
"Bu pernikahan kami akan diselenggarakan di Ibukota bukan di kampungnya Aluna. Aku sudah bicara sama Mama Aluna dan mereka setuju. Semua ini dibuat agar semua bisa lebih ringan langkah untuk datang ke pernikahan kami. Apakah Ibu setuju?" tanya Malik sambil mereka sarapan pagi.
"Ibu setuju - setuju aja Lik, asalkan kalian bahagia. Selama keluarga Aluna tidak keberatan ya silahkan saja. Mau dikampung Aluna atau di Ibukota Ibu akan mendukungnya" jawab Bu Abraham.
"Besok Ibu ikut kami ya ke Ibukota, Mama Aluna juga akan datang besok dan mau ketemu sama Ibu" pinta Malik.
"Wah asik donk jalan - jalan. Kita pergi kan Bu?" potong Regina.
"Iya, kan Malik udah cerita kemarin" sambut Bu Abraham.
Malik tersenyum sambil menatap wajah Aluna. Hati Malik tak henti - hentinya mengucap syukur.
"Kakak - kakak sudah tau kan Bu kalau aku mau menikah?" tanya Malik.
"Sudah, tapi nanti siang Ibu meminta mereka kumpul di sini untuk membicarakan pernikahan kamu" jawab Ibu Malik.
Kedua Kakak Malik yang sudah berumah tangga jarak rumahnya tidak jauh dari rumah orang tua Malik. Biasanya kalau Malik pulang mereka pasti akan berkumpul di rumah orang tua mereka.
"Usai sarapan pagi aku dan Aluna mau ke makam Bapak dulu ya Bu" ujar Malik.
"Iya, sebaiknya memang begitu. Minta restu kepada Bapak, walau Ibu yakin Bapak pasti akan merestui kalian. Sebelum Bapak meninggal, Bapak berpesan kepada Ibu untuk tidak memaksakan kehendak Ibu dan membiarkan Malik menikah dengan wanita pilihannya sendiri" ungkap Bu Abraham.
Malik tersenyum sendu. Ternyata walau tampilan Bapaknya keras tapi tetap terselip kelembutan dan kasih sayang untuk dirinya.
"Bapak memang sempat kecewa pada kamu tapi kamu berhasil meyakinkan Bapak bahwa apa yang kamu putuskan memang benar - benar keinginan kamu. Dan kamu menjalaninya dengan serius, tidak main - main atau ikut - ikutan. Bapak melihat hidup kamu lebih teratur dan hati kamu lebih tenang. Sejak kamu menjadi muallaf kamu lebih sabar menghadapi Bapak hingga akhirnya hati Bapak luluh" sambung Bu Abraham.
"Bapak bilang lebih baik kita berbeda dari pada harus kehilangan anak yang sudah membuatnya bangga. Kamu berhasil berbakti kepada orang tua dan keluarga. Kamu anak yang baik, Bapak tidak pernah benar - benar serius mengusir kamu" ungkap Bu Abraham.
"Malik tau Bu, di balik kerasnya perinsip Bapak aku tau ada kasih sayang yang besar untukku. Mungkin karena aku seorang laki - laki Bapak tidak bisa menunjukkannya dengan jelas kepadaku kelembutan dan kasih sayang Bapak. Aku mengerti sekarang betapa besarnya kasih sayang Bapak padaku" sambut Malik.
"Bapak juga sering bilang padaku, contoh Mas kamu dia sangat keras menjalani hidup ini makanya dia jadi orang yang sukses. Kamu harus berhasil seperti Mas kamu Malik" timpa Regina sedih.
Aluna mengelus lembut punggung Regina yang hendak menangis.
"Sudah.. sudah.. jangan bersedih. Saat ini kita sedang berbahagia. Bapak juga sudah tenang disana" ujar Bu Abraham.
"Ya sudah, ayo Al kita siap - siap ke makan Bapak" ajak Malik.
"Aku ikut ya Mas" potong Regina.
"Iya, Ibu juga mau ikut?" tanya Malik lembut.
"Tidak usah, Ibu mau siapkan semuanya. Nanti Kakak - kakak kamu juga akan datang" jawab Bu Abraham.
__ADS_1
"Ya sudah kita pergi bertiga saja ya" ujar Malik.
"Iya" jawab Aluna.
Malik, Aluna dan Regina bersiap - siap untuk berangkat ke makam Pak Abraham. Mereka berangkat dengan mobil Malik.
Tak lama kemudian mereka sudah sampai ke pemakaman. Malik dan yang lainnya berjalan hingga sampai di pusara.
Sama seperti di makam Papanya Aluna. Malik dan Aluna meminta restu di dalam hati mereka untuk pernikahan mereka yang akan berlangsung kurang lebih satu bulan lagi.
Setelah selesai berziarah mereka berkeliling untuk membeli makanan dan minuman yang nanti akan di makan di rumah bersama - sama dengan keluarga inti Malik.
Sesampainya di rumah orang tua Malik, rumah sudah ramai dengan para ponakan Malik dari anak - anak kedua Kakaknya Malik.
"Kak Nata, Kak Valen, Mas Bethran dan Mas Josh" sapa Malik.
Malik memeluk kedua Kakaknya dan Kakak iparnya. Aluna memeluk dua calon Kakak iparnya lalu menjabat tangan suami mereka.
"Jadi ini toh yang namanya Aluna. Pantas saja Malik gak bisa move on, rupanya Aluna memang cantik" puji Josh.
Aluna tersenyum malu dan menundukkan kepalanya.
"Bukan karena itu saja Mas tapi masih banyak yang lainnya yang sulit di lupakan" sambut Malik.
Aluna merasakan kehangatan keluarga, dia disambut dengan baik di keluarga Malik. Walau dia dan Malik berbeda dengan yang lainnya tapi mereka tetap menghormati Aluna dan Malik.
Keluarga Malik bukan berasal dari keluarga kaya. Bisa di bilang Malik lah yang bisa mengangkat keadaan keluarganya hingga seperti sekarang. Malik yang membangun rumah orang tuanya jadi lebih bagus.
Malik membantu kehidupan Kakak - kakaknya dan Malik juga yang membayar uang kuliah Regina. Keluarga mereka sederhana tidak sekaya keluarga Kamal. Tapi bersama Kamal, Aluna belum pernah merasakan kehangatan keluarga seperti ini.
Selain Kamal adalah anak tunggal, Kamal juga tidak pernah memperlakukan Aluna sebagai orang penting dalam hidupnya.
Ah ngapain juga memikirkan Kamal disaat bahagia bersama Malik seperti ini. Aluna terus tersenyum sambil menatap semua anggota keluarga Malik.
"Apa kamu senang bertemu dengan seluruh keluargaku?" tanya Malik.
Aluna tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
"Iya, aku senang" jawab Aluna.
"Alhamdulillah, terimakasih ya Al kamu bisa menerima keluargaku yang berbeda dengan kita" ungkap Malik.
"Saat aku menerima lamaran kamu itu artinya aku harus siap menerima diri kamu sepaket dengan keluarga kamu. Menikah bukan hanya menyatukan dua pribadi yang berbeda tapi juga menyatukan dua keluarga yang berbeda" ujar Aluna.
__ADS_1
Malik tersenyum penuh bahagia. Lalu mendekati Aluna dan berbisik.
"Aku jadi gak sabar menunggu sebulan lagi" ucapnya sambil berbisik.
Sontak wajah Aluna jadi memerah karena malu.
"Cieee.. Mas Malik gak sabar menunggu sebulan lagi" sorak Regina dari belakang Malik dan Aluna.
Sontak Malik dan Aluna terkejut karena pembicaraan mereka di dengar Regina.
"Kamu ya.... " protes Malik.
"Hahaha.. aku gak nyangka Mas Malik mesum" tawa Regina pecah.
Pipi Aluna semakin merah merona karena di goda Regina seperti itu di hadapan keluarga Malik.
"Siapa yang mesum?" tanya Malik.
"Tuh barusan bilang udah gak sabar nunggu bulan depan. Hayo... pasti otaknya udah travelling" ledek Regina.
Malik langsung menutup mulut Regina agar dia diam.
"Kamu diam gak atau Mas gak mau bawa kamu ke Ibukota" ancam Malik.
"Heemmmm.... huffft... " Regina mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.
Perlahan-lahan Malik melepaskan tangannya yang menutup mulut Regina.
"Oke.. oke.. aku nyerah" jawab Regina.
"Kamu ini Gin suka banget godain Malik. Nanti kalau kamu mau menikah, kamu juga pasti akan merasakan hal yang sama" ujar Valen.
"Aku masih lama Mbak nikahnya. Aku pengen cari uang yang banyak dulu" jawab Regina.
"Kamu tuh emang mata duitan" ledek Malik.
"Tau aja hahaha" tawa Regina pecah.
Aluna tersenyum bahagia melihat dan menyaksikan keakraban keluarga Malik. Walau Pak Abraham telah tiada, walau Malik kini berbeda dengan mereka tapi perhatian dan sikap mereka tetap sama. Mereka masih sangat menyayangi Malik sebagai keluarga mereka, tidak ada yang berubah.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG