
"Assalamu'alaikum" ucap Bian yang baru saja tiba di rumah Mutia bersama kedua orang tuanya.
"Wa'alaikumsalam" jawab Papa dan Mama Mutia.
"Silahkan masuk" perintah Papa Mutia.
Bian dan kedua orang tuanya masuk dan duduk di ruang tamu rumah Mutia.
"Sanjaya" ucap Papa Bian sambil menjabat tangan Papa Mutia.
"Ramadhan" jawab Papa Mutia.
"Silahkan duduk Mas" sambung Papa Mutia.
Papa dan Mama Bian bersama Bian duduk di sofa ruang tamu Mutia setelah saling berkenalan.
"Maaf Mas, Mbak kami baru bisa pulang sekarang. Padahal sudah lebih satu bulan yang lalu Mutia bercerita tentang niat dia dan Bian untuk menikah. Kami juga hanya lewat telepon bercerita dengan Bian perihal niat baik mereka untuk segera menikah" ucap Papa Mutia.
"Tidak apa Dek Ramadhan, kami mengerti kok" sambut Papa Bian.
"Jadi maksud kedatangan kami ya untuk berkenalan sekaligus menentukan waktu dan tanggal yang tepat untuk segera melaksanakan niat baik anak - anak kita. Kami sebagai orang tua Bian menyerahkan sepenuhnya kepada Bian untuk menentukan siapa wanita yang akan dia pilih menjadi istrinya. Dan pilihannya jatuh kepada Mutia. Kami sudah berkenalan dengan Mutia dan sudah beberapa kali bertemu dan kami sangat setuju Mutia menjadi menantu kami" lanjut Papa Bian.
"Saya juga sudah mengenal Bian. Dia pria yang baik dan bertanggung jawab. Kami yang selalu bepergian rasanya lega akhirnya putri kami berada di tangan pria yang tepat. Kami yakin Bian bisa menjaga dan membimbing Mutia menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Oleh sebab itu sebaiknya niat baik mereka segera kita laksanakan" sambut Papa Mutia.
__ADS_1
"Mereka sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Katanya printilan yang kecil - kecil juga sudah selesai. Tinggal mencari gedung dan WO. Cetak undangan setelah tanggalnya kita tentukan" ujar Papa Bian.
"Ya tentukan saja Mas, kami ikut saja" sahut Papa Mutia.
"Bagaimana Mutia, Bian, apa kalian punya pilihan tanggal?" tanya Papa Bian.
"Bagaimana kalau bulan depan saja Pa. Aku dan Mutia sudah membicarakannya tinggal meminta izin Papa, Mama, Om dan Tante" jawab Bian.
"Ya sudah lanjutkan" ujar Papa Bian.
"Iya Om juga setuju" potong Papa Mutia.
Bian dan Mutia saling lirik dan tersenyum lega.
"Ya sudah kalau begitu kami akan cetak undangan secepatnya. Mengaji WO kami juga sudah punya calon WO yang akan mengurus segala sesuatunya. Nanti mereka juga akan membantu untuk mencarikan gedung yang tepat" ungkap Bian.
"Aamiin" sambut semuanya.
"Baju pengantinnya bagaimana?" tanya Mama Mutia.
"Kami sudah punya perancang busana yang bisa membantu Ma. Dan mereka sudah merancang gaun pernikahanku dan Mas Bian" jawab Mutia
"Waaah kalian benar - benar sudah mempersiapkannya ya" sahut Mama Mutia.
__ADS_1
"Mereka sudah gak sabar Jeng" potong Mama Bian.
"Iya Mbak, tapi tidak apa agar kita segera menimang cucu" sambut Mama Mutia.
"Iya, saya juga sudah tidak sabar" balas Mama Bian.
"Menjelang pernikahan begini kalian harus lebih banyak beribadah dan berdoa. Biasanya suka ada pengganggu yang membuat hati bimbang dan galau. Minta petunjuk pada Allah agar Allah tetap menguatkan hati kalian dan menjodohkan kalian sampai ke jannah" ucap Papa Bian.
"Iya Pa kami akan mendengarkan pesan Papa. Kami juga sangat mengerti, karena apa yang Papa katakan memang sudah mulai berdatangan menguji niat kami. Alhamdulillah semuanya hingga saat ini bisa kami lewati dengan baik" jawab Bian.
"Syukurlah" jawab Papa Bian.
"Ayo Mas, Mbak silahkan diminum. Jangan sungkan, sebentar lagi kita akan menjadi keluarga" ujar Papa Mutia.
"Iya.. Iya terimakasih" sambut Papa Bian
Bian dan Mutia kini bisa bernafas lega karena langkah mereka menuju pernikahan kini sudah semakin lapang dan ringan.
Hanya tinggal hitungan minggu dan hari menuju hari bahagia mereka. Tak henti keduanya terus mengucap syukur atas apa yang terjadi malam ini.
Kini dua keluarga sudah berkenalan bahkan dengan cepat langsung akrab dan sudah seperti keluarga. Dua keluarga kini sebentar lagi akan menyatu dalam ikatan pernikahan.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG