Kita Yang Berbeda

Kita Yang Berbeda
Menegangkan


__ADS_3

Mutia pulang ke rumah setelah mengantarkan Gadis ke rumahnya. Aluna di jemput Malik di Cafe tempat mereka makan tadi.


Karena waktu maghrib sudah tiba, Mutia numpang shalat setelah itu baru melanjutkan perjalanannya pulang ke rumah.


Saat di tengah perjalanan tiba- tiba mobil Mutia bannya kempes. Mutia terlihat sangat panik. Mobilnya berhenti di tempat yang sepi.


Mutia mengumpulkan keberaniannya dan turun dari mobilnya. Mutia segera memeriksa empat bannya. Ternyata ban sebelah kiri belakang kempes.


Tiba - tiba ada dua orang pria yang menghampirinya. Mutia tampak ketakutan.


"Hai Nona, apakah kamu butuh bantuan?" tanya seorang pria.


"Ti.. tidak eh iya. Ban mobilku kempes" jawab Mutia ragu.


Pria tersebut turun dari mobilnya dan melihat tampilan Mutia dari ujung rambut hingga ujung kaki. Mutia tampak risih dilihat seperti itu dah hendak masuk ke dalam mobil.


"Ban mana yang kempes?" tanya pria itu.


Mutia menatap wajah pria itu ragu.


"Jangan takut, aku hanya ingin membantu. Wanita seperti kamu berada di tempat sepi seperti ini sendirian lagi" ucap pria itu.


"A.. anu, ban belakang sebelah kiri yang bocor" jawab Mutia.


Pria itu segera memeriksa bagian belakang mobil Mutia dan melihat ke arah ban sebelah kiri.


"Wah kempes banget ya, harus ganti ban ini" ucap pria itu.


"Ada ban serapnya?" tanya pria itu.


"A.. ada di bagasi mobil" jawab Mutia.


"Jhon bantuin donk" Pria itu memanggil temannya yang ada di dalam mobil.


Pria satu lagi menepikan mobilnya lalu turun dari mobil. Mutia tampak sangat takut sekali. Dia ingin meminta bantuan tapi dia bingung harus menghubungi siapa.


"Buka bagasi mobilnya biar kami bantu untuk mengganti bannya" ucap pria yang pertama turun.


"Ba.. baik" jawab Mutia.


Mutia masuk ke dalam mobil lalu membuka tombol pintu bagasi mobilnya. Dua pria itu tampak hendak mengeluarkan ban yang ada di dalam bagasi.


"Apa kamu punya linggis?" tanya pria itu kepada Mutia.


"Ada di bagasi juga" jawab Mutia.


Mutia semakin tidak nyaman karena dua pria itu sudah berada di dekatnya. Dan mereka menatapnya dengan tatapan yang membuat Mutia semakin ketakutan.


Mutia segera meraih ponselnya. Entah mengapa satu - satunya orang yang dia ingat malam ini adalah Bian. Mutia langsung mengirim pesan kepada Bian.


Mutia


Pak Bian, tolong ban mobil saya kempes di jalan XXX. Saya sedang di bantu oleh dua orang pria tapi saya sangat ketakutan. Tolong bantuin saya.

__ADS_1


Dengan tubuh yang bergetar Mutia hanya menunggu di dalam mobil. Kira - kira tiga puluh menit kemudian salah seorang pria tersebut mengetuk pintu kaca mobil Mutia. Mutia membuka jendela kaca.


"Sudah selesai Mbak" ucap pria tersebut.


Mutia merasa tidak sopan kalau dia tetap berada di dalam mobil. Sedangkan dua pria itu sudah membantunya diluar, menggantikan ban mobilnya yang kempes.


Dia segera membuka pintu mobil dan keluar.


"Terimakasih ya Mas, maaf kalau saya hanya menunggu di dalam mobil" ucap Mutia sungkan.


"Tidak apa Mbak, kami mengerti kok. Mbak pasti sangat ketakutan kan?" tanya pria itu lagi.


Pria yang kedua, pria yang terakhir turun dari mobilnya tadi kembali menatap Mutia dengan tatapan yang membuat Mutia semakin ketakutan.


"Kok sendirian aja Mbak malam - malam begini? Mungkin kita bisa berkenalan. Siapa tau lain kali Mbak mengalami hal yang sama dan butuh bantuan" ucap pria itu sambil menyodorkan tangannya.


"Mu.. Mutia" ucap Mutia dengan suara yang bergetar.


"Jon" sambut pria itu sambil tetap menggenggam tangan Mutia.


Mutia berusaha untuk melepaskan tangannya tapi tetap di tahan oleh pria itu. Mutia jadi berkeringat dingin karena ketakutan.


"To.. tolong lepaskan tangan saya" pinta Mutia.


"Eh maaf, saya terpesona atas kecantikan Mbak" ucap pria itu pura - pura merasa bersalah.


"Kamu suka sekali menggoda Mbak ini Jon" ujar teman yang pertama.


"Hendrik" ucap pria pertama.


Hendrik juga melakukan hal yang sama menggenggam tangan Mutia. Mutia mencoba melepaskan tangan kanannya dengan mendorong memakai tangan kirinya.


Hendrik menangkap kedua tangan Mutia.


"Mungkin kamu harus membayar bantuan kami sedikit" ucap Hendrik.


"A.. apa - apaan ini?" tanya Mutia dengan terkejut.


JOn segera meraba rok pendek Mutia dan membelainya dari luar. Mutia semakin ketakutan dan mencoba untuk menjerit.


"To.. tolooong" panggil Mutia.


"Menjerit lah Nona, tidak akan ada yang bisa mendengar kamu. Tidak ada orang di sini" ucap Jon.


Kedua pria itu mendorong Mutia masuk ke dalam mobil. Hendrik membuka pintu mobil bagian belakang sedangkan Jon mendorong tubuh Mutia untuk masuk ke dalamnya.


"Ja.. jangan lakukan" pinta Mutia mulai menangis karena ketakutan.


"Sayang sekali kalau melewatkan kesempatan ini. Jadilah wanita yang baik dan tau cara membalas budi" ucap Jon.


Jon mendorong tubuh Mutia hingga tubuh Mutia tergeletak di atas kursi penumpang. Rok pendek Mutia jadi terlihat semakin tertarik ke atas membuat paha mulusnya semakin terlihat.


"Waaah kulit kamu putih, bersih dan halus sekali" ucap Jon.

__ADS_1


"Tolong jangan lakukan" rengek Mutia.


"Ayo Jon cepat lakukan biar setelah itu giliranku. Aku sudah tidak sabar" ucap Hendrik dari luar.


Air mata Mutia semakin deras mengalir.


"Tolooooooong" teriak Mutia.


"Hahaha menjeritlah sayang, tidak akan ada yang bisa membantu kamu malam ini" ucap Jon.


"Kalau dia terus memberontak, bagaimana kalau dia kita bawa aja ke rumah kita. Mungkin kita bisa bermain dengannya beberapa hari hingga dia ketagihan" ucap Hendrik dari luar.


Kata - kata Hendrik semakin membuat Mutia ketakutan. Dia sudah pasrah dan di dalam hati terus berdoa semoga ada orang yang datang menolongnya.


Jon mulai menyentuh bagian atas Mutia. Dia mulai merobek baju kemeja Mutia dengan kasar agar mempercepat usahanya menyentuh Mutia.


"Jangaaaan toloooong" Mutia kembali berteriak.


"Hei Hen ternyata kita tidak salah, tubuh wanita ini indah sekali" ucap Jon.


Hendrik masuk dari pintu depan dan melihat Jon sedang menyentuh tubuh Mutia.


"Jangan lakukan, kumohoooon" rengek Mutia.


"Lebih baik kamu diam Nona, jangan sampai kami melakukan kekerasan yang akan menyakiti diri kamu sendiri. Lebih baik kita nikmati saja malam ini" ucap pria yang bernama Jon.


"Ayolah Jon cepat sedikit, aku sudah tidak sabar" ucap Hendrik.


Hendrik hendak menarik rok pendek Mutia tapi Mutia menahannya.


"Tolooooooong" teriak Mutia.


Tiba - tiba pintu tengah terbuka dan tubuh Jon ditarik dari luar. Sontak Hendrik dan Jon terkejut ternyata ada seseorang yang mencoba menyerang mereka.


"Kurang ajar kalian" ucap seseorang yang baru saja datang.


Hendrik keluar dari mobil dan melihat temannya Jon sudah di pukul oleh pria yang baru saja datang.


"Hei siapa kamu?" tanya Hendrik.


"Aku calon suaminya. Enak saja kalian menyentuh calon istriku" jawab pria tersebut.


Buk.. bak... buk... &$@_#-$(_) /@-


Perkelahian terjadi hingga akhirnya dua pria itu segera berlari menuju mobil mereka dan pergi meninggalkan tempat tersebut.


Mutia masih shock dan menangis di dalam mobil menutupi pakaiannya yang sudah robek tadi. Seseorang masuk untuk melihat keadaannya.


"Kamu tidak apa - apa? Aku tidak terlambat kan?" tanya pria itu.


"Pa... Pak Biaaaaan" Mutia langsung memeluk tubuh Bian dan menangis lega.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2