysaroh kembali mengingatkan Dwi.
"Iya Kak, kami pulang ya. Assalamu'alaikum" pamit Dwi.
Dwi dan Renol pulang ke rumah mereka. Sedangkan Aluna, Malik dan lainnya beres - beres rumah lalu siap - siap untuk shalat maghrib.
Usai pulang dari Mesjid setelah shalat Isya, Malik dan Said langsung bersiap mengeluarkan mobil dari garasi dan mengunci pintu.
Aluna dan Mamanya juga sudah siap dari tadi. Mereka segera berangkat menuju Rumah Sakit Umum tempat Lila di rawat.
Mereka bertemu dengan Dwi dan Renol di parkiran Rumah Sakit
"Kata Mas Regi, Mbak Lila di rawat di ruang ICU" ujar Renol.
"Oh ya Allah, kasihannya Mbak Lila" sambut Bu Maysaroh ketika mendengar berita itu.
Mereka semua masuk ke dalam Rumah Sakit lalu berjalan menuju ruangan ICU. Disana mereka melihat Regi sedang duduk sendiri di depan pintu masuk ICU.
Wajahnya sangat lusuh dan kusut sekali. Matanya terlihat sembab, mungkin sudah berulang kali dia menangis. Kasihan memang melihatnya seperti itu. Diusia tua mendapatkan cobaan berat seperti ini.
Harusnya satu - satunya anaknya yang akan membahagiakan mereka dihari tua. Kamal lah yang mengurus dan merawat kedua orang tuanya saat ini. Tapi sayang malah dia yang menjadi beban pikiran orang tuanya hingga sakit seperti ini.
"Mas" ucap Renol menyapa Regi.
Regi langsung menoleh dan menatap semuanya satu persatu. Hingga pada Malik Regi menatap dengan perasaan hancur. Lalu Regi memeluk tubuh Malik.
"Maafkan anak Om. Dia sudah salah jalan. Atas nama keluarga Om memohon maaf yang sebesar - besarnya kepada kamu" ucap Regi sambil menangis.
Malik membalas pelukan Regi, dia merasa kasihan melihat orang tua Kamal jadi serapuh ini. Pasti saat ini pikirannya sangat kacau sekali.
"Om harus kuat saya sudah memaafkannya. Om harus tenang dan fokus pada kesehatan Tante" jawab Malik.
Regi menatap wajah Aluna. Matanya masih basah karena air mata.
"Luna naaaak, maafkan Kamal ya. Setelah menyakiti kamu dulu, kini dia mencoba menyakiti rumah tangga kamu" ujar Regi dengan pernah rasa bersalah.
Aluna juga meneteskan air mata tak kuat melihat mantan mertuanya jadi selemah itu.
"Iya Pa, sudah Luna maafkan. Papa yang kuat ya. Semoga Mama cepat sembuh" sahut Aluna.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1