Kita Yang Berbeda

Kita Yang Berbeda
Berhasil


__ADS_3

Pagi ini keluarga Aluna semua datang ke Rumah Sakit untuk menemani Regi menunggu Lila di depan ruang operasi.


Aluna dan Malik sengaja permisi setengah hari ini. Setelah operasi selesai mereka akan kembali ke kantor.


Bagaimana pun hubungan keluarga Kamal dengan keluarga Aluna masih tetap baik. Bukan keluarganya yang salah tapi Kamal sendirilah yang salah.


Lila dan Regi tetap menganggap Aluna sebagai anak mereka sendiri. Mereka sangat menyayangi Aluna dan Malik menghormati hal itu.


Pagi - pagi setelah sarapan pagi, Aluna, Malik, Bu Maysaroh berangkat ke Rumah Sakit usai sarapan pagi. Said tidak bisa libur karena dia sedang ujian.


Di rumah Sakit Dwi dan Renol sudah sampai duluan dan sedang menemani Regi duduk di ruang tunggu operasi.


"Assalamu'alaikum, sudah dimulai Pa?" tanya Aluna sambil mencium tangan mantan mertuanya.


"Wa'alaikumsalam.Sudah Nak, duduklah di sini di dekat Papa. Mari kita doakan semoga operasi Mama berhasil" jawab Regi.


"Maaf Pak kami telat" ucap Malik bergantian mencium tangan Pak Regi.


"Tidak apa Nak" sahut Regi.


"Mas ini ada kami bawain sarapan untuk Mas. Pasti Mas belum sarapan kan?" ujar Bu Maysaroh.


"Iya Dek belum, keadaan seperti ini rasanya gak selera makan" jawab Pak Regi.


"Tapi harus tetap makan Mas, nanti Mas Regi sakit" sambut Renol.


"Iya Mas makan lah dulu walau hanya sedikit" desak Dwi.


Akhirnya Regi memakan makanan yang dibawa oleh Aluna.


"Ini pasti masakan kamu kan Nak, masakan kamu memang enak sekali. Beruntung Malik mendapatkan kamu" ucap Regi dengan tatapan sendu.


Aluna hanya tersenyum tipis mendengar pujian dari Regi. Untuk mengusir kebosanan mereka akhirnya mereka ngobrol - ngobrol sambil melewati waktu.


"Berapa lama kata dokter waktu operasinya Mas?" tanya Maysaroh.


"Dua jam dek May" jawab Regi.


"Bagaimana keadaan di kantor polisi kemarin. Bapak kan lebih dulu pulang?" tanya Regi kepada Malik.


"Polisi bertanya kronologis ceritanya Pak, hingga akhirnya Mas Kamal mengaku kalau dia memang berencana untuk menjebak ku bersama Gerry" jawab Malik.


"Anak itu sudah terlalu jauh salah jalan. Aku tidak yakin dia bisa berubah" ungkap Pak Regi.


"Tapi sepertinya kali ini dia benar - benar terpukul Mas. Selain dia masuk penjara Mbak Lila juga sakit karena dia" sambut Renol.


Regi menarik nafas berat.


"Semoga saja apa yang kamu katakan ini benar. Aku juga tak henti - hentinya berdoa. Semoga dia bisa kembali ke fitrahnya sebagai seorang laki - laki tulen" sahut Regi.


"Aamiin... " sahut Malik dan Aluna.


Wajah Regi tampak sangat kusut dan lelah. Beban pikirannya saat ini juga sangat berat.


"Papa yang kuat ya demi Mama dan Mas Kamal" hibur Aluna.

__ADS_1


Regi tersenyum tipis menatap Aluna.


"Harus Lun, insyaallah Papa akan kuat" jawab Regi.


Tak terasa dua jam sudah berlalu. Lampu di ruang operasi sudah mati. Itu artinya operasi sudah selesai.


"Operasinya sudah selesai" ucap Dwi.


Semua tampak tegang menunggu Dokter keluar dari ruangan tersebut. Dan apa yang mereka tunggu - tunggu akhirnya berlalu juga.


Dokter beserta beberapa perawat keluar dari ruangan tersebut. Regi dan yang lainnya segera berdiri. Tampak Dimas anak dari Renol dan Dwi ikut dalam tim Dokter yang mengoperasi Lila.


Dimas tersenyum lega kepada semua keluarga yang sudah sabar menunggu operasi Lila.


"Gimana operasi istri saya Dok?" tanya Regi kepada Dokter yang merupakan ketua tim operasi Lila.


"Alhamdulillah operasi Bu Lila berhasil Pak. Tapi kita masih menunggu pasien hingga sadar. Beruntung pembuluh darah yang pecah dan cairan di kepalanya bisa segera kita hentikan. Mudah - mudahan beliau bisa sembuh seperti sedia kala dan Bu Lila butuh dukungan dari seluruh keluarganya " jawab Dokter.


"Alhamdulillah" sambut keluarga dengan lega.


"Kalau begitu kami pamit dulu" ujar Dokter si ketua tim.


"Terimakasih Dokter" jawab Regi.


Dokter dan anggota timnya segera pergi meninggalkan ruang operasi.


"Dim titip Tante ya, tolong kamu perhatikan" pinta Regi kepada Dimas.


"InsyaAllah Om" jawab Dimas.


"Yank operasinya udah selesai, kita ke kantor yuk" ajak Malik.


"Iya Mas" jawab Aluna.


Aluna melirik Mamanya.


"Mama beneran masih mau di sini? Gak mau kami antar?" tanya Aluna.


"Iya Mama di sini aja Lun. Nanti Mama pulang bareng Tante Dwi aja" jawab Bu Maysaroh.


"Iya Lun, biar nanti Tante yang antar Mama kamu pulang" sambut Dwi.


"Baiklah kalau begitu, titip Mama ya Tan. Kami pergi dulu. Yuk semua" ujar Aluna.


Aluna dan Malik berpamitan dengan yang lainnya lalu pergi meninggalkan Rumah Sakit dan berangkat menuju kantor mereka.


Satu masalah penting akhirnya bisa selesai dengan baik hari ini. Perasaan syukur dan lega dengan hasilnya membuat Aluna tenang.


Bagaimanapun Lila pernah menjadi keluarga dan sangat menyayanginya. Lila dan Regi adalah orang baik, nasib mereka yang kurang baik. Punya anak tunggal tapi salah jalan dan tersesat.


Aluna dan Malik sudah sampai di kantor dan mereka mulai bekerja seperti biasa.


"Gimana Lun operasi mantan mertua kamu?" tanya Gadis.


"Alhamdulillah berhasil kata dokter. Tinggal menunggu berapa lama Mama Lila sadar" jawab Aluna bahagia.

__ADS_1


"Syukurlah" sambut Gadis.


Siang harinya Aluna dan Gadis pergi ke kantin untuk makan siang. Hari ini Aluna tidak bawa bekal karena tadi pagi mereka buru - buru mau pergi ke Rumah Sakit. Aluna dan Malik sepakat untuk makan siang masing-masing di kantor mereka.


"Dis aku pengen banget makan soto" ujar Aluna.


"Ya sudah Lun pesan aja apa yang kamu mau. Terkadang kan bosan juga ya makan hasil masakan sendiri" sambut Gadis.


"Ah kamu tau aja" balas Aluna.


"Jadi Mas Malik makan apa Lun hari ini?" tanya Gadis.


"Dia makan diluar, katanya dia lagi ada urusan diluar sama Pak Sofyan" jawab Aluna.


"Oo" sahut Gadis.


"Aku pesan jus jeruk juga ah, pengen yang asem - asem" gumam Aluna.


Gadis dan Aluna memesan makan siang mereka. Setelah itu mereka shalat dzuhur di Mesjid bawah baru mereka kembali ke ruangan kerja mereka.


Begitu sampai di atas tiba - tiba Aluna duduk di depan meja kerjanya. Wajahnya pucat dan keringat dingin terlihat jelas di wajahnya. Gadis merasa heran dengan apa yang terjadi pada sahabatnya itu.


"Kamu kenapa Lun?" tanya Gadis.


"Sepertinya aku salah makan ini. Pencernaanku kok gak enak ya" jawab Aluna.


Aluna setengah berlari menuju kamar mandi.


"Ueeek... ueeeeek... " Aluna mengeluarkan semua isi perutnya.


Semua makanan yang baru saja dia makan habis sudah tak bersisa di dalam perutnya.


"Ya Allah Lun... kamu kenapa?" tanya Gadis terkejut.


"Sepertinya aku masuk angin Dis dan sakit lambungku kumat. Belakang ini setelah kejadian Mas Malik makanku tidak teratur. Tidurku juga, mungkin itu penyebabnya" jawab Aluna.


"Ya sudah kalau gak enak badan istirahat aja dulu Lun" sambut Gadis.


"Iya Dis, aku rebahan sebentar ya, lemas banget" ujar Aluna.


Aluna rebahan di atas sofa yang ada di dalam ruangan kerja mereka. Badannya saat ini benar - benar tidak enak. Dan perlahan Aluna malah tertidur karena rasa kantuk tiba - tiba datang menghampiri.


"Lho Aluna kenapa Dis? Gak biasanya dia begitu?" tanya Pak Baskoro yang ketepatan masuk ke dalam ruangan mereka.


"Lagi gak enak badan Pak. Tadi habis muntah - muntah, masuk angin katanya" jawab Gadis.


Pak Baskoro tersenyum penuh arti.


"Nanti kalau dia bangun suruh pulang aja istirahat di rumah. Sekalian pesankan sama dia sebelum pulang ke rumah singgah ke apotek beli alat tes kehamilan. Mungkin akan ada kabar gembira" ujar Pak Baskoro.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2