Kita Yang Berbeda

Kita Yang Berbeda
Syukuran


__ADS_3

"Lun udah dengar kabar belum?" tanya Dwi saat mereka bertemu di acara syukuran kehamilan Aluna.


"Dengar apa Tante?" tanya Aluna bingung.


"Teman dekatnya Kamal yang jebak Malik kemarin katanya sakit di penjara. Sekarang sedang dirawat serius di Rumah Sakit" jawab Dwi.


"Oooh, mungkin dia tidak terbiasa hidup di dalam penjara" sambut Aluna.


"Bukan Lun, ih serem deh. Katanya pria itu mengidap penyakit itu tuh.. " bisik Dwi.


"Innalillahi.. jadi gimana dengan Mas Kamal Tante? Apa dia baik - baik saja?" tanya Aluna terkejut.


"Bagaimanapun Kamal adalah mantan suaminya dulu. Mereka bukan orang asing yang tidak saling kenal. Walau hubungan mereka dulu tidak baik - baik saja tapi Aluna sangat dekat dengan Papa dan Mama Kamal. Mendengar kabar begini pastilah kedua orang tua Kamal akan sangat khawatir. Karena penyakit itu sangat berbahaya dan menular. Apalagi Kamal adalah pasangan Gerry dulu.


"Itulah, Mbak Lila dan Mas Regi sekarang lagi sibuk untuk meminta izin kepada pihak lapas agar Kamal bisa menjalani pemeriksaan lengkap. Lebih baik diketahui sejak dini agar tidak tertular dan segera bisa diobati" jawab Dwi.


"Semoga Mas Kamal tidak tertular dan dia baik - baik saja" sambut Aluna.


"Aamin" sahut Dwi.


"Jadi Mama Lila dan Papa Regi gak datang Tante?" tanya Aluna.


"Tante gak tau mereka datang atau nggak. Kemarin waktu Tante telepon itu dia cerita" jawab Dwi.


"Tapi Mama Lila sehat kan Tante?" tanya Aluna.


"Alhamdulillah sudah semakin sehat katanya, walau masih di kursi roda" jawab Dwi.


"Syukurlah, semoga semua baik - baik saja dan Mama Lila semakin sehat dan pulih seperti semula" ucap Aluna.


Tak lama kemudian Bu Maysaroh masuk ke dalam kamar Aluna.


"Lun, Mbak Lila datang tuh di depan. Kamu jangan di kamar aja, buruan ke depan. Teman - teman kamu juga udah pada datang. Anak - anak panti juga sudah pada datang. Kata Malik sebentar lagi acara akan di mulai" ucap Bu Maysaroh.


"Iya Ma" jawab Aluna.


Aluna dan Dwi keluar dari kamar. Di luar sudah berkumpul semua keluarga dekat, teman - teman dan anak - anak panti asuhan yang sengaja di undang Aluna dan Malik ke acara syukuran kehamilan Aluna.


Aluna duduk di samping Malik, Mama dan Ibu Mertuanya yang juga baru datang kemarin. Acara dimulai dengan hikmat. Setelah memanjatkan doa, makan bersama dan diakhiri dengan pemberian bingkisan untuk para anak yatim piatu.


Para anak panti asuhan pulang, kini tinggallah keluarga dekat dan teman - teman Malik dan Aluna. Aluna menghampiri Lila yang duduk diatas kursi roda.


"Mama sehat?" sapa Aluna.


"Sehat Luna" jawab Lila dengan tatapan sedih.


Mata Lila terlihat berkaca - kaca dan akan menangis.


"Mama kenapa bersedih?" tanya Aluna.


"Mama iri sama Mama kamu, sebentar lagi dia akan menimang cucu. Seandainya dulu... " ucapan Lila terhenti.


"Ma... sabar ya dan terus berdoa agar Mas Kamal tetap istikomah berubah. InsyaAllah nanti kalau dia sudah sembuh pasti dia akan menikah dan punya anak" hibur Aluna.


"Kamu tau Luna, Gerry sedang di rawat di Rumah Sakit. Diagnosanya sakit HIV dan sedang mendapatkan perawatan khusus" ungkap Lila.

__ADS_1


"Innalillahi.. " sahut Aluna.


"Mama sangat takut sama Kamal" akhirnya tangis Lila tidak terbendung lagi.


"Kata Tante Dwi, Mama dan Papa sedang meminta izin pihak lapas untuk memeriksakan Mas Kamal ya?" tanya Aluna.


"Iya tapi belum ada surat izinnya" jawab Lila.


"Keadaan Mas Kamal gimana?" tanya Aluna.


"Dia baik - baik saja, tapi kan kita tetap harus waspada. Takut kalau Kamal tertular" ucap Lila.


"InsyaAllah Mas Kamal baik - baik saja Ma. Terus berdoa ya Ma, semoga saja Mas Kamal tidak tertular. Mudah - mudahan Allah masih kasih kesempatan untuk Mas Kamal berubah dan melanjutkan hidup lebih baik lagi dari sebelumnya" ujar Aluna.


"Aamiin.. Makasih Luna" sambut Lila.


Tak lama Regi datang menghampiri istrinya.


"Kita pulang Ma" ucap Regi.


Lila menghapus air matanya.


"Iya Pa" jawab Lila.


"Makasih ya Pa, Ma udah mau datang ke acara kami" ucap Aluna.


"Kamu sudah kami anggap anak kami sendiri Luna. Kami pasti datang ke acara kamu" sambut Regi.


Aluna tersenyum kepada mantan mertuanya itu. Hubungan mereka sampai sekarang memang masih baik dan sudah seperti keluarga sendiri.


"Aamiin... makasih Luna" balas Lila.


"Kami pamit dulu ya Luna" ucap Regi sambil mendorong kursi roda istrinya.


"Iya Pa, hati - hati" Aluna mencium tangan penuh hormat kepada mantan mertuanya.


Regi dan Lila akhirnya pulang dari rumah Aluna dan Malik. Malik mendekati Aluna.


"Kenapa Tante Lila menangis tadi yank?" tanya Malik penasaran.


"Gerry sakit HIV Mas. Mama Lila takut Mas Kamal tertular" ungkap Aluna.


"Innalillahi.. " ucap Malik.


Aluna menarik nafas panjang.


"Setiap apa yang di tanam pasti akan menerima hasil dari apa yang dia tanam tersebut. Semoga Allah masih memberikan hidayah kepada mereka di akhir hidupnya" ujar Aluna.


"Jadi Mas Kamal gimana?" tanya Malik.


"Mama Lila dan Papa Regi sedang mengurus izin dari pihak lapas agar Mas Kamal menjalani pemeriksaan rutin. Mudah - mudahan Mas Kamal tidak tertular" jawab Aluna.


"Aamiin... Yuk yank kita gabung sama teman - teman, mereka udah sibuk mau ngobrol tentang pernikahan Mas Bian dan Mutia" ajak Malik.


Aluna dan Malik bergabung dengan teman - teman mereka. Bian dan Mutia tadi datang telat karena menjemput Mama dan Papa Mutia ke Bandara. Setelah itu baru mereka datang ke acara syukuran kehamilan Aluna.

__ADS_1


"Gimana tadi Pak ketemu camer, lancar?" tanya Randi.


"Alhamdulillah lancar" jawab Bian.


"Pasti lancar lah, Pak Bian kan sudah biasa ketemu para client" sambut Budi.


"Emangnya Papa dan Mama Mutia client juga?" tanya Randi.


"Client juga untuk proyek masa depan. Harus dapat izin bro biar proyek bisa dimulai" jawab Budi.


"Ada - ada aja kamu Bud" sahut Bian.


"Terus kapan rencana ketemu keluarganya Pak?" tanya Randi.


"InsyaAllah besok" jawab Bian.


"Rencana pernikahannya?" tanya Budi.


"Aku dan Mutia memutuskan bulan depan tapi gak tau apakah keluarga setuju" ungkap Bian.


"Pasti setuju aku yakin itu. Buruan Pak booking hotel untuk honeymoon bulan depan" samber Randi.


Bian tersenyum tipis mendengar ucapan Randi.


"Kalian ini memang ada - ada saja. Pernikahan belum dipersiapkan malah udah urusin honeymoon" ujar Bian.


"Dalam pernikahan honeymoon itu adalah moment yang paling penting Pak. Ujung tombak kesuksesan sebuah acara pernikahan" oceh Randi.


Budi tergelak mendengar ocehan Randi yang kacau.


"Bukan ijab kabulnya ya Bro?" ledek Budi.


"Ijab kabul juga penting tapi aku yakin Pak Bian pasti bisa menjalaninya dengan sukses. Kalau honeymoon belum tentu" sahut Randi.


"Lho kenapa begitu?" tanya Budi.


"Ya kalau Mutia datang bulan kan gagal nyoblos" jawab Randi.


"Hahaha iya benar juga" tawa Budi pecah.


"Kalian ini memang selalu ngaco kalau bicara" ujar Bian sambil tersenyum.


Tiba - tiba Randi mendapatkan tepukan dari belakang.


"Kamu jangan meracuni calon suamiku ya" ujar Mutia.


"Pak Bian mulailah berpikir dan pertimbangkan lagi pernikahan Bapak. Lihat Mutia sangat ganas, pasti setelah menikah dia akan melakukan KDRT" ucap Randi.


"Dasar kamu" Mutia memukul bahu Randi sekali lagi.


"Hahaha" Budi kembali tertawa.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2