Kita Yang Berbeda

Kita Yang Berbeda
Ngidam


__ADS_3

"Maaaas" panggil Aluna.


Kini kehamilan Aluna sudah memasuki bulan ketiga. Rasa mual karena hamil muda trimester pertama sudah hilang. Nafsu makan Aluna maju pesat dan Malik selalu menikmati pemandangan Aluna makan dengan lebih dari satu menu makanan.


"Ya yaank" sahut Malik.


"Aku laper" rengek Aluna.


"Kamu mau makan apa malam - malam begini?" tanya Malik.


"Makan nasi goreng yuk" ajak Aluna.


Alhamdulillah malam ini cuma nasi goreng. Makasih Nak permintaan kamu malam ini tidak sulit. Batin Malik bersyukur.


"Ayo, kamu mau makan nasi goreng dimana?" tanya Malik.


"Nasi goreng yang dekat rumah Tante Dwi. Langganan kita waktu pacaran dulu" jawab Aluna.


Wajah Malik semakin bersinar. Kalau Aluna tidak mengingatkan mungkin dia juga sudah lupa warung nasi goreng langganan mereka dulu saat jaman kuliahan.


"Wah udah lama juga ya yank kita gak makan di sana. Ayo kita kesana" ajak Malik semangat.


Aluna dan Malik bersiap - siap hendak pergi.


"Mau kemana Kak?" tanya Said.


"Mau makan nasi goreng" jawab Aluna.


"Makan dimana?" tanya Said penasaran.


"Warung nasi goreng dekat rumah Tante Dwi" jawab Aluna.


"Ikut Said?" ajak Malik.


"Boleh juga Mas, yang dekat jalan masuk ke rumah Tante kan? Aku juga suka makan di situ dulu" sambut Said.


"Ya sudah kalau gitu, yuk ikut kami" sahut Malik.


Mereka mengunci rumah lalu pergi ke tempat yang mereka tuju. Setengah jam kemudian mereka sudah sampai di warung nasi goreng langganan mereka.


"Wah Nak Malik kan?" tanya penjual nasi goreng.


"Iya Pak" jawab Malik.


"Udah lama banget gak makan di sini. Dulu sering makan di sini sama pacarnya kan, Aluna?" tanya pria itu.


"Iya Pak, nih dia orangnya" jawab Malik.


Karena Aluna sekarang sudah memakai jilbab dan lebih gendutan karena hamil si penjual nasi goreng tidak mengenali Aluna.


"Lho Nak Aluna berubah ya sekarang, rada gendut" sambut pria itu.


Wajah Aluna berubah jadi kesal.


"Alhamdulillah Pak sedang hamil. Walau gendut tapi kan tambah cantik Pak" potong Malik yang takut Aluna ngambek karena sudah melihat perubahan wajah Aluna.


"Kalian sudah menikah rupanya. Waaah jodoh emang gak kemana ya. Bertahun - tahun pacaran akhirnya menikah juga" ujar pria itu.


"Aluna lagi ngidam Pak, kangen makan nasi goreng buatan Bapak" ucap Malik.


"Kalau begitu tunggu sebentar ya biar Bapak buatkan untuk kalian" ujar penjual nasi goreng.

__ADS_1


"Pak pakai telur mata sapi ya tapi jangan terlalu mateng" pinta Aluna.


"Baik Nak, tunggu sebentar ya" jawab pria itu penuh semangat.


Pria itu langsung dengan sigap dan cekatan membuatkan tiga porsi nasi goreng untuk Malik, Aluna dan Said.


Tak lama kemudian nasi goreng selesai dihidangkan. Aluna langsung menyantapnya dengan semangat. Belum habis nasi goreng di piringnya Aluna sudah memesan nasi goreng kedua.


"Pak satu porsi lagi ya" pinta Aluna.


Malik dan Said saling lirik.


"Pantesan Nak Aluna badannya sehat banget, semangat makannya luar biasa" ucap pria itu.


Wajah Aluna kembali berubah sedih. Malik langsung mengambil siasat agar istrinya itu tidak ngambek.


"Kamu kan emang lagi sehat badannya sayang karena ada anak kita di dalamnya. Jangan marah ya, si Bapak kan bilang yang baik - baik" hibur Malik.


"Apa aku gendut banget ya?" tanya Aluna.


"Nggak kok, kamu malah semakin cantik" puji Malik.


Aluna kembali menyantap nasi goreng yang ada di hadapannya hingga habis. Lalu piring kedua datang. Bagitu ada di hadapannya wajah Aluna sudah tidak bersemangat.


"Aku sudah kenyang Mas" ucap Aluna.


Said dan Malik saling pandang.


Gawat, alamat kami lagi nih yang habisin. Batin Said pasrah.


Sudah menjadi kebiasaan Aluna sejak hamil selalu pesan makanan banyak tapi dia tidak sanggup menyantap semuanya. Akhirnya Malik dan Said yang selalu jadi tong sampahnya.


"Duh Mas aku kenyang banget" tolak Said.


"Tau gitu mending aku gak pesan dulu tadi. Makan setelah Kak Luna makan" lanjut Said.


Malik tersenyum menatap wajah adik iparnya yang memang sering jadi korban kekenyangan istrinya.


"Ya sudah kita bungkus aja kalau begitu" ujar Malik.


"Pak" Malik memanggil penjual nasi goreng.


"Ya Nak Malik" Jawab pria itu.


"Piring terakhir tolong di bungkus ya Pak" pinta Malik.


"Piringnya juga Mas?" tanya Aluna.


Said yang tidak mendengar nada bertanya Aluna langsung terkejut menatap wakah kakaknya.


"Kak Luna juga pengen makan piringnya?" tanya Said polos.


"Uh kamu" Luna langsung menepuk bahu adiknya.


"Aaaww... " pekik Said.


"Emang piring bisa di makan?" tanya Aluna.


"Ya makanya aku heran, kok serem amat selera anak kalian. Bukan hanya doyan nasi goreng aja tapi piringnya ikutan di embat" jawab Said.


Malik tersenyum menatap wajah adik iparnya.

__ADS_1


"Kamu ada - ada aja Said" ujar Malik.


"Jadi gimana, beneran piringnya mau di bungkus juga?" tanya Bapak penjual nasi goreng dengan wajah bingung.


Said tersenyum mendengar pertanyaan pria itu


"Nggak Pak, nasi gorengnya saja" jawab Malik.


"Oh baik Nak" sahut pria itu.


Pria penjual nasi goreng segera mengangkat satu piring nasi goreng pesanan Aluna yang terakhir lalu membungkus isinya. Setelah itu dia kembali dengan membawa satu kantong plastik lalu memberikannya kepada Aluna.


"Ini Nak Luna" ujar pria itu.


"Terimakasih ya Pak" ucap Aluna.


"Sama - sama, semoga Nak Luna dan calon anaknya sehat sampai lahiran ya" Doa pria itu.


"Aamiiin.. " sambut Aluna, Malik dan Said.


Setelah selesai makan Malik segera membayar semua pesanan mereka lalu mereka semua berjalan menuju mobil dan pulang ke rumah.


Di depan pos satpam Malik berhenti dan memberikan bungkusan nasi goreng tadi untuk satpam yang sedang jaga malam.


"Terimakasih ya Pak Malik" ucap sang satpam.


"Sama - sama Pak" sahut Malik.


"Ngidam makan malam lagi ya Mas?" tanya pria itu.


"Iya Pak seperti biasa" jawab Malik.


Pria itu tertawa mendengar jawaban Malik.


"Sabar Mas emang begitu wanita hamil. Tapi Mas nya jangan ikutan makan bisa - bisa nanti badannya ngalah - ngalahin Mbak Luna yang lagi hamil" pesan pria itu.


"Iya Mas, sekali - sekali aja kok" jawab Malik.


"Udah dulu ya Mas, saya pulang dulu" pamit Malik.


Pria itu melambaikan tangannya ke arah Malik.


Malik melanjutkan perjalanannya menuju rumah. Aluna sudah tertidur di sampingnya.


"Gimana Mas?" tanya Said.


"Ya seperti biasa Said. Tolong bukakan pintu ya" pinta Malik.


"Oke" sambut Said.


Said segera membuka pintu rumah sedangkan Malik menggendong Aluna dan membawanya masuk ke dalam kamar. Pelan - pelan Said meletakkan Aluna diatas tempat tidur lalu melepas jilbabnya.


Aluna tampak nyenyak sekali tidurnya. Malik tersenyum sambil mengelus lembut puncak kepala Aluna dan mencium lembut kening Aluna.


"Selamat tidur sayang, semoga mimpi indah" bisik Malik kepada Aluna.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2