
Pagi hari Bian menjemput Mutia lebih cepat dari biasanya.
"Mas turun dulu, aku sudah buatin sarapan untuk kita" ujar Mutia.
"Oh ya" sambut Bian merasa terkejut ternyata calon istrinya sudah bersiap untuk menjadi istri yang baik nantinya.
Bian turun dari mobil lalu masuk ke dalam rumah Mutia. Mutia sudah menyiapkan sarapan pagi di atas meja makannya yang ada di dapur.
Bian melihat sudah ada dua piring nasi goreng lengkap dengan telur mata sapi. Secangkir kopi dan susu hangat. Bian tersenyum manis melihat perhatian Mutia kepadanya pagi ini.
"Yuk makan Mas, tapi kalau tidak enak jangan marah ya. Aku masih sedang proses belajar" ungkap Mutia jujur.
"Okey" jawab Bian dengan senyuman tipisnya.
Bian dan Mutia mulai menikmati sarapan pagi. Bian mulai memasukkan suapan pertama ke dalam mulutnya. Tiba - tiba Bian terdiam dan wajahnya sedikit berubah.
"Kenapa Mas?" tanya Mutia penasaran.
"Tidak apa - apa, enak" jawab Bian berbohong.
"Alhamdulillah gak percuma aku repotin Aluna pagi - pagi tanya resep bumbu nasi goreng" sambut Mutia senang.
Mutia mulai memakan nasi goreng bagiannya.
"Uhuk.. uhuuuuk... " Mutia terbatuk - batuk.
"Minum Mut" ujar Bian sambil menyodorkan gelas minuman untuk Mutia.
Mutia langsung menyambutnya dan meneguk isinya.
"Ya Allah Mas, asin banget. Kok Mas gak bilang kalau nasi gorengnya keasinan?" tanya Mutia.
"Ya aku mengira standar asin kamu seperti ini Mut. Tapi selebihnya enak kok, rasa pedasnya juga pas" jawab Bian.
"Ih tapi asin banget, ya sudah Mas jangan di makan biar kita sarapan diluar aja" ujar Mutia berusaha untuk mengambil piring mereka.
"Eh jangan sayang mubazir. Rasanya tetap enak kok. Kalau kamu gak mau biar aku aja yang habisin" cegah Bian.
"Tapi asin Mas, nanti kamu sakit" cegah Mutia.
"Sesekali tidak apa. Kamu kan udah berusaha hidangkan makanan untukku. Pasti pagi - pagi kamu udah repot belajar masak demi untuk siapain sarapan pagi untukku" ujar Bian.
Mata Mutia berkaca - kaca. Dia tidak menyangka Bian akan bersikap seperti itu. Bian memang pria yang baik. Dibanding Aluna soal memasak Mutia memang ketinggalan jauh banget.
Makanya tadi pagi Mutia udah sibuk telepon Aluna dan bertanya apa bumbu nasi goreng. Aluna dengan sabar mengajari Mutia. Tapi sialnya Mutia lupa menyicipi rasanya sangkin buru - burunya. Alhasil makanan yang dia hidangkan untuk Bian terasa asin.
Bian memakan semua nasi goreng itu dengan lahap. Walah wajahnya memerah tapi dia tetap semangat menghabiskan semuanya. Mutia sangat tau, pasti lidah Bian kebas karena rasa asin yang sangat.
Air mata Mutia jatuh perlahan.
__ADS_1
"Lho kok nangis?" tanya Bian terkejut.
"Maaf ya Mas, aku gak pintar masak seperti Aluna" jawab Mutia dengan rasa bersalah.
"Jangan bawa nama wanita lain dalam hubungan kita. Kamu bukan Aluna aku tau itu dan aku tidak memaksa kamu jadi seperti dia. Jadilah diri kamu sendiri. Tiap manusia itu punya kelebihan masing - masing. Aluna mungkin pintar memasak tapi calon istri aku pintarnya yang lain. Mungkin aku saja yang belum menemukan keahlian kamu yang tersembunyi itu. Aku melamar kamu itu artinya aku sudah siap menerima kamu apa adanya. Dengan segala kekurangan dan kelebihan yang kamu miliki" ungkap Bian.
Air mata Mutia semakin deras mengalir. Dia sangat terharu mendengar kata - kata Bian barusan. Bian menghapus air mata di pipi Mutia.
"Belum satu hari aku resmi melamar kamu tapi aku sudah membuat kamu dua kali menangis. Apakah ini bisa dikatakan kalau kamu tidak bahagia hidup bersamaku?" tanya Bian.
"Tidak Mas, aku bahagia dan aku beruntung memiliki kamu" jawab Mutia.
"Ya sudah kalau begitu ayo kita berangkat sekarang" ajak Bian setelah dia selesai menghabiskan nasi goreng miliknya.
"Iya, ayo Mas" sambut Mutia.
"Terimakasih ya kamu udah repot - repot pagi ini demi aku" ujar Bian.
"Aku yang harusnya minta maaf karena sudah menghidangkan makanan yang seperti ini kepada kamu Mas" sahut Mutia.
"Tidak apa namanya masih dalam tahap belajar. Hapal kaji karena diulang, kalau kamu semakin sering main di dapur lama kelamaan pasti pintar masak juga. Jangan bersedih dan putus asa ya. Lagian kalau kamu gak pintar masak kan masih banyak rumah makan diluar sana" ujar Bian.
Mutia tersenyum bahagia ternyata Bian bisa menerima dia apa adanya. Keduanya bersiap - siap berangkat kerja bareng.
Bian dan Mutia sampai di kantor tepat bersamaan dengan Budi dan Randi. Mobil bereka parkir tak jauh dari mobil Bian.
"Ehm.. Bud kamu tau gak kabar terbaru?" tanya Randi saat mereka semua sedang berjalan menuju pintu lift.
"Katanya sebentar lagi akan ada pernikahan. Kita harus siap - siap jadi groomsmen" jawab Randi.
"Oh ya? Ah tapi sepertinya kita gak diundang" balas Budi.
"Iya juga ya" sambut Randi.
"Emangnya kamu tau kabar burung dari mana Ran?" tanya Budi.
"Ada burung tetangga tadi malam berkicau" jawab Randi.
"Burung siapa itu ya?" tanya Budi.
"Burungnya Mas Bian" bisik Randi yang tentu saja di dengar Mutia.
"Hei kalian pagi - pagi udah gosip aja kerjanya" potong Mutia yang udah panas dari tadi melihat acting Budi dan Randi di depan mereka.
"Aww.. aww... aww... ada yang marah" teriak Randi.
"Siapa?" tanya Budi menggoda.
"Sangkar burungnya" jawab Randi sambil tertawa.
__ADS_1
"Kalian ya... dasaaaaar" protes Mutia sambil memukul bahu kedua sahabatnya.
"Aaaaww... sakitnya Muuut.... Pak Bian hati - hati setelah nikah Mutia akan KDRT" ujar Budi.
Bian tersenyum melihat tingkah mereka bertiga.
"Kamu gak boleh galak - galak Mut, nanti Pak Bian lari lho" ujar Randi.
"Aku gak akan galak sama Mas Bian. Galaknya hanya sama kalian saja" jawab Mutia.
"Cieeee... udah manggil Mm.. maaaas" goda Randi.
"Cuit.. cuiiiiit" ledek Budi.
Bian semakin tertawa lebar sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah kocak dua pria itu.
"Jadi kapan nih pengumuman resminya Pak Bi?" tanya Randi.
"Sabar nanti akan ada undangan selanjutnya ya" jawab Bian.
"Aseeeek makan - makan bro" sambut Budi.
"Dasar kalian maunya yang gratisan" protes Mutia.
"Kok kamu yang keberatan, yang bayar Pak Bian kok" sahut Budi.
"Ya jelas Mutia berat Bro, takut maharnya di pangkas karena bayarin kita hahaha" ledek Randi.
Wajah Mutia jadi merah padam karena dikerjain dua sahabatnya. Kini mereka berempat sudah berdiri di pintu lift. Mereka masuk ke dalam kotak kecil itu saat pintu lift terbuka.
Ting...
Pintu lift terbuka di lantai delapan, lantai dimana Bian, Budi dan Randi bekerja. Tiga lelaki itu keluar dan meninggalkan Mutia sendiri yang masih akan naik ke lantai paling atas.
"Aku duluan ya Mut" ujar Bian.
"Eh.. mesranya... Dah dedek Mumuuuut" goda Randi lagi.
"Jangan rindukan Mamaaas ya Mumuuut" timpa Budi.
Bian tertawa mendengar canda Budi dan Randi.
"Awas kalian ya" ancam Mutia.
"Hahaha.... " tawa Budi dan Randi pecah.
Pintu lift kembali tertutup dan hanya tinggal Mutia yang melanjutkan perjalanan menuju lantai paling atas.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG