Kita Yang Berbeda

Kita Yang Berbeda
Hati Orangtua


__ADS_3

"Bagaimana keadaan Mbak Lila Mas?" tanya Renol.


"Ada penyumbatan di kepalanya dan dia harus segera di operasi" Jawab Regi.


"Oh ya Allah" sambut Aluna.


"Kapan operasinya di jadwalkan Mas?" tanya Dwi.


"Belum tau, masih menunggu keputusan dari hasil pemeriksaan dokter" jawab Regi.


"Nanti aku akan bilang sama Dimas Mas, siapa tau ada temannya atau dia punya kenalan Dokter di sini" ujar Renol.


"Iya Nol, aku minta tolong ya" sambut Regi.


Regi menatap Bu Maysaroh.


"Maafkan anakku May, sudah menyusahkan anak dan keluarga kamu" ujar Regi sambil mengangkat kedua tangannya ke depan dadanya.


"Sudah lah Mas jangan dipikirkan. Kamal kan sudah dewasa. Kita sebagai orang tua hanya bisa mengingatkan dan mendoakan mereka. Mereka yang mengambil keputusan jalan kehidupan mereka. Kalau jalan mereka salah kita tegur dan ingatkan tapi kalau dia tetap di jalan yang salah pasrahkan semua Mas kepada Allah. Semoga Allah mengampuni dan membimbingnya ke jalan yang benar" Ujar Bu Maysaroh.


"Iya May" sahut Regi.


"Boleh aku masuk melihat Mama Pa?" tanya Aluna.


"Silahkan Nak, tolong kasih Mama semangat dan doakan Mama kamu ya" pinta Regi.


"Iya Pa, yuk Mas" Aluna mengajak Malik masuk.


Aluna dan Malik membersihkan tangan dan berganti pakaian khusus untuk masuk ke ruang ICU. Mereka juga memakai masker baru setelah itu masuk ke dalam ruangan.


Aluna melihat alat elektronik untuk pemeriksa keadaan tubuh Lila aktif di samping tempat tidur. Aluna segera menghampiri Lila lalu menyentuh dan menggenggam tangan Lila.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum Ma, ini Aluna Ma" ucap Aluna.


Kemudian dia menarik perlahan tangan mantan mertuanya dan menciumnya.


"Mama yang kuat ya, Papa, Luna dan yang lainnya akan menunggu Mama sadar. Setelah itu kita bisa ngobrol panjang atau jalan - jalan. Udah lama juga ya kita gak jalan - jalan. Mama kangen gak? Mama Aluna juga ada lho diluar sedang menunggu. Mama cepetan sadar ya biar bisa pergi ke pasar berbelanja sama Mama Aluna" ucap Aluna.


Tit... Tit... Tit..


Bunyi layar monitor. Malik membacakan doa kepada Mamanya Kamal. Sungguh sangat disayangkan apa yang Kamal lakukan sehingga membuat orang tuanya jadi seperti ini.


Semoga hati Kamal bisa tersentuh saat melihat keadaan Mamanya seperti ini. Dan benar - benar kembali ke fitrahnya sebagai seorang pria. Bisa meninggalkan kehidupan kelam seperti dulu.


Malik selesai berdoa lalu menyentuh bahu Aluna.


"Ayo kita keluar sayang" ajak Malik.


Aluna menganggukkan kepalanya.


"Ma aku pulang dulu ya, Mama harus kuat dan cepat sembuh. Assalamu'alaikum Ma" pamit Aluna.


"Sudah malam Pak, kami pamit undur diri dulu" ucap Malik.


"Iya Nak Malik. Saya hanya meminta kamu memaafkan Kamal tapi saya tidak akan meminta perdamaian. Biar Kamal menjalani hukumannya. Mudah - mudahan dengan begitu dia benar - benar bisa bertaubat. Apalagi setelah mendengar Namanya sakit seperti ini, semoga bisa menjadi pukulan berat dalam hidupnya" sambut Regi.


Malik menganggukkan wajahnya pertanda dia mengerti apa yang diinginkan Papanya Kamal.


Setelah saling berpamitan Malik, Aluna dan keluarganya pulang ke rumah. Sedangkan Renol dan Dwi juga kembali ke rumah mereka sendiri.


Hari Seninnya Malik dipanggil pihak Kepolisian untuk memberikan keterangan atas penangkapan Kamal dan Regi. Dia berangkat bersama Said yang menemaninya. Disana mereka bertemu dengan Regi dan Renol.


"Lihat apa yang kamu lakukan saat ini. Papa tidak tau apalagi yang harus Papa lakukan kepada kamu agar kamu benar - benar berubah. Papa sudah pinta kamu pisah dengan pria ini tapi kalian malah berbuat kelewat batas. Saat ini Mama kamu sedang dirawat di ICU. Puas kamu!" bentak Regi murka.

__ADS_1


Kamal hanya bisa diam dan tertunduk Entah apa yang dia rasakan saat ini dan entah apa yang sedang dia pikirkan. Hanya dia sendiri yang tau.


"Kali ini Papa tidak akan membantu kamu. Biar kamu jalani hukuman atas apa yang kamu lakukan. Kamu sudah besar, sudah dewasa. Kamu harus bertanggung jawab pada diri kamu sendiri. Selama ini Papa sudah asuh dan berikan pendidikan yang terbaik untuk kamu. Papa sudah berikan ilmu agama juga untuk kamu tapi kamu ingkar dan meninggalkan semua yang Papa ajarkan. Ini masih hukuman dunia Kamal, belum hukuman akhirat. Kamu harus mempertanggung jawabkan semua perbuatan kamu. Papa sudah pasrah kalau harus kehilangan dan tidak punya anak lagi. Mungkin inilah nasib Papa dan Mama. Jangankan mendapat doa dari anak yang soleh, malah seperti ini jadinya. Papa sangat kecewa pada kamu" umpat Regi masih dengan suara tinggi.


"Besok Mama kamu akan menjalani operasi penyumbatan darah di kepalanya. Semoga dia kuat dan bisa bertahan. Kalau kamu memang masih menyayangi Mama kamu berdoalah semoga Mama kamu panjang umur. Pikirkan masa depan kamu sebelum semua terlambat. Pintu taubat selalu terbuka sebelum nyawa berpisah dari badan. Papa harap Allah masih beri kamu kesempatan untuk bertaubat" lanjut Regi dengan lemah untuk perkataannya yang terakhir.


Tanpa bisa dicegah air matanya jatuh membasahi pipinya. Kali ini Regi benar - benar kecewa pada putranya dan sudah pasrah dengan apapun yang terjadi pada Kamal.


Dia hanya bisa fokus pada kesehatan istrinya. Semoga istrinya bisa selamat dari serangan strokenya kali ini. Apapun akan dia lakukan demi kesembuhan Lila.


Malik menjawab beberapa pertanyaan dari Polisi tentang kejadian beberapa hari yang lalu. Malik menjelaskan semuanya bagaimana dia bisa bertemu dengan Kamal dan Gerry. Hingga akhirnya dia berakhir di sebuah kamar Hotel.


Tak lama kemudian muncul Mutia dan Bian sebagai saksi. Mereka yang melihat Malik dibawa Kamal dan Gerry ke Hotel. Mereka juga yang membantu menyelamatkan Malik.


Bagian keamanan Hotel juga dipanggil untuk memberikan keterangan tentang apa yang terjadi di Hotel.


Regi tidak bisa berlama - lama karena dia harus tetap memantau keadaan istrinya di ICU.


"Saya pamit duluan karena harus menjaga istri saya di Rumah Sakit. Pak Polisi tolong selesaikan masalah ini dengan adil dan sesuai hukum. Walau saya ini adalah orang tua kandung dari salah satu tersangka, saya ikhlas dengan apapun keputusannya. Saya tidak akan meminta sedikitpun keringanan. Biarlah anak saya di hukum, mungkin dengan cara seperti itu dia benar - benar bisa berubah. Hanya satu permintaan saya, kalau dia memang harus di tahan, tolong pisahkan sel dia dengan pria itu. Mereka harus berpisah bagaimanapun caranya" pinta Regi.


"Baik Pak, permintaan Bapak memang sedang kita proses mengingat permasalahan ini terjadi karena kasus cinta sesama jenis" sambut Pak Polisi dengan tegas.


"Terimakasih. Malik, Renol dan yang lainnya saya pamit duluan" ujar Regi.


Terakhir sebelum Regi pergi, dia sempatkan menghampiri putranya. Masih dengan tatapan kecewa dan sedih.


"Setiap orang tua sesedih dan sekecewa apapun pada kesahalan anaknya pasti kami akan tetap memaafkan anaknya. Asalkan kamu benar - benar mau berubah. Ingat kamu hidup bukan untuk diri kamu sendiri. Seperti Papa dan Mama yang tidak bisa membiarkan kamu berada di sini. Bukan kami tidak mencintai dan menyayangi kamu. Tapi kali ini kamu memang harus benar - benar di hukum atas perbuatan kamu. Mudah - mudahan kamu bisa menerima dan kuat menjalaninya. Mudah - mudahan hidayah Allah akan datang kepada kamu, menyentuh hati kamu yang paling dalam hingga kamu mau benar - benar berubah. Asalkan kamu mau berubah pintu rumah terbuka lebar untuk kamu kembali" pesan Regi.


Regi menyeka air matanya lalu melangkah pergi meninggalkan Kantor Polisi.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2