Kita Yang Berbeda

Kita Yang Berbeda
Pasutri


__ADS_3

Usai honeymoon dan setelah pulang dari Bali, Malik dan Aluna kembali ke rumah Aluna sesuai dengan rencana awal mereka.


Dua keluarga besar juga sudah pulang ke rumah masing-masing. Aluna dan Malik mulai menjalani kehidupan rumah tangga normal.


Pagi ini Aluna sedang memasak nasi goreng dan ceplok telur untuk sarapan pagi mereka. Malik menemaninya di dapur sambil membaca koran ditemani secangkir teh hangat.


"Mas nanti sore kita belanja yuk. Bahan makanan hanya ada ini di kulkas" ajak Aluna.


"Okey, nanti pulang kantor kita singgah ke supermarket" sambut Malik.


Setelah makanan siap di masak, Aluna memanggil Said untuk sarapan pagi bersama. Baru setelah itu pasangan pengantin baru itu berangkat ke kantor.


Sesampainya di kantor Aluna dan Malik banyak membawa oleh - oleh untuk teman - teman kantor mereka yang terdekat.


"Waaah pengantin baru udah pulang dari honeymoon. Gimana Lun sukses honeymoonnya?" tanya Pak Baskoro.


Dengan wajah yang merah merona Aluna tersenyum manis.


"Alhamdulillah Pak semua berjalan dengan lancar" jawab Aluna.


Aluna kembali ke meja kerjanya.


"Cie.. cie.. yang baru unboxing. Pasti Mas Malik terkejut banget ya Lun tau kenyataan kalau kamu masih original?" tanya Gadis.


"Yaaah begitulah Dis" sambut Aluna.


"Pak Bian aja terkejut banget waktu tau kalau kamu janda perawan" ujar Gadis.


"Lho Pak Bian kok bisa tau Dis?" tanya Aluna terkejut.


"Ya gara - gara mulut beracunnya Randi dan Budi" jawab Gadis.


"Ih dua anak itu bibirnya memang minta dipitain biar terikat" sambut Aluna.


"Yang penting kan semua berjalan sukses Lun" ujar Gadis.


"Iya Dis semua juga tak lain karena campur tangan kalian para teman - teman. Aku sangat bersyukur ada kalian disisiku" ungkap Aluna.


Gadis tersenyum tulus kepada Aluna. Walau perasaan sukanya pada Malik tidak bisa secepat itu hilang tapi Aluna sudah sangat ikhlas merelakan Malik dan Aluna menikah.


Sore harinya seperti rencana Malik dan Aluna, sepulang dari kantor mereka singgah ke supermarket untuk berbelanja bahan makanan untuk persediaan di rumah.


Malik dan Aluna saling bergandengan tangan berjalan menyusuri lorong - lorong di Supermarket. Mereka memilih bahan - bahan makanan yang mereka inginkan.


"Kita makan diluar aja yuk. Hari ini kamu gak perlu masak dulu. Biar istirahat, kita kan baru aja pulang dari Bali kemarin" ajak Malik.

__ADS_1


"Ya sudah terserah Mas Malik aja" jawab Aluna.


Setelah membayar semua barang belanjaan ke kasir mereka berjalan ke salah satu restoran yang ada di Supermarket tersebut.


Malik dan Aluna duduk di depan meja yang dipilih oleh Malik dan mereka mulai memesan makanan. Sembari menunggu makanan datang Malik dan Aluna tampak sedang asik berbincang-bincang.


"Aluna" panggil seseorang.


Sontak Aluna dan Malik menatap ke arah suara. Alangkah terkejutnya Aluna saat melihat siapa yang menyapanya.


"Mas Kamal" panggil Aluna.


Kamal menghampiri meja Malik dan Aluna. Malik dengan sigap langsung melindungi istrinya. Malik dan Kamal saling berjabat tangan.


"Senang bertemu dengan kalian lagi" ujar Kamal.


Malik hanya tersenyum tipis dan menundukkan sedikit kepalanya tanda hormat.


"Maaf mengganggu waktu kebersamaan kalian. Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu pada kalian. Aku dengar Malik bekerja di Kantor Pemerintah bagian pengadaan barang ya? Aku ingin mengajak kerjasama" ungkap Kamal.


Aluna dan Malik saling pandang.


"Aku membuka usaha baru pengadaan barang - barang perkantoran. Aku sudah masuk ke beberapa perusahaan besar. Dan saat ini aku ingin melebarkan usaha dan bekerjasama dengan kantor pemerintahan. Mungkin aku bisa memulainya dari kantor kalian" lanjut Kamal.


"Itu bisa di atur Lik" balas Kamal.


"Kapan aku bisa datang ke kantor kamu dan membicarakan tentang kerjasama kita ini?" tanya Kamal.


"Terserah Mas Kamal, aku selalu ada di kantor kok di jam kerja" jawab Malik.


"Baiklah kalau begitu" sambut Kamal.


Pesanan Malik dan Aluna sudah tiba di meja mereka.


"Baiklah kalau begitu aku pamit pulang ya" ujar Kamal.


"Lho gak makan bareng dulu Mas?" tanya Aluna basa - basi.


Kamal tersenyum tipis.


"Gak usah Lun, aku baru saja makan tadi. Lagian tidak enak mengganggu kemesraan pengantin baru seperti kalian ini" jawab Kamal.


Malik dan Aluna kembali saling berjabat tangan dengan Kamal.


"Aku permisi ya" ujar Kamal.

__ADS_1


Kamal segera berlalu dari hadapan Malik dan Aluna. Kini tinggal Aluna dan Malik yang duduk di depan meja mereka.


"Dari mana dia tau kalau Mas bekerja di kantor bagian pengadaan barang?" tanya Aluna penasaran.


"Yah mungkin saat di pesta pernikahan kita dia mendengarnya dari salah satu tamu undangan. Atau bisa jadi dia bertanya pada keluarga kamu atau Tante Dwi" jawab Malik.


Aluna terdiam, dia merasa aneh sekali tiba - tiba Kamal bisa seramah itu kepadanya dan Malik. Aluna mengenal sifat Kamal yang selalu saja irit bicara dan dingin. Tapi tadi dia tampak begitu luwes saat berbicara dengan Malik.


"Kamu kenapa kok seperti sedang banyak pikiran gitu?" tanya Malik.


"Aku hanya merasa aneh aja Mas, tumben Mas Kamal seramah itu. Biasanya dia pendiam dan dingin" jawab Aluna.


"Kan katanya dia sudah berubah. Dulu kan dia bekerja di belakang layar dan tidak perlu berinteraksi dengan banyak orang. Sekarang dia buka usaha sepet itu ya harus pinter ngomong. Kalau tidak usahanya gak bisa jalan sayang. Kamu kok khawatir gitu? " tanya Malik yang mengerti apa yang sedang di pikirkan oleh istrinya.


"Aku takut apa yang dikatakan Said dan Mas Dimas benar Mas" jawab Aluna.


"Benar apanya?" tanya Malik penasaran.


"Penyakit Mas Kamal belum sembuh. Dia sudah menjalani kehidupan yang salah seperti itu sejak masa kuliah tidak akan semudah itu sembuh" jawab Aluna.


Malik menarik nafas panjang.


"Allah Maha Pembolak - balik hati. Kamu kan sudah lihat itu terjadi nyata padaku. Enam tahun kita pacaran aku tidak merasakan apa - apa saat melihat bahkan menemani kamu beribadah. Tapi setelah kamu menikah aku malah mendapatkan hidayah melalui mimpi" ungkap Malik.


Aluna merasa malu mendengarkan perkataan suaminya.


"Sudah jangan ber suudzon. Doakan saja yang baik - baik untuknya. Semoga Allah menjaga hatinya untuk tetap berjalan di jalan Allah. Itu bukan tanggung jawab kita yank. Dia bukan siapa - siapa kita dan dia sudah dewasa


Bisa mengatur hidupnya sendiri. Lagian kita gak berhak ikut campur atau memvonis hidupnya seperti apa" pesan Malik.


"Iya Mas" sambut Aluna.


"Ya sudah makan yuk, nanti makanannya dingin" ajak Malik.


Aluna dan Malik mulai menyantap hidangan yang tersaji di depan mereka. Usai makan mereka lanjut pulang. Sebelumya Aluna memesan satu bungkus makanan untuk Said di rumah.


Mereka pulang ke rumah setelah shalat Isya di mesjid yang mereka temui di dalam perjalanan. Dan Said menyambut mereka dengan riang karena Aluna membawakan makanan favoritnya malam ini.


Baru setelah itu Aluna dan Malik bisa istirahat tenang di rumah dan melanjutkan malam - malam panjang mereka.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2