Kita Yang Berbeda

Kita Yang Berbeda
Syukuran


__ADS_3

Esok harinya Malik dan Aluna mengundang teman - teman mereka ke rumah sebagai ungkapan syukur dan ucapan terimakasih kepada teman - temannya yang sudah membantu menyelamatkan Malik kemarin.


Pak Baskoro juga diundang Malik tapi sayang beliau tidak bisa hadir karena ada acara keluarga yang tidak bisa beliau tinggalkan.


Satu persatu teman - teman Aluna dan Malik mulai berdatangan. Mutia datang bersama Bian, kemudian Gadis dan Budi lalu Randi.


Aluna sudah masak makanan spesial untuk hari ini. Pagi - pagi sekali dia dan Malik sudah berbelanja ke pasar tradisional.


"Ayo dimakan" perintah Malik.


Aluna memasak cake untuk makanan ringan mereka.


Teman - teman Aluna segera memakan cake yang dihidangkan dengan semangat menunggu cerita Malik.


"Gila ya Lik, aku dengar cerita Mutia sampai merinding kemarin" ujar Randi.


"Kamu kok gak curiga sih sama mereka?" samber Budi.


"Jujur aku tidak melihat ciri - ciri mereka yang berbeda. Mas Kamal terlihat seperti pria biasa. Aku fikir dia benar - benar sudah bertaubat. Mas Gerry juga sama terlihat seperti laki - laki tulen" jawab Malik.


"Ih jeruk kok makan jeruk" potong Randi sambil bergaya seperti banc*.


"Huuus... " ucap Mutia mengingatkan.


"Jadi kamu gak ingat apa - apa?" tanya Budi penasaran.


"Ya ada sih, fantasi - fantasi aneh. Tapi gak mungkin aku ceritakan" ungkap Malik malu.


"Ya hanya Aluna lah yang tau" ledek Randi.


Budi dan Randi langsung tertawa.


"Kalian ini teman baru saja selamat dari masalah malah diledekin" ujar Bian.


"Hehehe aku cuma penasaran Lun. Kalau kemarin Malik oke di ranjang, aku mau tanya sama dua kunyuk itu apa jenis obat perangsangnya. Mungkin bisa aku minum saat malam pertama" ujar Randi.


"Ada - ada aja kamu Ran" komentar Bian.


"Jadi dimana mereka sekarang?" tanya Gadis.


"Masih di kantor polisi" jawab Aluna.


"Rasain, semoga mereka mendekam lama di penjara" sambut Mutia.


"Malah bahaya, di penjara laki-laki semua. Mereka malah senang" samber Budi.


"Iiiih aku jadi serem bayanginnya" sambut Gadis.


"Gimana tuh kalau orang tuanya tau anaknya masih melakukan hal yang sama. Malah mungkin lebih parah karena sudah berani menjebak Malik?" tanya Mutia.

__ADS_1


"Pasti mantan mertua kamu malu banget Lun" timpa Gadis.


"So pasti donk, bisa - bisanya masih berani mau ngelamar Aluna lagi menjadi menantunya, jijay... " ujar Budi.


"Iya Lun, alhamdulillah banget kamu udah keduluan terima lamaran Malik" sahut Mutia.


"Ya kalau pun aku masih sendiri. Aku tidak akan mau menerima lamaran keluarga Mas Kamal lagi. Aku gak berani hidup sama pria seperti itu. Untunglah semua berlalu dengan baik" jawab Aluna.


"Kamu sudah lapor sama Tante kamu?" tanya Mutia penasaran.


"Belum, tapi Said udah cerita sama Mama. Dan hari ini Mama mau datang ke sini dan mau bicara sama Tante Dwi. Mungkin mau ketemu sama Mama dan Papanya Mas Kamal" jawab Aluna.


"Yank makan siang kita udah siap?" tanya Malik.


"Udah Mas, yuk teman - teman kita makan dulu" ajak Aluna.


Mereka semua akhirnya berjalan ke ruang makan dan segera menikmati hidangan makan siang yang di masak Aluna.


"Ngiming - ngiming eh ngomong - ngomong Pak Bian kok bisa makan siang bareng sama Mutia kemarin di restoran?" tanya Randi sambil menyenggol lengan Budi.


"Eh iya, apakah ada urusan kantor? Tapi kok sekretaris Bos bisa makan bareng sama Pak Manajer?" goda Budi.


Bian dan Mutia saling tatap.


"Kalian jangan mikir sembarangan ya. Kemarin Pak Bian di utus Bos untuk gantiin dia rapat. Harusnya aku sama Bos rapat siang itu tapi karena Bos ada halangan jadilah Pak Bian yang gantiin" jawab Mutia.


"Oh ngono... alasan lain juga gak apa. Siapa tau setelah ini mau dapat kabar jadi groomsmen lagi setelah pernikahan Aluna dan Malik" goda Randi.


"Aaaw.. sadis amat cewek satu ini. Pak Bian garis bawahi ya. Kalau punya istri kayak Mutia harus kuat mental jiwa dan raga. Awas malam pertama di smack down" ujar Randi sambil meringis kesakitan.


"Kamu Ran, ada - ada aja" sahut Bian sambil tersenyum tipis.


"Eh iya Mas, Mutia. Mohon maaf aku telat mengucapkan terimakasih pada kalian. Kalau bukan karena kalian mungkin nasibku udah entah seperti apa. Yang paling seram itu aku takut tertular penyakit berbahaya karena ulah perbuatan mereka" ungkap Malik.


"Sama - sama Lik, sesama teman kan emang harus saling membantu. Mungkin kalau hal itu terjadi padaku kamu pasti akan membantuku juga" balas Bian.


"Tentu Mas" sambut Malik.


"Iya, kemarin dapat kabar dari Mutia aku hanya bisa nangis. Untung ada Pak Baskoro dan Gadis yang menguatkan dan mau menemani juga mengantar aku ke Hotel. Rasanya jantungku udah mau copot" ungkap Aluna.


"Tindakan mereka memang sudah sangat berbahaya dan kelewatan" ujar Mutia.


Tiba - tiba dari arah depan terdengar suara orang mengucapkan salam.


"Assalamu'alaikum.. Lun.. Lunaa.. Maliiik" ucap suara seorang wanita.


Aluna dan Malik saling pandang dan mengira - ngira siapa yang datang.


"Sepertinya suara tante Dwi Mas" ujar Aluna.

__ADS_1


"Coba aku lihat dulu" sambut Malik.


Malik menghentikan makannya lalu mencuci tangan dan berjalan ke depan.


"Wa'alaikumsalam. Eh Tante Dwi, Om Renol" sambut Malik ramah.


"Kamu gak apa - apa kan Nak? Ya Allah Tante baru dapat kabar dari Kak May kalau kamu di jebak Kamal di Hotel. Apa yang terjadi Lik?" tanya Dwi panik.


"Aku baik - baik saja Tante. Aku dan Aluna lagi kedatangan tamu. Teman - teman pada makan di belakang. Yuk Om, Tante kita makan dulu" ajak Malik.


"Ah tidak usah kami baru aja makan kok sebelum ke sini. Kalian makan aja dulu, biar Tante dan Om nunggu di sini saja. Maaf kami udah ganggu acara kalian" ucap Dwi merasa bersalah.


"Tidak apa Tante. Om aku ke belakang dulu ya" sapa Malik pada Renol.


"Lanjut Lik, santai aja kayak orang jauh aja" sambut Renol.


Malik kembali ke dapur dan bergabung dengan teman - temannya yang lain.


"Siapa Mas, Tante Dwi?" tanya Aluna penasaran.


"Iya sama Om Renol" jawab Malik.


"Ngapain?" tanya Aluna penasaran.


Dia belum menghubungi Tantenya itu, apa Tantenya sudah dapat kabar duluan dari Mamanya? Atau dari Mamanya Kamal?


"Ya mau nanya tentang kejadian kemarin" jawab Malik.


"Mereka gak di ajak makan Lik?" tanya Mutia.


"Udah tapi katanya sudah makan" jawab Malik.


"Ya sudah Mas makan aja dulu, nanti baru kita temui mereka" sambut Aluna.


Setelah selesai makan siang barulah Malik, Aluna dan teman - temannya kembali ke ruang keluarga dimana Dwi dan Renol sudah menunggu mereka.


Mereka saling berjabat tangan menyambut kedatangan Om dan Tantenya Aluna.


"Jadi gimana ceritanya Lik kamu bisa dijebak sama Kamal?" tanya Renol penasaran.


Malik menarik nafas panjang lalu menceritakan semuanya sejak awal mulai pertemuan mereka dengan Kamal hingga Kamal menawarkan untuk bekerja sama melakukan pengadaan barang ke kantor Malik.


"Kurang aja Kamal, bukannya taubat malah kelakuannya semakin bejat. Kita tuntut aja dia dengan hukuman seberat - beratnya" umpat Renol geram.


"Benar itu Om, itu penyakit berbahaya. Biar dia mati saja di penjara" sambut Randi.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2