Kita Yang Berbeda

Kita Yang Berbeda
Hukuman


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


Perkembangan proses hukum kasus Kamal mulai bergulir. Sidang akhir akan dilaksanakan besok hari.


Kesehatan Bu Lila juga berkembang sangat pesat. Kini dia sudah keluar dari Rumah Sakit dan tinggal menjalani berbagai proses terapi.


Kesehariannya Bu Lila duduk di kursi roda karena belum bisa berjalan. Tetapi jiwanya kini sudah lebih kuat dan secara keseluruhan semuanya baik.


Bu Lila sudah bisa menerima kenyataan atas apa yang dilakukan anaknya. Dia ikhlas menerima hukuman yang nanti akan dijatuhkan kepada Kamal.


Sebagai seorang Ibu, sebesar apapun kenyahatan dan kenakalan anaknya pasti dia akan tetap memaafkan. Apalagi Bu Lila hanya memiliki seorang anak.


Setiap hari Bu Lila berdoa kepada Allah semoga Kamal menyadari kesalahannya dan mau bertaubat. Dia akan menerima kembali Kamal jika Kamal mau kembali ke fitrahnya sebagai laki - laki sesungguhnya.


Saat ini Bu Lila sedang duduk di kamarnya sambil memegang album foto kenangan saat Kamal masih kecil. Kamal adalah anak yang tampan dan gagah.


Dari kecil tidak pernah terlihat kelainan pada diri Kamal. Dia tumbuh seperti anak laki - laki pada umumnya. Bermain dengan teman - teman laki - laki, bermain bola, mobil - mobilan, bermain sepeda dan lainnya.


Kamal juga anak yang pintar dan selalu membuat bangga Bu Lila dan Pak Regi. Banyak prestasi yang Kamal raih sejak kecil. Kamal tumbuh menjadi anak laki - laki yang kuat dan cerdas.


Mata Bu Lila berkaca - kaca saat melihat foto Kamal SMU. Dia adalah murid terbaik di sekolahnya. Sehingga dia mendapat beasiswa kuliah di luar kota.


Seandainya saja Lila tau setelah itulah Kamal berubah menjadi pria yang menyimpang mungkin dia akan mencegahnya sejak dini.


Lila tidak akan mengizinkan Kamal kuliah di luar kota dan bertemu Gerry teman satu kosnya saat kuliah. Kalau dia tidak kuliah ke luar kota mungkin saat ini Kamal akan tumbuh menjadi pria seutuhnya.


Mungkin saat ini Lila sudah dikelilingi banyak cucu di rumahnya. Dia bisa menikmati hari tua bersama anak, menantu dan cucunya.


Tapi apa gunanya disesali. Semua sudah berjalan sesuai kehendak Allah. Mungkin sebelum turun ke dunia. Kamal sudah membuat perjanjian dengan Allah tentang perjalanan hidup yang akan dia jalani di dunia.


Bu Lila hanya bisa berharap dan berdoa, kesempatan Kamal bertaubat masih ada. Sehingga impian Bu Lila dihari tua masih bisa terlaksana.


"Sudah Ma, jangan menangis. Makanya Papa marah kalau Mama buka - buka album kenangan. Gini nih akhirnya pasti Mama menangis" tegur Regi.


Lila mengusap air matanya.

__ADS_1


"Mama kangen Kamal kecil Pa. Kamal yang penurut, lucu dan pintar" ungkap Bu Lila.


Regi menarik panjang nafasnya. Sebenarnya dia juga merasa semua ini sangat berat. Tapi dia harus kuat sebagai sandaran istrinya.


"Doakan Kamal Ma, agar dia kembali ke jalan Allah. Kita sebagai orang tua hanya bisa mendoakan dia. Kita tidak bisa mengatur hidupnya, hanya bisa menegur dan mengarahkan" sambut Regi.


Lila menutup album kenangan saat Kamal kecil dan meletakkannya di atas nakas kamar dekat tempat tidurnya.


"Setiap hari usai shalat Mama selalu mendoakan Kamal Pa. Semoga Allah menuntun hatinya untuk kembali menjadi Kamal kita yang dulu" ucap Lila dengan mata basahnya.


Regi memeluk istrinya dengan penuh kelembutan. Dia harus bisa memberikan kenyamanan dan sandaran yang kuat bagi Lila. Regi belum siap hidup sendiri. Walau saat ini Lila belum bisa berbuat banyak tapi Regi sangat bersyukur Lila sangat kuat dan mau bertahan.


"Sudah Ma jangan dipikirkan, ikhlaskan semua dan pasrahkan hanya kepada Allah. Biar Allah yang mengatur semuanya, yang penting kita terus berdoa. Besok sidang Kamal, Papa mau tanya terakhir kalinya kepada Mama. Apa Mama memang benar - benar ingin ikut ke kantor pengadilan?" tanya Regi.


Lila menganggukkan kepalanya.


"Iya Pa, Mama mau ikut ke sana. Mama mau lihat Kamal" jawab Lila.


"Mama kuat? Mama yang tau bagaimana kesehatan dan hati Mama. Apakah Mama siap menerima hasil keputusan hakim besok?" tanya Regi.


"InsyaAllah Mama kuat dan Mama siap menerimanya Pa. Mama tidak akan malu dan berlarut dalam kesedihan. Mungkin dukungan dari kita sangat dibutuhkan Kamal. Bisa saja dengan begitu dia akan kembali kepada kita Pa" jawab Lila.


"Aamiin.. ya sudah kalau Mama memang mau pergi besok, sekarang Mama harus istirahat, tidur ya" pesan Regi.


"Iya Pa" jawab Lila.


"Obat yang diminum di waktu malam sudah Mama minum semuanya?" tanya Regi.


"Sudah Pa" jawab Lila.


"Tidur yuk" ajak Regi.


Lila dan Regi akhirnya tidur setelah obrolan sebelum tidur mereka.


Esok harinya Pak Regi dengan sangat sabar mengurusi istrinya yang masih sakit. Mereka bersiap - siap untuk berangkat ke Pengadilan Negeri menghadiri persidangan Kamal.

__ADS_1


Di Pengadilan Pak Regi mendorong Lila yang duduk diatas kursi roda dari parkiran mobil hingg ke gedung tempat persidangan akan dilangsungkan.


Disana mereka bertemu dengan Aluna, Malik, Said, Renol dan Dwi. Mereka sempat berbincang - bincang sebentar hingga akhirnya sidang dimulai.


Semua duduk dengan tenang mengkuti persidangan. Kamal dan Gerry masuk ke dalam ruang persidangan. Saat hendak duduk di kursi terdakwa Kamal menatap wajah Mamanya.


Sejak dia ditahan baru kali ini dia bertemu dengan Mamanya. Matanya tampak berkaca - kaca dan merasa bersalah dan terus menatap wajah Mamanya.


Lila sudah mempersiapkan hatinya. Dia akan mencoba menyentuh hati Kamal dengan kasih sayangnya. Dengan lembut Lila tersenyum penuh kasih sayang kepada Kamal. Dan memberi isyarat kepada Kamal kalau dirinya baik - baik saja.


Tanpa terasa air mata Kamal jatuh perlahan dia segera berlari ke tempat duduk Mamanya. Membuat para petugas keamanan sempat terkejut melihatnya.


"Mama... maafkan Kamal. Maafkan Kamal Ma. Kamal menyesal dan akan berubah, Kamal janji" ucap Kamal sambil menangis duduk bersimpuh di kaki Lila.


Lila menahan nafasnya sejenak dan mencoba menenangkan hatinya. Tapi dia tetap tidak bisa membendung air matanya yang jatuh ke pipinya.


"Kalau kamu memang sayang pada Mama lakukanlah yang terbaik Nak. Mama tidak akan menuntut kamu jadi anak yang seperti apa. Mama hanya ingin kamu kembali seperti Kamal yang dulu. Jalani hidup kamu dan kembali ke fitrah kamu sebagai laki - laki" pinta Lila.


"Iya Ma, Kamal janji. Tunggu Kamal Ma, tunggu Kamal keluar dari sini. Kamal akan bertanggung jawab atas apa yang sudah Kamal lakukan" janji Kamal.


Petugas menarik tubuh Kamal.


"Kembali ke tempat duduk Anda, sidang akan segera dimulai" ucap seorang pria kepada Kamal.


Kamal mencium wajah Lila lalu kembali berjalan menuju tempat duduknya semula dan sidang segera dimulai.


Keputusan sidang akhirnya diputuskan. Atas kesalahan yang telah dilakukan Kamal dan Gerry keduanya dihukum dengan hukuman tiga tahun penjara. Dan mereka akan di penjara di tempat yang berbeda mengingat kasus mereka.


Kamal pasrah dan menerima semua hukuman itu dan tidak ada keinginan untuk naik banding. Regi dan Lila menatap wajah Kamal dari kejauhan dengan penuh keikhlasan dan kasih sayang.


Kalau Kamal benar - benar akan berubah mereka akan menerim Kamal kembali setelah keluar dari penjara.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2