Kita Yang Berbeda

Kita Yang Berbeda
Rahasia Hampir Terbongkar


__ADS_3

Mendekati hari H, Aluna dan Malik mengajak teman - temannya berkumpul untuk membicarakan tentang bridesmaid dan groomsmen.


"Lun, Melisa dan Farah datang kan?" tanya Randi khawatir.


"Datang donk, tapi kok tumben kamu tanya aku. Bukannya kamu lagi dekat dengan Meli?" tanya Aluna.


"Kata Meli dia gak bisa datang karena ada acara kantor. Apa iya begitu adanya?" tanya Randi penasaran.


"Nggak, dia cuma mau ngeprank kamu aja" jawab Aluna.


"Lamar donk" goda Gadis.


"Rencananya sih begitu" jawab Randi.


"Oh ya??" tanya Mutia.


"Aduh aku jadi keceplosan" Randi segera menutup mulutnya.


"Randi punya rencana nanti mau minta buket bunga pengantin buat lamar Melisa di acara perbinahan kamu Lun" potong Budi.


"Wah bagus tuh idenya" sambut Malik.


"Iya, dapat ide dari mana kamu?" tanya Bian.


"Dari sosial media donk Pak" jawab Randi.


"Jadi kalau Farah dan Melisa datang jadi bridesmaid dan groonsmennya ada empat pasang donk?" tanya Mutia.


"Iya, kamu nanti pasangan sama Mas Bian. Gadis sama Budi, Farah sama suaminya dan Randi sama Melisa. Pas kan?" tanya Aluna.


Mutia melirik Bian.


"Okey, Bapak gak keberatan kan?" tanya Farah.


"Karena kamu kurus ya ringanlah" sambut Bian.


"Apaan sih, emangnya mau main gendong" balas Mutia.


"Terus kalian mau berangkat honeymoonnya kapan?" tanya Randi.


Aluna melirik Malik.


"Sore setelah acara selesai kami langsung berangkat menuju bandara" jawab Malik.


"Waaah langsung buka segel dia" potong Randi.


Sontak Budi menginjak kaki Randi.


"Eh maksudnya unboxing" ralat Randi.


"Kamu itu pikirannya udah travelling kemana - mana" protes Mutia.


"Gak kemana - mana kok Mut, cuma di atas ranjang aja" jawab Randi.


"Iya tapi hampir aja ke bablasan" bisik Budi.


"Sorry aku gak sadar" balas Randi.


Mutia, Randi dan Budi tau kalau Aluna masih suci. Hanya Bian yang tidak tau diantara Geng Lima Jones. Tapi Mutia sudah cerita kepada Gadis.


Aluna juga meminta semua untuk merahasiakannya kepada Malik. Biarlah hal itu menjadi kejutan untuk Malik di malam pertama mereka.


Kini pernikahan Aluna dan Malik hanya tinggal hitung hari. Malik dan Aluna semakin sibuk mengurus pernikahan mereka.

__ADS_1


"Lik, aku izin ya undang Mas Kamal dan keluarganya" ujar Aluna.


"Ya silahkan saja, mereka kan pernah jadi orang terdekat kamu" sambut Malik.


"Aku hanya ingin tetap menjaga tali silaturahmi" sahut Aluna.


"Aku juga undang Alin" ucap Malik.


"Alin? Teman kamu dulu itu?" tanya Aluna.


"Iya" jawab Malik.


"Apa kabar dia? Sudah menikah? Dulu aku kira kamu akan pacaran sama Alin. Soalnya aku lihat Alin suka sama kamu" ucap Aluna.


"Alin sehat, dia sudah bersih dari penyakitnya. Saat kamu menikah aku masuk Islam. Sejak saat itu aku sengaja menjaga jarak pada Alin karena aku tidak mau kembali seperti dulu" ungkap Malik.


"Ooo" ujar Aluna.


"Disamping itu aku juga emang tidak bisa melupakan kamu" sambung Malik.


"Oh ya tadi kenapa Randi bilang aku mau buka segel?" tanya Malik penasaran.


"Biasalah si Randi, bocor keliling. Kamu kayak gak kenal Randi saja. Segel janda maksud dia" jawab Aluna menjawab dengan bingung.


Huh.. gara-gara Randi ni hampir ketahuan. Aku kan mau buat kejutan untuk Malik. Batin Aluna.


"Oh kirain" sambut Malik.


"Kirain apa?" tanya Aluna.


"Ah nggak. Pulang yuk, Mama sudah menunggu di rumah" ajak Malik.


Mendekati hari pernikahan Malik semakin sering berinteraksi dengan keluarga Aluna begitu juga dengan Aluna.


Kini Malik sudah memanggil Bu Maysaroh dengan sebutan Mama karena sebentar lagi memang Malik akan menjadi anaknya Bu Maysaroh.


"Kamu istirahat yang cukup ya Al, jangan terlalu capek. Aku gak mau pengantin aku sakit" pinta Malik.


"Iya" jawab Aluna.


Hal inilah yang tidak bisa membuat Aluna move on dari Malik. Perhatian Malik yang luar biasa, menjaga dan menyayangi Aluna dengan setulus hati.


Tiga tahun waktu yang Aluna ingin buang di dalam hidupnya kini perlahan sudah mulai terlupakan. Setiap moment kebersamaan dengan Malik perlahan sudah menyembuhkan luka Aluna.


Sebenarnya bukan hanya Aluna yang terluka, Malik juga tersiksa karena perpisahan itu. Kini keduanya sudah hampir mendekati gerbang kebahagiaan.


Malik dan Aluna sampai di rumah Aluna.


"Naaah ini dia calon pengantinnya sudah datang" ucap salah seorang keluarga Aluna.


Aluna dan Malik mencium tangan wanita itu dengan penuh hormat.


"Tante" sambut Aluna.


"Ih cakep gini kok, gak kalah sama yang lama. Heran lihat Dwi kok maksa banget pengen nyambung. Benang yang sudah putus lebih baik dibiarkan saja putus. Mending cari benang baru yang lebih kuat dan kokoh, ngapain juga menatap masa lalu" ujar wanita itu.


Aluna tersenyum tipis sambil melirik Malik. Aluna selalu sungkan setiap kali keluarganya membicarakan masa lalunya. Apalagi kali ini ada Malik disini.


Tapi Malik sudah siap dengan semua resiko itu. Menikahi Aluna artinya menerima semua masa lalu Aluna.


"Ibu kamu sudah datang Nak?" tanya Maysaroh.


"Sudah Bu, Ibu titip salam. Maaf gak bisa ke sini karena di rumah keluarga juga sudah banyak yang berdatangan" jawab Malik sopan.

__ADS_1


"Tidak apa, Mama mengerti kok" sambut Bu Maysaroh.


"Luna sudah tinggal menghitung hari, apa kamu sudah cerita sama Malik tentang diri kamu yang sebenarnya?" tanya Bu Maysaroh.


"Ce.. cerita apa Ma?" tanya Aluna terkejut


Jantungnya berdetak kencang, takut kalau Mamanya akan bicara tenang kisah pernikahannya dulu kepada Malik.


"Gak ada salahnya terbuka tentang pernikahan kamu dulu agar Malik lebih lega" ujar Bu Maysaroh.


"Malik sudah tau semua kok Ma, ya kan Lik?" ujar Aluna sambil memberi kode kepada Malik untuk berkata iya.


"Iya Ma, aku sudah menerima semuanya kok. Mama jangan khawatir" sambut Malik.


"Ya terima donk, wong Aluna masih su.. " potong Dwi yang datang dari arah belakang.


"Tante kapan datangnya" samber Aluna langsung.


Aluna langsung berdiri dan menyambut kedatangan Dwi lalu mencium tangan Dwi dengan hormat sambil berbisik.


"Tante jangan bicarakan hal itu. Malik belum tau hal itu" ujar Aluna.


"Ooo maaf.. maaf.. " jawab Dwi langsung mengerti.


Malik juga berdiri dan mencium tangan Dwi dengan santun.


Huuuuft... hari ini kok dua kali hampir ketahuan. Untung Malik tidak curiga. Batin Aluna.


"Sudah malam Al, aku pulang ya. Ma, Tante semua Malik pamit" ucap Malik.


"Iya Lik hati - hati, jaga stamina menjelang pernikahan" sambut Tante Aluna yang lainnya.


Aluna mengantar Malik hingga sampai ke mobilnya.


"Udah belajar belum?" tanya Malik.


Aluna menatap heran ke arah Malik.


"Belajar apa?" tanya Aluna penasaran.


"Panggil Mas. Lihat tadi di depan keluarga kamu, mana ada calon pengantin saling menyebut nama. Gak ada mesra - mesranya" protes Malik.


Aluna tersenyum penuh arti.


"Gak sabar banget, nanti juga aku akan panggil Mas. Tunggu aja tanggal mainnya" jawab Aluna.


Malik menarik nafas panjang dan pasrah.


"Iya deh, aku akan sangat menantikan saat itu tiba" sambut Malik.


Aluna tertawa kecil melihat wajah pasrah Malik.


"Hati - hati ya calon suamiku Maliiiik" ucap Aluna.


"Yaaah diperjelas lagi, gak sopan sama calon suami" ujar Malik.


"Hahaha" tawa Aluna pecah.


"Aku pulang calon istri, ingat istirahat yang cukup jangan terlalu capek" pesan Malik.


"Oke Bos" sahut Aluna patuh.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2