
Seminggu kemudian.
Malik sedang sibuk bekerja di belakang meja kerjanya. Dia bekerja dengan serius karena sedang memeriksa stok pengadaan barang.
Tiba - tiba Malik dikejutkan dengan suara ketukan pintu.
Tok.. Tok..
"Masuk" ucap Malik dari dalam.
Pintu ruangan Malik dibuka.
"Mas Malik ada tamu yang cari Mas Malik, katanya sudah pernah janjian sama Mas Malik cuma beliau baru sempat datang hari ini" jawab teman sekantor Malik.
"Tamu, siapa ya? Apa dia sebutkan nama?" tanya Malik penasaran.
"Katanya namanya Kamal Mas" jawab teman Malik.
Sontak Malik terkejut saat mendengar nama Kamal. Ternyata Kamal serius ingin bekerja sama memasukkan barang ke kantornya.
"Ya sudah suruh masuk" perintah Malik.
"Baik Mas" sambut pria itu.
Tak lama kemudian Kamal masuk ke dalam ruangan Malik. Malik menyambutnya dengan sopan.
"Siang" sapa Kamal.
"Siang Mas, silahkan duduk" sambut Malik.
Kamal duduk diatas sofa ruangan Malik tepat dihadapan Malik.
"Seperti yang saya ceritakan kemarin, saya ingin menawarkan kerjasama sebagai pemasok pengadaan barang di kantor ini" ungkap Kamal.
"Apa ada brosurnya Mas? Saya mau lihat perbandingan harga dulu" pinta Malik.
"Ah ada, nih brosur dan daftar harganya" ujar Kamal sambil memberikan beberapa lembar kertas kepada Malik.
Malik meraihnya lalu melihat isinya. Memang barang - barang yang ditawarkan Kamal harganya lebih miring dari Perusahaan kerjasama yang lama.
"Boleh juga nih Mas. Tapi apa saya bisa lihat barangnya? Saya tidak melihat dari harganya saja tapi juga kualitasnya" tanya Malik.
"Boleh, kapan kamu ada waktu untuk lihat langsung ke gudang kami?" tanya Kamal.
"Mmm besok juga boleh Mas" jawab Malik.
"Baiklah nanti kabari saya ya, ini kartu nama saya" sambut Kamal sambil mengerahkan kartu namanya.
__ADS_1
"Oke Mas" ujar Malik.
Usai membicarakan tentang pekerjaan Kamal memulai pembicaraan tentang hal lain.
"Kamu pasti sudah tau apa penyebab saya bercerai dengan Aluna?" tangan Kamal.
"Iya, saya sudah tau bahkan keluarga Mas ingin melamar Aluna untuk kedua kalinya dan menyuruh Aluna membatalkan rencana pernikahan kami" jawab Malik.
"Maaf, kedua orang tua saya memang sangat menyayangi Aluna. Mereka hanya menginginkan Aluna sebagai menantu mereka. Tapi Aluna adalah wanita bebas dan dewasa. Tidak mudah untuk memaksa Aluna agar mau menerima lamaran orang tua saya" ujar Kamal.
"Apa Mas sudah dengar kisah saya dan Aluna dulu?" tanya Malik.
Kamal menarik nafas panjang.
"Aku tau tapi bukan dari Aluna. Om dan Tante Aluna cerita pada kedua orang tuaku kalau Aluna punya pacar beda agama. Dan putus karena perbedaan itu hingga akhirnya Aluna mau menerima perjodohan kami. Saat itu aku juga membutuhkan status pernikahan. Aku sempat memberi penawaran pada Aluna. Aku jalan dengan hidupku dan dia jalani hidupnya dengan kamu mantan pacarnya. Aku tidak keberatan tapi Aluna menolaknya. Aluna wanita yang baik dan solehah. Aku yang salah karena memilih jalan hidup yang salah" ungkap Kamal.
"Aku juga mengetahui cerita pernikahan kalian setelah menikah karena aku terkejut Aluna masiiiih... suci. Barulah Aluna cerita tentang pernikahannya dengan Mas" sambut Malik dengan tenang.
"Aku akui aku sangat salah dan banyak dosa. Aku juga masih dalam proses memperbaiki diri. Semua bukan hal yang mudah untuk dilalui karena aku sudah terlalu lama hidup dalam dunia itu. Kadang disaat imanku lemah ada godaan untuk kembali ke jalan yang dulu. Tapi kedua orang tuaku sudah tua. Hanya aku anak mereka, kalau aku berjalan di jalan yang salah mereka pasti akan sangat bersedih" sambung Kamal.
"Dalam hidup ini kita selalu mendapatkan ujian Mas. Kalau kita berhasil melaluinya kita pasti akan naik kelas. Semoga Mas tetap istiqomah dan bisa hidup dengan lebih baik lagi. Asal Mas bisa jaga diri dan jaga pergaulan. Putus kontak dengan orang - orang yang bisa kembali menjerumuskan kita ke lobang yang sama. Manfaat setiap kesempatan untuk terus mendekatkan diri kepada Allah agar pikiran dan hati Mas lebih tenang dan tidak lagi mendengarkan suara - suara yang datang menggoda" pesan Malik.
"Kamu pria hebat, diusia muda kamu berani mengambil keputusan untuk merubah kehidupan kamu seperti sekarang ini. Aku tau pasti sangat berat pindah keyakinan. Pasti banyak penolakan dari keluarga, lingkungan dan teman - teman" ujar Kamal.
"Pasti Mas terlebih keluargaku. Tapi alhamdulillah semua berhasil aku lalui. Sekarang keluargaku bisa menerima dan menghormati keputusanku" sahut Malik.
"Sudah saatnya makan siang, apa kamu ada waktu? Kita bisa makan diluar?" ajak Kamal.
"Maaf Mas, aku sudah janji makan bareng Aluna" tolak Malik dengan halus.
"Pasti Aluna sudah masak ya.. Masakan Aluna memang enak. Aku sangat memujinya. Kamu beruntung mendapatkan Aluna dan aku yang bodoh telah menyia - nyiakan wanita sebaik dia. Bahkan aku mengabaikan kesempatan terbaikku" ungkap Kamal.
Malik tersenyum tipis menatap wajah Kamal.
"Kalau begitu aku pamit undur diri dulu. Sampai ketemu besok ya. Aku tunggu kamu di gudang perusahaan kami" ujar Kamal.
"Baik Mas, sampai ketemu lagi besok" sahut Malik.
Kamal dan Malik berdiri lalu mereka saling berjabatan tangan. Kemudian Kamal pergi keluar dari ruangan Malik. Tak lama kemudian Aluna datang ke ruangan Malik.
"Assalamu'alaikum Mas" ucap Aluna saat masuk ke dalam ruangan Malik.
"Wa'alaikumsalam sayang" sambut Malik dengan senyuman manisnya.
"Sudah siap untuk makan siang?" tanya Aluna manja.
"Jangankan makan siang, makan kamu aja aku sudah siap" goda Malik.
__ADS_1
"Ih suami aku mesum" balas Aluna dengan senyuman nakal.
"Habis istriku ngangenin" sahut Malik.
Aluna meletakkan kotak bekal mereka di meja sofa yang ada di ruangan kerja Malik. Malik berjalan menghampiri Aluna dan duduk dengan santai di atas sofa.
Aluna segera menyiapkan makan siang Malik dengan cekatan. Seminggi ini Malik sangat menikmati kehidupan rumah tangga mereka yang tenang dan manis.
"Ini Mas" ucap Aluna menyerahkan makan siang Malik.
"Makasih sayang" jawab Malik.
Mereka mulai makan siang bersama.
"Tadi Mas Kamal datang ke sini" ungkap Malik.
Sontak Aluna menghentikan aktivitas makannya dan melirik Malik.
"Ngapain?" tanya Aluna penasaran.
"Ya mau ngajak kerjasama untuk pengadaan barang di kantor ini" jawab Malik.
"Terus kamu kamu?" tanya Aluna.
"Harganya lebih murah. Aku rencananya besok ingin melihat barang - barangnya langsung. Kalau kualitasnya bagus mungkin aku akan mempertimbangkannya dan menerimanya" jawab Malik tenang.
"Jangan Mas, mending lebih baik di tolak saja" cegah Aluna.
"Kenapa di tolak? Dan apa alasannya? Karena dia adalah mantan suami kamu? Itu namanya mengaitkan masalah pribadi dalam dunia kerja. Kamu tau kan aku tidak suka seperti itu?" tanya Malik.
"Perasaan aku masih tidak enak sama Mas Kamal. Aku belum yakin dia berubah" ujar Aluna.
Malik menarik nafas panjang.
"Jangan berpikiran buruk dulu. Kasih kesempatan dia berubah. Dia sudah mengaku semuanya kepadaku. Dia juga berkata jujur kalau dia sedang proses memperbaiki diri. Orang seperti itu harusnya kita dukung bukan malah dikucilkan" nasehat Malik.
Aluna terdiam mendengar nasehat Malik. Seketika Aluna merasa malu kepada Allah, Malik dan dirinya sendiri. Secepat itu memberikan penilaian yang jelek kepada Kamal.
Bisa jadi Kamal memang benar - benar sudah bertaubat dan masih berjuang memperbaiki dirinya. Aluna menarik nafas panjang.
"Semoga Mas Kamal tetap istiqomah" doa Aluna.
"Aamiin.. nah gitu donk" sambut Malik.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG