
Satu minggu kemudian Kamal mencoba menghubungi Malik lagi.
"Halo Malik, gimana rencana kerjasama kita kemarin? Apakah sudah ada jawabnya?" tanya Kamal.
"Ya Mas sudah. Atasan aku sudah acc, Mas bisa ajukan proposal dan perjanjian kerjasama nanti biar aku ajukan ke kantor dan disetujui oleh atasanku" sambut Malik.
"Baik kalau begitu sebaiknya kita tanda tangan perjanjian di luar aja Lik. Tolong kamu ajak atasan kamu makan di luar. Gimana kalau kita makannya di Restoran kemarin milik temanku?" tanya Kamal.
"Boleh Mas, nanti aku bilang sama atasanku ya" jawab Malik.
"Kapan waktunya Lik?" tanya Kamal.
"Terserah Mas Kamal aja" sambut Malik.
"Lebih cepat lebih baik, gimana kalau besok siang aja kita ketemuannya?" tanya Kamal.
"Baik Mas, kita ketemu besok ya di Restoran kemarin" jawab Malik.
Keesokan harinya Malik dan atasannya hendak berangkat ke Restoran yang disebutkan Kamal.
"Lik kita bawa mobil masing-masing aja ya. Setelah dari sana saya ada keperluan lain diluar" ujar atasan Malik.
"Baik Pak" jawab Malik.
Malik dan atasannya berangkat dengan mobil masing-masing menuju restoran milik Gerry. Sesampainya disana ternyata Kamal sudah sampai duluan.
"Mas Malik ya? Sudah ditunggu Mas Kamal di ruangan private" sambut Gerry.
"Baik, terimakasih Mas" jawab Malik.
Malik dan atasannya segera masuk ke ruangan private. Seperti kemarin, mereka kembali di suguhi hidangan spesial dari restoran Gerry.
Kamal dan atasan Malik menandatangani kontrak kerjasama. Setelah itu baru mereka menikmati hidangan makan siang.
Usai makan siang atasan Malik pamit undur diri lebih dulu karena dia ada keperluan lain setelah ini.
"Kalau begitu saya pamit duluan ya" ujar pria paruh baya itu.
"Baik Pak" sambut Malik.
Kamal berdiri menyambut rekan bisnisnya yang baru lalu menjabat tangan atasan Malik.
"Terimakasih atas waktu luangnya Pak dan terimakasih atas kerjasamanya" ungkap Kamal.
"Sama - sama Mas Kamal" jawab Pria itu.
Setelah atasan Malik keluar tinggalkan Malik dan Kamal berdua di dalam ruangan itu. Tiba - tiba Gerry masuk ke dalam ruangan.
"Apa ada pesanan lainnya?" tanya Gerry.
__ADS_1
"Tidak ada Mas, saya sudah cukup" jawab Malik.
"Katanya kamu ada menu penutup baru. Hidangan donk biar kau coba tes rasa" ujar Kamal.
"Ah iya jangan pulang dulu ya. Aku akan suruh karyawan aku antar ke sini" sambut Gerry.
Gerry keluar dari ruangan tak lama kemudian pelayan datang membawa menu penutup untuk Malik dan Kamal. Mereka memakan hidangan tersebut dengan cepat.
Tiba - tiba Malik merasa pusing dan matanya sangat berat.
"Ada apa Lik?" tanya Kamal.
"Gak tau Mas, tiba - tiba kepala dan mataku berat sekali" jawab Malik.
"Kamu ngantuk?" tanya Kamal.
"Iya tapi aku harus segera kembali ke kantor" jawab Malik.
"Kalau begitu aku antar saja kamu ke kantor. Nanti mobil kamu biar dibawa Gerry. Kan lumayan di mobil kamu bisa tidur sebentar. Mungkin kamu kelelaha Lik" sambut Kamal.
"Mungkin juga Mas" sahut Malik
"Ya sudah yuk kita jalan. Mana kunci mobil kamu biar aku kasih sama Gerry" pintar Kamal.
Malik memberikan kunci mobilnya
"Kamu masih bisa jalan Lik?" tanya Kamal.
Kamal hendak membantu Malik berjalan tapi Malik menolaknya.
"Saya bisa sendiri Mas" jawab Malik.
Malik berusaha untuk jalan sampai parkiran mobil. Kamal membuka pintu mobilnya agar Malik bisa segera masuk. Dia memberikan kunci mobil Malik kepada Gerry.
"Langsung ke lokasi" ujar Kamal.
"Oke Mal" jawab Gerry lembut.
Begitu masuk ke mobil Malik langsung tertidur pulas. Kamal memeriksa keadaan Malik.
"Reaksinya lumayan cepat. Kamu memang hebat Ger. Hari ini kita bisa nikmati mangsa baru. Setengah jam lagi Malik akan berubah menjadi pria yang perkasa" gumam Kamal dengan senyuman nakalnya.
Kamal melirik ke arah Gerry yang sudah berada di dalam mobil Malik yang terparkir tepat di samping mobil Kamal.
"Ayo kita pergi sekarang" perintah Kamal.
"Oke" sambut Gerry dengan sigap.
Dua mobil itu mulai berjalan menuju salah satu hotel yang tak jauh letaknya dari restoran Gerry. Kamal dan Gerry bekerja sama membawa Malik masuk ke dalam salah satu kamar di hotel tersebut.
__ADS_1
"Kamu memang sangat pintar mencari mangsa Mal. Dia pria yang sangat tampan dan gagah. Mantan istri kamu pintar juga memilih suami" ujar Gerry.
"Hahaha wanita itu sok suci. Dia merasa hebat karena kedua orang tuaku menyayanginya. Dia munafik, menolak saat aku kasih tawaran tetap menikah dan dia boleh berhubungan dengan mantan pacarnya. Ternyata diam - diam dia tetap berhubungan. Setelah dia membuat malu aku dihadapan orang tuaku dan mendapatkan sebagian hartaku dia menikah dengan mantan pacaranya. Dia kira dia bisa mengelabuiku begitu saja. Setelah kita bisa menikmati tubuh suaminya kita akan sebarkan foto mesum suaminya ini. Aku jamin pasti suaminya akan dipecat jadi pegawai negeri dan Aluna akan menanggung malu karena hal itu" ungkap Kamal.
Kamal dan Gerry meletakkan tubuh Malik ke atas tempat tidur. Mereka mulai membuka pakaian atas Malik. Tampak dada bidang Malik yang membuat Kamal dan Gerry semakin bergairah.
"Waaaw tubuhnya bagus pasti dia sangat kuat sekali nanti" Gumam Gerry.
Tubuh Malik mulai berkeringat dan matanya terbuka tapi entah mengapa Malik merasakan fantasi. Dia melihat saat dia sedang berada di sebuah kamar yang dia duga pasti hotel.
Gairah Malik terpancing dan dia tidak bisa menahannya. Kamal dan Gerry memutar film blue sesama jenis tepat dihadapan Malik. Entah mengapa Malik merasa terpancing dan panas akan hal itu.
Kamal dan Gerry mulai menjalankan aksi mereka di depan Malik. Malik menelan salivanya. Saat ini dia tidak bisa lagi berpikiran jernih.
Tubuh Malik terbakar dan dia bisa lupa kalau apa yang saat ini dia lihat dan dia rasakan adalah hal yang terlarang.
"Bagaimana apa kamu mau mencobanya?" tanya Gerry menggoda.
Dengan patuh Malik menganggukkan kepalanya. Malik hendak membuka pakaiannya yang hanya tinggal celana dinasnya saja. Baju dan kaos dalam miliknya sudah berhasil dilepas Gerry dan Kamal tadi.
Tiba - tiba pintu hotel dibuka oleh beberapa orang dari luar.
"Astaghfirullah Mas Malik" Panggil Mutia.
Mutia masuk bersama Bian dan beberapa petugas keamanan hotel. Sontak Gerry dan Kamal segera melindungi tubuh mereka dengan selimut.
"Mu.. Mutia" panggil Malik.
"Mas ngapain di sini? Apa yang kalian lakukan pada Mas Malik?" tanya Mutia kepada Kamal.
Untung saja Mutia datang saat pesta pernikahan Aluna dan Kamal dulu jadi dia bisa mengenali wajah Kamal. Saat dia dan Bian makan siang tadi tiba - tiba Mutia melihat Malik keluar dari sebuah ruangan bersama Kamal.
Kondisi Malik sepertinya tidak baik - baik saja. Mutia mengajak Bian untuk mengikuti mereka. Benar saja dugaan Mutia, Kamal membawa Malik masuk ke dalam hotel.
Mutia dan Bian melihat Kamal dan temannya mengangkat tubuh Malik yang tak sadarkan diri masuk ke dalam sebuah kamar.
Mutia dan Bian segera melapor kepada bagian keamanan dan mereka melihat rekaman CCTV saat Kamal dan Gerry masuk membawa Malik yang tidak sadarkan diri.
Bagian keamanan baru percaya kalau saat itu nyawa Malik sedang terancam. Kemudian mereka bersedia membantu Mutia dan Bian.
"Mut.. tia.. mana Aluna?" tanya Malik sambil berjalan sempoyongan.
"Sepertinya dia mabuk Mut" ucap Bian.
"Tangkap mereka berdua Pak" perintah Bian kepada bagian keamanan.
Gerry dan Kamal segera diamankan pihak keamanan hotel dan dibawa ke kantor polisi.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG