Kita Yang Berbeda

Kita Yang Berbeda
Ziarah Ke Makam Papa


__ADS_3

Sore harinya saat matahari sudah tidak lagi sepanas siang hari, Aluna dan Malik ziarah ke makam Papa Aluna dengan mengendarai motor yang ada di rumah Mama Aluna.


"Sudah lama banget rasanya gak bonceng kamu seperti ini" Ucap Malik.


Aluna hanya diam karena dia juga baru merasakan hal yang sama. Bedanya sekarang Aluna lebih menjaga jarak saat boncengan. Dulu kan Aluna belum memakai jilbab dan ilmu agamanya masih sedikit.


Sebenarnya tadi Malik ingin membawa mobil tapi akan lebih mudah naik motor karena jalan menuju ke sana sangat kecil.


"Nanti akad nikah kita kamu maunya dimana?" Tanya Malik.


"Nanti kita bicarakan sama Mama ya Lik. Aku tidak bisa memutuskan masalah ini sendiri. Karena akad nikah kan gak sesimpel yang kita pikirkan. Ada keluarga besar yang turut andil di dalamnya" Jawab Aluna.


"Oke deh kamu atur aja. Kamu kan lebih tau hal itu dari aku" Ujar Malik.


"Kamu ngeledek aku nih karena statusku?" Tanya Aluna pura - pura ngambek.


"Eh bukan - bukaaan.. Aku tidak bermaksud begitu" Ralat Malik.


Aluna tersenyum tipis melihat tingkah Malik yang seperti itu


"Aku cuma bercanda kok Lik" Ujar Aluna.


"Mas" Sambut Malik.


"Nanti aja deh Lik kalau kita sudah nikah" Balas Aluna.


"Okey aku tunggu" Sahut Malik.


Kini mereka sudah sampai di depan TPU tempat Papanya Aluna dimakamkan. Aluna dan Malik berjalan menuju pusara Papanya Aluna.


Mereka mulai membaca doa di dalam hati untuk Papanya Aluna. Setelah selesai berdoa Aluna mengusap batu nisan yang bertuliskan nama Papanya.


Papa.. Luna datang ke sini bersama Malik. InsyaAllah dalam waktu dekat ini kami akan menikah. Restui pernikahan kami ya Pa. Luna yakin kali ini Papa pasti akan setuju karena Malik sudah seiman dengan kita. Dan Luna yakin Papa akan merestui karena sekarang Luna bahagia. Batin Aluna.


Pak, saya Malik Abraham datang ke sini meminta izin Bapak untuk menikahi putri kesayangan Bapak, Aluna Carlisa. Saya berjanji akan membahagiakan Aluna denhan segenap hati dan seluruh kemampuan saya. InsyaAllah saya akan menjaganya dengan sekuat tenaga saya. Hingga akhir hayat dan maut yang memisahkan kami. Ucap Malik dalam hati.


Setelah selesai berdoa keduanya berdiri sambil menatap pusara Papa Aluna.


"Pa kami pulang ya" Ucap Aluna untuk berpamitan.


Aluna dan Malik berjalan keluar dari TPU tempat Papa Aluna di makamkan.


"Tadi kamu do'ain Papa apa Lik?" Tanya Aluna.

__ADS_1


"Tentu saja doa yang baik - baik untuk calon mertua. Sekaligus aku minta izin mau mempersunting anak sulungnya" Jawab Malik.


Malik melirik Aluna yang berjalan disampingnya.


"Kamu sendiri bilang apa sama Papa kamu?" Tanya Malik.


"Aku juga minta restu Papa. Aku bilang kalau sebentar lagi aku akan menikah dan aku bahagia" Jawab Aluna.


Malik tersenyum lembut dan penuh perhatian kepada Aluna. Mereka duduk sebentar di pinggir TPU sambil beristirahat.


"Aku penasaran mimpi apa yang bisa membuat kamu berubah pikiran dan dapat hidayah untuk masuk islam?" Tanya Aluna penasaran.


Malik menatap Aluna beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan Aluna.


"Dimalam pernikahan kamu aku merasa sangat sedih sekali karena kesempatan aku rasanya untuk menikahi kamu putus sudah. Mau tidak mau aku harus ikhlas. Mungkin karena mikirin kamu terus aku jadi mimpiin kamu. Tapi aku bukan mimpi saat - saat kita bersama" Jawab Malik.


Aluna terdiam mendengarkan cerita Malik.


"Dalam mimpi aku itu kamu memakai pakaian yang serba putih memakai jilbab seperti baru selesai shalat lalu kamu mengaji. Suara kamu terdengar sangat merdu dan menentramkan jiwaku. Aku terus mendengarkan kamu melantunkan ayat - ayat Alquran, hatiku tenang sekali. Kita berada di taman bunga yang sangat indah dengan suasana yang sangat cerah tapi tidak panas. Angin sepoi - sepoi pada saat itu. Aku tidak bisa lukiskan tapi semuanya sangat indah" Ungkap Malik.


"Di malam aku mau menikah?" Tanya Aluna.


Malik mengganggukkan kepalanya.


"Di hari itu juga aku memang mulai memakai jilbab" Ujar Aluna.


"Aku tidak tahu kata apa yang tepat untuk itu. Mungkin suatu kebetulan saja" Sahut Aluna.


"Awalnya aku mengira itu hanya bunga mimpi, mungkin karena aku terlalu memikirkan kamu. Tapi mimpi itu sangat sering sekali datang dalam tidurku. Kamu terlihat sangat cantik dan wajahnya kamu sangat teduh dan tenang membawa kedamaian dalam hatiku sambil kamu mengaji. Padahal aku sudah tanyakan pada diriku sendiri dan sudah meyakinkan hatiku kalau kamu memang bukan untukku. Kamu sudah menikah dan saat itu aku tidak tau dimana keberadaan kamu" Ujar Malik.


"Aku baru ingat sekarang, di malam aku menikah aku juga melihat kamu dalam mimpiku. Hampir sama persis seperti mimpi kamu. Aku berada di sebuah taman bunga yang sangat indah lalu aku melihat kamu dari kejauhan. Aku memanggil - manggil nama kamu lalu aku dekati tapi ternyata aku mendapati Mas Kamal. Saat aku terbangun aku berpikir mungkin mimpi itu sengaja hadir dalam mimpiku agar aku tersadar bahwa Mas Kamal lah jodohku saat itu" Ungkap Aluna.


"Apakah itu suatu kebetulan lagi?" Tanya Malik.


"Entahlah" Jawab Aluna.


"Bisa jadi itu suatu pertanda tapi mungkin kita tidak tau apa arti mimpi itu yang sebenarnya" Sambut Malik.


Aluna bangkit dari duduknya.


"Pulang yuk udah sore" Ajak Aluna.


"Ayo" Sambut Malik.

__ADS_1


Malik dan Aluna berjalan menuju parkiran motor lalu kembali menyusuri jalan yang tadi mereka lewati.


"Dua hari sudah kita berkumpul kembali, aku masih merasa ini seperti mimpi" Ucap Aluna.


"Makanya segera kita halalkan biar berasa jadi kenyataan" Sambut Malik.


"Iya" Balas Aluna.


"Bulan depan aja ya kita nikahnya" Ajak Malik.


"Terserah kamu deh, tapi bilang sama Mama biar dia tidak terkejut mendengarnya" Ujar Aluna.


"Kalau kita buat acaranya di Ibukota saja gimana?" Tanya Malik.


Aluna terdiam sambil berpikir sejenak.


"Pertama karena teman - teman kita semua disana. Kedua agar keluargaku tidak perlu jauh - jauh lagi ke sini. Bukan aku tidak mau bawa mereka ke sini tapi agar kasihan juga kalau mereka berangkat dari kampung ke Ibukota lalu lanjut ke sini" Ungkap Malik.


Aluna menarik nafas panjang.


"Aku sih tidak masalah, lagian ini pernikahan kedua. Dulu yang pertama sudah pernah nikah di kampung. Kalau nikahnya di Ibukota saja aku rasa Mama setuju" Sambut Aluna.


"Di Ibukota, keluargaku bisa tinggal di rumahku dulu, dan keluarga kamu tinggal di rumah kamu. Kita buat acaranya di gedung saja" Usul Malik.


"Acaranya jangan besar - besar ya, aku malu. Ini kan pesta pernikahan kedua bagiku" Pinta Aluna.


"Tapi aku kan yang pertama" Goda Malik.


Pipi Aluna jadi merona karena pembicaraan mereka. Aluna masih sering merasa malu dengan statusnya.


"Yang penting kita bahagia, jangan pikirkan omongan orang lain Al. Lagian kita biar acaranya ya sewajarnya saja. Akad nikah dan panggil keluarga juga teman - teman kita, selesai. Setelah itu kita berangkat honeymoon. Kamu mau kita pergi kemana? Bali seperti keinginan kamu dulu?" Tanya Malik.


Pipi Aluna semakin merona karena ternyata Malik masing ingat semua mimpi - mimpinya dulu. Malik melihatnya dari kaca spion sepeda motor yang mereka kendarai


"Kok malu? Aaaal... Aaal... Aku sudah mengenal kamu sembilan tahun lebih. Mengapa harus malu?" Tanya Malik.


"Karena aku tidak pernah honeymoon" Jawab Aluna.


Malik terdiam mendengar jawaban Aluna.


Apakah rumah tangga kamu dulu sebegitu menyedihkannya Al? Kali ini aku akan membahagiakan kamu, aku janji. Tegas Malik dalam hati.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2