
"Minggu depan kita ke kampung ya. Aku akan ketemu Mama kamu" Ucap Malik di ruang TV setelah mereka selesai makan siang.
"Kamu sudah cerita sama keluarga kamu?" Tanya Aluna.
"Nanti malam rencananya aku akan bicara sama Ibu" Jawab Malik.
"Apa mereka mau menerimaku dengan keadaan sekarang?"
"Mereka akan menerima kamu Al, karena itu pilihanku" Jawab Malik.
"Tapi aku yang sekarang bukanlah aku yang dulu Lik" Ujar Aluna.
"Aaaal aku kan sudah bilang sama kamu. Aku tidak perduli status kamu. Yang penting saat ini kamu sedang tidak terikat pernikahan dengan siapapun. Dan aku memilih kamu karena aku mencintai kamu. Keluargaku tau itu sejak dulu dan sekarang tidak ada lagi perbedaan diantara kita. Mereka pasti akan merestuinya" Sambut Malik.
Aluna tampak ragu.
"Kamu masih khawatir? Apa perlu aku katakan, kalau kamu tidak percaya belah lah dadaku Aaaal" Ucap Malik dengan serius.
"Hahahaha.... Kamu emang gak bisa gombal Lik" Tawa Aluna pecah.
Malik tersenyum manis sambil menikmati tawa Aluna yang keluar dengan sendirinya tanpa di cegah atau diatur sedemikian rupa.
"Aku sudah lama gak melihat tawa kamu seperti ini dan aku kangen sekali. Kamu tau gak, tadi malam aku sampai kesulitan tidur karena gak percaya akhirnya kita bisa kembali bersama. Aku tidak tau apakah hanya aku yang bahagia di sini tapi aku benar - benar merasa seperti hidup kembali. Setelah tiga tahun aku merasa hidupku gelap tanpa kamu" Ucap Malik dengan serius.
"Bukan hanya kamu Lik, aku juga sangat bahagia. Tapi sebelum kita menikah aku tidak mau terlalu bahagia, aku takut masih ada penghalang di antara kita. Biarlah kita jalani hubungan ini tanpa berlebihan, lagian kita juga bukan anak remaja lagi" Sahut Aluna.
"Siapa bilang? Pipi kamu saja masih merah merona gitu kalau aku godain" ledek Malik.
"Siapa bilang" Sambut Aluna dengan pipi merona karena malu.
"Tuh lihat sendiri dikaca. Aku bisa melihat jelas wajah malu - malu kamu persis seperti sembilan tahun yang lalu saat kita mulai pacaran" Ucap Malik sambil bernostalgia.
"Kata Pak Baskoro kalau sudah jatuh cinta tanpa sadar kita juga akan terlihat seperti remaja dan bertingkah kekanak-kanakan" Balas Malik.
"Ehm.. ehm.. telingaku rasanya sakit tauk, dari tadi berdengung mendengar kalian saling menggombal" Ujar Said yang baru saja keluar dari kamarnya.
Sontak Malik jadi jaga sikap karena malu mendengar ledekan dari calon adik iparnya.
"Namanya juga baru rujuk Said, setelah berpisah tiga tahun" Ucap Malik.
"Kalian itu cinta lama belum kelar" ejek Said.
"Nanti kamu juga akan merasakan dek" sambut Aluna.
"Udah buruan sana pulang kampung minta izin sama Mama biar segera halal. Gimana kalau malam ini saja kita berangkat. Besok pagi udah sampai kampung. Sore kita bisa balik lagi ke sini" Ucap Said kasih saran.
Mata Malik langsung bersinar.
"Kamu bisa bawa mobil gak Said?" Tanya Malik.
"Bisa" Jawab Said.
__ADS_1
"Ya udah kalau begitu kita berangkat malam ini. Sore ini aku akan hubungi Ibu di kampung. Malam kita berangkat, nanti kan aku bisa gantian bawa mobil sama Said" Sambut Malik.
"Apa gak terlalu cepat?" Tanya Aluna bingung.
"Jadi mau lama - lama nih? Emangnya tahan? Dari pada jadi dosa?" Tanya Said.
Aluna dan Malik saling lirik.
"Aku pulang dulu ya, nanti malam habis maghrib aku datang. Aku makan di sini aja ya. Setelah shalat isya kita berangkat, gimana?" Tanya Malik.
Aluna menarik nafas panjang.
"Ya sudah terserah kamu aja" Jawab Aluna.
"Yeeees makan rendang" Sorak Said.
"Kok makan rendang?" Tanya Aluna bingung.
"Kan Kakak Luna sama Mas Malik mau nikah, itu artinya kita akan buat pesta dan aku bisa makan rendang" Jawab Said.
"Kalau cuma makan rendang, Kakak juga bisa masakin khusus untuk kamu Said. Gak perlu tunggu sampai ada pesta" Sambut Aluna.
"Kalau anak kos pergi undangan biasanya mereka gitu Kak ngucapinnya. Teman - temanku kan kebanyakan anak kos" Ujar Said.
Malik berdiri dari duduknya.
"Aku pulang ya Al, Said. Nanti malam aku akan datang lagi ke rumah ini" Ucap Malik pamit.
Aluna juga berdiri dan ikut mengantar Malik sampai ke depan rumahnya.
"Hati - hati ya Lik" Ujar Aluna.
Malik berhenti tepat di depan pintu rumah Aluna.
"Bisa tidak mulai sekarang kamu belajar mengganti nama panggilanku?" Tanya Malik.
"Ma.. maksud kamu?" Tanya Aluna.
"Ya ganti nama panggilan, jangan Lik. Apa aja terserah, sebentar lagi kita akan menikah masak kamu panggil aku Lik. Seperti teman biasa" Ujar Malik.
"Ta.. tapi kan dari dulu aku udah panggil kamu seperti itu?" Tanya Aluna dengan wajah mulai bersemu merah.
"Panggil Mas atau sayang juga boleh" Ucap Malik menggoda.
Bluuuuush... Wajah Aluna semakin memerah membuat Malik semakin gemas melihatnya. Malik tersenyum tipis melihat tingkah malu - malu Aluna.
"A.. aku sudah terbiasa panggil kamu begitu tapi aku akan mencobanya" Jawab Aluna.
"Okey, coba panggil sayang" Perintah Malik.
"Jangan ah, kita kan belum menikah" Tolak Aluna,
__ADS_1
Malik menarik nafas panjang.
"Baiklah ya sudah kalau begitu panggil Mas aja dulu nanti kalau kita sudah menikah baru panggil sayang ya" jawab Malik.
Aluna hanya bisa mengangguk.
"Aku pulang ya Al" Pamit Malik.
"Iya Mmm... Malik" Jawab Aluna kaku.
"Mas Malik" Ralat Malik.
"Iya... Mmm.. Mas Malik" Jawab Aluna dengan cepat.
"Cepat banget aku belum dengar dengan jelas" Protes Malik.
"Udah ah Lik nanti aja belajarnya" Tolak Aluna karena malu.
Malik tertawa kecil melihat tingkah Aluna yang salah tingkah.
"Hahaha.. Oke deh aku gak akan maksa tapi kamu harus mulai terbiasa panggil aku Mas. Masak sama suami cuma panggil namanya saja, gak sopan itu" Ujar Malik.
"Iya.. Iya.. " Jawab Aluna.
"Ya sudah aku pulang ya" Malik melanjutkan langkahnya dan masuk ke dalam mobil.
Aluna melambaikan tangan sambil mengantar kepergian Malik dari rumahnya.
"Cie... cie.. yang lagi dilanda mabuk cinta" Goda Said saat kembali masuk ke dalam rumah.
Aluna melempar bantal sofa ke wajah Said lalu dia segera berjalan menuju kamarnya. Jantung Aluna masih berdetak kencang setelah peristiwa apa yang Malik pinta tadi sebelum pulang.
Aluna duduk di atas tempat tidurnya sambil berbicara sendiri.
"Mmmas Malik" Ucap Aluna.
Aluna menatap kaca yang ada di depannya. Dia melihat sendiri bagaimana merahnya wajahnya saat ini. Aluna jadi malu sendiri dibuatnya.
Akhirnya Aluna berbaring di atas tempat tidur menahan malunya sendiri dan menatap langit - langit kamarnya. Aluna meraba dadanya yang mulai berdetak normal. Tanpa dia sadari air matanya mengalir dari kedua sudut matanya.
Terimakasih ya Allah, ternyata KAU masih memberiku kesempatan untuk bahagia kembali dan terimakasih sudah mengirim dia kembali dengan keadaan yang seperti ini. Aku hanya berpasrah padaMU ya Allah. Tolong lancarkan semuanya dan berilah jalan jodoh untuk kami beruda. Doa Aluna di dalam hati.
Aluna menutup matanya mencoba untuk tidur walau sebentar. Nanti malam dia akan pulang ke rumah orang tuanya bersama Malik dan Said.
Bantu malam akan menjadi malam yang panjang untuk mereka kembali. Aluna belum mengatakan apapun kepada Mama atau keluarganya yang lain.
Biarlah mereka sendiri yang menilainya nanti. Aluna yakin Mamanya pasti tidak akan menolak Malik kali ini. Aluna yakin Mamanya pasti akan menerima Malik karena hanya Malik yang bisa membuat Aluna bahagia seperti sekarang ini.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG