Kita Yang Berbeda

Kita Yang Berbeda
Survei Gudang


__ADS_3

Sesuai dengan janji mereka hari sebelumnya. Malik akan mengunjungi gudang barang milik Kamal. Kini Malik sedang dalam perjalanan menuju kantor Kamal.


Satu jam kemudian Malik sudah berada di Perusahaan Kamal yang baru dia dirikan enam bulan. Perusahaan kecil yang sangat pesat berkembang.


Kamal adalah pria yang pintar dan kekayaan orang tuanya sangat membantunya dalam mendirikan perusahaan kecilnya itu.


"Assalamu'alaikum" ucap Malik saat masuk ke dalam ruangan Kamal.


"Wa'alaikumsalam, akhirnya kamu sampai juga kesini. Aku sudah menunggu kamu dari tadi" sambut Kamal.


Malik tersenyum tipis.


"Silahkan duduk Lik" ujar Kamal.


Malik duduk diatas sofa yang ada di ruangan itu.


"Kamu datang sendiri?" tanya Kamal.


"Iya" jawab Malik.


"Oke tunggu sebentar ya, aku panggil OB dulu untuk buatkan minum kamu" ujar Kamal.


"Nanti aja Mas, lebih baik kita langsung aja lihat - lihat barangnya, setelah itu baru kita bisa ngobrol santai" tolak Malik halus.


"Oh begitu ya, baiklah kalau begitu" sambut Kamal.


Kamal segera meraih barang - barangnya.


"Ayo kita langsung lihat ke gudang" ajak Kamal.


Malik segera berdiri dan berjalan mengikuti Kamal menuju gudang tempat penyimpanan barang. Walau perusahaan Kamal ini masih baru dan masih kecil tapi penyediaan barang - barang di gudangnya cukup lengkap dan padat.


Malik memeriksa satu persatu barang - barang tersebut lalu mencatat dan memeriksa beberapa catatan miliknya. Kualitas yang Kamal berikan memang sama dengan barang - barang sebelumnya tapi harganya lumayan lebih murah.


Kalau untuk pembelian dalam jumlah yang lebih banyak selisih harganya lumayan banyak.


"Bagaimana?" tanya Kamal.


"Kualitasnya bagus Mas, sama dengan kualitas barang - barang yang sebelumnya" jawab Malik.


Kamal tersenyum tipis.


"Berarti bisa masuk kan barang - barang dari gudang saya?" tanya Kamal.


"Boleh saya minta waktu? Saya harus lapor kepada atasan saya Mas. Ya maklum pemasok sebelumnya sudah lama bekerja sama dengan pihak kantor. Saya kan gak bisa tiba - tiba ganti pemasok" pinta Malik.


"Baiklah kalau begitu, saya mengerti. Jadi berapa lama saya harus menunggu?" tanya Kamal.


"Mmm bisa kasih saya waktu seminggu Mas?" jawab Malik.


"Bisa, santai aja. Anggap saja saya keluarga. Aluna sudah saya anggap sebagai adik saya sendiri" ujar Kamal.


Kamal menatap jam tangannya.


"Sudah waktunya jam makan siang. Bagaimana kalau kita makan siang dulu" ajak Kamal.


"Waduh Maaaas" sambut Malik.


"Kamu telepon Aluna, bilang makan siang bareng saya. Saya yakin dia pasti tidak keberatan" bujuk Kamal.

__ADS_1


Setelah mempertimbangkan akhirnya Malik menjawab tawaran Kamal.


"Baiklah Mas, nanti saya kabari Aluna" jawab Malik.


"Oke kalau begitu kita makan di restoran favorit saya. Letaknya gak jauh dari sini, makanannya enak sekali. Saya rasa masakan Aluna bisa kalah" canda Kamal.


Malik tersenyum tipis.


"Pasti masih menang masakan Aluna Mas. Masaknya pakai bumbu cinta dan kasih sayang" sahut Malik.


"Iya ya.. saya lupa kalau kalian masih pengantin baru" tawa Kamal pecah juga akhirnya.


Kamal dan Malik keluar dari gudang. Atas kesepakatan bersama keduanya berangkat dengan mobil masing-masing agar lebih memudahkan nanti kalau mereka pulang setelah makan siang.


Malik mengikuti mobil Kamal dari belakang menuju tempat mereka makan. Di dalam perjalanan Malik segera menghubungi Aluna.


"Assalamu'alaikum sayang" sapa Malik.


"Wa'alaikumsalam Mas" jawab Aluna.


"Yank maaf ya, aku gak bisa balik ke kantor siang ini untuk makan siang bareng kamu. Aku masih jalan bareng Mas Kamal. Tadi baru aja selesai lihat barang di gudang, setelah itu dia ajak makan siang di luar" ungkap Malik.


"Mas kamu gak apa - apa kan?" tanya Aluna.


"Apa - apa gimana?" tanya Malik bingung.


"Aku dari tadi khawatir banget kamu di jebak Mas Kamal di gudang" jawab Aluna.


"Yank kamu kok parno gitu sih. Gak mungkin lah Mas Kamal macam - macam. Kalau dia macam - macam kan aku bisa berontak. Aku juga bisa baca situasi. Mudah - mudahan dia memang benar - benar sudah berubah. Sejauh ini sikapnya biasa kok kepadaku" ujar Malik.


Aluna menarik nafas panjang.


"Syukurlah, aku khawatir banget sama kamu" ungkap Aluna.


"Khawatir donk Mas, ngapain aku cemburu" protes Aluna.


"Buktinya kamu takut kalau Mas Kamal naksir aku" ujar Malik.


"Serem tau Mas bukan cemburu. Kamu ada - ada aja deh. Ih aku jadi merinding" sahut Aluna.


"Hahaha makanya jangan yang macam - macam mikirnya. Yang positif aja yank, InsyaAllah hasilnya juga positif" pesan Malik.


"Ya sudah aku makan bareng Gadis aja deh. Bekalnya aku bagi dia dan Pak Baskoro" ujar Aluna.


"Boleh juga tuh dari pada mubazir" sambut Kamal.


"Kamu hati - hati ya Mas" pesan Aluna.


"Iya sayang, love you" sahut Malik.


"Love you too. Assalamu'alaikum" balas Aluna.


"Wa'alaikumsalam" jawab Malik.


Tak lama kemudian Malik sudah sampai di restoran yang dimaksud Kamal. Malik memarkirkan mobilnya tepat di samping mobil Kamal.


"Yuk Lik kita masuk" ajak Kamal.


"Baik Mas" sambut Malik.

__ADS_1


Malik dan Kamal berjalan masuk ke dalam restoran.


"Selamat siang Mas" sapa seorang pria berpakaian santai tapi rapi.


"Siang" jawab Kamal.


Kamal menatap wajah Malik.


"Eh kenalin Lik ini teman aku, restoran ini milik dia" ujar Kamal.


Malik menatap pria yang ada di hadapan mereka. Pria tersebut tampak seperti pengusaha muda dan sukses. Buktinya dia sudah berhasil memiliki restoran besar dan ramai seperti ini.


Malik segera mengulurkan tangannya dan menyapa pria itu dengan ramah.


"Malik" ucap Malik memperkenalkan diri.


"Gerry" jawab pria itu.


"Tempat biasa" pinta Kamal.


"Oke udah disiapkan" jawab pria yang bernama Gerry.


"Ayo Lik" ajak Kamal.


Malik, Gerry dan Kamal berjalan menuju tempat private yang sepertinya biasa dipakai Kamal kalau makan siang di restoran ini.


"Silahkan duduk dulu sebentar lagi makanan akan datang" ujar Gerry.


"Tapi kita belum memesan makanan Mas?" tanya Malik.


"Gerry akan berikan masakan spesial di restorannya" jawab Kamal.


"Oooh" sahut Malik mengerti.


"Dari mana barusan?" tanya Gerry pada Kamal.


"Dari kantor. Malik ini orang dari pemerintahan. Aku baru mengajaknya bekerja sama untuk masukin barang ke kantornya" jawab Kamal.


"Ooh" sahut Gerry.


"Aku dan Gerry sudah berteman sejak kuliah. Dia tau usaha yang aku tekuni sekarang. Dan aku sering mengajak client makan siang di restorannya" ujar Kamal.


Malik tersenyum penuh sopan santun.


Tak lama kemudian makana yang dipesan Gerry datang. Semua makanan dihidangkan diatas meja. Gerry menatap puas atas apa yang sudah disajikan restorannya.


"Silahkan makan ya, maaf aku tinggal dulu. Mal jadikan nanti malam ke apartement?" tanya Gerry.


"Jadi donk" sambut Kamal ramah.


Malik mulai menyicip beberapa makanan yang dihidangkan pelayan tadi tanpa ada perasaan curiga.


"Yuk makan Lik jangan sungkan" ajak Kamal.


"Iya Mas" jawab Malik.


Malik dan Kamal mulai menikmati hidangan yang disajikan restoran yang dimiliki Gerry. Mereka makan dengan lahap karena memang makanan yang dihidangkan rasanya menggugah selera.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2