Kita Yang Berbeda

Kita Yang Berbeda
Akad Nikah


__ADS_3

Seluruh keluarga dan teman - teman Aluna dan Malik sudah mulai berdatangan. Selain teman - teman kantor Malik dan Aluna juga mengundang teman - teman kampus mereka dulu.


Aluna juga mengundang Mira dan Danar, tetangga sekaligus sahabat dekat Aluna saat dia di kota A berstatus istri Kamal. Tak lupa Aluna juga mengundang Pak Raja mantan atasannya.


Pak Raja berserta istri, Melisa, Farah dan suaminya berangkat dengan pesawat yang sama. Mereka menginap di Hotel tempat acara pesta Aluna dan Malik berlangsung. Begitu juga dengan Mira dan Danar yang sudah sampai satu hari sebelum akad nikah berlangsung.


Rencananya akad nikah akan berlangsung pukul sembilan pagi setelah itu akan dilanjutkan dengan resepsi jam satu siang hingga jam lima sore.


Akhirnya hari yang di tunggu - tunggu Aluna dan Malik tiba. Pagi - pagi sekali dua rumah yang sudah ramai dipenuhi oleh keluarga inti pasangan pengantin riuh karena bersiap - siap hendak ke Hotel tempat pesta berlangsung.


Habis subuh MUA sudah datang untuk menghias Aluna dan keluarga intinya. Begitu juga dengan keluarga Malik di rumahnya.


Jam tujuh pagi mereka sudah berangkat menuju Hotel tempat akad nikah berlangsung. Aluna sengaja di sembunyikan di ruangan tunggu hingga akad nikah selesai barulah Aluna keluar nantinya.


Seluruh keluarga dekat, tamu undangan dan para sahabat sudah duduk di kursi mereka masing-masing untuk menyaksikan akad nikah Malik dan Aluna.


Wajah Malik terlihat sangat tenang dan tampan sekali dengan menggunakan pakaian serba putih dan di bagian pinggangnya di lilitkan kain songket. Pesta Aluna dan Malik mengusung adat Melayu.


Sedangkan Aluna sudah memakai gaun putih senada dengan warna pakaian Malik. Dia terlihat cantik karena kebahagiaan terus terpancar dari wajahnya.


Sepasang calon pengantin itu tak pernah berhenti berdoa agar akad nikah mereka berlangsung dengan lancar. Tapi tidak bisa dipungkiri senyum bahagia terus terpancar dari wajah keduanya.


Tepat jam sembilan pagi Malik dan Said sudah duduk di depan meja akad nikah. Sebagai saksi pernikahan dari pihak Malik adalah Pak Baskoro. Sedangkan dari pihak Aluna ada Renol suaminya Dwi.


Kadi nikah juga sudah sampai ke Hotel setengah jam yang lalu. Bu Maryam dan Bu Abraham duduk berdampingan dan siap untuk menyaksikan akad nikah putra - putri kesayangan dan kebanggan mereka.


"Sudah bisa kita mulai acaranya?" tanya Kadi Nikah.


"Sudah Pak" jawab Said dan Malik serentak.


Aluna ditemani Mutia, Gadis, Melisa dan Farah di ruangannya melihat prosesi akad nikah melalui televisi yang disediakan di dalam ruangan itu.


Seketika wajah Aluna tampak tegang, dalam hati dia tidak berhenti berdoa.


"Tegang Lun?" tanya Mutia.


"Iya donk, mana mungkin nggak" sambut Farah yang sudah berpengalaman dari pada Mutia, Gadis dan Melisa.


"Lho kan udah berpengalaman, ini pernikahan kedua" sambut Melisa.


"Ya tetap tegang, coba deh tanya sendiri" ujar Farah.


"Gimana Lun?" tanya Mutia penasaran.


"Tegang donk, walau ini pernikahanku kedua tapi yang dulu hanya pernikahan diatas kertas. Kali ini insyaallah akan berlangsung seperti pernikahan sesungguhnya" jawab Aluna.


"Lho maksud kamu?" tanya Farah dan Melisa tidak mengerti.

__ADS_1


"Kalian tidak tau?" tanya Mutia.


Gadis juga menatap Farah dan Melisa.


"Maaf Far, Mel aku tidak pernah cerita pada kalian. Pernikahanku dengan Mas Kamal dulu hanya diatas kertas. Kami tidak pernah tinggal bersama" jawab Aluna.


Aluna tidak mau membicarakan lebih lanjut pernikahannya dulu dengan Kamal dan ingin menutup aib Kamal.


"Jadi Aluna ini janda perawan" potong Mutia.


"Kamu serius Lun?" tanya Melisa terkejut.


Aluna menganggukkan kepalanya.


"Waaaaow... Babang Malik kamu beruntung banget dapat Aluna yang masih original" sambut Melisa.


"Ya wajar donk, kamu gak lihat perjuangan Babang Malik kamu itu untuk mendapatkan Aluna" ujar Farah.


"Iya aku melihatnya, kalian berdua saling tersiksa saat bertemu dulu dan masih kelihatan banget saling cinta" jawab Melisa.


"Sudah.. sudah.. akad nikah akan segera berlangsung" potong Gadis.


Lima wanita itu kembali diam dan dengan serius menatap TV karena Said dan Malik kini sudah saling berjabat tangan untuk mengucapkan akad nikah.


"Malik Abraham" panggil Said.


"Ya saya" jawab Malik lantang.


"Saya terima nikah dan kawinnya Aluna Carlisa binti Abdullah dengan mas kawin sebentuk cincin emas tunaaaai" jawab Malik dengan lantang.


(Maaf jika di daerah lain akad nya berbeda, saya pakai akad yang berlaku di daerah saya).


"Bagaimana saksi?" tanya Kadi Nikah.


"Sah" jawab Pak Baskoro dan Renol serentak.


"Alhamdulillah... " sambut semua yang ada di ruangan itu.


"Barakallah.... " ucap Kadi Nikah.


Malik dan Said tampak bernafas lega dan kini senyum bahagia terbit diwajah Malik yang sudah tidak setegang tadi.


"Sekarang pengantin wanitanya sudah bisa keluar" perintah Kadi Nikah.


"Ayo.. ayo.. kita keluar" ucap Melisa tak sabar.


"Sabar Meeeel" potong Farah.

__ADS_1


Aluna menarik nafas panjang dan menormalkan jantungnya yang berdetak kencang. Di dalam hati Aluna tak henti - hentinya mengucap syukur karena akhirnya dia dan Malik sudah resmi menjadi pasangan suami istri.


"Selamat ya Al, semoga pernikahan kamu kali ini barokah" ucap Mutia.


"Aamiin.. Terimakasih Mut" jawab Aluna.


Mereka berpelukan erat.


"Selamat Lun, semoga sakinah mawaddah warrahmah" ucap Gadis.


"Amiin.. makasih Dis" sahut Aluna.


"Selamat ya Lun semoga kamu bahagia" ujar Farah.


"Aamiin.. makasih Far" sambut Aluna.


"Selamat Luna semoga sukses unboxing nya" tutup Melisa yang terakhir.


Semua tertawa mendengar ucapan Melisa yang terakhir.


"Ayo kita keluar" ajak Mutia.


Mutia menggenggam tangan Aluna. Kali ini kebahagiaan Aluna lengkap sudah karena ditemani oleh para sahabatnya yang selalu ada di saat susah dan senang.


Aluna berjalan masuk ke dalam ballroom Hotel dimana suaminya dan keluarga serta sahabat dan para undangan sudah menunggunya.


Malik menatap Aluna dari kejauhan. Air matanya mulai berkaca - kaca. Allah memang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Tidak pernah Malik melihat Aluna berpenampilan seperti ini sebelumnya.


Tapi pemandangan Aluna seperti ini sering muncul di dalam mimpinya tiga tahun yang lalu hingga akhirnya Malik memutuskan untuk menjadi muallaf.


Dada Malik rasanya mulai bergemuruh dan akhirnya air matanya lolos keluar dari sudut matanya. Menetes perlahan tanpa bisa dibendung.


Semakin dekat, Aluna bisa melihat dengan jelas kalau Malik sedang menangis. Padahal Aluna tau Malik bukanlah pria yang cengeng. Aluna jadi terseret dalam keharuan Malik.


Dia juga tidak bisa membendung air mata bahagia karena kini sudah menjadi istri Malik. Kini mereka berdiri berhadapan dan saling tatap sangat dalam.


Sehingga membuat team WO yang bertugas menjadi pembawa acara penasaran dengan apa yang dirasakan oleh kedua mempelai.


"Mengapa pengantinnya jadi saling menangis? Bukankah saatnya kalian berbahagia? Bisa diceritakan sedikit apa yang kalian rasakan?" tanya Pembawa Acara penasaran.


"Baru kali ini dalam hidup saya merasakan yang namanya mimpi jadi kenyataan. Tiga tahun yang lalu saya pernah melihat Aluna seperti ini, berpenampilan persis seperti ini di dalam mimpi saya. Hanya saja dalam mimpi saya saat itu Aluna sedang mengaji. Dan mimpi itu selalu datang berulang hampir setiap malam. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk masuk Islam" ungkap Malik dengan haru.


Sontak seluruh ruangan menjadi riuh mendengar pengakuan Malik yang luar biasa.


"MasyaAllah indahnya jalan kehidupan yang Allah tuliskan untuk pengantin baru kita hari ini. Mari tepuk tangan yang meriah untuk kedua mempelai" sambut pembawa acara.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2