
Aluna datang bersama Pak Baskoro dan Gadis. Mereka segera berlari menuju kamar yang sudah diberikan Mutia melalui pesan singkat.
Aluna yang saat itu shock melihat Mutia mengirimkan foto Malik di bopong oleh Kamal ke dalam hotel langsung membuat Aluna menangis.
Gadis terkejut melihat Aluna seperti itu. Pak Baskoro yang baru saja pulang dari Mesjid usai shalat dzuhur juga melihat kejadian itu.
Pak Baskoro segera bertanya kepada Aluna tentang apa yang terjadi. Aluna langsung menceritakan kejadian yang Mutia katakan.
Pak Baskoro dengan sigap langsung mengajak Aluna dan Gadis untuk datang ke Hotel. Pak Baskoro mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Mereka tidak mau terjadi sesuatu dengan Malik.
Sebisa mungkin mereka ingin mencegah terjadinya hal buruk pada Malik. Sepanjang perjalanan Aluna tak henti - hentinya berdoa. Semoga Allah menyelamatkan Malik dari perbuatan dosa besar.
Mereka tiba di kamar yang dipesan Kamal. Malik sudah tanpa baju, hanya memakai celana dinas saja. Mutia dan Bian mencoba menenangkan Malik yang tidak bisa menguasai dirinya sendiri.
"Ada apa dengan Mas Malik?" tanya Aluna sambil menangis.
"Sepertinya mereka memberikan obat perangsang kepada Malik. Malik tidak bisa menguasai dirinya" jawab Bian.
Pak Baskoro langsung menarik nafas panjang.
"Sekarang sudah ada yang halal baginya. Aluna segera kamu tolong Malik, dia pasti sangat tersiksa. Pulanglah kalau Malik sudah merasa tenang. Dan kita sebaiknya pergi dari sini" ucap Pak Baskoro.
Aluna menatap satu persatu teman - temannya kemudian yang terakhir Pak Baskoro.
"Bantu suami kamu melalui semua ini. Setelah hasratnya tersalurkan nanti dia pasti mengantuk, setelah itu biarkan dia tidur dengan tenang. Mudah - mudahan setelah itu Malik akan kembali sadar" ujar Pak Baskoro.
"Terimakasih Pak. Makasih Mut, Dis, Mas Bian. Aku tidak tau bagaimana membalas bantuan kalian ini" ucap Aluna.
"Sebagai teman selayaknya kita saling bantu Lun" ujar Mutia.
"Ayo kita keluar, kasihan Malik itu" desak Pak Baskoro.
Pak Baskoro, Bian, Mutia dan Gadis pergi meninggalkan kamar hotel tersebut.
"Al.. aku merindukan kamu" ucap Malik.
Aluna sambil menangis menatap wajah suaminya. Hatinya saat ini sangat sedih melihat kondisi Malik. Tapi benar kata Pak Baskoro, Malik harus mendapatkan bantuan saat ini. Dan satu - satunya yang bisa mengobati Malik hanyalah Aluna.
Aluna menghapus air mata yang jatuh di pipinya. Kemudian dia mendekati Malik. Aluna mendekap Malik dengan erat. Mencoba menuntun Malik untuk mengucapkan doa.
Walau dengan terbata - bata akhirnya Malik bisa membacanya sampai selesai. Aluna memasrahkan tubuhnya untuk suaminya.
__ADS_1
Dengan ikhlas Aluna menjalankan tugasnya sebagai istri Malik saat ini. Dibawah pengaruh obat perangsang Malik melakukannya bersama Aluna dengan semangat dan kekuatan yang memang cukup luar biasa.
Aluna berusaha sekuat tenaga menahan kekuatan Malik dan berusaha untuk mengimbanginya. Tidak ada yang salah dengan mereka saat ini. Hubungan ini halal, mereka juga sudah membaca doa. Aluna berharap apa yang mereka lakukan saat ini tetap di ridhoi Allah.
Akhirnya Malik terbangun saat malam hari. Aluna sedang shalat Isya dan mengaji. Malik terbangun karena lantunan ayat Al-Quran yang dibaca Aluna.
"Di.. dimana kita saat ini yank?" tanya Malik.
Malik baru sadar kalau mereka bukan berada di kamar mereka dirumah. Aluna menghentikan aktivitasnya.
"Kita sedang di hotel Mas" jawab Aluna lembut.
Aluna melipat mukenanya dan menutup aplikasi Al-Quran di ponselnya. Malik melihat tubuh polosnya didalam selimut.
"Ada apa denganku? Mengapa aku bisa begini? Dan mengapa kita bisa ada di sini?" tanya Malik bingung.
Aluna duduk di samping Malik sambil mengelus lembut puncak kepala Malik.
"Coba Mas ingat - ingat tadi siang Mas kemana? Mas keluar kantor dan pergi untuk menemui siapa?" tanya Aluna dengan sabar.
Malik menutup matanya dan mencoba mengingat apa yang terjadi dengan dirinya.
"Aku pergi dengan Pak Sofyan bertemu Mas Kamal di restoran temannya bernama Gerry" jawab Malik.
"Terus?" pancing Aluna.
"Pak Sofyan pulang lalu tinggal aku dan Mas Kamal berdua di ruangan. Lalu teman Mas Kamal, Mas Gerry menawarkan kami hidangan penutup. Setelah itu aku merasa kepala dan mataku sangat berat sekali. Mas Kamal menawarkan untuk mengantar aku kembali ke kantor. Setelah itu aku tidak ingat apapun. Kemudian aku merasa gerah dan aku melihat berbagai fantasi di dalam TV, aku tidak tau apa yang terjadi padaku" ungkap Malik.
Aluna meneteskan air matanya.
"Aku kenapa sayang?" tanya Malik.
"Kamu di jebak mereka Mas. Orang yang dicintai Mas Kamal sejak kuliah namanya Gerry. Dia juga yang kami temui di rumah dinas Mas Kamal di Perkebunan dulu. Mereka ingin menjerumuskan kamu dalam dunia mereka. Mereka memberikan kamu obat perangsang sehingga itu yang membuat kamu berfantasi" jawab Aluna.
"Ja.. jadi kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Malik bingung.
"Mutia dan Mas Bian melihat kamu di Restoran. Mereka melihat gelagat kamu aneh. Mutia kenal sama Mas Kamal karena dia datang saat aku menikah dulu dengan Mas Kamal. Mutia juga tau cerita tentang Mas Kamal makanya dia khawatir saat kamu di bopong Mas Kamal dan si Gerry itu. Mereka mengikuti kamu hingga sampai di sini. Saat mereka mendobrak kamar hotel ini mereka menemukan Mas Kamal dan Gerry sudah tanpa busana" jawab Aluna.
"Lalu aku bagaimana?" tanya Malik terkejut dan khawatir.
"Alhamdulillah kamu masih mengenakan celana kerja. Tapi kamu dalam pengaruh obat perangsang. Saat dalam perjalanan ke Hotel Mutia mengabari aku. Lalu aku ke sini bersama Pak Baskoro dan Gadis. Saat kami datang Mas Kamal dan Gerry sudah dibawa oleh pihak keamanan. Dan hanya tinggal kamu sendiri. Pak Baskoro menyuruh aku tinggal dan membantu kamu meredakan gaira* kamu" ungkap Aluna.
__ADS_1
"Apakah aku melakukan kekerasan pada kamu?" tanya Malik merasa bersalah.
"Sedikit" jawab Aluna.
Malik langsung memeluk erat tubuh istrinya.
"Maafkan aku sayang" ucap Malik.
"Tidak apa Mas, aku tau kamu sedang tidak sadar melakukannya. Tapi pleaseee... dengarkan kalau aku bicara. Terkadang perasaan seorang istri peka lho Mas. Sejak awal aku sudah bilang pada Mas hati - hati pada Mas Kamal. Tapi Mas suruh aku untuk husnuzon. Aku bukan negatif thinking tapi sekedar waspada karena Mas Dimas bilang penyakit seperti Mas Kamal itu sulit untuk sembuh. Apalagi dia sudah lama menjalani kehidupan seperti itu. Butuh keteguhan hati yang cukup tinggi untuk benar - benar bertaubat " pinta Aluna.
Malik menarik nafas panjang.
"Maafkan aku sayang yang tidak mendengarkan peringatan dari kamu" jawab Malik.
Aluna menatap wajah Malik, wajah pria yang sangat dia cintai. Sejak tadi tak henti - hentinya Aluna mengucap syukur karena Malik berhasil terselamatkan. Seandainya saja tadi tidak ada Mutia dan Bian, Aluna tidak tau apa yang terjadi dengan Malik sekarang.
Bisa saja Malik terkena penyakit menular yang sangat berbahaya. Astaghfirullah... Aluna terus beristighfar di dalam hati.
"Kamu barusan shalat apa?" tanya Malik.
"Shalat Isya Mas" jawab Aluna.
"Astaghfirullah aku sampai lalai shalat ashar dan maghrib" sambut Malik.
"Aku sudah membangunkan kamu dari tadi tapi sepertinya kamu memang sangat kelelahan efek obat perangsang tadi. Semoga Allah memaafkan kelalaian kamu Mas" ujar Aluna.
"Kalau begitu aku mandi dulu ya yank, setelah itu kita pulang" ajak Malik.
"Iya Mas, aku sudah siapkan pakaian kamu. Tadi aku minta Said bawakan baju kita dan mukena aku. Nunggu kamu bangun baru ajak kamu pulang" Jawab Aluna.
"Ya sudah aku mandi dan shalat dulu ya" Malik langsung turun dari tempat tidur lalu berjalan menuju kamar mandi.
.
.
BERSAMBUNG
Maaf guys kalau tentang jebakan Malik itu bukan peristiwa nyata ya.. aku modifikasi sedikit tentang ceritanya biar lebih seru.
Aku takut ceritanya jatuh jadi fitnah. Maaf kan 🙏🙏
__ADS_1
Tapi dibelahan dunia ini kejadian seperti ini pasti bisa saja terjadi, semoga cerita ini membawa manfaat bagi para pembaca. Mengingat semaraknya cerita kaum pelangi.