Kita Yang Berbeda

Kita Yang Berbeda
Pertemuan Dua Keluarga


__ADS_3

Jam setengah delapan malam Malik bersama Ibu dan adiknya Regina tiba di rumah Aluna.


"Selamat malam" ucap Bu Abraham saat masuk ke rumah Aluna.


"Masuk Mbak" sambut Mama Aluna.


Mereka saling berpelukan dengan ramah.


"Silahkan duduk" ujar Mama Aluna.


Ibu Malik langsung duduk di sofa ruang tamu.


"Ini adiknya Malik?" tanya Bu Maysaroh pada Regina.


"Iya Tante, adek bontotnya. Nama saya Regina" jawab Regina.


"Waah cantik" puji Bu Maysaroh.


"Assalamu'alaikum" ucap Malik sambil mencium tangan calon mertuanya dengan hormat.


"Wa'alaikumsalam" jawab Bu Maysaroh.


"Kapan sampai Bu?" tanya Malik.


"Tadi pagi" jawab Bu Maysaroh.


Kini mereka semua duduk di ruang tamu. Aluna datang membawa minuman untuk mereka lalu saling berjabat tangan dengan keluarga Malik.


"Masih capek ya Mbak, sampai siang malamnya udah langsung ke sini lagi" ujar Bu Maysaroh.


"Ah tidak apa Mbak. Kan emang udah direncanakan seperti itu" jawab Bu Abraham.


"Silahkan minum Bu, Gin, Lik" ujar Aluna.


"Makasih Luna" sambut Bu Abraham ramah.


"Said" panggil Bu Maysaroh.


"Ya Ma, tunggu sebentar" jawab Said.


Tak lama Said keluar dari kamarnya.


"Eh maaf saya terlambat tadi lagi ngerjain tugas sedikit" ucap Said sambil menjabat tangan semua keluarga Malik.


"Tidak apa, Said masih kuliah?" tanya Bu Abraham.


"Iya Bu tinggal tahun terakhir" jawab Said.


"Wah sama donk dengan Gina" sambut Bu Maysaroh.


"Iya Mbak Luna pernah cerita tentang adiknya Mas Malik" jawab Said sambil tersenyum hangat kepada Regina.


"Langsung aja yuk kita makan, udah malam" ajak Bu Maysaroh.


"Aduh jadi repot - repot Mbak masaknya. Padahal Mbak kan juga baru nyampe tadi pagi" ujar Bu Abraham.


"Ah tidak apa, demi calon besan" sahut Bu Maysaroh.


Semua tertawa mendengar jawaban Mamanya Aluna. Mereka berjalan menuju dapur dan mulai menyantap masakan yang di hidangkan keluarga Aluna.

__ADS_1


"Kamu yang masak kan?" tanya Malik sambil berbisik kepada Aluna.


"Sok tau kamu" balas Aluna.


"Aku kenal rasa masakan kamu, enak" puji Malik.


"Ehm... " sindir Said.


"Mereka emang suka bisik - bisik Said" potong Regina.


Sontak Malik dan Aluna tersenyum malu - malu. Bu Maysaroh dan Bu Abraham juga ikutan senyum melihat tingkah anak - anak mereka.


"Sepertinya pernikahan mereka harus segera di selenggarakan Mbak" ujar Bu Abraham.


"Iya, gak bisa dilama - lamain lagi" sambut Bu Maysaroh.


"Yah namanya sudah menunggu sembilan tahun Bu" ujar Malik.


"Ada yang udah gak kuat" goda Regina.


"Huus... " potong Bu Abraham.


"Jadi sudah sampai mana persiapan pernikahan kalian?" tanya Bu Maysaroh.


"Alhamdulillah gedung udah dapat Bu, WO nya juga sudah. Besok Ibu dan Ibu saya ukur baju untuk acara nanti. Menyusul keluarga yang lain. Kakak di kampung kemarin kan udah dibagiin bahannya" jawab Malik.


"Cincin sudah, undangan, souvenir juga sudah" sambut Aluna.


"Bulan madunya?" goda Said.


"Sudah" jawab Malik serius.


"Kemana Mas?" tanya Regina.


"Cieee... impian sejak dulu" ujar Regina yang langsung kompak dengan Said menggoda Malik dan Aluna.


Kedua orang tua yang ada di ruangan itu langsung tersenyum bahagia melihat anak - anak mereka bahagia.


"Mudah-mudahan semua lancar ya. Jadi apa lagi yang bisa kami bantu?" tanya Bu Maysaroh.


"Iya benar, masak kami hanya diam saja. Cateringnya gimana?" tanya Bu Abraham.


"Itu sudah diurus oleh WO Bu" jawab Aluna.


"Wah enak ya kalau pesta di Ibukota gak perlu repot seperti di kampung" ujar Bu Abraham.


"Iya benar Mbak" sambut Bu Maysaroh.


"Kami hanya tidak ingin merepotkan keluarga Bu. Nanti semua keluarga tinggal hadir dan mengikuti semua prosesnya" ujar Malik.


"Iya.. tiga minggu lagi" sambut Bu Abraham.


"Nanti kalau kalian sudah menikah mau tinggal dimana?" tanya Bu Maysaroh.


Malik melirik Aluna.


"Sementara tinggal di sini" jawab Aluna.


"Lho kok sementara?" tanya Bu Maysaroh.

__ADS_1


"Aku dan Said berencana mengajak Mama tinggal di sini saat Lula kuliah nanti. Kalau Lula kuliah masak Mama mau tinggal sendiri di kampung. Nanti Mama dan adik- adik tinggal di sini, baru kami pindah ke rumah Malik" jawab Aluna.


"Ibu mau ikut pindah juga bersama kami?" tanya Malik pada Bu Abraham.


"Eh iya Bu, tinggal bareng kami" sambut Aluna.


"Aaah tidak usah, nanti Bapak marah Ibu tinggalin. Lagian di kampung kan Ibu masih punya dua anak dan cucu. Kalau Mbak May kan emang tinggal sendiri. Sebaiknya pindah aja Mbak dari pada kesepian" jawab Bu Abraham.


"Waduh saya juga gak tega tinggalin Papanya Aluna sendirian di kampung" ujar Bu Maysaroh.


"Kan bisa sering - sering pulang Ma. Disana Mama juga mau urusin siapa. Mending ikut kami disini" sambut Aluna.


"Iya Mbak, nanti kalau Malik dan Aluna punya anak Mbak bisa main sama cucu seperti saya" ucap Bu Abraham.


Malik melirik Aluna saat Ibunya bicara tentang cucu. Pipi Aluna langsung memerah karena membayangkan hal yang sangat bahagia itu.


"Masih lama kok waktunya. Masih ada beberapa bulan lagi sebelum Lula tamat. Mama bisa memikirkannya" ucap Said.


"Makanannya enak Mbak" puji Bu Abraham.


"Ini semua masakan Aluna. Saya di larang masak. Katanya biar lebih spesial kalau dia masak untuk kita semua" jawab Bu Maysaroh.


"Oh pantas Mas Malik gak bisa move ooooon" potong Regina.


"Betul" timpa Said kompak.


"Yaaah dengan jujur aku katakan itu salah satunya" jawab Malik.


"Hahaha..." semua kompak tertawa setelah mendengar jawaban Malik.


Dua keluarga tampak sangat bahagia malam ini membicarakan masa depan Malik dan Aluna. Tidak ada lagi selisih pendapat siapa ikut siapa dan siapa yang bertahan.


Kini tidak ada lagi perbedaan di antara mereka. Mereka hampir akan menjadi keluarga sebentar lagi. Selama tau dan mengerti posisi masing-masing dan saling menghargai perbedaan diantara mereka.


Pasti semua akan terasa menyenangkan dan bahagia. Perasaan lega seperti ini yang dulu belum bisa terwujud hingga akhirnya dua tahun kehidupan Aluna menjadi korbannya.


Bukan hanya Aluna, Malik juga mengalami patah hati yang sangat dalam karena ditinggal nikah oleh Aluna. Kini keduanya terlihat begitu bahagia. Senyuman yang terus mengembang di wajah mereka berdua.


Usai makan dua keluarga itu kembali berkumpul di ruang keluarga. Mereka berbincang - bincang santai membicarakan pesta pernikahan Aluna dan Malik.


"Jadi kapan kami datang lagi ke sini?" tanya Bu Maysaroh.


"Seminggu sebelum acara Ma" jawab Aluna.


"Tapi Lula ujian sebentar lagi" ujar Bu Maysaroh.


"Masih dua bulan lagi Ma" sambut Said.


"Baiklah kalau begitu. Mbak kapan datangnya?" tanya Bu Maysaroh pada calon besannya.


"Sama aja deh Mbak, biar Malik lebih tenang. Dia itu suka panikan kalau mengangkut hal penting seperti ini. Nanti saya dan Gina duluan datang. Kakak - Kakak Malik nanti datangnya kalau sudah dekat acara saja" jawab Bu Abraham


"Mudah-mudahan semua lancar ya" doa Bu Maysaroh.


"Aamiin... " sambut semuanya kompak.


Malam itu dua keluarga sudah menyatu menjadi satu. Hanya tinggal hitungan minggu Malik dan Aluna akan menikah.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2