
Malam harinya Malik bersama keluarga Aluna makan malam diluar. Mereka makan disalah satu Restoran yang terkenal di kampungnya.
Mereka memesan makanan istimewa untuk hidangan makan malam ini.
"Bu tadi aku dan Aluna sempat berbincang - bincang perihal pernikahan kami nanti. Tanpa mengurangi rasa hormat, boleh tidak kalau kami meminta izin Ibu acaranya diadakan di Ibukota saja?" tanya Malik.
Bu Maysaroh melirik Aluna.
"Teman - teman kami semua di sana Ma. Teman - teman kantor, mereka pasti ingin menghadiri pernikahan kami. Kasihan kalau mereka harus pergi jauh ke Kampung. Lagian dulu pernikahanku yang pertama sudah diadakan di kampung. Kalau boleh, kali ini diadakan di Kota aja gimana Ma" bujuk Aluna.
"Siapa yang mengurus acaranya Lun? Mama di sini dan kalian berdua bekerja. Emangnya kapan rencana kalian menikahnya?" tanya Bu Maysaroh.
"Kami inginnya bulan depan Bu. Ibu tidak perlu risau mengurus pesta pernikahan kami. Nanti kita bisa memakai jadi WO untuk mengatur semua proses perbaikan kami sampai selesai" jawab Malik.
"Iya Ma kalau di Kota sudah bisa pakai jasa EO atau WO. Jadi pengantin dan keluarga tinggal terima bersih" sambut Said.
Kali ini Maysaroh tidak ingin memberatkan hati Aluna. Yang dia inginkan hanyalah kebahagiaan Aluna. Maysaroh membelai lembut punggung Aluna.
"Terserah kamu saja Nak, kamu maunya gimana? Mama ingin kali ini kamu yang mengurusnya sesuai keinginan kamu. Mama akan ikut apapun keinginan kamu" ujar Maysaroh.
"Kapan Ibu saya bisa bertemu dengan Ibu?" tanya Malik.
"Minggu depan kalian mau pulang ke kampung kan? Kalau begitu setelah minggu depan saja kita ketemu di Ibukota saja. Ibu juga mau ke sana, mau cerita sama Dwi dan Renol" jawab Bu Maysaroh.
"Baiklah kalau begitu nanti saya ajak Ibu saya dari kampung berangkat ke Ibukota untuk bertemu dengan keluarga Ibu" sambut Malik.
"Gimana baiknya saja" balas Bu Maysaroh.
Setelah selesai makan malam mereka berkeliling kota. Aluna sangar bahagia sekali karena akhirnya dia berada di sekeliling orang - orang yang sangat dia cintai.
Setelah selesai berkeliling mereka kembali ke rumah keluarga Aluna. Malam ini Said tidur dengan Malik sedangkan Lula seperti biasa tidur dengan Bu Maysaroh dan Aluna tidur sendiri di kamarnya.
Tengah malam Aluna keluar dari kamarnya dan berjalan menuju dapur untuk mengambil minum. Saat dia berjalan keluar kamar Malik rupanya keluar kamar juga.
Aluna terlonjak kaget karena melihat ada orang yang tiba - tiba berada di depannya.
"Astaghfirullah aku terkejut banget Liik" ucap Aluna.
Malik tersenyum melihat wajah Aluna yang lucu karena terkejut.
"Kamu mau kemana?" tanya Aluna.
"Aku haus" jawab Malik.
"Ya sudah ayo ke dapur, aku juga haus" ajak Aluna.
Aluna dan Malik berjalan ke arah dapur. Aluna mengambilkan minum untuk Malik. Mereka duduk di depan meja makan sambil memegang gelas minuman.
"Kamu masih sakit saat nyeri haid?" tanya Malik.
Aluna menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Ternyata selama ini ada miom di kandungan aku. Satu tahun yang lalu aku operasi pengangkatan miom. Sejak saat itu aku tidak pernah lagi merasakan nyeri haid" ungkap Aluna.
"Mengapa taunya sangat lama sekali ya Al. Coba taunya dari dulu, kamu tidak perlu merasakan sakit - sakit setiap bulan. Kamu sih dari dulu aku sering ajak berobat tapi kamunya gak mau" ujar Malik.
Aluna hanya diam sambil menarik nafasnya panjang. Ingatannya kembali pada satu tahun yang lalu. Karena penyakitnya inilah akhirnya Mamanya dan mantan mertuanya tau bagaimana kondisi rumah tangganya bersama Kamal.
"Tidak apa Lik, yang penting semua sudah berlalu dengan baik" sahut Aluna.
Malik menatap wajah Aluna dengan seksama.
"Wajah kamu kok bersih banget, udah tidur tadi?" tanya Malik.
"Udah tidur tapi tadi aku terbangun dan shalat tahajjud terus ngaji sebentar baru keluar kamar karena haus" jawab Aluna.
"Itu yang paling aku salutkan dari kamu. Urusan beribay kamu memang paling hebat" puji Malik.
"Kamu lebih hebat bisa menemukan jalan kamu sendiri sampai sejauh ini" sambut Aluna.
"Kan berkat tuntunan kamu dari dalam mimpi. Kalau tidak mungkin aku masih Malik yang dulu" ujar Malik.
Aluna tersenyum tipis.
"Nanti kalau kita sudah menikah, bareng - bareng ya ibadahnya. Biar kita bisa sama - sama masuk surganya" sambung Malik.
"Aamiin... " jawab Malik.
"Udah malam, tidur yuk. Besok kita harus kembali ke Ibukota. Jalan jauh harus butuh tenaga ekstra" ajak Aluna.
"Sekarang kamu udah pinter banget ya ngegombal. Aku hampir tidak percaya itu kamu" ujar Aluna.
Malik tersenyum penuh arti.
"Nanti setelah kita menikah kamu pasti akan aku buat kejutan yang lebih manis lagi" bisik Malik pelan, takut ada anggota keluarga Aluna yang belum tidur dan mendengarnya.
"Aku juga punya kejutan untuk kamu, tunggu saja tanggal mainnya" balas Aluna dengan senyuman yang tak kalah membuat Malik penasaran.
Aluna berdiri dari duduknya lalu berjalan menuju ke kamarnya diikuti Malik dari belakang.
"Aku duluan masuk ya" ucap Malik karena kamar Said lebih dulu dari kamar Aluna.
Malik masuk ke kamar Said dan Aluna masuk ke kamarnya.
Esok harinya Aluna, Malik dan Said bersiap untuk pulang ke Ibukota. Bu Maysaroh sudah menyiapkan hidangan sarapan pagi untuk mereka.
Setelah selesai sarapan mereka berpamitan pada Mama Aluna untuk pulang kembali ke Ibukota. Aluna, Malik dan Said kembali ke Ibukota sekitar jam sembilan pagi.
"Kami pulang ya Ma" ucap Aluna sambil memeluk Mamanya.
"Iya Nak hati - hati ya" jawab Bu Maysaroh.
"Kami berangkat Bu" ucap Malik setelah itu.
__ADS_1
"Iya, hati - hati ya Malik" ujar Bu Maysaroh.
"Aku juga pulang ya Ma" sambut Sadi.
"Iya, kamu jangan tidur aja. Temani Mas dan Kakak kamu" pesan Mamanya.
"Iya Ma" jawab Said.
Mereka bertiga naik ke mobil dan berangkat. Sampai di Ibukota sore hari sekitar jam lima sore. Aluna dan Malik langsung mencari WO malam harinya mengingat waktu pernikahan mereka sudah dekat.
Oleh seorang kenalan mereka mendapatkan WO dan juga mendapatkan gedung untuk acara dilangsungkan.
Malam harinya mereka sudah kembali ke rumah dengan wajah yang lelah tapi puas karena dua hal penting dalam pernikahan mereka sudah didapatkan.
"Alhamdulillah ya Mas akhirnya selesai juga malam ini" ujar Said.
"Iya Said alhamdulillah banget. Ini termasuk hal yang penting. Tinggal yang lainnya bisa mulai di cicil besok" sambut Malik.
Malik menatap Aluna yang tampak sedang mengurut kepalanya.
"Kamu kenapa, pusing?" tanya Malik.
"Iya, sedikit" jawab Aluna.
"Ya sudah kamu istirahat aja, aku juga mau pulang. Besok pagi aku jemput ya, kita berangkat bareng ke kantor" ujar Malik.
"Iya Lik, kamu hati - hati ya" pesan Aluna.
Malik bangkit dari duduknya lalu pergi meninggalkan rumah Aluna. Malam ini memang mereka baru saja melakukan perjalanan panjang. Lelah memang lelah tapi karena mereka semangat lelah itu jadi tidak begitu berasa.
Aluna mengantar Malik sampai depan rumah.
"Hati - hati ya Lik" ucap Aluna.
Malik berhenti sejenak.
"Sudah mulai pikirkan bagaimana caranya merubah panggilan kamu" pesan Malik.
"Iya, aku kan udah janji akan menggantinya setelah kita menikah" jawab Aluna sambil tersenyum tipis.
Malik membalas senyuman Aluna.
"Aku pulang ya, semoga semuanya lancar hingga hari H" doa Malik.
"Aamiin.. " sambut Aluna.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1