Kita Yang Berbeda

Kita Yang Berbeda
Perjalanan Ke Kampung


__ADS_3

Malam harinya sesuai janji Malik sekitar jam setengah delapan malam dia sudah sampai di rumah Aluna. Sesampainya di rumah Aluna, Malik dan Said langsung shalat isya ke Mesjid.


Sepulang dari Mesjid Aluna sudah menyiapkan hidangan makan malam untuk mereka bertiga. Malik dan Said langsung menuju ruang makan untuk menyantap makan malam mereka.


"Nanti kalau kalian menikah mau tinggal dimana?" Tanya Said.


Malik dan Aluna saling lirik, mereka belum ada membicarakan sampai ke hal tersebut. Yang mereka pikirkan saat ini adalah restu orang tua mereka.


"Kalau Mas terserah Aluna saja mau dimana" Jawab Malik.


"Aku yang seharusnya bilang begitu. Seorang istri akan ikut kemanapun suaminya membawa" Sambut Aluna.


"Aku punya rumah sendiri Al" Ujar Malik.


"Rumah ini juga punya Kak Luna Mas" Sahut Said.


"Kalau aku boleh meminta kalian tinggal di sini aja ya. Kalau aku tinggal sendiri rasanya sepi banget. Kalau ada Mas Malik kan aku jadi semangat punya teman. Bisa nonton bola bareng sampai malam" Pinta Said.


"Wah seru juga itu, aku juga selama ini gak punya adek laki - laki Said. Pasti seru kalau main bareng kamu. Sesekali kita bisa main futsal bareng" sambut Malik.


"Kalian sudah merencanakan masa depan bersama ya" Sindir Aluna cemburu.


"Kamu cemburu?" Tanya Malik sambil tersenyum tipis.


"Yah bisa di bilang begitu. Sebenarnya kamu mau nikah sama aku atau Said. Sama aku aja belum ada rencana apapun, malah sama Said udah rencana mau main bola dan nonton bola sampai malam" Jawab Aluna.


"Hahaha Kak Luna udah mulai banyak ngoceh Mas. Dia sudah kembali seperti dulu. Selama ini dia lebih banyak diam" Komentar Said senang.


Sejak Aluna kembali ke Kota ini dan sejak perceraiannya dengan Kamal, Aluna berubah jadi lebih pendiam. Padahal dulu Aluna adalah gadis yang ceria.


Kini Aluna sudah kembali seperti Aluna yang dulu. Ceria dan banyak bicara. Aluna langsung terdiam setelah mendengar ucapan Said.


Apa benar aku berubah? Aku tidak merasa demikian. Batin Aluna.


Malik tersenyum tipis, dia juga merasa perlahan - lahan Aluna sudah kembali seperti Alunanya yang dulu. Sejak mereka putus dan Aluna menikah, Aluna memang lebih pendiam dan mengasingkan dirinya seperti orang lain.


"Aku nikahnya sama kamu. Kalau sama Said nanti main bolanya di lapangan futsal kalau sama kamu main bolanya di kamar" Goda Malik.


Sontak Aluna refleks menginjak kaki Said.


"Ada anak kecil Lik" Ujar Aluna.

__ADS_1


"Siapa Kak?" Tanya Said pura - pura.


"Kamu mau bilang Said anak kecil? Kamu lupa kalau dia sudah menikahkan kamu? Mana ada anak kecil bisa nikahin orang besar" Sambut Malik.


Blush... Wajah Aluna memerah karena ucapan Malik barusan. Walau status Aluna janda tapi dia belum pernah melakukan apapun dengan suaminya dulu.


Aluna mengerti maksud dari ucapan Malik tadi tentang mengajaknya bermain bola di kamar, pasti main begituan.


"Betul itu, sebentar lagi aku akan menikahkan Kakak dua kali" Sambut Said.


"Saiiiiid" Ucap Aluna.


"Oke - oke ampun. Aku akan diam" Jawab Said.


"Jadi udah ada keputusannya mau tinggal dimana?" Tanya Said.


"Ya sudah kalau kamu gak mau tinggal sendiri, bias Mas aja yang mengalah pindah ke rumah ini. Rumah Mas bisa dikontrakkan nanti" Jawab Malik.


"Nah gitu donk, kan seru" Sambut Said senang.


"Udah cepetan yuk nanti kita terlalu malam berangkatnya. Bisa - bisa kalian ngantuk di perjalanan" Ajak Aluna.


"Baiklah, yuk Said kita cepatin makannya" sambut Malik.


"Udah selesai belum Al, yuk kita berangkat. Eh tapi aku boleh minta dibuatin kopi untuk diperjalanan nanti?" Pinta Malik.


"Sudah aku siapkan" Jawab Aluna cepat.


"Waaah enaknya calon istri yang pengertian seperti ini" Goda Malik lembut.


Pipi Aluna merona merah lagi membuat Malik semakin gemas melihatnya dan ingin terus menggoda Aluna.


"Kalau kalian mesra - mesraan terus kapan nih kita berangkatnya?" Tanya Said yang tiba - tiba datang dari arah belakang.


"Aku sudah siap, yuk kita berangkat" Jawab Aluna dengan sigap.


Aluna langsung membawa termos air minum yang berisikan kopi untuk Malik dan Said minum di dalam perjalanan nanti. Mereka segera mengunci rumah dan bersiap untuk berangkat.


"Kakak aja ya yang di depan. Aku istirahat dulu di belakang, nanti kalau Mas Malik ngantuk baru gantian" Ujar Said.


Said segera mengambil tempat duduk di bangku belakang. Aluna duduk di samping Said di kursi depan. Malik mulai menyalakan mobil dan mereka berangkat menuju ke kampung Aluna.

__ADS_1


Said sengaja tidur lebih cepat, dia ingin memberi waktu luang Aluna dan Malik untuk membicarakan masa depan mereka. Lagian lebih baik dia cepat tidur biar nanti saat Malik ngantuk dia bisa menggantikan Malik.


Aluna melirik Said yang sudah tertidur lelap.


"Pantas saja dia minta di belakang ternyata dia sudah berencana untuk tidur" Komentar Aluna.


"Biarin saja, mungkin dia kecapekan pulang dari kampus" Sambut Malik.


Aluna melirik Malik yang tampak sangat gagah mengendarai mobilnya.


"Sejak kapan kamu beli rumah?" Tanya Aluna.


"Dua tahun yang lalu, tapi masih dicicil. Kalau mobil ini aku beli cash dari tabunganku" Jawab Malik.


Aluna tau sejak dulu Malik memang pria yang pintar sekali menabung dan tidak boros. Aluna ingat gajinya saja dulu Aluna yang pegang dan dia selalu meminta uang kepada Aluna jika dia membutuhkan uang.


"Kamu sendiri?" Tanya Malik.


"Rumah itu aku beli cash dari hasil tabunganku dan juga hasil pemberian keluarga Mas Kamal" Jawab Aluna.


"Gak apa - apa nih kalau aku ikut kamu tinggal di rumah kamu? Rumah itu kan berasal dari pemberian mantan suami kamu?" Tanya Malik.


"Tidak apa, itu kan rumah aku. Aku sudah menolak pemberian mereka dulu tapi Mamanya Mas Kamal memaksa aku untuk menerimanya. Karena aku dan Said sungkan tinggal di rumah Tante Dwi akhirnya kami memutuskan untuk membeli rumah. Lagian biar Mama enak kalau mau jenguk kami" Jawab Aluna.


"Ya sudah kalau begitu, aku hanya tidak ingin orang - orang berkata yang aneh - aneh di belakang" Ujar Malik.


"Sejak kapan kamu memikirkan omongan orang, bukankah kamu dulu selalu cuek? Malah kamu yang ajarin aku untuk bersikap cuek dan tidak mendengarkan omongan orang lain?" Tanya Aluna.


"Aku bilang begini karena mikirin kamu. Kamu kan selalu takut dengan omongan orang sekitar" Sambut Malik.


Ternyata Malik tidak berubah, dia selalu memikirkan tentang Aluna. Bagaimana agar Aluna nyaman dan bahagia. Satu hal dari Malik yang sangat sulit untuk melupakannya.


Seandainya saja tidak ada luka diantara mereka dulu pasti sekarang hidup mereka akan sangat bahagia. Tapi itulah perjalanan hidup, tidak akan pernah sesuai dengan keinginan hati manusia.


Malik mengendari mobil dengan serius sedangkan Aluna sering melirik dan memperhatikan Malik diam - diam. Aluna sangat menikmati perjalanan ini dan ingin menyimpannya dalam memori pikirannya.


Aluna tidak ingin mereka terpisah lagi karena berbagai alasan. Cukuplah masa lalu menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi mereka. Semoga di depan sana tidak ada cobaan rumah tangga yang berat mereka hadapi.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2