Kita Yang Berbeda

Kita Yang Berbeda
Masa Lalu


__ADS_3

"Aduh saya jadi gak enak ganggu Mas Bian dan Mutia" tolak David.


"Tidak apa, kamu kan temannya Mutia. Teman Mutia berarti teman aku juga" sahut Bian.


Mutia jadi tegang, sepertinya Bian memang serius ingin mengajak David makan bareng. David tampak sedang melirik ke arah Mutia.


"Baiklah kalau begitu, ketepatan saya juga memang baru kembali ke kota ini. Jadi belum banyak teman yang tau kalau saya sudah pulang ke sini. Gak enak juga makan sendiri. Kalau Mas Bian gak keberatan" jawab David.


Mutia langsung membuang muka ke arah lain karena kesal mendengar jawaban dan David. Mutia, Bian dan David duduk di salah satu meja yang ada di Cafe tersebut.


Pelayan datang menghampiri meja mereka dan bertanya menu apa yang akan mereka pesan.


"Aku pesan steak aja deh" ucap Mutia.


David menatap ke arah Mutia.


"Selera kamu masih sama ya Mut, aku kira berubah juga sesuai dengan perubahan kamu yang sekarang" sambut David.


Mutia hanya diam dan tidak menjawab perkataan David.


"Mas Bian mau pesan apa?" tanya Mutia penuh perhatian.


"Seperti biasa aja" jawab Bian lembut sembari tersenyum.


"Oh, tom yam nya satu ya Mbak, pakai nasi putih aja jangan pakai mie" pinta Mutia.


Bian menatap wajah David.


"Kamu mau pesan apa?" tanya Bian.


David melirik Mutia.


"Aku juga pesan yang biasa Mut" ucap David.


"Bilang aja Vid sama Mbaknya, si Mbak gak tau apa pesanan biasa kamu. Ya kan Mbak?" sambut Mutia.


Sang pelayan tersenyum menatap David.


"Aku sama kayak Mbak ini aja Mbak, steak daging juga" pinta David.


Pelayan menulis pesanan mereka bertiga.


"Minumnya apa Mbak, Mas?" tanya Pelayan lagi.


"Aku jus belimbing aja ya, satu lagi jus jeruk. Kamu mau minum apa?" tanya Mutia kepada David.


"Biasa aja Mut" jawab David.


"Ooh satu lagi kopi Mbak" pinta Mutia.


"Lho kok kopi sih Mut?" tanya David terkejut.

__ADS_1


"Eh bukan kopi ya? Jadi apa donk? aku sudah lupa" sahut Mutia.


Wajah David terlihat kesal karena Mutia lupa apa minuma kesukaannya.


"Sama aja deh Mbak dengan Mbak ini. Jus belimbing juga" pinta David.


"Baik kalau begitu tunggu sebentar ya Mbak, Mas" ucap pelayan.


Kini mereka hanya duduk bertiga.


"Mas bulan depan Papa dan Mama udah pasti pulangnya. Mas udah bisa siap - siap bilang ke keluarga" ucap Mutia kepada Bian.


"Oke, nanti aku bilang Papa Mamaku ya" sambut Bian.


"Papa Mama kamu apa kabar Mut, lama sudah gak ketemu?" tanya David.


Mutia yang semula menatap wajah Bian kini terpaksa melirik ke arah David, padahal dia sangat tidak senang dengan keberadaan David di dekatnya.


"Alhamdulillah mereka baik - baik saja" jawab Mutia.


"Kabari ya kalau mereka udah pulang. Aku mau ketemu sama mereka" pinta David.


"Aku gak janji ya Vid ingat sama pesan kamu. Karena begitu Papa dan Mama pulang kami akan sangat sibuk untuk mempersiapkan pernikahan kami" jawab Mutia menolak secara halus.


Nih anak ngapain sih dari tadi sibuk melulu gangguin aku sama Mas Bian. Terus dia mau kasih - kasih sinyal hubungan lama lagi. Apa dia lupa kalau Mas Bian itu calon suami aku? Ganggu aja sih. Batin Mutia kesal.


"Oh ya, kapan pernikahan kalian akan dilaksanakan?" tanya David.


"Secepatnya Mas, begitu keluarga Mutia tiba di Indonesia kami akan segera melamar Mutia secara resmi" jawab Bian santun.


"Oh jadi belum lamaran keluarga ya?" sambut David senang.


Dalam hati David berpikir kalau masih ada kesempatan dia untuk dekatin Mutia kembali. Dia tidak menyangka akan bertemu Mutia lagi begitu kembali ke Kota ini.


Mutia juga sekarang terlihat semakin cantik dan dewasa. Sangat berbeda saat terakhir kali dia bertemu dengan Mutia dulu.


"Hanya seremonial nya saja kok. Tapi saya sudah melamar Mutia dan sudah silaturahmi dengan Papa dan Mama Mutia melalui video call. Mereka sudah setuju dengan pernikahan kami" ungkap Bian.


"Tapi Mas masih banyak kesempatan untuk mendekati Mutia lagi lho. Mas harus hati - hati" sambut David.


Bian tersenyum dengan tenang.


"Kalau itu saya serahkan kepada Mutia. Saya tidak pernah memaksa Mutia untuk menikah dengan saja. Saya melamar Mutia untuk mengajaknya sama - sama beribadah kepada Allah dengan cara menikah dan menyempurnakan separuh agama. Lagian semua itu adalah jodoh dari Allah Mas. Kalau Mutia adalah jodoh saya sebanyak apapun pria diluar sana yang mengejar Mutia dia pasti akan menikah dengan saya. Sebaliknya kalau Mutia memang bukan jodoh saya sekuat apapun saya mengikat Mutia dia akan tetap bisa lolos dan lari" jawab Bian bijak.


Mutia melirik wajah Bian dengan mata berkaca - kaca. Inilah yang paling disukai Mutia dari Bian. Bian sangat dewasa dalam berpikir dan bertindak. Tidak gegabah seperti David.


Tak lama pelayan datang membawa makanan pesanan mereka. Kemudian mereka bertiga makan dalam diam. David melihat sikap Mutia yang tampak sangat memperhatikan Bian saat makan.


David terlihat kesal karena keberadaannya hanya seperti pengganggu diantara Mutia dan calon suaminya. Awalnya David merasa sangat percaya diri kalau Mutia masih menyimpan rasa kepadanya.


Setelah selesai makan David segera menyudahi acara pertemuan dia dah Mutia malam ini.

__ADS_1


"Saya pamit duluan ya Mas, Mutia. Ketepatan masih ada yang harus saya cari lagi" ucap David.


"Oh iya Mas, silahkan. Senang berkenalan dengan kamu" sambut Bian.


"Sama - sama Mas. Yuk Mut aku pamit dulu" ujar David.


"Oke Vid, tagihannya biar aja kami yang bayar" sambut Mutia.


"Jangan Mut biar aku saja. Anggap sebagai hadiah pertemuan kita kembali" bantah David.


David beranjak dari meja Bian dan Mutia lalu melangkah meninggalkan mereka berdua. Kini hanya tinggal Bian dan Mutia.


"Mas setelah ini kita pulang aja yuk" ajak Mutia.


"Oke" sambut Bian.


Mutia sebenarnya ingin sekali mengatakan kepada Bian kalau David itu adalah mantan pacarnya tapi Mutia bingung bagaimana harus memulai pembicaraannya.


Mutia dan Bian keluar dari tempat mereka makan lalu berjalan menuju basement tempat mobil Bian di parkir. Setelah makan Mutia tampak lebih pendiam.


"Kamu kenapa dari tadi diam aja?" tanya Bian.


Mutia tidak bisa berbohong di hadapan Bian. Lebih baik dia mengatakan semuanya dari pada harus memendamnya. Mutia merasa bersalah kalau harus menutupi masa lalunya kepada Bian.


Mereka sudah jauh melangkah dalam hubungan yang lebih serius rasanya tidak enak jika ada kebohongan diantara mereka. Mutia akhirnya memutuskan untuk bicara kepada Bian tentang siapa sebenarnya David.


"Mas, David itu bukan teman aku. Tapi.. tapi.. dia adalah mantan pacar aku" ungkap Mutia.


Bian tersenyum dengan tenang.


"Aku tau" jawab Bian.


Mutia terkejut mendengar jawaban Bian.


"Mas tau? Dari mana?" tanya Mutia bingung.


"Dari semuanya. Dari sikap dia kepada kamu, dari sikap kamu kepada dia. Dari semua pembicaraan kita selama makan tadi. Aku mengerti semuanya dan aku tau ada sesuatu diantara kalian dulu" ungkap Bian.


"Mas marah?" tanya Mutia takut.


Bian tersenyum menatap Mutia.


"Kenapa aku harus marah? Kamu tidak melakukan kesalahan apapun. Dia adalah bagian dari masa lalu kamu yang tidak bisa kamu hapus begitu saja. Pertemuan kita tadi juga tidak disengaja. Aku sudah berpengalaman dalam hal seperti ini Mutia. Aku tidak akan gegabah dan takut pada perasaanku sendiri, takut kehilangan. Aku serahkan semua kepada Allah dan kamu. Kamu masih bebas memilih siapa yang terbaik untuk hidup kamu, walau itu mungkin bukan aku. Karena kamu yang tau dengan siapa kamu akan bahagia" jawab Bian.


Air mata Mutia jatuh perlahan.


"Aku tetap akan memilih kamu Mas, hubungan aku dengan David sudah berlalu, sudah selesai. Tidak ada lagi masa lalu kami yang masih perlu diselesaikan semua sudah berakhir. Kamu yang aku pilih menjadi imam aku kelak dan kita akan meraih kebahagiaan bersama - sama" ungkap Mutia.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2