Kita Yang Berbeda

Kita Yang Berbeda
Usai sudah


__ADS_3

Sore harinya sepulang kerja David sudah menunggu di depan rumah Mutia. Mutia tampak enggan turun dari mobil Bian.


"Mas mending kita pergi aja yuk" ajak Mutia.


Bian menarik nafas panjang.


"Aku sudah janji pada David untuk berikan dia kesempatan deketin kamu dan meyakinkan cintanya pada kamu. Kalau aku berbuat seperti yang kamu mau itu sama saja artinya aku melanggar janjiku padanya. Turunlah dan terima dia bertamu secara baik - baik. Kamu kasih pengertian" ujar Bian.


"Tapi Mas" sahut Mutia khawatir.


"Aku akan menunggu di mobil, tapi aku tidak bisa turun karena itu sama saja dengan aku melanggar janjiku" lanjut Bian.


Mutia menarik nafas panjang.


"Baiklah akan aku coba" sambut Mutia.


Mutia meraih tasnya lalu hendak turun tiba - tiba Bian menahan tangannya.


"Aku akan mendukung apapun yang kamu putuskan. Dan aku akan menunggu di mobil sampai dia pulang. Jangan takut ya" ucap Bian lembut.


Hati Mutia terasa menghangat dengan perhatian Bian seperti ini. Bian memang berbeda dengan David, dia sangat dewasa.


"Iya Mas" jawab Mutia.


Mutia turun dari mobil dan berjalan menuju pagar rumahnya. David langsung menyambut Mutia dengan senyum ramahnya.


"Hai Mut" sapa David.


"Assalamu'alaikum Vid" ucap Mutia.


"Wa.. Wa'alaikumsalam" jawab David kaku.


Mutia membuka pintu pagarnya.


"Mari masuk" ajak Mutia.


"Iya" sambut David.


Mereka masuk ke dalam rumah Mutia. Bian hanya bisa memantau rumah Mutia dari dalam mobilnya.


"Silahkan duduk Vid" ujar Mutia saat mereka sudah berada di dalam rumah Mutia.


David duduk disofa rumah Mutia. Dan Mutia duduk tepat dihadapan David.


"Mas Bian sudah cerita semuanya pada kamu Vid, sebenarnya aku tidak setuju. Kalian berjanji sebagai laki - laki tapi tidak bertanya pada diriku yang ada di dalam janji kalian itu. Vid aku mohon jangan rusak hubungan aku dengan Mas Bian. Keputusan aku sudah bulat, aku akan menikah dengan Mas Bian. Marilah kita berteman saja, huhungan seperti itu lebih cocok untuk kita" bujuk Mutia.


David menatap wajah Mutia dengah tatapan kecewa. Dia menggelengkan kepalanya.


"Mut aku tidak akan menyerah, waktuku masih ada selama satu minggu.


Belum juga terlewati satu hari masak David mau menyerah.

__ADS_1


"Aku minta tolong juga pada kamu tolong kasih aku kesempatan untuk menunjukkan rasa cintaku pada kamu. Cinta itu masih ada Mut, aku tidak mau kehilangan kamu. Aku janji satu minggu ini kamu tanya hati kamu, kalau memang perasaan kamu sudah hilang kepadaku, aku janji untuk mengikhlaskan kamu menikah dengan Mas Bian" tegas David.


"Vid.. terimakasih kalau kamu masih mencintaiku. Tapi maaf aku tidak bisa membalasnya karena sudah terlalu lama kita berpisah. Rasa cintaku juga hilang seiring berjalannya waktu. Sekarang sudah ada Mas Bian yang mengisinya. Dan beberapa hari lagi Mama dan Papaku akan pulang. Keluarga kami akan saling bertemu dan akan membicarakan tentang pernikahan kami" ungkap Mutia.


David menatap wajah Mutia dengan penuh harap.


"Ini masalah pernikahan Vid, dua keluarga sudah saling berhubungan. Tidak mungkin dibatalkan dan aku juga tidak mau. Aku mohon pengertian kamu, kisah kita sudah berakhir. Aku tetap akan menikah dengan Mas Bian" lanjut Mutia mencoba meyakinkan David.


David melihat Mutia kali ini benar - benar bersungguh - sungguh. Dan David sadar kalau peluang untuk dia tidak ada lagi di hati Mutia.


"Jadi sama sekali aku tidak punya peluang lagi Mut?" tanya David lembut.


"Maaf Vid, aku hanya bisa menawarkan posisi teman pada kamu" jawab Mutia.


David menarik nafas panjang.


"Padahal aku masih punya waktu satu minggu Mut, tapi belum sampai satu hari kamu sudah memutuskan harapanku" ujar David kecewa.


"Aku tidak bisa memberikan harapan palsu untuk kamu Vid, itu akan lebih menyakiti hati kamu" sambut Mutia.


David melepaskan nafasnya dengan berat.


"Baiklah Mut, sepertinya aku memang sudah tidak punya harapan lagi. Aku hanya bisa berdoa semoga kamu dan Mas Bian bahagia" ucap David pasrah.


Mutia tersenyum tulus kepada David.


"Doa yang sama aku ucapkan pada kamu, semoga setelah ini kamu mendapatkan jodoh terbaik sesuai dengan keinginan kamu" ungkap Mutia tulus.


"Berteman" pinta David.


"Berteman" jawab Mutia sambil tersenyum.


David berdiri dari hadapan Mutia.


"Kalau begitu aku pamit pulang ya Mut, sampaikan salamku pada Mas Bian" ucap David pamit


"InsyaAllah akan aku sampaikan. Kamu hati - hati ya Vid dan terimakasih kamu sudah mau mengerti keadaanku saat ini" sambut Mutia.


"Maaf kalau beberapa waktu belakangan ini aku sudah banyak mengganggu kami" sahut David.


"Tidak apa, gak masalah kok" balas Mutia.


David melangkah pergi meninggalkan area rumah Mutia. Mutia mengantar David sampai pintu pagar. Setelah itu David masuk mobil dan pergi.


Mutia sempat melirik ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan mobil Bian tapi dia tidak menemukannya. Akhirnya Mutia balik arah dan masuk ke dalam rumah.


Tak lama kemudian mobil Bian berhenti tepat di depan rumah Mutia. Bian turun dari mobil lalu masuk ke dalam area rumah Mutia.


"Mas Bian, tadi kamu kemana?" tanya Mutia.


"Aku pergi sebentar. Gak enak kalau David tau aku memantau pertemuan kalian. Aku kan sudah janji untuk memberikan dia waktu mendekati kamu lagi. Nanti dia kita aku takut banget dia merebut kamu" jawab Bian.

__ADS_1


"Kenyataannya?" tanya Mutia.


"Ya kenyataannya aku emang takut banget" jawab Bian.


Mutia tersenyum bahagia mendengar jawaban Bian.


"Tapi aku percaya kok kamu pasti akan tetap memilih aku" sambung Bian.


"Percaya diri banget ya" sambut Mutia.


"Harus itu" tegas Bian.


Bian dan Mutia masuk ke dalam rumah.


"Kok cepat banget David pulangnya?" tanya Bian penasaran.


"Ya mau gimana lagi Mas, semua sudah selesai" jawab Mutia.


"Selesai bagaimana?" tanya Bian bingung.


"Ya selesai Mas, semua sudah berakhir" tegas Mutia.


"Koo cepat banget, apa yang kamu lakukan?" tanya Bian semakin penasaran.


"Aku hanya meyakinkan David kalau tidak ada tempat lagi untuk dia di hatiku" jawab Mutia.


"Dia bisa terima?" tanya Bian lagi.


"Bisa Mas, alhamdulillah dia mengerti dan mau menerimanya dengan baik. Tidak ada paksaan apalagi kekerasan" ungkap Mutia.


"Syukurlah kalau begitu aku jadi lebih tenang. Aku kira akan sulit meyakinkannya makanya aku kasih waktu satu minggu. Tapi ternyata tidak sampai satu jam dia sudah pulang. Padahal tadi siang dia ngotot banget untuk memperjuangkan cintanya" ujar Bian.


Mutia tersenyum sambil menatap Bian.


"Lebih baik aku jujur Mas dari pada aku membohongi David dan memberikan harapan palsu. Dengan begitu David bisa memutuskan sikapnya" ungkap Mutia.


"Yah itu memang cara terbaik hanya saja diawal aku takut David tidak bisa n menerimanya" sambung Bian.


Bian menarik nafas panjang.


"Syukurlah semua bisa selesai dengan baik" lanjut Bian.


"Iya Mas, Alhamdulillah banget. Sekarang kita sudah bisa fokus merencanakan pertemuan keluarga kita. Minggu depan Papa dan Mamaku akan pulang" ujar Mutia.


"Keluargaku juga sudah tidak sabar berkenalan dengan orang tua kamu" sambut Bian.


Bian dan Mutia menatap dengan penuh arti dan tentu saja mereka bahagia.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2