Kita Yang Berbeda

Kita Yang Berbeda
Mengalah dan Berteman


__ADS_3

Aluna menatap Bian.


"Mas aku minta maaf" Ucap Aluna.


Aluna masih diselimuti rasa bersalah kepada Bian. Bian tersenyum dengan tulus.


"Tidak ada yang perlu di maafkan. Sejak awal aku tau cinta kamu hanya untuk Malik. Beberapa hari ini kamu terlihat uring - uringan tapi kamu tetap tidak mau membatalkan rencana kita" Sambut Bian.


"Malik menyadarkanku arti cinta yang tulus. Aku tidak mau mengorbankan kamu lagi dalam ikatan pernikahan terpaksa. Cukup satu kali kamu gagal Lun. Aku berharap kali ini kamu akan hidup bahagia" Doa Bian.


"Semoga Mas Bian juga segera menemukan kebahagiaannya" Sahut Aluna.


"Aamiin" Balas Bian.


Aluna menatap wajah Gadis.


"Dis" Ucap Aluna.


"Kalian berhak bahagia, kalian saling mencintai. Kini tidak ada lagi perbedaan diantara kalian. Hiduplah bahagia" Sambut Gadis.


"Terimakasih Dis" Ujar Malik.


Aluna menatap semua teman - temannya dengan mata berkaca - kaca.


"Terimakasih semuanya teman - teman. Aku tidak tau bagaimana bisa membalas kebaikan kalian" Ucap Aluna haru.


"Kamu harus hidup bahagia, lupakan masa lalu yang pahit, jalanilah hidup dengan suka cita" Sambut Mutia.


"Ingat ya Lik, setelah kalian menikah kamu tidak boleh membatasi Aluna untuk bertemu dengan kami. Karena kamilah pasukan pemersatu hati" Potong Randi.


"InsyaAllah, kalian adalah teman - temannya Aluna. Itu artinya kalian juga temanku" Sambut Malik.


"Teman - teman, aku lapaaar" Ucap Budi merusak suasana.


"Dasar kamu" Umpat Randi.


Semua tertawa mengakhiri kisah haru yang baru saja mereka lewati. Akhirnya mereka semua makan bersama - sama dalam satu meja besar merayakan acara lamaran Malik dan Aluna.


"Jadi gimana ceritanya kalian bisa merencanakan semua ini?" Tanya Aluna penasaran.


Malik dan Bian saling lirik.


Flashback On


Setelah pertemuan Bian dengan Malik sore itu, malamnya Bian tidak bisa tidur memikirkan semua kata - kata Malik.

__ADS_1


Bian ingat bagaimana dulu perjuangan Malik mengejar Aluna sampai ke kampung. Dan bagaimana Aluna menyembunyikan kedatangan Malik dari keluarganya.


Semua karena cinta mereka yang begitu dalam. Bian sadar Aluna memang masih mencintai Malik. Tapi Aluna benar - benar bisa menjaga sikapnya di depan Malik.


Bahkan Aluna rela dan berusaha kuat saat Malik hampir menjalin hubungan dengan Gadis.


Bian ingat sekali tatapan cemburu Aluna saat melihat Malik dan Gadis pergi bareng dengan mobil Malik. Saat itu mereka berpisah dengan Gadis dan Malik di parkiran mobil.


Diam - diam Aluna masih memperhatikan semua gerak - gerik Malik. Begitu juga dengan Malik, mereka mencinta dalam diam.


Apakah aku harus memisahkan lagi cinta mereka? Tanya Bian dalam hati.


Tapi kalau aku merelakannya aku mungkin tidak akan bisa mendapatkan wanita yang lebih baik lagi dari Aluna. Usiaku sudah tiga puluh tiga tahun dan orang tuaku sudah memaksaku untuk menikah. Apa yang harus aku lakukan ya Allaaaah. Ucap batin Bian.


Esok harinya dari Mutia lalu bertanya kepada Gadis. Bian bisa mendapatkan nomor ponsel Malik. Bian tidak konsentrasi bekerja hari itu.


Dia harus menyelesaikan masalah cinta segi tiga antara dia, Aluna dan Malik. Lebih tepatnya cinta bersambut Malik dan Aluna yang terhalang oleh cintanya.


Bian segera mengetik pesan untuk Malik.


Bian


Pagi, saya Bian. Bisa kita bertemu siang ini di Cafe XXX? Kita harus membicarakan masalah Aluna.


Tak lama kemudian ponsel Bian bergetar tanda pesan masuk.


Malik


Bian


Jam dua belas siang


Malik


Oke


Bian segera menyelesaikan pekerjaannya agar bisa segera meluncur ke Cafe yang telah dia sepakati dengan Malik.


Jam dua belas siang keduanya sudah tiba di lokasi. Mereka duduk di depan meja yang sengaja di pilih untuk membicarakan hal penting untuk hidup mereka berdua.


"Ada apa Anda mengajak saya ke sini?" Tanya Malik memulai pembicaraan.


Bian menatap wajah Malik dengan tatapan penuh keseriusan. Hal itu tidak membuat Malik takut, dengan tegas dia juga membalas tatapan Bian.


Kali ini mereka akan berjuang dengan jantan untuk memperebutkan cinta seorang wanita yang sama - sama mereka cintai.

__ADS_1


Bian menarik nafas panjang.


"Bisa kamu ceritakan padaku sebesar apa cinta kamu pada Aluna?" Tanya Bian.


"Aluna adalah cahaya dalam hidupku. Aku menjadi seperti sekarang ini semua karena Aluna. Aku memeluk agama Islam juga hidayahnya datang melalui Aluna. Setelah Aluna menikah hampir setiap malam aku bermimpi melihat dia memakai mukena dengan pakaian serba putih sedang mengaji dengan suara yang sangat merdu. Membuat hatiku tentram dan nyaman. Berulang - ulang mimpi itu hadir bahkan aku sampai merindukan mimpi itu dan menanti - nantikannya karena saat mendengar Aluna mengaji hatiku tenang. Saat itu aku sadar aku sudah gagal untuk mendapatkannya. Aku selalu berdoa Allah memberikan kebahagian untuknya tapi ternyata dia malah tersiksa dalam pernikahannya. Kini aku ingin mewujudkan sendiri kebahagiaan itu bersamanya" Ungkap Malik dengan mata berkaca - kaca.


Bian bisa melihat begitu besar cinta Malik untuk Aluna. Bahkan Bian langsung merasa cinta Malik lebih besar dari pada cintanya.


"Aku tidak ingin mengibarkan bendera peperangan kepada Anda. Kalau kita bisa berdamai dan menjadi teman, aku akan sangat menghormati Anda. Aku tau sifat Aluna. Dia akan memilih terluka dari pada harus melukai orang lain. Makanya aku hanya bisa berharap Anda yang mundur dalam hubungan Anda dan Aluna" Lanjut Malik mencoba menyentuh hati terdalam Bian.


Bian menarik nafas panjang lalu menyodorkan tangannya kedepan Malik.


"Mari kita berteman" Ucap Bian.


Malik menatap erat wajah Bian, aura Bian sudah mulai melemah tidak sekuat tadi. Kini Bian sudah memberikan aura perdamaian kepada Malik.


Malik menyambut tangan Bian lalu mereka berjabat tangan.


"Menikahlah dengan Aluna, aku ikhlas demi kebahagiaan Aluna. Aku bersedia mundur dan aku mendoakan kebahagian kalian berdua. Aku yakin kamu pasti bisa menjaga dan membuat Aluna bahagia" Ucap Bian melembut.


Malik tersenyum damai.


"Terimakasih. Bisakan mulai hari ini kita menjadi teman?" Tanya Malik.


"Ya teman, mulai hari ini kita adalah teman" Jawab Bian.


"Terimakasih Mas Bian, terimakasih selama beberapa bulan ini sudah menjaga Aluna dengan baik" Ujar Malik tulus.


"Lamarlah Aluna secepatnya, dia sudah lama menunggu kamu. Aluna patut bahagia setelah apa yang telah dia lalui" Ucap Bian.


"Baik, aku akan melamar Aluna secepatnya" Sambut Malik.


"Mungkin aku bisa membantu" Sahut Bian.


"Boleh kalau Mas Bian tidak keberatan. Aku akan sangat senang sekali" Jawab Malik.


"Mungkin kita bisa merencanakannya bersama Mutia dan teman - teman yang lain. Mereka pasti sangat senang sekali mendengar kabar gembira ini. Dan aku yakin mereka akan membantu dengan suka rela" Ujar Bian.


"Aku akan merasa sangat terhormat sekali. Dan aku tidak akan bisa melupakan kebaikan kalian semua. Sekali lagi terimakasih" Jawab Malik.


Flashback Off.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2