
Aluna terdiam dan sangat terkejut ketika mendengar permintaan Omnya. Said terus menatap wajah Aluna dan menunggu jawaban Aluna.
"Bagaimana Lun?" tanya Dwi.
Aluna menarik nafas panjang.
"Maaf Tante, Malik sudah melamar Luna pada Mama di kampung dan Mama juga sudah memberi restu. Rencana pernikahan kami sudah mulai di susun dan dipersiapkan. Rasanya tidak mungkin kalau di gagalkan lagi" tolak Aluna.
"Semua kan tergantung kamu Luna. Kalau kamu mau Mama akan membantu kamu apapun caranya untuk mengganti kerugian calon suami kamu itu. Kita kan sudah jadi keluarga Luna, kamu sudah mengenal Mama dan Papa. Kamal juga sudah berubah sekarang" bujuk Lila.
Aluna menarik nafas panjang mendengar perkataan mantan mertuanya.
"Ma.. Aluna mohon maaf sekali, Aluna tidak bisa menerima Mas Kamal kembali. Dua tahun Aluna sudah mencoba membuka hati Aluna untuk Mas Kamal tapi Aluna di abaikan. Aluna tidak bisa kembali menjalin hubungan dengan Mas Kamal" jawab Aluna santun.
"Apa karena pria itu mantan pacar kamu yang beda agama? Dia sengaja muallaf karena ingin menikahi kamu?" tanya Regi.
"Maaf Om jaga ucapan Om. Walau saya masih muda dan termuda di sini tapi saya yang bertanggung jawab sebagai walinya Kak Luna. Mas Malik sudah tiga tahun muallaf, pada saat Kak Luna masih menjalin hubungan rumah tangga dengan Kak Luna. Itu artinya Mas Malik menemukan hidayahnya sendiri bukan karena Kak Luna. Kalau dia masuk Islam karena Kak Luna mungkin sudah sejak dulu mereka menikah. Bisa jadi Kak Luna tidak pernah menjadi menantu kalian" potong Said yang sejak tadi sudah geram.
"Perlu saya tegaskan dulu Kak Luna mau di jodohkan dengan Mas Kamal karena rekomendasi Om dan Tante. Pada saat itu Kak Luna juga sedang patah hati karena harus putus dengan Mas Malik karena perbedaan agama. Tapi apa yang terjadi? Dua tahun Kak Luna menyembunyikan rahasia rumah tangganya. Kak Luna tidak pernah bahagia dalam pernikahannya. Saya di sini masih menghormati Bapak dan Ibu sebagai mantan mertua Kak Luna tapi tolong hormati juga keputusan Kak Luna. Saya dan Mama tidak perduli Kak Luna menikah dengan siapa asalkan seagama dan Kak Luna bahagia. Sekarang antara Kak Luna dan Mas Malik sudah tidak ada lagi penghalangnya jadi biarkan dia bahagia" lanjut Said.
"Tante juga aneh, sebenarnya ponakan Tante itu Kak Luna atau Mas Kamal. Bisa - bisanya Tante memaksa Kak Luna untuk mau menikah lagi dengan Mas Kamal . Kami sudah menahan perasaan dan berusaha untuk tidak menyalahkan Om dan Tante atas apa yang dialami Kak Luna. Kalau saja Om dan Tante tidak mengenalkan Kak Luna pada Mas Kamal mungkin nasib Kak Luna tidak akan begini" tegas Said.
"Said" potong Aluna.
"Biarin Kak, aku sudah lama menahannya. Selama ini Ibu selalu melarang karena merasa berhutang budi. Om dan Tante sudah membantu kita lebih tepatnya Kakak yang dulu tinggal bersama mereka. Tapi hutang budi sudah lunas Kakak bayar selama dua tahun menikah dengan Mas Kamal dan tidak mendapatkan kebahagiaan. Aku tidak setuju jika Kak Luna mau menerima perjodohan ini lagi" bantah Said.
__ADS_1
Dwi dan Renol terdiam mendengar ucapan Said.
"Bukan begitu Nak Said, kami tidak memaksa Aluna. Ibu hanya berpikir kalau Ibu sudah sangat menyayangi Aluna sebagai anak Ibu sendiri. Makanya Ibu menginginkan Aluna sebagai menantu Ibu lagi karena Ibu tidak ingin wanita lain sebagai menantu Ibu" ujar Lila merasa tidak enak hati.
"Kalau Ibu memang menyayangi Kak Luna biarkan dia bahagia. Saya bukan ingin merendahkan Mas Kamal tapi coba Ibu periksakan kesehatan Mas Kamal apa dia seratus persen sehat? Saya tidak mau Kakak saya tertular penyakit akibat perbuatan Mas Kamal dulu" sambut Said.
"Saiiiid" bentak Aluna.
Said terdiam karena mendengar ucapan Aluna. Tapi tangan Said masih mengepal karena geram.
"Maaf ya Om, Tante, Pa, Ma atas ucapan Said barusan. Maaf juga karena Luna memang gak bisa menikah lagi dengan Mas Kamal. Aluna sudah merencanakan pernikahan dengan Malik dan semua sudah mulai diatur jadi tidak mungkin lagi di batalkan. Lagian ini memang keputusan Aluna sendiri jadi apapun ceritanya Aluna tidak mau menikah kembali dengan Mas Kamal. Bagi Luna Mas Kamal sudah Luna anggap sebagai Kakak Luna" jawab Aluna.
Dwi menarik nafas panjang.
"Pikirkan dulu Lun. Nanti Tante akan bicara sama Mama kamu" ujar Dwi.
"Silahkan di minum minumannya Ma, Pa, Om, Tante" ujar Aluna.
Lila, Regi, Dwi dan Renol segera menghabiskan minuman yang Aluna hidangkan kemudian mereka segera pamit pulang.
"Kalau begitu kami pamit pulang dulu ya. Nanti kalau Mama kamu datang ke sini kami akan datang berkunjung lagi" ujar Lila.
"Silahkan Ma" sambut Aluna ramah.
Dwi dan yang lainnya pulang dan keluar dari rumah Aluna. Aluna akhirnya bisa bernafas lega.
__ADS_1
"Heran deh lihat Tante Dwi, bukannya bela Kak Luna malah memaksa agar Kak Luna mau menikah lagi dengan Mas Kamal. Apa sih yang mereka lihat dari Mas Kamal itu? Kekayaannya? Emangnya dengan kekayaannya itu bisa bahagia" ujar Said kesal.
Aluna merangkul lengan adiknya itu.
"Kakak tidak tau apa keinginan mereka. Mari berbaik sangka saja. Mungkin mereka menginginkan Kakak bahagia dengan Mas Kamal. Mengingat Papa dan Mama Mas Kamal memang sangat baik sekali. Tapi tidak dengan Mas Kamal. Hampir dua tahun menikah dengannya Kakak sama sekali tidak mengenal sifat Mas Kamal karena kami memang hanya beberapa kali berinteraksi. Kakak tidak akan mau masuk ke lubang yang sama" sambut Aluna.
Aluna menarik nafas lega.
"Terimakasih ya Dek tadi kamu udah bantuin Kakak dengan sangat gentleman. Kakak tidak menyangka adik Kakak kini sudah dewasa dan sudah bisa melindungi Kakaknya" ujar Aluna.
"Aku geram pada Mas Kamal. Dulu waktu menikahkan Kakak dengan Mas Kamal aku sudah berpesan untuk membahagiakan Kakak tapi apa yang terjadi ternyata dia menyia - nyiakan Kakak. Dia bukan pria bertanggung jawab tapi pria sakit" ucap Said.
"Terus bagaimana penilaian kamu pada Malik?" tanya Aluna.
"Walau aku jauh lebih muda dari kalian tapi Mas Malik tampak sangat menghormatiku. Dia juga sangat pintar mendekatkan diri pada keluarga. Aku tau Mas Malik bukan pria yang banyak omong tapi setidaknya dia tidak sedingin Mas Kamal yang sok cool ternyata tulang lunak" jawab Said.
"Huuus... dia sudah taubat" ujar Aluna.
"Aku gak yakin Kak, mana mungkin dengan secepat itu dia bisa sembuh. Dia mengidap penyakit itu sejak dia kuliah, sudah belasan tahun dia jalani kehidupan seperti itu. Belum sampai satu tahun aku rasanya masih butuh banyak waktu. Dia kan sangat pintar berbohong, bisa saja di depan kedua orang tuanya dia berusaha baik tapi dibelakangnya dia busuk. Seperti yang dia lakukan dulu saat menikah dengan Kak Luna" sambut Said.
Aluna terdiam mendengar ucapan Said. Bagaimanapun Aluna tidak mau menjalani hari - harinya seperti dulu lagi. Apalagi sekarang dia akan menikah dengan Malik cinta pertama dan terakhirnya. Aluna pasti akan menolak keras lamaran keluarga Kamal.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG