Kita Yang Berbeda

Kita Yang Berbeda
Hasutan Maut


__ADS_3

Minggu pagi Malik, Aluna, Regina dan Bu Abraham berangkat menuju Ibukota. Sekitar jam dua siang mereka sudah sampai di rumah Aluna.


"Kami pulang dulu ya Al. Nanti malam kami akan datang lagi untuk bertemu dengan keluarga kamu" ucap Malik.


"Iya, kamu hati - hati ya bawa mobilnya. Bu, Gina, Aluna turun duluan ya" pamit Aluna.


"Kami gak singgah lagi ya Lun" ujar Bu Abraham


"Iya Bu, tidak apa" sambut Aluna.


Malik melakukan mobilnya menuju rumahnya sedangkan Aluna masuk ke dalam rumahnya. Dimana ternyata sudah ada Tante Dwi dan Renol sedang berbicara dengan Mamanya dan Said.


Aluna menarik nafas panjang saat melihat mereka. Perasaannya langsung tidak enak tapi Aluna berusaha bersikap biasa saja.


"Mama, jam berapa sampainya?" tanya Aluna kepada Bu Maysaroh.


"Tadi pagi Lun" jawab Bu Maysaroh.


Aluna memeluk erat tubuh Mamanya lalu mencium tangan Tante dan Omnya.


"Tante dan Om kapan datangnya?" tanya Aluna basa - basi.


"Baru saja, kamu dari mana? Kata Said dari kampungnya Malik. Malik nya mana?" tanya Dwi.


"Malik langsung pulang ke rumahnya Tante" jawab Aluna.


"Tuh dia pasti gak mau ketemu kita" sambut Dwi.


Aluna menghembuskan nafas kesal. Baru saja sampai udah dapat sambutan seperti ini.


"Nanti malam Malik dan keluarganya mau bertemu dengan Mama. Jadi mereka langsung pulang agar sempat istirahat dulu" jawab Aluna.


"Kalau begitu kami di sini aja ya Kak, temani Kakak menyambut keluarga Malik datang" ujar Dwi kepada Maysaroh.

__ADS_1


"Boleh tapi tidak untuk membatalkan pernikahan Aluna. Kakak sudah jelaskan pada kamu dari tadi. Kedatangan Kakak ke sini untuk bertemu keluarga Malik dan membicarakan tentang pernikahan Aluna dan Malik, bukan malah untuk membatalkannya. Kakak sudah menerima lamaran Malik dan tidak bisa membatalkannya" jawab Bu Maysaroh.


"Kakak mau menerima keluarga mereka? Mereka kan berbeda dengan kita" ujar Dwi.


"Ya mereka memang berbeda tapi Malik kan tidak. Yang menikah dengan Aluna itu Malik bukan keluarganya. Kita tidak mungkin meminta keluarganya semua pindah agama baru Malik bisa menikah dengan Aluna" sambut Bu Maysaroh.


"Kakak bisa menerima perbedaan keluarga mereka dan menerima mereka menjadi keluarga?" tanya Dwi.


"Tante maaf, walau mereka berbeda tapi mereka sangat menghormati aku dan Malik waktu di kampung. Malik sudah tegaskan sejak dia muallaf banyak yang berubah di keluarganya. Mereka sudah mengerti mana yang boleh dan tidak dalam islam. Bahkan mereka malah perhatian sekali dan mengingatkan kami untuk tidak lupa beribadah" jawab Aluna dengan nada yang mulai meninggi karena kesal melihat Dwi yang ingin menghasut Mamanya.


"Tante sudah berapa kali Said katakan, kali ini jangan ikut campur dalam hidup Kak Luna. Biarkan Kak Luna bahagia. Tante jangan menghasut Mama karena aku yang akan berdiri paling depan untuk melawan Tante. Cukup hidup Kak Luna sudah pernah kalian buat berantakan dulu sekarang kalian tidak berhak ikut campur" tegas Said.


"Tante cuma ingin yang terbaik untuk Aluna Said. Bagaimanapun Aluna sudah Tante anggap sebagai anak Tante sendiri" jawab Dwi.


"Harusnya kalau Tante menganggap Kak Luna sebagai anak, Tante dukung kebahagiaan Kak Luna bukan malah menjebloskannya dua kali ke dalam lubang yang sama. Walau Tante bilang Mas Kamal sudah sembuh tapi belum tentu Mas Kamal itu bersih. Dia sudah melakukan dosa itu selama bertahun-tahun bisa jadi dia mengidap penyakit menular. Tante mau Kak Luna tertular? Suruh Mas Kamal periksa kepada Mas Dimas. Mas Dimas aja pernah mengatakan kalau penyakit seperti Mas Kamal itu sulit untuk sembuh" Bela Said.


"Kakak juga tidak mau menerima Kamal sebagai menantu Kakak lagi setelah apa yang dia lakukan kepada Aluna. Kakak juga ikut melihat dengan mata Kakak sendiri, Kamal tidur dengan pria lain tanpa busana. Kakak tidak bisa menerimanya, apalagi menikahkan lagi pria seperti itu dengan Aluna" tegas Dwi.


"Tutup mulut kamu Said. Kamu kira Tante mau menjual Aluna? Tante hanya menyayangkan Aluna menolak keluarga sebaik Mbak Lila dan Mas Regi. Mereka sangat menyayangi Aluna. Mereka sangat baik pasti Aluna akan aman" jawab Dwi.


"Aman apanya? Bisa tertular penyakit kok malah di bilang aman. Kayak gak ada wanita lain saja untuk jadi menantu mereka. Diluar sana masih banyak perempuan, pilih saja mereka sebagai menantu jangan Kak Luna" ujar Said.


"Said" potong Bu Maysaroh.


"Aku kesal Ma dari tadi Tante ngotot banget menyuruh kita menerima keluarga Mas Kamal. Yang mau nikah dengan Mbak Luna itu kan keluarganya bukan Mas Kamalnya. Kalau memang benar Mas Kamal sudah berubah pasti Mas Kamalnya donk yang datang ke sini dan melamar Mbak Luna. Seperti yang dilakukan Mas Malik. Dia cowok apa bukan sih? Heran selalu bersembunyi di belakang orang tuanya" jawab Said.


Dwi terdiam mendengar ucapan Said.


"Sudahlah Ma, sebaiknya kita pulang saja. Biar saja Mbak May bertemu dengan keluarga Malik. Mungkin Kamal memang bukan jodoh Aluna" potong Renol.


Dwi akhirnya menarik nafas panjang lalu berdiri.


"Ya sudah, kami pamit pulang Mbak kalau begitu. Yang penting aku sudah berusaha untuk membahagiakan Aluna. Aku hanya ingin menebus kesalahanku dulu. Aku sudah bicara sama Kamal dan dia memang benar ingin berubah dan membahagiakan Aluna, itu saja" ujar Dwi.

__ADS_1


"Terimakasih atas perhatian kamu Wi, tapi Kakak, Aluna dan Said tidak bisa menerima Kamal kembali. Lagian bukan Kamal cinta dan kebahagian Aluna. Biarlah Aluna memilih sendiri siapa pria yang ingin dia nikahi. Kakak tidak mau memaksa Aluna lagi" sambut Bu Maysaroh.


Dwi dan Bu Maysaroh saling berpelukan. Renol juga menjabat tangan Kakak iparnya untuk berpamitan. Sepasang suami istri akhirnya pamit pulang dari rumah Aluna.


Said duduk di sofa masih dengan wajah kesalnya.


"Tante Dwi kok ngotot banget ya. Dari sudut manapun di pandang tetap Mas Malik yang lebih baik dari Mas Kamal. Heran aku" komentar Said.


"Sudah - sudah. Lun kamu ganti pakaian kamu gih. Mama tadi sudah belanja sama Said. Lebih baik kita siap - siap untuk menyambut kedatangan keluarga Malik nanti malam" ujar Bu Maysaroh.


"Mama kok repot - repot. Mama kan baru sampai tadi pagi dari kampung, sebaiknya istirahat saja. Soal hidangan nanti malam lebih baik kita pesan saja" sambut Aluna.


"Mama sudah belanja, tidak apa kita masak sendiri saja. Mama sanggup kok" ujar Bu Maysaroh.


"Ya sudah kalau begitu aku bersih - bersih dulu ya dan ganti baju" sahut Aluna.


Aluna berjalan menuju ke kamarnya untuk berganti pakaian. Setelah itu Aluna keluar kamar dan menyusul Mama dan adiknya di dapur.


Mereka memasak makanan untuk menyambut kedatangan keluarga Malik nanti malam. Aluna berdoa di dalam hati semoga saja tidak ada lagi halangan dan rintangan dia dan Malik menikah.


Kata orang cobaan menikah itu pasti ada tapi semoga mereka bisa melewatinya bersama. Aamiin.


.


.


BERSAMBUNG


Hai readers sudah lama tidak menyapa kalian. Semoga kalian sehat semua ya.


Jangan lupa tulis komentar, like dan votenya ya ... Agar aku lebih semangat untuk berkarya


Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2