
Keesokan harinya David menghubungi Bian untuk bicara empat mata tentang Mutia. Kedua pria itu sepakat bertemu saat istirahat siang di sebuah Restoran.
"Mas Bian makan siang bareng yuk" ajak Mutia.
"Maaf Mut aku gak bisa. Aku ada janji dengan David siang ini" tolak Bian melelui panggilan telepon.
"Aku ikut ya" pinta Mutia.
"Gak usah, biar kami berdua saja yang bertemu. Nanti jadi rame disana kalau ada kamu" jawab Bian.
"Tapi Mas kalau kalian berdua saja aku takut kalian akan bertengkar" ujar Mutia khawatir.
"Kamu percayakan saja semuanya padaku" sambut Bian menenangkan Mutia.
"Mas, David itu bukan seperti Malik yang tenang dan dewasa. David tidak sama Mas, dia masih kekanak-kanakan" pesan Mutia.
"Kamu gak percaya padaku?" tanya Bian.
Mutia terdiam sesaat.
"Aku percaya pada Mas. Hati - hati ya Mas, kalau ada apa - apa kabari aku segera" pinta Mutia.
"Iya, kamu tenang saja ya" balas Bian.
Telepon kemudian terputus.
Bian segera keluar dari ruangannya dan turun ke basement. Kemudian dia melangkah menuju mobilnya dan melaju keluar dari area kantor.
Kini Bian sudah sampai di Restoran yang dia sepakati dengan David untuk bertemu. Bian langsung menuju meja dimana David sudah menunggu.
"Maaf sudah menunggu" ucap Bian.
"Tidak apa" sambut David dengan wajah tidak bersahabat.
Bian menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan tapi tidak disambut David.
__ADS_1
"Kita langsung saja ke inti masalah kita. Tinggalkan Mutia dan batalkan pernikahan kalian" perintah David.
"Oh tidak semudah yang kamu kira. Aku tidak bisa membatalkan pernikahan aku dan Mutia karena kami berdua tidak mau. Aku dan Mutia sudah sepakat menyatukan hati untuk membangun masa depan bersama" tolak Bian.
"Cih kalian berdua sudah sepakat? Kamu kira aku percaya? Mutia masih mencintaiku" sambut David.
"Bukankah tadi malam sudah jelas apa yang dikatakan Mutia? Hatinya sudah dia tutup rapat untuk kamu. Masa lalu kalian sudah berakhir, kisah kalian sudah ditutup hanya sampai kalian putus. Mutia tidak mau melanjutkan hubungan apapun pada kamu" sahut Bian.
"Kamu kira aku percaya?" tanya David.
"Terserah kamu mau percaya atau tidak. Yang jelas aku dan Mutia akan menikah. Aku harap kamu bisa menerima ini. Pernikahan bukanlah pemaksaan kehendak dan keinginan hati tapi lebih pada saling mengerti dan memahami. Keduanya harus sama - sama bahagia bukan merugikan atau menyakiti satu pihak. Cobalah kamu pikirkan, diluar sana masih banyak pengganti Mutia yang bebas kamu pilih. Satu tahun ini kamu juga bisa menjalani hidup tanpa Mutia mengapa harus mengganggu hidup Mutia lagi? Kalau kamu benar - benar mencintai Mutia harusnya kamu senang melihat Mutia bahagia dan mendoakannya. Terkadang cinta tak harus saling memiliki" nasehat Bian.
"Aku tidak percaya kata - kata kamu. Bagiku cintaku adalah Mutia aku harus perjuangkan dia sampai akhir" sambut David.
"Untuk apa memperjuangkan wanita yang tak ingin diperjuangkan lagi? Kalian akan sama - sama saling menyakiti. Itu bukan cinta tapi obsesi. Lebih baik kamu terima kenyataan ini" nasehat Bian.
Benar kata Mutia, ternyata meyakinkan pria ini sulit. Dia tidak seperti Malik yang bisa diajak bicara secara baik - baik. Batin Bian.
"Aku tidak perduli yang penting Mutia harus menjadi milikku" balas David.
"Kalau memang kamu mencintai Mutia mengapa baru sekarang kamu perjuangkan? Selama satu tahun ini kamu pergi?" tanya Bian.
"Kamu juga tidak pernah tanyakan kabar pada Mutia selama satu tahun ini? Aku tidak percaya kalau kamu memang sungguh - sungguh mencintai Mutia. Kalau kamu mencintai Mutia kamu harus bisa yakinkan Mutia untuk menunggu kamu. Atau bila perlu satu tahun yang lalu kamu lamar Mutia jadi kamu bisa membawa Mutia kemana saja dengan status istri. Bukan pergi begitu saja lalu saat kembali kamu ingin menyambung hubungan yang sudah putus" sahut Bian.
"Satu tahun yang lalu aku masih belum memikirkan pernikahan tapi saat aku kembali ke Kota ini lagi aku berjanji untuk lebih serius dan mencari Mutia kembali" balas David.
"Tapi Mutia sudah tidak mencintai kamu lagi" bantah Bian.
"Aku bisa menumbuhkan cinta Mutia. Aku akan mengingatkan dia tentang kenangan - kenangan masa lalu kami. Aku yakin itu. Beri aku kesempatan untuk meyakinkan cintaku pada Mutia" pinta David.
Bian menarik nafas panjang.
"Baiklah aku kasih kamu waktu satu minggu tapi dengan satu syarat tidak apa paksaan atau kekerasan. Kalau kamu melakukan itu aku yang akan maju paling depan untuk melindungi Mutia" ucap Bian.
Dalam hati Bian sangat yakin Mutia pasti akan bisa melalui semua ini dan tetap akan memilih dirinya. Waktu satu minggu Bian berikan agar David menyadari kalau perasaannya tidak bisa dipaksakan.
__ADS_1
Cinta akan memilih kemana dia berlabuh dan Allah akan memberikan jodoh yang terbaik untuk dia dan Mutia. Dalam hati Bian sangat yakin kalau Mutia lah jodohnya.
"Aku janji aku akan membuat Mutia kembali jatuh cinta padaku" janji David.
"Ini adalah janji seorang pria dan aku akan memegang janji kamu. Aku juga janji tidak akan mempengaruhi Mutia. Kita harus menunggu siapa yang Mutia putuskan untuk menjadi pasangan hidupnya" sambut Bian.
"Deal" David mengulurkan tangannya kehadapan Bian.
Bian menyambut uluran tangah David dan mereka saling berjabat tangan. Tak lama pelayan datang mengantarkan makanan untuk mereka.
Pertemuan siang ini diakhiri dengan makan siang bersama. Setelah itu Bian dan David berbincang - bincang ringan masalah pekerjaan dan pembicaraan para laki - laki.
Setelah itu Bian kembali ke kantornya dimana Mutia sudah menunggu dengan tidak sabar.
"Maaf Mut kesepakatan kami siang ini, aku akan beri waktu satu minggu untuk David dekatin kamu lagi. Tidak ada paksaan dan kekerasan. Kamu boleh menolak atau menerima semua perlakuannya" ujar Bian.
"Tapi Mas" sambut Mutia.
Bian tersenyum manis penuh kelembutan.
"Aku percaya pada kamu, aku yakin hati kamu akan memilih mana yang terbaik untuk hidup kamu. Aku tidak mengatakan kalau akulah yang terbaik. Selama belum akad nikah kamu masih bebas. Kalau memang aku yang kamu pilih akhirnya, setidaknya David punya waktu untuk menyadari kalau hubungan kalian sudah berakhir" ungkap Bian.
"Apa tidak ada cara lain Mas?" tanya Mutia.
"Aku khawatir kalau aku bersikeras melarang dia mendekati kamu nanti dia akan bertindak nekat lebih dari kemarin malam. Dia sudah berjanji untuk tidak memaksa dan berbuat kekerasan pada kamu. Aku sudah mengancamnya dan aku rasa dia mengerti arti perjanjian kami tadi" jawab Bian.
Mutia menarik nafas panjang. Dia mengerti sifat David, benar apa yang dikatakan Bian. Kalau bertindak keras David bisa nekat.
"Baiklah Mas aku akan coba meyakinkan David satu minggu ini kalau hubungan kami sudah berakhir" janji Mutia.
Bian tersenyum tulus.
"Aku percaya pada kamu" sambut Bian.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG