Kita Yang Berbeda

Kita Yang Berbeda
Jadi Orang Tua


__ADS_3

Malik dan Aluna tiba di rumah mereka. Bu Maysaroh dan Said langsung menyambut mereka dengan suka cita.


"Gimana Lun kata Dokter?" tanya Bu Maysaroh.


Aluna duduk di sofa ruang keluarga sambil meluruskan kakinya.


"Alhamdulillah Bu semuanya sehat" jawab Aluna.


"Kakak beneran hamil?" tanya Said penuh semangat.


"Ya iya donk masak boongan. Kan tadi udah diperiksa pakai alat tes kehamilan sama Ibu" jawab Aluna dengan suara yang agak tinggi.


Sontak Said dan Malik terkejut melihat tingkah Aluna yang tidak seperti biasanya.


"Aku kan cuma nanya buat mastiin kok malah marah" protes Said.


"Ya habis kamu nanya nya aneh. Kakak ke Dokter kan untuk periksa kehamilan apakah kandungan Kakak sehat, anak yang di dal baik - baik saja. Bukan mau tau hamil atau nggak" jawab Aluna panjang.


"Sayang kok langsung ngegas?" ucap Malik pelan.


"Aku kan capek Mas, belum lagi tadi di bohongi sama Mutia dan Mas Bian. Aku yakin mereka itu kencan. Kok sembunyi - sembunyi?" ujar Aluna masih dengan nada kesal.


"Ma" panggil Said sambil melirik ke arah Aluna.


Bu Maysaroh tersenyum tipis.


"Kamu ke kamar gih istirahat. Tenangkan hati dan pikiran kamu" perintah Bu Maysaroh.


"Iya Ma aku mau tidur aja deh, ngantuk" jawab Aluna.


Aluna bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya.


"Kak Luna kenapa sih Mas? Pulang - pulang kok marah - marah?" tanya Said bingung.


"Tadi setelah dari praktek Dokter, kami singgah ke Restoran untuk makan malam. Semua masih baik - baik saja, Aluna makan dengan lahapnya dua porsi sekaligus. Terus pas mau pulang ketemu sama Mas Bian dan Mutia makan berdua. Aluna mikirnya mereka itu pasti kencan. Tapi dari gerak - geriknya Mutia dan Mas Bian gak mau ngaku, makanya Aluna kesal" jawab Malik.


"Lho kenapa kesal? Mas Bian dan Kak Mutia kan berhak juga main rahasiaan dulu. Mungkin masih tahap PDKT kali. Aneh Kak Luna" sambut Said.


"Herannya sepanjang perjalanan dia ngambek dan diam terus. Udah sampai di rumah kok jadi marah ya?" tanya Malik.


"Bukan seperti Kak Luna biasanya" sambut Said.


Bu Maysaroh tersenyum tipis.


"Itu karena hormon kehamilannya. Banyak wanita hamil yang tingkah lakunya berubah tidak seperti sikap biasanya. Ada yang bilang bawaan kehamilan atau anak yang ada di dalam perut" ungkap Bu Maysaroh.


"Jadi maksud Mama anak kami suka ngambek dan marah - marah gitu? Astaghfirullah jangan deh Ma" sahut Malik.

__ADS_1


"Ya nggak lah Lik, itu hanya perubahan hormon Aluna karena lagi hamil. Semua kan tergantung didikan kalian nanti selaku orang tua" jawab Bu Maysaroh.


"Oh begitu, alhamdulillah" sambut Malik lega.


"Maaaaas" panggil Aluna dari kamar sambil merengek manja.


"Tuh Mas dipanggil. Siap - siap diamuk" potong Said.


"Waduh" sambut Malik.


"Yang sabar Lik, dinikmati aja. Wanita hamil juga gak gampang kok. Sebenarnya didalam pikiran Aluna sebenarnya gak pengen seperti itu tapi dia tidak bisa melawan gejolak hatinya" ujar Bu Maysaroh.


"Iya Ma insyaallah Malik akan sabar kok" Jawab Malik.


Malik bangkit dari duduknya.


"Malik ke kamar dulu ya Ma" pamit Malik.


Malik berjalan menuju kamarnya sesampainya di kamar Malik melihat Aluna sudah berbaring di atas tempat tidur dengan memakai lingeria.


Ya Tuhan.. apalagi ini? Mengapa Aluna bertingkah seperti ini? Biasanya dia selalu malu - malu setiap memakai pakaian itu. Tapi sekarang dia mencoba untuk memancing gaira*ku. Batin Malik.


"Ya sayang" sahut Malik.


"Mas Malik ganti baju dulu gih, pakaiannya udah aku siapkan di sana. Cepetan ya" ucap Aluna.


"Oke sayang, tunggu sebentar ya" pesan Malik.


Malik berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian. Tak lama kemudian Malik sudah keluar dari kamar mandi dan mendapati Aluna sudah tidur nyenyak di atas tempat tidur.


Malik tersenyum tipis melihat tingkah istrinya seperti itu. Kalau sudah begini mana mungkin Malik tega membangunkan Aluna yang sudah tidur dengan lelapnya.


Malik segera menutupi tubuh Aluna dengan selimut lalu Malik berbaring di samping Aluna dan memeluk tubuh Aluna dengan penuh kasih sayang. Malik mengecup lembut kening Aluna.


"Terimakasih sayang kamu sudah dengan rela mengandung anak kita. Aku akan sabar menghadapi dan menemani kamu menjalani semua ini" ucap Malik dengan lembut dan penuh masih sayang.


Malik baru ingat kalau dia belum mengabari Ibunya di kampung. Malik meraih ponselnya dan menghubungi Ibunya.


"Halo Bu" sapa Malik.


"Ya Nak, kok tumben telepon Ibu malam - malam? Apa ada hal yang penting?" tanya Bu Abraham penasaran.


"Iya Bu, ada hal yang penting ingin aku beritahu pada Ibu malam ini" sambut Malik.


"Apa itu Lik? Kamu jadi buat Ibu khawatir saja" ujar Bu Abraham.


"Bukan kabar buruk, malah sebaliknya. Aku mau kasih kabar gembira untuk Ibu" jawab Malik.

__ADS_1


"Kabar gembira? Apaan? Ibu jadi penasaran" tanya Bu Abraham tak sabar.


Malik tersenyum senang mendengar suara Ibunya. Malik membayangkan pasti saat ini Ibunya sudah sangat tidak sabar untuk mendengar kabar yang akan dia sampaikan.


Malik menarik nafas panjang.


"Aluna hamil Bu, kami akan segera punya anak" ungkap Malik.


"Benarkah?" tanya Bu Abraham meyakinkan.


Malik semakin tersenyum membayangkan wajah Ibunya saat ini pasti sangat bahagia disana.


"Benar Bu. Kami baru aja pulang dari Dokter memeriksakan kandungan Aluna. Alhamdulillah anak yang ada di dalam kandungan Aluna sehat. Tapi kasihan Aluna Bu, setiap selesai makan dia muntah dan keluar semua makanan yang baru saja dia makan. Aku kasihan melihatnya" ungkap Malik.


"Begitu memang Lik kalau hamil muda, bisa sampai tiga bulan. Minta obat donk sama Dokternya?" sambut Bu Abraham.


"Sudah, sudah dikasih sama Dokter dan malam ini Aluna bisa makan dengan tenang tanpa ada drama mual. Mudah - mudahan serasi obatnya dan Aluna tidak mual lagi besok" ujar Malik.


"Selamat ya Nak, sebentar lagi kamu akan menjadi seorang Bapak. Kamu harus perhatian keadaan Aluna. Apapun yang dia inginkan dan harus sabar dengan tingkah laku Aluna. Biasanya wanita hamil perasaannya sangat peka dan sensitif. Kamu harus bisa memakluminya" nasehat Bu Abraham.


"Iya Mama juga tadi bilang bagitu" sambut Malik.


"Aluna nya mana?" tanya Bu Abraham.


"Sudah tidur Bu, katanya sejak hamil dia gampang lelah dan mengantuk" jawab Malik.


"Iya, memang begitu wanita hamil. Kamu harus banyak - banyak mengerti" ujar Bu Abraham.


"Iya" sambut Malik.


"Eh iya gimana perkembangan masalah kamu? Apa pelakunya sudah diadili?" tanya Bu Abraham.


"Belum Bu masih proses hukum. Tapi tadi pagi Mamanya Mas Kamal jalani operasi dikepala karena dia terkena stroke dan pecah pembuluh darah di kepala. Syukur operasinya berhasil" ungkap Malik.


"Pasti Ibunya sangat terkejut dan shock mendengar kabar anaknya bisa jadi seperti itu. Kasihan sekali orang tuanya" ujar Bu Abraham.


"Iya Bu. Ibu belum ngantuk?" tanya Malik.


"Ini Ibu sudah siap - siapa mau tidur. Kamu juga istirahat ya. Besok kan mau kerja. Salam buat Aluna ya, Ibu sangat senang mendapat kabar gembira ini. Semoga Aluna dan anak yang ada dalam kandungannya sehat hingga lahiran" doa Bu Abraham.


"Aamiin.. udah dulu ya Bu, teleponnya aku tutup. Dah Ibu" ucap Malik.


Malik langsung menutup teleponnya dan segera menyusul Aluna tidur.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2