Kita Yang Berbeda

Kita Yang Berbeda
Kumpul Bersama


__ADS_3

Keesokan harinya Mutia dan Bian mengundang teman - temannya untuk makan malam bersama. Sepulang kerja Aluna, Malik dan Gadis sudah bersiap - siap untuk pergi menuju Cafe yang telah di pesan oleh Bian.


"Wah sepertinya mereka akan mengumumkan peresmian lamaran nih" ujar Gadis.


"Pasti donk Dis, kabar gembira gak boleh di tunda - tunda. Lagian Mas Bian dan Mutia itu udah lama banget saling kenal. Malah lebih duluan Mutia yang kenal sama Mas Bian ketimbang aku" sambut Aluna.


"Iya, Mutia juga kan yang jodohin kamu sama Mas Bian?" potong Malik.


"Ya waktu itu kan kita masih berbeda Mas. Mutia takut kalau waktu itu aku ikut kamu makanya dia jodohin" sambut Aluna.


"Setelah Mutia dan Mas Bian, siapa lagi ya yang akan menyusul?" Tanya Malik.


"Randi dan Melisa mungkin Mas. Aku lihat status Melisa suka galau karena merindukan seseorang" jawab Aluna.


"Emang kalau mereka jadian, Melisa mau pindah ke sini?" tanya Malik.


"Gak tau, belum ada cerita - cerita tentang hal itu. Waktu kita nikahan kemarin aku cuma tanya status mereka. Melisa bilang masih pendekatan" jawab Aluna.


"Kamu kapan lagi Dis?" tanya Malik.


Kini Malik dan Gadis sudah biasa saja hubungannya, sudah seperti teman biasa. Mungkin karena Gadis memang cepat menerima kenyataan dan ikhlas kalau Malik memang bukan jodohnya.


"Aku masih nyari Mas. Mudah - mudahan bisa nyusul secepatnya" jawab Gadis dari arah belakang.


"Masih ada yang jomblo satu lagi" ujar Malik.


"Budi maksud Mas?" tanya Aluna.


"He em.. " sambut Malik.


"Budinya iya kali, tapi gak tau tuh si Gadis" sahut Aluna.


Gadis hanya diam.


"Kok diam Dis?" tanya Aluna.


"Mmm... aku kemarin baru mau dikenalin sama temannya Mama Lun. Katanya cowok itu PNS juga. Tapi belum ada saling sapa sih" jawab Gadis malu - malu.


"Ya gak apa Dis, lebarkan sayap kamu seluas - luasnya. Selagi janur kuning masih belum dansa di depan rumah masih bebas untuk memilih mana yang terbaik untuk hidup kita" ujar Malik.


"Halaaah kayak Mas gitu aja. Kemana - mana Aluna juga yang di cari" potong Gadis.


"Hahaha.. tulang rusukku udah lama dia bawa lari. Makanya aku cari minta dikembalikan. Tapi itulah Maha Kuasanya Allah ya. Tulang rusuk yang aku kasih ke Aluna dibalas dengan bayi yang ada di dalam kandungannya. Dah mungkin nanti akan bertambah lagi" jawab Malik.


Aluna tersenyum sambil melirik suaminya. Kembali teringat perjuangan cinta mereka melawan restu dan sempat berpisah.


Tak lama kemudian mobil Malik sudah sampai di Cafe tempat mereka bertemu. Disana sudah menunggu Bian dan Mutia.


"Wah udah pakai jilbab ya Mut, semoga istiqomah dan dilancarkan semuanya" ucap Malik.


"Aamiin.. Makasih Lik" sambut Mutia.


"Apa kabar Mas, aku dengar ada kabar gembira?" tanya Malik.


Bian tersenyum menanggapi pertanyaan Malik.


"Doakan saja ya semuanya lancar. Pasti kamu sudah dengar dari Aluna" jawab Bian.

__ADS_1


"Iya sudah dengar kok nasi gorengnya gagal" potong Aluna.


"Aaaah Lunaaa.. aku lupa kalau kasih garam sampai dua kali" sambut Mutia.


"Waduh gimana tuh rasanya?" potong Gadis.


"Tanya aja Mas Bian" jawab Aluna sambil tertawa.


"Tetap enak kok, kan buatnya ikhlas" jawab Bian dengan tenang.


"Uuuuh co cweeet" goda Gadis.


"Sorry guys kami telat, tadi ada trouble dikit. Gimana - gimana ada cerita apa?" tanya Randi.


Randi baru saja datang berbarengan dengan Budi.


"Aku dengar ada yang masak dengan penuh cinta" potong Budi.


"Tapi keasinan ya Pak? Hati - hati Pak nanti kalau nikah sama si Mumut Bapak jadi darah tinggi karena kebanyakan makan makanan yang asin - asin" sambut Randi.


"Gawat deh kalau udah yang dua ini masuk" ujar Mutia.


"Hahaha" tawa Aluna dan Gadis berbarengan.


Malik dan Bian hanya bisa tersenyum mendengar candaan Randi dan Budi.


"Udah - udah yuk kita duduk dulu" ajak Bian.


Mereka kini mulai mengambil tempat duduk seperti biasa.


"Eits tempat kamu sudah tidak di situ lagi bro? berilah tahta itu kepada Mutia" ujar Budi yang mencegah Randi duduk di samping Bian.


Wajah Mutia sudah merah merona karena ledekan dua sahabatnya itu.


"Kalian ini suka sekali menggoda Mutia, lihat tuh wajahnya jadi merah" potong Malik.


"Mungkin dia sedang demam. Coba Pak Bian diperiksa kening Mutia, panas atau nggak" sambut Budi.


Bian tergelak mendengar ucapan Budi.


"Bud awas kamu ya" ucap Mutia.


"Aww.. aww.. aww.. takut Ibu Sekre marah. Nanti dilaporin sama Pak Bos bisa kena PHK" sahut Budi.


Tak lama pelayan datang dan menanyakan menu makanan yang akan mereka pesan. Masing - masing memesan makanan yang mereka inginkan. Kemudian pelayan kembali ke dapur.


"Jadi apa kabar gembiranya Pak Bian?" tanya Budi tak sabar.


"Seperti yang kalian dengar, aku sudah melamar Mutia dan dia menerimanya" jawab Bian.


"Aseeeek" sambut Randi dan Budi.


"Kami sedang dalam tahap bertemu dan meminta restu orang tua. Mohon doa dari teman - teman semua" lanjut Bian.


"Selamat ya Mas Bian, selamat Mutia. Semoga lancar sampai hari H" ucap Aluna.


"Sekali lagi selamat ya Mas" ujar Malik.

__ADS_1


"Akhirnya Mutia menikah. Selamat ya Mut, Mas Bian" ucap Gadis.


"Jadi kapan rencana pernikahannya Pak?" tanya Randi.


"Masih menunggu kesepakatan dua keluarga. Kalau kami sih inginnya di segerakan" Jawab Bian.


"Jangan sampai aku hamil besar ya, kelamaan. Nanti aku gak bisa pakai kebaya" ujar Aluna.


"Emangnya kamu mau pakai kebaya yank?" tanya Malik.


"Ya nggak juga sih Mas" jawab Aluna.


Malik tersenyum melihat sikap Aluna yang lucu.


"Kapan Mama Papa kamu pulang dari luar negeri Mut?" tanya Aluna.


"Bulan depan" jawab Mutia.


"Wah lumayan lama juga ya. Sabar ya Mas Bian" sahut Gadis.


"Tidak apa, aku sabar kok" balas Bian.


Mutia tersenyum melihat ketenangan dan kedewasaan Bian.


Tak lama pelayan datang membawa makanan mereka. Semuanya serentak mulai menikmati hidangan makan malam.


Usai makan malam Aluna dan Malik yang pamit duluan mengingat sejak hamil Aluna jadi lebih mudah kelelahan dan mengantuk.


"Maaf ya kami harus pulang duluan" pamit Malik.


"Tidak apa Lik, kami ngerti kok" sahut Bian.


"Bud jangan lupa anterin Gadis sampai rumah ya" ujar Aluna.


"Siap Bos Luna" sambut Budi.


"Hati - hati ya Lun" ujar Mutia.


"Iya, dah semua" Aluna melambaikan tangannya.


Malik dengan penuh kasih datang menggenggam dan menjaga Aluna agar tidak terjatuh mengingat Aluna sedang hamil muda. Dia tidak mau sesuatu terjadi kepada istri dan calon anak mereka.


"Eeeh Mas tunggu sebentar" ucap Aluna saat hendak meninggalkan area Cafe.


"Ada apa yank?" tanya Malik.


"Itu David, mantan pacarnya Aluna. Lho dia kok bisa ada di sini? Apa dia udah pindah tugas lagi ke kota ini?" tanya Aluna.


"Ya aku gak tau yank" jawab Malik bingung.


"Wah gawat nih posisi Mas Bian. Jangan sampai gagal nikah dua kali karena mantan pacar calonnya datang" gumam Aluna.


Malik terkejut mendengar perkataan Aluna. Dulu memang dia yang menggagalkan rencana pernikahan Bian. Padahal Bian sudah melamar Aluna.


Malik sebagai mantan pacar terindah yang tidak bisa dilupakan oleh Aluna menjadi pemenangnya. Kini Bian akan mengalami hal yang sama. Apakah Bian harus mengalah lagi kali ini?


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2