
Aluna dan Gadis pergi berbelanja menemani Mutia membeli semua perlengkapan dia untuk bekerja memakai jilbab.
Mutia membeli beberapa baju kerja yang tertutup. Beberapa gaun muslimah dan jilbab serta aksesoris untuk dia pakai saat memakai jilbab.
Sesampainya di rumah Mutia, Gadis dan Aluna mengajari Mutia cara memakai jilbab yang benar dan praktis.
"Nah gini terakhir Mut, di kasih peniti buat dibawah leher kamu" ujar Aluna.
"Waaaah cantik banget kamu Mut, pasti Mas Bian makin cinta deh sama kamu" puji Gadis.
"Ah kamu ada aja" sahut Mutia.
"Ya tidak apa Mut, lebih cepat Mas Bian mencintai kamu kan lebih bagus. Kamu sendiri gimana? Apa sudah berubah perasaannya?" tanya Aluna.
"Aku.. aku... " jawab Mutia malu.
Mutia teringat kejadian di malam itu. Saat dua pria itu bertanya kepada Bian, siapa dirinya. Dengan lantangnya Bian menjawab kalau dia adalah calon suaminya. Dan Bian mengatakan apa yang kalian lakukan pada calon istriku?
Sejak saat itu perasaan Mutia mulai berubah kepada Bian. Apalagi dengan sangat laki - laki Bian melindungi Mutia. Dia membuka jas kerjanya dan memberikannya kepada Mutia untuk menutupi tubuh Mutia yang terbuka karena pakaiannya dirobek dua pria bejat itu.
Wajah Mutia memerah mengulang kejadian malam itu.
"Cie yang udah mulai sukaaaa" goda Gadis.
"Iiiiih kaliaaaaaaan" jawab Mutia malu.
"Alhamdulillah hati sahabatku sudah semakin terbuka. Dia dapat hidayah untuk menutup aurat sekaligus mendapat jodoh" sambung Aluna.
"Aku malu Lun" ujar Mutia.
"Ya tidak apa, dari pada malu - maluin" sahut Aluna sambil tersenyum manis.
"Pasti besok Mas Bian terkejut melihat penampilan kamu di kantor" ucap Gadis.
Mutia menatap wajahnya di cermin. Kini jilbab sudah terpasang dikepalanya. InsyaAllah besok Mutia akan menjalani hari - hari yang baru dengan menutup auratnya.
Apakah benar kata Gadis? Apa Bian akan terpesona melihat wajahnya seperti ini? Bisakah dirinya menghapus bayang - bayang Aluna di hati Bian?
Selama ini Mutia tau kalau Bian masih menyukai Aluna walau Aluna sudah menikah. Walau memang dia sudah ikhlas Aluna menikah dengan Malik tapi Mutia sadar tidak semudah itu menghapus nama Aluna di hati Bian.
"Apa aku bisa menggantikan kamu Lun di hati Mas Bian?" tanya Mutia.
__ADS_1
"Lho kenapa nggak Mut. Kamu harus percaya diri, berusahalah untuk menarik perhatian Mas Bian. Karena kamu lah wanita yang dia pilih untuk menjadi istrinya. Mas Bian pasti tidak akan sembarangan Mut melamar kamu malam itu. Dia berani berkata seperti itu karena sudah mengenal kamu setidaknya hatinya tidak menolak kamu walau mungkin cinta belum hadir tapi dia sudah membuka hatinya dan siap menyambut cinta baru" nasehat Aluna.
"Tapi aku takut kalau perasaan cintaku lebih besar dari pada dia. Aku takut aku akan tersakiti" ungkap Mutia.
"Dalam cinta tidak ada pertimbangan Mut. Ikhlas saja mencintainya. Kalau dia sudah menjadi suami kamu kelak, kamu memang harus berusaha mencintainya dengan tulus. Dulu saat menikah dengan Mas Kamal aku sudah bertekad untuk melakukan hal itu tapi Mas Kamal tidak memberi aku kesempatan dan membangun benteng diantara kami. Tapi kini aku sangat bersyukur dengan begitu aku merasa tidak mengkhianati Mas Malik. Hatiku masih utuh menjadi miliknya. Apalagi akhirnya dialah jodohku" ungkap Aluna.
Mutia terdiam mendengar perkataan Aluna.
"Ayo Mut, sejak pertama aku kenal kamu aku itu merasa iri lho sama kamu. Kamu itu punya percaya diri yang bagus banget. Jadi dalam hal ini kamu juga harus melakukan hal itu. Yakinkan diri kamu kalau kamu bisa membuat Mas Bian mencintai kamu. Pernikahan kalian nanti kan bukan pernikahan paksa. Kalian memutuskan untuk menikah atas dasar kesadaran penuh, kalian sudah sama - sama dewasa dan memang tidak sedang dalam ikatan hati dengan orang lain. Itu akan mempermudah tumbuhnya cinta di antara kalian" hibur Gadis.
"Kapan kamu akan menjawab lamaran Mas Bian?" tanya Aluna.
"Mas Bian kasih aku waktu satu minggu. Ini sudah jalan lima hari. Tinggal dua hari lagi" jawab Mutia.
"Udah jangan pikir panjang lagi terima aja. Kamu mungkin tidak akan punya kesempatan kedua untuk menemukan pria yang bertanggung jawab seperti Mas Bian" sambut Aluna.
"Betul itu" timpa Gadis.
Mutia menarik nafas panjang.
"Baiklah.. Bismillah.. Ya Allah semoga ini keputusan yang terbaik" ucap Mutia.
Aluna dan Gadis langsung memeluk tubuh Mutia dengan erat.
Esok harinya di kantor.
Mutia berjalan dari basement menuju lift untuk naik ke lantai paling atas tempat dia bekerja. Mutia berdiri tepat di depan pintu lift menunggu pintunya terbuka.
Tiba-tiba datang seorang pria berdiri di belakangnya. Mutia tidak berani melihat siapa orang yang ada di belakangnya karena hari ini dia marubah penampilannya. Ada rasa malu campur grogi sehingga Mutia hanya memilih diam dan menunjukkan wajahnya.
Pintu lift terbuka dan Mutia berjalan masuk ke dalam lift. Mutia membalikkan tubuhnya hendak menekan tombol lantai di dinding lift.
Alangkah terkejutnya dia ternyata orang yang ada di belakangnya adalah Bian. Bian juga tak kalah terkejutnya saat mengenali wanita berjilbab di hadapannya adalah Mutia.
"Mutia" ucap Bian.
"Aaah iya Pak" sambut Mutia dengan wajah merah merona karena malu.
Pintu lift tertutup dan hanya ada mereka berdua saja di dalamnya. Sesaat suasana hening keduanya bingung ingin berkata apa.
"Cantik" ucap Bian.
__ADS_1
Mutia menoleh ke sisi kirinya dan melihat ke wajah Bian.
"Kamu cantik Mut memakai jilbab. Aku hampir tidak mengenali kamu tadi" puji Bian.
Mutia langsung menundukkan wajahnya karena malu.
"Ma.. kasih Pak" jawab Mutia.
Tring...
Lift berhenti dilantai delapan lantai tempat Bian bekerja.
"Aku duluan ya" sapa Bian.
"Iya Pak" jawab Mutia sambil menganggukkan kepalanya.
Bian melangkahkan kakinya keluar dari lift. Mutia menahan nafasnya dan hanya tertunduk malu. Saat pintu lift hendak tertutup tiba - tiba ada tangan yang menghalanginya.
"Apa nanti setelah pulang kerja kita bisa bertemu?" tanya Bian.
Ternyata Bian belum pergi dan Mutia terkejut melihat reaksi Bian seperti itu
"Bi.. bisa Pak" jawab Mutia.
"Oke, selamat bekerja Mut. Semoga hari ini indah seindah wajah kamu hari ini" ucap Bian sambil tersenyum manis.
Pintu lift kembali tertutup. Jantung Mutia berdetak kencang saat Bian mengucapkan kata - kata terakhirnya. Seandainya saja ada cermin di depannya dia pasti bisa melihat dengan jelas kalau wajahnya saat ini pasti merah merona menahan malu.
Tapi bibir Mutia tidak berhenti tersenyum. Kata - kata Bian sukses membuat hatinya berbunga - bunga. Hari itu rasanya Mutia sudah tidak sabar menunggu hingga berakhir jam kerja.
Tinggal beberapa menit sebelum jam kerja usai dan ponsel Mutia bergetar tanda pesan masuk. Mutia langsung membuka isi pesan itu dan membacanya.
Bian
Mobil kamu tinggal saja dikantor, biar aku yang antar kamu pulang. Besok pagi aku akan jemput kamu ke rumah, kita berangkat bareng. Aku tunggu kamu lima menit lagi di mobil ya.
Mutia tersenyum lebar karena hatinya sangat bahagia membaca pesan dari Bian. Dia segera membereskan meja kerjanya lalu meraih ponsel dan tas kerjanya.
Setelah itu Mutia segera bergegas meninggalkan meja kerjanya lalu turun ke lantai basement untuk bertemu dengan Bian, calon suaminya.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG