
Kabar keluarga Kamal ingin melamar Aluna kembali akhirnya sampai ke telinga Malik. Said yang sangat geram dengan kedatangan mantan mertua Aluna itu tidak sabar dan langsung bercerita kepada Malik agar Malik berjaga - jaga dan juga menjaga Aluna.
"Kamu tidak akan meninggalkan aku lagi kan?" tanya Malik saat mereka sedang dalam perjalanan pulang ke rumah.
Aluna menyipitkan matanya sambil melirik Malik, heran dengan pertanyaan Malik yang tidak seperti biasanya.
"Kenapa kamu berkata begitu?" tanya Aluna.
"Aku takut kamu akan menerima lamaran mantan mertua kamu lagi" jawab Malik.
"Kamu tau dari mana mereka datang dan mau melamar aku lagi?" tanya Aluna terkejut.
"Said yang cerita" jawab Malik sambil menyetir mobilnya.
"Dasar anak itu bocor keliling" umpat Aluna.
"Bagus donk dia cerita seperti itu. Jadi aku bisa mengikat kamu dengan cintaku agar kamu tidak lari lagi" sambut Malik.
Aluna tersenyum mendengar jawaban Malik. Sejak kembali dekat dengan Malik lagi, Aluna merasa Malik semakin pintar merayu dan lebih banyak bicara dari pada dulu.
"Jangan mau ya.. ya... aku bisa bahagiakan kamu lebih dari dia. Walau aku juga mantan kamu, mantan pacar maksudnya. Tapi masa lalu dengannya biarlah berlalu, masa lalu denganku mari kita lanjutkan di masa yang akan datang" lanjut Malik.
"Kamu semakin pinter merayu ya, dan semakin banyak omong" goda Aluna.
"Demi menjaga kamu dengan sangat ketat agar tidak dibawa lari lagi sama mantan suami kamu" sahut Malik.
"Aku tidak akan menjalani kehidupan yang dulu bersamanya. Cukup sudah hampir dua tahun aku menikah dengannya, aku tidak akan kembali pada masa - masa itu" jawab Aluna.
"Makasih ya Al" sambut Malik lega.
Hari jumat berlalu, Aluna dan Malik bersiap - siap berangkat menuju kampung Malik. Mereka berangkat usai pulang kerja dan tiba di rumah keluarga Malik sekitar jam sebelas malam.
Malik dan Aluna disambut baik oleh Ibunya Malik dan adik bungsunya Regina.
"Mbak Lunaaaa... akhirnya kita bertemu lagi" ujar Regina dengan semangat padahal sudah larut malam.
"Iya Gin, kamu belum tidur?" tanya Aluna.
"Belum, aku nungguin Mbak sama Mas Malik datang" jawab Regina.
Aluna dan Regina saling berpelukan, setelah itu baru Aluna menjabat tangan dan mencium tangan Ibunya Malik.
"Apa kabar Bu?" sapa Aluna.
"Sehat, kamu gimana kabarnya?" tanya Ibunya Malik dengan sangat ramah.
"Alhamdulillah sehat" jawab Aluna.
"Ayo masuk" ajak Bu Abraham.
"Lho aku dicuekin mentang - mentang sebentar lagi dapat anak baru" ujar Malik dengan wajah cemberut.
__ADS_1
"Eh iya Ibu lupa kalau kamu juga pulang" jawab Bu Abraham pura - pura.
Malik langsung memeluk Ibunya. Inilah keunikan Malik, kalau diluar rumah dia akan berubah menjadi pria pendiam tapi berbeda kalau dia ada di rumah. Terlebih pada Ibunya, Malik sangat manja sekali.
"Mas ini udah tua tapi gak berubah, gak malu sama Mbak Luna" komentar Regina.
"Ngapain malu, sebentar lagi dia akan jadi istriku. Untuk apa aku sembunyi - sembunyi lagi" sahut Malik.
"Ya jaim dikit biar Mbak Luna gak lari tau kenyataan sifat kamu sebenarnya" sambut Regina.
"Aluna sudah mengenalku sembilan tahun, dia pasti tidak akan lari lagi dariku" balas Malik.
"Masuk Nak" ajak Bu Abraham.
Aluna disambut baik oleh Ibu dan Adiknya Malik. Mereka berbincang-bincang sebentar. Karena hari sudah larut malam mereka secepatnya istirahat.
"Aku boleh tidur sama Mbak Luna kan?" tanya Regina.
"Boleh tapi kamu jangan ajak Aluna ngobrol lagi ya" jawab Malik.
"Kok Mas Malik yang keberatan?" tanya Regina.
"Ya Mas gak mau donk calon istri Mas sakit karena kurang istirahat" sahut Malik.
"Ah Mas Malik lebay, aku kan cuma kangen aja sama Mbak Aluna karena udah lama banget gak ketemu" jawab Regina.
"Udah Gin, ajak Aluna istirahat di kamar kamu gih" perintah Bu Abraham.
Malik mengetuk pelan pintu kamar Regina.
"Aaal shalat ke Mesjid yuk" ajak Malik.
"Iya, tunggu sebentar ya Lik" jawab Aluna.
Tak lama kemudian Aluna sudah keluar dengan memakai mukenanya. Malik dan Aluna berjalan ke Mesjid untuk shalat subuh.
Penduduk setempat sudah lama tau kalau Malik sudah berpindah agama. Awalnya pasti jadi bahan pembicaraan tetangga. Salah satu yang membuat Pak Abraham dulu malu dan murka karena gagal mendidik putra satu - satunya.
Tapi seiring sejalan semua berjalan seperti air mengalir. Malik bisa melewatinya. Hubungannya dengan Bapaknya juga akhirnya baik sebelum Pak Abraham meninggal dunia.
Setelah usai shalat di Mesjid Malik dan Aluna jalan menuju rumah orang tua Malik.
"Siapa Lik?" tanya salah satu tetangga Malik.
"Ini Pak perkenalkan, InsyaAllah calon istri saya" jawab Malik.
Aluna tersenyum kepada pria itu sambil menunduk hormat.
"Wah kapan rencana nikahnya?" tanya pria itu lagi.
"InsyaAllah bulan depan Pak" jawab Malik ramah.
__ADS_1
"Selamat ya sebelumnya semoga lancar sampai hari - H" ujar pria itu
"Aamiin.. terimakasih Pak. Permisi kami pulang dulu" balas Malik.
Malik dan Aluna melanjutkan langkah mereka menuju rumah keluarga Abraham.
"Nanti kita ke makam Bapak ya" ajak Malik.
"Iya" jawab Aluna.
"Kita sarapan di rumah ya. Kamu jangan khawatir, keluargaku sudah sangat menjaga apa yang tidak boleh dan boleh aku makan di rumah. Mereka sekarang juga sudah menjaga rumah agar aku bisa makan bersama mereka. Semua sudah aku sucikan dan mereka tidak pernah makan makanan yang terlarang untuk kita di rumah" ungkap Malik.
"Iya" sahut Aluna.
Aluna tau semua yang Malik katakan benar adanya. Dia sangat percaya kepada Malik. Akhirnya mereka sampai di rumah Malik.
Bu Abraham sedang sibuk memasak di dapur. Aluna segera menghampiri calon mertuanya.
"Mau masak apa Bu?" tanya Aluna.
"Mau masak nasi goreng, kamu suka kan?" tanya Bu Abraham.
"Suka Bu" jawab Aluna.
"Nasi goreng buatan Ibu enak banget lho Al" ujar Malik.
"Kalau begitu aku mau donk belajar sama Ibu biar nanti bisa masakin kamu kalau kamu kangen sama masakan Ibu" sambut Aluna.
Malik tersenyum bahagia mendengar jawaban Aluna. Tanpa sungkan Aluna segera membantu Bu Abraham memasak di dapur.
"Waaah pagi - pagi udah rame aja ya dapur" ujar Regina yang baru saja bangun.
"Kamu sampai kapan liburannya?" tanya Malik.
"Sampai bulan depan Mas, yang pasti bisa menghadiri pernikahan Mas sama Mbak Luna" jawab Regina.
"Syukurlah Gin kalau kamu hadir" sambut Aluna sambil tersenyum lembut.
"Waaah pasti donk, aku tidak akan mau melewatkannya" jawab Regina.
Usai memasak Aluna membantu Bu Abraham menyiapkan hidangan sarapan pagi. Dari cara Aluna tersebut Bu Abraham tau kalau putranya nanti pasti akan bahagia menikah dengan Aluna.
Malik tidak salah pilih karena sepertinya Aluna sudah cekatan di dapur. Bu Abraham mengerti mungkin karena pengalaman Aluna yang dulu sudah pernah menikah.
Walau status Aluna janda Bu Abraham tidak keberatan karena itu adalah pilihan Malik. Bu Abraham juga tau bagaimana putranya itu sangat mencintai Aluna sejak dulu bahkan dulu sampai berani melawan perkataan Bapaknya.
Bagi Bu Abraham kini, kebahagiaan Malik lah yang utama. Ditambah lagi Aluna memang wanita yang baik. Bu Abraham jadi semakin lega melepaskan putranya di tangan wanita yang tepat.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG