
Kedua orang tua Mutia sudah pulang dari luar negeri. Bian bersama Mutia menjemput mereka ke Bandara. Sebenarnya orang tua Mutia pernah bertemu dengan Bian dulu.
Waktu itu ada acara kantor dan Mutia tidak membawa mobil. Bian mengantar Mutia sampai rumah karena saat itu sudah larut malam.
Tapi pada saat itu status Bian dan Mutia hanya teman kerja dan kedua orang tua Mutia hanya bertemu sebentar saja. Kini status Bian naik menjadi calon suami Mutia.
"Papa Mama... " ucap Mutia saat bertemu kedua orang tuanya.
Mutia memeluk erat Papa dan Mamanya karena sudah hampir satu tahun mereka tidak bertemu. Papa dan Mama Mutia adalah seorang pengusaha yang sudah pensiun dan suka travelling menikmati hidup dan masa tua mereka.
Mereka hanya punya satu anak yaitu Mutia. Mereka hidup sederhana tapi memang suka hobby jalan - jalan seperti ini.
"Uh sayaaang" sambut Mama Mutia.
"Om, Tante" sapa Bian.
"Nak Bian" ujar Papa Mutia.
Bian mencium tangan kedua orang tua Mutia dengan santun.
"Sudah lama kalian menunggu?" tanya Papa Mutia.
"Belum kok Om" jawab Bian.
"Tadi ada masalah sedikit. Koper Mama tertukar sama penumpang lain makanya kami telat keluar" ujar pria setengah tua itu.
"Tapi semua sudah selesai kan Om?" tanya Bian.
"Sudah, kopernya sudah ketemu" sahut Papa Mutia.
"Tante" sapa Bian.
"Bian kok rada beda ya saat ketemu asli dengan video call?" tanya Mama Mutia.
"Beda apanya Tante?" tanya Bian bingung.
"Lebih cakepan aslinya" jawab Mama Mutia sambil bercanda.
"Ah Tante bisa aja" sahut Bian malu - malu.
Mutia sangat senang sekali Mamanya memuji Bian seperti itu. Itu artinya kedua orang tuanya benar - benar merestui hubungan dia dengan Bian.
Ya gimana gak mau merestui, Bian dewasa, ganteng dan mapan. Orang tua mana yang gak mau menikahkan putrinya dengan pria seperti Bian yang sangat kelihatan bertanggung jawab.
"Mari Tante, Om kita ke mobil" ajak Bian.
"Ayo" sambut Papa Mutia.
__ADS_1
Bian, Mutia dan kedua orang tuanya berjalan menuju parkiran mobil.
"Kita makan dulu ya Pa, Ma" ucap Mutia.
"Iya" sahut Mama Mutia.
Bian membawa calon mertuanya ke salah satu restoran besar. Mereka duduk dalam satu meja dan memesan makanan yang mereka inginkan.
"Gimana kabar orang tua kamu Bian?" tanya Papa Mutia.
"Alhamdulillah baik Om. Mereka juga sedang menunggu Om dan Tante pulang dari luar negeri. Sudah tidak sabar ingin bertemu" jawab Bian.
"Maaf ya kami baru bisa pulang. Gara - gara kami kalian jadi kelamaan menunggu" sambut Mama Mutia.
"Tidak apa Tante" sahut Bian.
"Kapan Papa dana Mama kamu datang ke rumah?" tanya Papa Mutia.
"Secepatnya Om, kalau Om dan Tante sudah bisa menerima tamu" jawab Bian.
"Bisa, kapan saja kami bisa" sambut Papa Mutia.
"Papa dan Mama kan baru aja sampai pasti lelah. Biar nunggu waktu yang pas aja" potong Mutia.
"Tidak apa, besok atau lusa kamu sudah bisa bawa Papa dan Mama kamu datang ke rumah" ujar Papa Mutia.
Papa Mutia tersenyum lega karena putrinya tidak salah pilih calon suami. Papa Mutia juga melihat sejak berhubungan dengan Bian putrinya jadi lebih baik. Buktinya sekarang Mutia sudah memakai jilbab.
Padahal dulu Mama Mutia sudah sering membujuk Mutia menutup aurat tapi Mutia menolak dengan alasan kalau pekerjaannya sebagai sekretaris menuntut penampilan yang berbeda.
Tak lama pesanan mereka datang dan semua sibuk menikmati hidangan makan siang. Setelah selesai makan mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah Mutia.
Kini mereka sudah duduk santai di ruang keluarga rumah Mutia.
"Sudah sejauh mana persiapan kalian?" tanya Papa Mutia.
"Kita sudah beli cincin nikah dan pernak - pernik pernikahan Ma. Kita sudah beli souvenir dan hal - hal kecil lainnya. Yang besar - besar kan nunggu kepastian tanggal pernikahannya" jawab Mutia.
"Nanti kita bisa cari WO yang ngurus semua Om. Gedung, make up dan semua yang dibutuhkan dalam pesta bisa mereka atur. Kalau surat undangan juga kan menunggu tanggal pernikahan" timpa Bian.
"Yaaah lebih cepat memang lebih baik. Agar kami bisa lebih tenang meninggalkan Mutia di Indonesia. Kami kan suka travelling Nak Bian" ucap Mama Mutia.
"Benar, sebenarnya kami sering merasa khawatir meninggalkan Mutia sendirian. Setelah bertemu Nak Bian secara langsung Om yakin Om sudah menemukan pengganti Om untuk melindungi Mutia dimasa yang akan datang" sambut Papa Mutia.
"InsyaAllah saya akan melindungi dan menjaga Mutia dengan baik Om. Saya akan membahagiakan Mutia dan mencintainya dengan sepenuh hati saya" ungkap Bian.
Mutia tersenyum malu mendengar kata - kata Bian kepada kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Kini kami lega, InsyaAllah Mutia tidak salah pilih. Om selaku orang tua Mutia berdoa semoga semuanya lancar hingga kalian menikah" sambut Papa Mutia.
"Besok malam aja Pa, Papa dan Mama Bian disuruh datang" ujar Mama Mutia.
"Iya sebaiknya kita percepat saja Bian" sambut Papa Mutia.
"Baik Om nanti sepulang dari sini saya akan hilang sama kedua orang tua saya" ujar Bian.
Karena hari ini weekend Bian dan Mutia pamit sore hatinya untuk pergi keluar.
"Ma, Pa kami keluar dulu ya. Ada janji ketemu sama Aluna" pamit Mutia.
"Ah iya Aluna gimana kabarnya?" tanya Mama Mutia.
"Aluna lagi hamil Ma udah empat bulan" jawab Mutia.
"Alhamdulillah cepat juga ya" sambut Mama Mutia.
"Gak nyangka ya ternyata jodoh Aluna mantan pacarnya yang beda agama itu. Dan alhamdulillahnya mereka disatukan dalam akidah yang sama" ujar Papa Mutia.
"Iya alhamdulillah banget perjuangan mereka bertahun-tahun akhirnya berakhir bahagia" sambut Mutia.
"Kalian juga bisa seperti mereka. Yang penting saling memahami terbuka dan sabar. Nak Bian harus sabar menghadapi Mutia ya. Maklum dia anak tunggal suka manja dan menang sendiri" pesan Papa Mutia.
"InsyaAllah saya sudah siap Om" jawab Bian.
Papa Mutia tersenyum lega melihat kedewasaan sikap Bian.
"Kami pamit dulu ya Om, Tante. Assalamu'alaikum" ucap Bian.
"Wa'alaikumsalam. Hati - hati di jalan" sahut Mama Mutia.
Bian dan Mutia pergi meninggalkan rumahnya lalu bergerak menuju rumah Aluna.
Hari ini Aluna dan Malik mengadakan syukuran atas empat bulan kehamilan Aluna. Semua teman - teman mereka sudah berkumpul di rumah Aluna. Hanya tinggal menunggu Mutia dan Bian datang.
"Alhamdulillah ya Mas Papa dan Mama menyambut rencana pernikahan kita dengan cepat. Besok Mas dan keluarga datang ke rumah. Mungkin akan langsung membahas tanggal pernikahan kita" ujar Mutia saat mereka berada di dalam mobil dalam perjalanan menuju rumah Aluna.
"Iya alhamdulillah banget. Mas akan bilang sama Papa Mama Mas, kalau bisa bulan depan kita bisa menikah" sambut Bian.
Mutia tersenyum manis sambil menatap kearah calon suaminya. Ternyata rencana Allah sangat indah. Kini rasa cinta Mutia dengan cepat sudah tumbuh dengan sangat besar. Begitu juga dengan Bian.
Bahkan rasa cinta Bian kepada Aluna dulu sudah hilang tidak berbekas. Kini masa depannya adalah Mutia, wanita cantik dan baik yang kini duduk di sampingnya. Semoga di masa depan mereka tetap seperti ini saling menemani dan berjalan bersama melewati jalan - jalan kehidupan yang akan mereka ukir dengan indah.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG