Kita Yang Berbeda

Kita Yang Berbeda
Sepanjang Jalan Kenangan


__ADS_3

Aluna dan Malik sangat senang sekali malam ini. Berulang kali mereka saling pandang dan tersenyum malu. Rasa cinta yang tersimpan selama tiga tahun kini kembali bersemi.


Malik merogoh kantong celananya lalu mengeluarkan sesuatu yang berbentuk kotak kecil. Lalu dia membukan tepat di hadapan Aluna.


"A.. apa ini Lik?" Tanya Aluna.


"Seperti yang kamu lihat. Kamu tau kan aku tidak pintar untuk melakukan hal yang romantis. Tapi kata Mutia kalau lamaran harus ada cincinnya dan aku bingung mau memilih cincin yang sesuai dengan keinginan kamu. Aku ingat kamu tidak suka perhiasan yang berlebihan. Kamu suka yang simple jadi aku pilih yang ini saja" Ucap Malik.


Aluna melihat ada cincin emas putih bermata satu. Perhiasannya adalah berlian berwarna pink muda persis warna favorit Aluna. Bagi Aluna cincin itu sangat cantik, mungkin karena dia menyukai warna pink dan mungkin juga karena cincin itu adalah pemberian Malik.


"Pasang sendiri ya, nanti kalau cincin nikah baru aku pasangkan" Sambung Malik.


Yang lain tertawa mendengar ucapan Malik. Aluna tersenyum manis sambil mengambil cincin dari dalam kotak perhiasan dan memakainya di jari manis sebelah kiri.


"Cantik banget" Puji Gadis.


"Ternyata boleh juga Lik selera kamu" Puji Mutia.


Malik tersenyum tipis. Mereka melanjutkan acara makan malam bersama dalam rangka lamaran Malik dan Aluna. Sekitar jam sepuluh malam mereka memutuskan untuk bubar.


"Bubar.. bubar.. Kita biarkan yang lagi berbahagia berdua - duaan. Mereka sudah lama tidak ngobrol panjang" Goda Mutia.


Wajah Aluna merona malu tapi kebahagian tidak bisa dia tutup - tutupi lagi. Bian tersenyum lega karena ternyata keputusannya melepas Aluna tidaklah salah.


"Gis aku antar ya" Ucap Budi.


"Weish gerak cepat" Ledek Randi.


Gadis tersenyum malu - malu.


"Mut kamu pulang sama Pak Bian aja ya. Aku ada perlu, mau singgah lagi ke rumah saudara" Ujar Randi.


"Yaaaah Randi, kan jadi ngerepotin Pak Bian" Protes Mutia.


"Tidak apa Mut, kan jarak rumah kita juga gak jauh amat. Masih bisa di bilang searah" Sambut Bian.


"Baiklah kalau Bapak memaksa" Jawab Mutia.


"Kamu terlalu percaya diri Mumuuuut" Ejek Budi.


"Hahaha" Semua tertawa mendengar obrolan unfaedah Geng Lima Jones minus Aluna yang lebih banyak diam malu - malu malam ini.


Akhirnya Mutia pulang bersama Bian karena mobilnya sedang di bengkel, Randi pulang sendiri sedangkan Gadis pulang diantar Budi.


"Kita pulang?" Ajak Malik, senyumannya tak pernah putus sejak lamarannya di terima Aluna.


"Iya" Jawab Aluna.


Malik dan Aluna masuk ke dalam mobil Malik.


"Kamu tinggal dimana sekarang? Masih di rumah Tante Dwi?" Tanya Malik sambil mulai menyalakan mobilnya.


"Nggak, aku sudah tinggal di rumah sendiri bersama Said" Jawab Aluna.

__ADS_1


"Dimana tempatnya?" Tanya Malik lagi.


"Di Komplek Kenanga" Jawab Aluna.


"Ooo" Sahut Malik.


Malik menjalankan mobilnya keluar dari Cafe tempat mereka makan tadi.


"Lho Lik kita mau kemana?" Tanya Aluna heran, karena arahnya berbeda dengan arah rumahnya.


"Aku ingin menjalani jalan - jalan kenangan yang dulu sering kita lalui" Jawab Malik.


Aluna tersipu malu karena ternyata Malik ingin mengajaknya bernostalgia. Mereka melewati Gang rumah kosan Malik dan Gang yang sering Aluna lewati untuk masuk ke rumah Tantenya.


"Di sini kamu selalu menunggu aku untuk menjemput kamu" Ucap Malik.


Aluna melirik ke arah Malik.


"Di sini juga kamu sering mengantar aku" Balas Aluna dengan senyuman manisnya.


Mereka tersenyum bersama penuh bahagia. Lalu mobil melaju menuju kampus mereka.


"Gak terasa ya sudah lama kita tamat kuliah" Ujar Aluna.


"Bangunannya tetap sama tapi sekarang tampilannya sedikit berbeda. Di tempat ini dulu aku cemburu karena kamu diantar ke kampus sama cowok lain" Ungkap Malik.


"Mas Dimas maksud kamu? Dia kan sepupuku" Sambut Aluna.


Kemudian mereka berjalan melewati taman yang sering mereka singgahi walau hanya sekedar untuk duduk - duduk santai sambil menikmati senja hari.


"Tapi semuanya kan berhasil kita lewati" Sambut Aluna dengan lega.


"Berat Al, sangat berat. Tiga tahun ini sangat berat, aku adukan semua kepada Allah. Aku selalu meminta agar diriku bisa ikhlas dan kamu bahagia. Saat itu semua memang sangat berat tapi sekarang aku merasa lega" Ungkap Malik.


Aluna tersenyum manis menyambut ucapan Malik.


"Sudah malam, pulang yuk. Hari esok masih panjang untuk kita" Ajak Aluna.


Malik balas tersenyum.


"Iya, masih banyak juga yang harus kita bicarakan. Aku akan menemui Said lalu aku akan bicara sama Ibu dan Kakak - kakakku. Lalu aku akan melamar kamu ke kampung" Sambut Malik.


"Liiiik... Apa keluarga kamu akan menerima keadaanku yang sekarang?" Tanya Aluna khawatir.


"Terima, mereka akan menerimanya apapun keadaan kamu. Mereka tahu bagaimana aku hidup tanpa kamu. Aku malah khawatir keluarga kamu yang tidak bisa menerima aku" Jawab Malik.


"Sekarang perbedaan itu sudah tidak ada Lik. Mama pasti akan setuju" Sambut Aluna.


"Mudah - mudahan semua lancar ya" Sahut Malik.


"Aamiin" Jawab Aluna.


Malik melajukan mobilnya menuju rumah Aluna. Mereka sampai di rumah sekitar jam sebelas lewat. Karena khawatir sudah terlalu malam Said langsung menyambut kepulangan Aluna.

__ADS_1


Said terkejut karena melihat bukan mobil Bian yang datang tapi mobil lain. Aluna turun dari mobil Malik begitu juga dengan Malik. Sontak Said semakin terkejut melihat semua itu.


"Hai Said, lama tidak bertemu. Kamu semakin gagah aja" Sapa Malik.


"Lho Mas Malik?" Ujar Said tak percaya.


Malik tersenyum ramah kepada Said.


"Maaf ya kemalaman ngantar Aluna. InsyaAllah besok Mas akan datang lagi ke sini untuk ngobrol sama kamu" Ucap Malik


"I.. Iya Mas" Sambut Said dengan bingung.


Malik menatap Aluna kembali lalu tersenyum manis.


"Al aku pulang dulu ya. Assalamu'alaikum" Pamit Malik.


"Hati - hati Lik, Wa'alaiakumsalam" Sambut Aluna.


"Yuk Said" Sapa Malik.


"Iya Mas" Jawab Said.


Malik masuk ke dalam mobilnya lalu berlalu dari rumah Aluna. Said sudah tidak sabar ingin bertanya kepada Aluna. Tapi Aluna sudah berlalu dan masuk ke dalam rumah.


"Kaaaaak mengapa pulang sama Mas Malik? Bukannya malam ini Kakak mau bertemu dengan orang tuanya Mas Bian?" Tanya Said penasaran.


Aluna menghentikan langkahnya lalu menunjukkan jari manisnya yang memakai cincin kepada Malik.


"Kakak di lamar Said" Ungkap Aluna bahagia.


"Siapa yang melamar Kakak? Jangan buat aku bingung donk. Perginya sama Mas Bian, mengapa pulangnya sama Mas Malik?" Tanya Said tak sabar.


Aluna duduk di sofa ruang TV. Said dengan antusias duduk di samping Aluna dan menunggu Aluna bercerita.


"Ternyata Mas Bian kerja sama dengan Malik dan semua teman - temanku. Mereka merencanakan acara lamaran untukku dan malam ini Malik yang sudah melamarku" Jawab Aluna akhirnya.


Malik melongo mendengar jawaban Aluna.


"Kok bisa? Aku masih belum mengerti?" Tanya Said.


"Ih kamu lemot banget sih. Pokoknya intinya Malik yang lamar aku hari ini. Besok dia akan datang ke sini untuk bicara sama kamu. Tanya aja besok sendiri sama Malik" Jawab Aluna.


"Kakak mau tidur udah malam" Lanjut Aluna.


Dia berdiri lalu melangkah menuju ke kamarnya. Ingin rasanya Aluna menjerit kegirangan tapi dia sadar, dia bukan anak remaja lagi yang sedang jatuh cinta.


Aluna membersihkan tubuhnya lalu mengganti pakaiannya dan shalat. Lebih baik mengadukan semuanya kepada Allah. Aluna ingin berterimakasih dan mengucap syukur kepada Allah atas apa yang dia lalui malam ini. Tak lupa Aluna juga bedoa dan meminta kelancaran semua.


Malam ini dua hati yang sempat terpisah beberap tahun kini bisa bersatu kembali dan keduanya mengadukan kebahagiaan mereka kepada Sang Khaliq.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2