Kita Yang Berbeda

Kita Yang Berbeda
Menyambung Tali Yang Putus


__ADS_3

Seminggu ini Malik dan Aluna benar - benar serius mempersiapkan pernikahan mereka. Semua teman - teman mereka Geng Lima Jones plus Gadis ikut membantu mereka mempersiapkannya.


Undangan sudah di pesan, gaun sudah dirancang. Souvenir juga sudah dibeli. Aluna dan Malik sangat bersyukur teman - teman mereka dengan tulus dan sigap membantu mereka.


Dalam satu hati ketiga hal penting itu sudah siap di pesan. Untung zaman sudah canggih. Sudah bisa pesan lewat online kecuali gaun pernikahan.


Sore ini rencananya Malik dan Aluna akan mencari cincin pernikahan mereka. Keduanya berencana untuk pergi mencarinya sepulang kerja.


Malik sudah menunggu Aluna di lantai dasar Gedung B. Saat mereka hendak berangkat, mereka bertemu dengan Pak Baskoro.


"Waaah sepertinya akan ada kabar gembira ini" ujar Pak Baskoro.


Malik dan Aluna senyum penuh arti kepada atasan yang sangat mereka hormati itu.


"Alhamdulillah Pak, doakan saja semuanya lancar. InsyaAllah bulan depan kami akan menikah" ungkap Malik.


"Alhamdulillah... Bapak turut senang mendengarnya" sambut Pak Baskoro.


Malik dan Aluna tersenyum malu.


"Terimakasih Pak semua ini terjadi juga karena bantuan dari Bapak" ujar Malik.


"Aaah biasa itu. Bapak kan ingin meluruskan kesalah pahaman diantara kalian saja. Kalau ada yang bisa dibantu katakan saja jangan sungkan ya" pesan Pak Baskoro.


"Iya Pak, sekali lagi terimakasih" jawab Aluna.


"Jadi kalian buru - buru hendak pergi mempersiapkan itu semua?" tanya Pak Baskoro.


"Iya Pak, kami pamit pulang duluan ya Pak" ujar Malik.


"Hati - hati, semoga lancar hingga hari - H" balas Pak Baskoro.


"Aamiin" jawab Malik dan Aluna.


Malik dan Aluna berjalan menuju parkiran mobil kemudian berlalu meninggalkan area kantor pemerintahan.


Sampailah mereka di sebuah Mall terbesar di Kota mereka. Malik dan Aluna berjalan menuju Toko Perhiasan yang menjual perhiasan yang ingin mereka cari.


Aluna dan Malik sedang memilih - milih cincin pernikahan yang mereka inginkan. Tiba - tiba ada sepasang suami istri yang menyapa mereka.


"Aluna" panggil wanita paruh baya.


Aluna dan Malik menoleh ke arah pemilik suara.


"Ma... ma" jawab Aluna.


Malik memilih diam dan memperhatikan dengan tenang apa yang terjadi di hadapannya.


"Kamu lagi ngapain Lun?" tanya wanita itu.


Aluna mencium tangan kedua tangan orang tua itu dengan penuh rasa hormat begitu juga dengan Malik yang mengikutinya.


"Mmm.. anu Ma lagi mencari sesuatu" jawab Aluna malu - malu.

__ADS_1


Wanita itu memperhatikan sepasang cincin yang ada di hadapan Aluna.


"Cincin nikah, siapa yang mau nikah, kamu?" tanya wanita itu lagi yang tak lain adalah Lila mantan mertua Aluna.


"Eh iya Ma" jawab Aluna.


Wanita itu memperhatikan wajah Malik yang ada di samping Aluna.


"Ini pasangan kamu?" tanya Lila.


"Iya Ma" jawab Aluna.


"Kapan pernikahannya Lun?" tanya Regi.


"InsyaAllah bulan depan Pa" jawab Aluna.


"Waaah udah dekat, kamu kok gak kabari kami" sambut Lila.


"Ah Mama, nanti juga akan sampai undangannya" jawab Aluna.


"Ya sudah Ma mereka juga pasti sedang repot, jangan di ganggu. Kita tunggu saja undangannya sampai ke rumah" ujar Regi kepada Lila.


"Kamal pasti sedih mendengar berita ini Lun" ujar Lila yang juga sedih dan kecewa mendengar kabar dari Luna.


Malik mulai mengerti siapa yang sedang mereka temui ini setelah mendengar nama Kamal disebut. Aluna hanya bisa tersenyum tipis mendengar ocehan mantan mertuanya.


"Sudah.. sudah Ma.. Aluna dan Kamal sudah selesai urusannya. Biarlah Aluna bahagia dengan pilihannya" potong Regi.


"Iya Pa" jawab Aluna.


Lila menarik nafas panjang, tapi masih terlihat wajah kecewa.


"Mama pulang ya, jangan lupa kamu antar surat undangannya" pesan Lila.


"Iya Ma InsyaAllah" jawab Aluna cepat.


Sepasang suami istri itu akhirnya pergi dari hadapan Malik dan Aluna. Malik menatap wajah Aluna dengan tatapan bertanya.


"Orang tuanya Mas Kamal Lik" ungkap Aluna.


"Ooo... ayo kita pesan cincinnya. Kamu mau yang mana?" tanya Malik.


Aluna kembali memperhatikan beberapa pasang cincin pernikahan yang ada di hadapan mereka.


"Mmm.. yang ini aja ya" jawab Aluna.


"Aku juga suka yang ini. Ya sudah ayo kita pesan" sambut Malik.


Mereka membeli cincin yang mereka suka setelah itu baru mereka shalat, makan malam lalu pulang ke rumah.


"Al aku gak bisa singgah, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Aku langsung pulang ya" pamit Malik.


"Iya Lik, kamu hati - hati ya" jawab Aluna.

__ADS_1


Aluna turun dari mobil sedangkan Malik langsung pergi dari area rumah Aluna. Saat Aluna hendak masuk ke dalam rumah tiba - tiba ada mobil yang berhenti di depan rumahnya.


Aluna menghentikan langkahnya dan berbalik badan melihat siapa yang datang. Aluna terkejut melihat mantan mertuanya datang bersama Tante dan Omnya.


"Assalamu'alaikum Aluna" sapa Dwi.


"Wa'alaikumsalam Tante" jawab Aluna.


"Lun ada yang mau kami bicarakan pada kamu" ujar Dwi.


"Kalau begitu silahkan masuk Tante" sambut Aluna dengan ramah.


Mereka semua masuk ke dalam rumah. Lila, Regi, Renol dan Dwi duduk di ruang tamu. Aluna menyiapkan minum untuk mereka berempat. Said juga keluar dari kamarnya dan ikut duduk menemani para tamu malam ini.


Aluna datang dari arah dapur dengan membawa minuman. Lalu dia menghidangkannya untuk para tamu.


"Silahkan di minum Pa, Ma, Om, Tante" ucap Aluna.


"Maaf ya Luna malam - malam begini kami datang bertamu ke rumah kamu" ucap Lila.


Aluna tersenyum ramah.


"Tidak apa Ma, kita kan sudah menjadi keluarga, tidak perlu sungkan" sambut Aluna.


"Papa senang mendengar jawaban kamu. Karena kita masih keluarga kami ingin menyampaikan sesuatu kepada kamu" ujar Regi.


"Apa itu Pa?" tanya Aluna.


Regi dan Renol saling pandang.


"Begini Lun, tadi Mbak Lila cerita sama Tante kalau dia melihat kamu dengan seorang pria sedang membeli cincin pernikahan. Kamu mau menikah, kapan dan dengan siapa?" tanya Dwi.


Aluna menarik nafas dalam.


"InsyaAllah bulan depan Tante, aku akan menikah dengan Malik" jawab Aluna.


"Malik? mantan pacar kamu yang beda agama itu? Luuun kamu gak kasihan lihat Papa kamu yang sudah meninggal? Kamu mau melawan perkataan orang tua?" tanya Dwi terkejut.


Aluna tersenyum tipis mendengar perkataan Dwi.


"Malik sudah muallaf sejak tiga tahun yang lalu Tante. Gak sengaja ternyata kami bekerja satu kantor. Aku bertemu dia lagi dan mengetahui kebenarannya. Dia juga sudah tau kalau aku janda dan dia mau menerima aku lagi" ungkap Aluna.


"Tapi Lun apa keluarganya bisa menerima kamu? Kamu jangan berpikir ini semua akan mudah Lun. Walau Malik sudah muallaf kamu akan kesulitan berinteraksi dengan keluarganya karena mereka masih berbeda agamanya" sambut Dwi.


Aluna merasa kedatangan Tante dan Omnya ke sini sepertinya akan melakukan sesuatu yang membuat Aluna merasa kesal. Entah mengapa perasaan Aluna jadi tidak enak dengan kedatangan Om dan Tantenya.


"Begini Lun, Om akan bicara langsung pada kamu keintinya. Kamal sudah sembuh dari penyakitnya dan dia sudah bertaubat. Sudah sejak beberapa minggu yang lalu sebenarnya Mas Regi dan Mbak Lila sudah mengajak kami untuk datang ke rumah kamu tapi kami sedang sibuk jadi belum sempat. Mereka ingin menyambung tali kekeluargaan diantar kita yang kemarin sempat putus. Mbak Lila dan Mas Regi ingin kembali melamar kamu menjadi menantu mereka " ungkap Renol.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2