Kita Yang Berbeda

Kita Yang Berbeda
Penyelamatan


__ADS_3

Bian segera membuka jas kerjanya dan memberikan kepada Mutia untuk menutupi pakaian Mutia yang sudah robek. Mutia masih shock dan terus menangis.


"Sudah.. sudah.. semua sudah berlalu, yang penting kamu selamat" ucap Bian mencoba menenangkan Mutia.


Dia segera keluar dari mobil dan memeriksa keadaan mobil Mutia. Ternyata ban mobil Mutia masih belum terganti.


"Ban mobil kamu kempes" ucap Bian.


"P... pria itu ti.. tidak menggantinya? Me.. mereka berbohong" jawab Mutia.


"Sudah tinggalkan saja mobil kamu di sini. Aku akan menyuruh seseorang untuk memperbaiki mobil kamu. Ayo kuantar sampai ke rumah" ajak Bian.


Bian menggenggam tangan Mutia yang masih bergetar karena ketakutan. Dia menuntun Mutia masuk ke dalam mobilnya lalu memastikan mobil Mutia terkunci.


Setelah itu Bian menghubungi seseorang dan memintanya untuk memperbaiki mobil Mutia lalu mengantarkannya ke rumahnya.


Baru Bian masuk ke dalam mobil dan menatap Mutia yang masih shock. Walau air mata Mutia sudah berhenti tapi tubuh Mutia masih bergetar hebat.


"Kamu sudah selamat Mut, istighfar dan ucap syukur karena Allah telah menyelamatkan kamu" ucap Bian.


"Ma.. makasih Pak. Bapak sudah menyelamatkan saya" sambut Mutia.


"Tentu saja aku akan datang setelah kamu mengirim pesan kepadaku. Kamu jangan lupa, kamu masih punya hutang jawaban padaku" sahut Bian berusaha mencairkan suasana.


"Ka.. kalau Bapak tidak datang a.. atau Bapak datang terlambat. Aku tidak tau apa yang akan terjadi padaku hiks.. hiks.. " Mutia kembali menangis.


Bian menarik tangan Mutia lalu menggenggamnya agar Mutia tenang.


"Sudah.. sudah.. semua sudah berlalu. Jangan kamu ingat lagi" ujar Bian.


"Kita pulang ataaaau... kamu mau ke suatu tempat lagi?" tanya Bian.


Mutia menggelengkan kepalanya.


"Ki.. kita pulang saja Pak. Aku ingin segera pulang. Lagian gimana mau pergi lagi, pakaianku sudah rusak begini" jawab Mutia.


"Baiklah kalau begitu" Bian melepaskan tangan Mutia setelah Mutia sudah berhasil menghentikan tangisannya.


Bian segera menyalakan mobilnya dan mengantar Mutia pulang ke rumah. Sesampainya di rumah Mutia langsung masuk ke dalam rumah.


"Silahkan masuk Pak, tunggu sebentar saya mau bersihkan tubuh saya dulu dan berganti pakaian" ucap Mutia.


Mutia segera membuka pintu rumahnya dan masuk ke kamarnya. Dia segera mandi untuk membersihkan tubuhnya. Saat membasuh tubuhnya Mutia kembali teringat bagaimana dua pria tadi sempat menyentuh tubuhnya.


Mutia merasa jijik dan dia kembali menangis. Mutia merasa ini adalah cobaan yang berat dan dia sangat malu kepada Allah dan dirinya sendiri.


Mungkin dua pria tadi tergoda karena pakaian Mutia yang bisa dibilang terbuka. Memakai kemeja kerja yang ngepas ke badan dan memakai rok pendek.


Mutia kembali teringat pesan Bian. Kalau nanti Mutia menerima lamarannya dan mereka menikah, Mutia harus menutup auratnya. Mungkin ini adalah teguran dari Allah agar Mutia segera menutup auratnya.

__ADS_1


Sementara Bian tau kalau saat ini Mutia masih shock dan butuh ketenangan. Bian berjalan menuju dapur rumah Mutia. Dia memasak air dan membuat teh hangat untuk Mutia.


Satu jam berlalu tapi Mutia belum juga keluar dari kamarnya. Bian jadi khawatir dengan keadaan Mutia yang masih shock. Dia segera menghampiri kamar Mutia lalu mengetuk pintunya.


Tok.. Tok..


"Mut.. Mutia... aku mau pulang" pamit Bian.


"Iya sebentar Pak" jawab Mutia yang baru saja selesai shalat Isya.


Mutia keluar dengan masih memakai mukenanya. Matanya terlihat bengkak pasti baru saja selesai menangis.


"Eh maaf kamu sedang shalat ya" ucap Bian.


"Tidak apa Pak sudah selesai kok. Maaf ya Pak saya meninggalkan Bapak sendirian" sahut Mutia.


"Saya ada buatkan kamu teh, tapi mungkin sudah dingin" ujar Bian.


Mutia segera berjalan menuju dapur dan memanaskan kembali teh yang Bian buat. Lalu setelah itu meletakkan teh ke dalam gelas.


Bian duduk di meja makan. Mutia menghidangkan teh hangat kepada Bian. Lalu dia duduk tepat di depan kursi Bian.


"Diminum Pak" ucap Mutia.


Bian meraih gelas minumannya lalu meminum isinya perlahan.


"Iya Pak, terimakasih banyak. Bapak sudah menyelamatkan saya" balas Mutia.


"Sudah jangan terlalu larut, itu tidak baik. Jangan sampai kamu trauma" pesan Bian.


"InsyaAllah tidak Pak, saya hanya merasa menyesal. Mengapa tidak sejak awal meminta bantuan Bapak" ujar Mutia.


"Sudah lah, ambil hikmahnya saja. Lain kali lebih berhati-hati dalam berkendara. Mungkin kamu bisa ganti ban mobil kamu dengan ban tubles apalagi kamu perempuan. Kalau hal ini terjadi mobil masih bisa kamu jalankan perlahan" nasehat Bian.


"Iya Pak nanti saya akan ganti secepatnya" sambut Aluna.


Tiga puluh menit berlalu. Bian melirik jam tangannya.


"Sudah malam tidak enak kalau dilihat tetangga kita hanya bedua saja di dalam rumah. Bisa jadi fitnah Mut" ujar Bian.


"I.. iya Pak, sekali lagi terimakasih Bapak sudah menyelematkan saya" ungkap Mutia.


"Sudah seharusnya kan? Kamu kan calon istri saya kalau nanti kamu terima lamaran saya" balas Bian.


Sontak wajah Mutia bersemu merah. Dalam keadaan seperti ini Bian masih sempat bercanda kepadanya.


"Besok saya antar mobil kamu ya. Kamu istirahat saja di rumah" ujar Bian sambil berjalan menuju pintu depan rumah Bian.


Mutia berjalan mengikuti Bian dari belakang

__ADS_1


"Iya Pak" sahur Mutia


"Saya pulang, assalamu'alaikum" pamit Bian.


"Wa'alaikumsalam" jawab Mutia.


Bian berjalan menuju mobilnya lalu bergerak meninggalkan rumah Mutia. Mutia segera mengunci pintu rumahnya dan kembali ke kamarnya.


Esok harinya berita Mutia hampir di perkosa oleh dua orang pria tidak dikenal langsung tersebar kepada teman - temannya.


Randi, Budi, Gadis, Aluna dan Malik segera datang ke rumah Mutia untuk melihat keadaannya sepulanh jam kerja.


"Ya Allah Mut, kamu tidak apa - apa kan? kami terkejut sekali mendengar kabar kamu dari Randi" ujar Aluna.


"Alhamdulillah aku tidak apa - apa. Pak Bian berhasil menyelamatkan aku" jawab Mutia.


"Iya donk namany calon istrinya. Pasti Pak Bian akan datang sebagai pahlawan penyelamat kamu" sambut Randi.


"Pahlawan bertopeng" timpa Budi.


"Jangan becanda ih Bud" potong Gadis


"Ya gak apa Dis biar gak tegang Mutianya" sahut Budi.


Tak lama Bian datang membawa mobil Mutia yang sudah diperbaiki. Bian juga sudah mengganti semua ban mobil Mutia dengan ban tubles.


Agar kalau hal sama terulang lagi, Mutia tidak perlu repot - repot mengganti ban serap di tengah jalan. Setidaknya Mutia bisa pelan - pelan membawa mobilnya ke bengkel terdekat.


"Tuh pahlawan kamu sudah datang" bisik Gadis.


"Udah terima aja lamarannya. Dia sudah menyelematkan kamu dan kamu berhutang nyawa padanya" sambut Aluna.


Wajah Mutia sontak bersemu merah.


"Aku harus perbaiki diri lagi. Setidaknya aku harus menutup auratku terlebih dahulu" jawab Mutia


"Sepertinya lamaran akan di terima" goda Gadis.


"Kami siap membantu kamu kapanpun kamu pinta Mut. Kapan kita beli perlengkapan baju muslimah untuk kamu?" tantang Aluna.


"Lusa ya saat libur kantor. Kamu bisa kan aku culik dari Malik?" tanya Mutia.


"Tentu saja" jawab Aluna dengan senyuman bahagianya karena akhirnya sahabatnya mendapatkan hidayah untuk menutup auratnya.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2