
Esok harinya Aluna khusus mengajak Mutia bertemu berdua saja saat makan siang. Aluna sudah membicarakannya dengan Malik tadi malam. Mereka harus memberi kabar pada Mutia kalau Aluna dan Malik tadi malam melihat David mantan pacarnya Mutia.
Hal ini mereka lakukan agar dalam pernikahan Mutia tidak terjadi sesuatu yang mungkin akan disesali mereka.
Sebenarnya Mutia merasa heran mengapa Aluna tiba - tiba meminta Mutia untuk bertemu lagi padahal tadi makan mereka sudah bertemu.
Mutia mengira pertemuan mereka karena Alun sedang ngidam dan menginginkan makan siang bersama dirinya.
Siang ini mereka sudah duduk di sebuah Cafe. Aluna tadi diantar Malik karena ini adalah masalah penting. Malik tidak tega membiarkan Aluna pergi sendiri naik taxi online.
"Ada apa Lun kamu ajak aku makan siang?" tanya Mutia penasaran.
"Aku mau tanya sesuatu pada kamu" jawab Aluna.
"Mau tanya apa? serius banget?" Mutia semakin penasaran dengan jawaban Aluna.
"Kamu sudah yakin mau menikah dengan Mas Bian?" tanya Aluna.
"Yakinlah, sudah sejauh ini Lun. Kok kamu tanya begitu?" jawab Mutia bingung.
"Gimana perasaan kamu sama Mas Bian?" selidik Aluna.
"Mmm... aku.. aku udah mulai menyukainya. Mungkin aku sudah mulai jatuh cinta kepadanya" ungkap Mutia.
Aluna menarik nafas lega.
"Syukur deh kalau perasaan kamu sudah begitu" ujar Aluna.
"Emang kenapa sih? Kamu ini aneh deh. Siang - siang ajak aku ketemuan cuma mau nanyain itu?" tanya Mutia.
"Mut, ini seandainya ya.. Seandainya kalian dapat cobaan sebelum pernikahan. Misalnya David datang lagi seperti saat aku dulu dengan Mas Bian. Malik hadir ditengah - tengah kami. Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Aluna.
"Gak mungkin Lun, David gak mungkin ada di sini. Aku gak mau jalani hubungan jarak jauh" sambut Mutia.
"Ya kan aku tanya seandainya" jawab Aluna.
"Ah aku gak mau mikirin. Ngapain dipikirin sesuatu yang gak mungkin terjadi" bantah Mutia.
"Kalau ternyata kata seandainya itu benar, gimana?" tanya Aluna dengan wajah serius.
Mutia terdiam melihat wajah serius Aluna.
"Maksud kamu David memang ada di sini, dikota ini?" tanya Mutia.
Aluna menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Iya" jawab Aluna.
Mutia terdiam sesaat.
"Gimana Mut, apa kamu akan balik lagi sama David dan meninggalkan Mas Bian?" tanya Aluna.
Mutia diam dan sedang mempertimbangkan jawaban yang akan dia ucapkan. Mutia menarik nafas panjang.
"Aku akan tetap memilih Mas Bian. Kisah cintaku dengan David berbeda dengan kisah cinta kamu dengan Malik. Kamu dan Malik memang sejak dulu sulit untuk berpisah. Kalau aku dan David selama ini pacaran hanya untuk main - main. Aku tidak merasa pacaran secara dewasa. Kami tidak pernah membicarakan masa depan, ingin bagaimana dan seperti apa? David sibuk dan terlalu memikirkan pekerjaannya. Kalaupun kami bertemu hanya untuk senang - senang. Jalan, makan, nonton dan main" ungkap Mutia.
Aluna mendengarkan semua keluh kesah Mutia.
"Aku merasa tidak lebih baik berhubungan dengan David. Sedangkan dengan Mas Bian. Dia menawarkan kehidupan masa depan, dia menuntun aku ke jalan yang benar. Dia juga dengan sabar menghadapi aku yang masih harus banyak belajar dalam bidang apapun. Mas Bian tidak pernah mengeluh dan menuntut aku menjadi seperti yang dia inginkan. Dia bebaskan aku jadi diri sendiri. Dan aku nyaman akan hal itu, bahkan aku mulai mencintainya karena hal itu Lun" sambung Mutia.
Aluna tersenyum penuh kelembutan menatap wajah sahabatnya.
"Aku lega banget mendengar jawaban kamu. Aku takut Mas Bian akan terluka dua kali dengan kisah yang hampir sama" sahut Aluna.
"Kalau dibandingkan Malik dengan Mas Bian mungkin akan sulit untuk memilih Lin. Keduanya pria yang baik, soleh dan bertanggung jawab. Tapi kalau bandingkan Mas Bian dengan David ya jelas jauh bedanya. Mungkin kalau aku belum sadar dan belum memakai jilbab mungkin pandanganku terhadap Mas Bian dan David berbeda. Mungkin juga jawaban aku juga akan berbeda. Tapi kini aku sudah berubah Lun, semua karena Mas Bian dan tragedi malam itu. Mas Bian adalah penyelamatku saat itu dan untuk masa yang akan datang. Aku bersyukur Allah kirimkan Mas Bian dalam hidupku" ujar Mutia.
Aluna langsung memeluk tubuh Mutia.
"Aku bahagia mendengarnya Mut. Kamu sudah mengambil keputusan yang benar. Semoga hubungan kamu dengan Mas Bian dilancarkan sampai hari H dan semoga tidak ada cobaan yang berat" sambut Aluna.
"Aamiin.. makasih ya Lun kamu sudah bertanya akan hal ini. Aku jadi semakin yakin dengan jawaban hatiku sendiri" sahut Mutia.
Setelah selesai makan siang Mutia mengantar Aluna hingga ke kantornya.
Sore harinya Mutia dan Bian sudah janjian untuk mulai mencari keperluan pernikahan mereka.
Bian mengajak Mutia untuk mencari cincin pernikahan mereka. Walau orang tua Mutia masih di luar negeri tapi Mutia sudah bercerita dengan kedua orang tuanya tentang hubungan dia dengan Bian.
Kedua orang tua Mutia merestui rencana baik putrinya. Jadi begitu nanti orang tua Mutia pulang ke Indonesia. Keluarga Bian langsung silaturahmi dan melamar secara resmi. Baru dibicarakan tentang rencana pernikahan Bian dan Mutia.
Kini keduanya sudah berada di salah satu toko perhiasan sebuah Mall terbesar di kota mereka.
"Kali ini kamu yang pilih cincin pernikahan kita" ujar Bian.
"Mas aja deh" sambut Mutia.
"Aku kan sudah kemarin waktu ngelamar kamu" jawab Bian.
"Baiklah tapi beneran kan apa yang aku pilih Mas suka?" tanya Mutia.
"Iya, apapun yang kamu pilih aku akan setuju" jawab Bian sambil tersenyum manis.
__ADS_1
Mutia mulai menunjuk tiga pasang cincin pernikahan yang akan menjadi kandidatnya. Setelah itu baru dia menimbang dan memilih.
Akhirnya apa yang dia cari dapat dan Bian juga menyukainya.
"Ya sudah Mbak tolong di bungkus ya biar saya bayar" ujar Bian.
"Baik Pak" jawab pelayanan toko.
Bian segera membayarnya dengan memakai kartu debitnya. Setelah itu mereka berjalan menuju sebuah restoran untuk melanjutkan acara makan malam.
"Mutia" sapa seorang pria.
Mutia sempat terkejut saat mendengar suara yang dia kenali. Mutia melihat kearah pemilik suara.
"David" balas Mutia.
"Aku hampir tidak mengenali kamu. Tampilan baru ya, sekarang kamu sudah memakai jilbab" ujar pria itu.
"Iya alhamdulillah" sambut Mutia.
Mutia mulai bisa menguasai keadaan yang sempat canggung sebelumnya.
"Eh Mas kenalin ini David teman aku. Vid kenalin Mas Bian, tunangan aku" ungkap Mutia.
David terlihat terkejut mendengar perkataan Mutia. Dia tidak menyangka Mutia akan segera menikah. Sebelumnya David mengira Mutia sedang jalan bersama teman atau atasannya di kantor mengingat Mutia adalah seorang sekretaris.
Bian tersenyum ramah dan mengulurkan tangannya di hadapan David.
"Bian" ucap Bian.
David menyambut uluran tangan Bian.
"David" jawab David.
"Oke Vid, kami mau makan malam dulu ya" ujar Mutia bergegas untuk meninggalkan David.
"Apa anda mau bergabung?" tanya Bian memberi penawaran.
Aduh Mas Bian ngapain sih ajak dia ikut makan bareng kita, kan gak lucu kalau kita makan bertiga? Awas kamu David kalau mau terima ajakan Mas Bian. Batin Mutia.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Apakah David akan menerima tawaran dari Bian? tunggu bab selanjutnya ya guys...