Kita Yang Berbeda

Kita Yang Berbeda
Ungkapan Hati


__ADS_3

"Mut aku ingin bicara dengan kamu" ucap David yang sengaja datang ke rumah Mutia.


Sudah seminggu David mencari cara untuk bicara dengan Mutia tapi Mutia selalu pergi dan pulang kantor diantar calon suaminya.


David mencoba berulang kali menghubungi Mutia dan mengirim pesan. Tapi Mutia tidak pernah menerima telepon dan membalas pesan David.


Malam ini David nekat menunggu Mutia di dalam mobilnya yang parkir tak jauh dari rumah Mutia. Begitu Bian mengantar Mutia sampai ke rumah dan Bian langsung pulang, David langsung keluar dari mobilnya dan menghampiri Mutia.


Mutia menghentikan langkahnya lalu melirik kearah suara. Saat berhenti di depan rumahnya tadi sebelum turun dari mobil Bian Mutia sudah melihat mobil David parkir.


Sudah beberapa hari ini Mutia melihat mobil David bulak balik lewat depan rumahnya dan kali ini berhenti tak jauh dari rumahnya.


Hanya saja tadi dia tidak mau membuat Bian khawatir jadi Mutia diam saja dan tidak bercerita kepada Bian kalau David ada di depan rumahnya.


"Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi David. Setatus kita sudah sangat jelas, kita tidak punya hubungan apapun. Semua sudah selesai satu tahun yang lalu" tolak Mutia dengan tegas.


"Tapi Mut semua kan masih bisa kita bicarakan. Kita bisa membuat kesepakatan untuk memulainya kembali" sambut David.


"Maaf aku tidak bisa membuat kesepakatan dengan kamu. Aku tidak bisa dan tidak ingin melakukan apapun untuk melanjutkan ataupun mengulang masa lalu. Bagiku masa lalu sudah berlalu biarlah tetap seperti itu agar kenangan kita tetap indah walau kita tak mesti bersama" jawab Mutia.


"Jangan Mut, aku tidak bisa. Tolong dengarkan aku. Aku tidak bisa melihat kamu menikah dengan pria itu" cegah David.


Mutia membalikkan tubuhnya dan melihat wajah David.


"Kenapa kamu tidak bisa? selama satu tahun ini kamu kan bisa hidup tanpa aku? Jangan karena aku mau menikah kamu datang terus bilang aku tidak bisa hidup tanpa kamu? Aku tidak percaya Vid" Mutia tersenyum tipis.


"Aku sungguh - sungguh Mut. Jangan menikah dengannya, menikah saja dengan aku" bujuk David.


"Vid, pernikahan bukan mainan dan rencana pernikahan aku sudah sejak dari satu bulan yang lalu sebelum kamu datang. Tidak seenak pemikiran kamu membatalkan rencana itu dan beralih ke kamu? Lagian kisah kita sudah berakhir dan aku sudah tidak punya perasaan apapun pada kamu" tolak Mutia.


"Tidak mungkin Mut... tidak mungkin, aku tau kamu masih mencintai aku. Tidak semudah itu melupakan dan menghapus perasaan itu" ucap David tidak percaya.


Mutia menarik nafas panjang. Dia akan mencoba menolak David dengan baik agar David tidak sakit hati dan malah nekat melakukan sesuatu yang buruk untuk dirinya atau Bian.


"Vid tolong, saat kita putus aku sudah menutup rapat - rapat hatiku untuk kamu. Aku tidak bisa membuka kembali lembaran yang sudah aku tutup dengan kamu. Tolong please.. tinggalkan aku dan carilah wanita lain yang lebih baik dari aku diluar sana. Jangan ganggu aku Vid, aku sudah putuskan akan menikah dengan Mas Bian. Dia adalah pria yang aku pilih untuk masa depanku. Sekali lagi maaf Vid. Aku tidak bisa berlama - lama. Aku mau masuk dan istirahat" jawab Mutia.


Mutia membalikkan badannya dan hendak masuk ke dalam pagar rumahnya. David segera mengambil tindakan mencegah Mutia pergi dan menahan tangan Mutia.


"Vid jangan lakukan ini, aku tau kamu bukan orang seperti itu" ucap Mutia sambil menarik tangannya.


Untuk sesaat terjadi aksi saling tarik menarik.

__ADS_1


"Mut jangan pergi, aku tidak bisa" ucap David.


"Lepaskan Vid, jangan sampai aku berteriak dan para tetangga melihatnya" ancam Mutia.


"Aku akan lepaskan kamu tapi dengan syarat kita harus balikan" pinta David.


"Aku tidak bisa Vid, aku akan menikah dengan Mas Bian. Tolong kamu mengerti dan terima itu" desak Mutia.


"Aku tidak bisa menerimanya" balas David.


"Lepaskan Vid, sakit... Kamu menyakitiku" pinta Mutia.


David semakin kencang memegang tangan Mutia sementara Mutia sudah mulai kesakitan.


"Lepaskan atau aku teriak?" ancam Mutia.


David nekat hendak menarik Mutia untuk masuk kedalam mobilnya. Tiba - tiba ada sepasang tangan yang menahan tubuh Mutia dari belakang. Sontak Mutia dan David terkejut.


"Lepaskan, kamu menyakiti calon istriku" ucap Bian.


"Ma... Mas Biaaaan" panggil Mutia.


"Jangan pernah kamu datang lagi. Kamu sudah dengar jelas kan kalau Mutia tidak mau mengulang kisah masa lalu kalian. Saya menghormati kamu sebagai masa lalu Mutia tapi semua itu sudah berakhir. Waktu kamu untuk membahagiakan Mutia sudah habis, sekarang biarkan aku yang membahagiakan Mutia" tegas Bian.


"Tapi aku lebih dulu mencintainya dan dia juga lebih dulu mencintaiku" bantah David.


"Itu benar dan aku tidak akan menyangkalnya. Tapi bukankah Mutia sudah mengatakan kalau perasaannya pada kamu sudah berakhir?" balas Bian.


"Tidak aku tidak percaya. Mutia bohong, aku tau dia masih mencintaiku seperti aku yang masih mencintainya" jawab David.


Bian menarik nafas panjang. Dia tau kalau David masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Mutia tidak bisa mencintainya lagi. Tapi hari sudah malam dan mereka berada di luar rumah Mutia.


Kalau terus ribut seperti ini, tidak enak dilihat para tetangga. Bian harus segera mengambil tindakan agar masalah ini selesai walau untuk hari ini saja. Mungkin besok Bian bisa mengajak David bicara empat mata dan dengan hati yang dingin.


Bian mengambil dompetnya dan mengeluarkan kartu namanya.


"Sebaiknya masalah ini kita selesaikan besok saja. Sudah malam dan tidak enak kalau para tetangga melihatnya. Ini kartu nama saya kamu bisa menghubungi nomor saya dan kita bicara empat mata" ucap Bian.


David terdiam dan menatap tajam kearah mata Bian. Tak sedikitpun Bian takut, Bian malah membalas tatapan mata David.


"Oke kalau begitu. Besok kita bertemu lagi" sambut David.

__ADS_1


David berbalik dan masuk ke dalam mobilnya lalu pergi meninggalkan area perumahan rumah Mutia. Mutia dan Bian kini bisa bernafas lega.


"Mas serius mau bicara empat mata dengan David?" tanya Mutia tidak percaya.


"Ya serius Mut, sudah sejauh ini masak mau main - main?" tanya Bian balik.


"Tapi untuk apa Mas? Ngapain kamu ngeladenin David, dia itu gila" jawab Mutia.


"Justru karena itu, kalau tidak diselesaikan akan bahaya. Dia bisa datang lagi ke sini dan buat keributan. Kamu mau?" tanya Bian.


Mutia menggelengkan kepalanya.


"Kamu tenang saja, aku akan bicara empat mata sebagai sesama lelaki yang menginginkan kamu. Kamu tidak perlu khawatir, aku akan berusaha membuat dia mengerti bahwa kamu akan menikah denganku" jawab Bian meyakinkan Mutia.


Mata Mutia berkaca - kaca mendengar semua perkataan Bian. Inilah salah satu sikap dewasa Bian. Dulu dia ingat sekali bagaimana ceritanya Bian dan Malik bertemu.


Dengan sangat gentleman Bian siap mundur karena menyadari kalau Malik dan Aluna saling mencintai. Kali ini apakah Bian akan mempertahankan hubungan mereka?


"Kenapa kamu sedih?" tanya Bian.


"Mas ingin melepaskan aku atau ingin memperjuangkan aku?" tanya Mutia.


Bian menatap mata Mutia.


"Sekarang pertanyaannya aku balik. Kamu mau aku pertahankan atau aku lepas? Aku sudah katakan berulang kali pada kamu. Dalam hubungan kita tidak ada paksaan. Kalau kamu ingin hubungan kita berakhir dan kembali pada David aku bisa terima walau mungkin aku akan kecewa?" tanya Bian balik.


"Tidak Mas, aku ingin dipertahankan dan diperjuangkan" jawab Mutia cepat.


Bian tersenyum manis agar Mutia tenang.


"Aku akan memperjuangkan kamu, karena aku juga semakin sulit berpisah dengan kamu Mut. Hatiku sudah jatuh semakin dalam pada kamu, aku mencintai kamu Mut" ungkap Bian.


Air mata Mutia jatuh perlahan mendengar kata - kata Bian terakhir.


"Aku juga mencintai kamu Mas" balas Mutia.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2