Kita Yang Berbeda

Kita Yang Berbeda
Berakhir Bahagia


__ADS_3

Satu bulan kemudian pesta pernikahan Mutia dan Bian akan segera dilaksanakan. Para keluarga dekat, sahabat dan tamu undangan sudah mulai berkumpul di sebuah gedung dalam hotel besar di kota mereka tinggal.


Teman kantor lama Aluna yaitu Melisa juga turut hadir dalam acara tersebut. Melisa selalu di temani Randi yang sudah satu bulan menjalin hubungan serius.


"Lun minggu depan aku akan pindah ke Kota ini" ucap Melisa.


"Benarkah?" tanya Aluna terkejut.


"Iya benar, aku datang ke sini sekalian pindahan" jawab Melisa.


Aluna menatap Melisa dan Randi bergantian.


"Apakah kalian sedang merencanakan sesuatu?" tanya Aluna.


Melisa dan Randi tersenyum penuh rahasia membuat Aluna semakin penasaran.


"Mereka akan segera menikah yank" potong Malik.


"Lho kok Mas tau duluan?" tanya Aluna kepada Malik.


"Aku sudah bisa melihat dari senyuman Randi yang udah ngebet banget ingin segera menikah" jawab Malik.


"Alhamdulillah kalau memang benar, aku senang sekali" ungkap Aluna.


"Tapi kasihan Pak Raja harus kehilangan anggotanya lagi Lun" ujar Melisa.


"Pak Raja pasti mengerti" sambut Aluna.


"Farah yang kesepian karena ditinggal kamu dan Melisa" sahut Malik.


Malik memeluk tubuh Aluna dari belakang dan mengelus lembut perut Aluna.


"Kamu Lik buat aku iri aja" potong Budi.


"Makanya nikah sono" jawab Malik.


Budi menatap Gadis.


"Hanya tinggal kita berdua Dis, gimana kalau kita nikah juga?" tanya Budi pada Gadis.


"Ih ngajak nikah anak orang kok kayak mainan gitu?" ledek Aluna.


"Yah kan masih nanya persetujuan Gadis dulu. Kalau Gadis setuju aku akan merancang lamaran paling romantis sejagad raya" ungkap Budi.


Gadis hanya tersenyum mendengar perkataan Budi.


"Gadis gak percaya dengan ucapan kamu Bud, dia hanya menganggap ini sebuah candaan" potong Randi.


"Ayolah Dis, aku akan berjanji walaupun kita nanti menikah kamu akan tetap Gadis" ujar Budi dengan wajah serius.


"Yeeeeah.. ya jelas tetap Gadis emangnya harus ganti nama?" potong Randi.


Budi hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Pembawa acara mulai membuka acara.


"Eh Dis, Mel cepatan kalian ke ruangan Mutia. Acara akan dimulai tuh, sebentar lagi akan ijab kabul" ujar Aluna.


"Iya.. iya" sahut Melisa dan Gadis.


Gadis dan Melisa berjalan menuju ruangan khusus dimana Mutia menunggu. Sedangkan Bian dengan penuh wibawa dengan gagahnya sudah duduk di meja yang telah disediakan panitia WO. Dihadapannya sudah duduk Papanya Mutia.


Ijab kabul berlangsung dengan hikmat. Bian dengan lancar mengucapkan satu kali ijab kabul. Dan semua yang ada di ruangan tersebut mengucapkan alhamdulillah dan doa untuk Mutia dan Bian.


Tak lama Mutia masuk ke ruangan ditemani Gadis dan Melisa. Kini Mutia dan Bian sudah duduk berdampingan diatas pelaminan.


Satu persatuan keluarga, teman dan tamu undangan mengucapkan selamat kepada mereka. Begitu juga dengan Aluna dan teman - temannya.

__ADS_1


Mereka melakukan sesi pemotretan. Semua tampak larut dalam kebahagiaan kedua mempelai.


Acara berlangsung dengan sangat meriah. Sore harinya Mutia dan Bian langsung terbang ke Paris untuk honeymoon. Mereka berdua sangat bahagia menjalani kehidupan baru sebagai pasangan suami istri.


******


Tiga tahun kemudian.


"Mama.. Mamaaaaaa.. " teriak seorang anak kecil masuk ke dalam rumah.


"Jangan lari Alarik" ucap Malik.


"Ada apa sayang?" tanya Aluna pada putranya.


"Ada Oom datang cari Mama" jawab Alarik.


"Oom?" tanya Aluna.


Aluna dan Malik saling tatap. Malik segera bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu rumah. Dia melihat seorang pria yang sedang berdiri membelakanginya.


"Maaf cari siapa ya?" sapa Malik.


Pria tersebut membalikkan tubuhnya.


"Malik" panggil pria itu.


Malik menyipitkan matanya dan mencoba mengingat - ingat siapa pria yang ada di depannya ini. Wajah pria itu dipenuhi dengan jambang dan janggut tipis dan ada sedikit goresan hitam di keningnya.


Pria tersebut terlihat sangat taat beribadah dari tampilannya. Membuat Malik langsung menaruu hormat


"Maaf siapa ya?" tanya Malik dengan sopan.


"Aku... Kamal" ungkap pria itu.


Sontak Malik terkejut mendengar pengakuan pria itu.


Pria itu tersenyum ramah.


"Iya, aku Kamal. Aluna ada kan?" tanya Kamal.


"Ada Mas, masuk.. masuk Mas. Silahkan masuk ke dalam rumah" sambut Malik mempersilahkan Kamal untuk masuk ke dalam rumah.


"Yaaank.. ada tamu" panggil Malik.


"Silahkan duduk Mas, sebentar lagi Aluna akan keluar" ucap Malik.


"Iya" sambut Kamal.


Kamal dan Malik duduk diatas sofa. Tak lama kemudian Aluna dan Alarik datang menghampiri mereka. Aluna melirik kearah tamu mereka. Tapi dia tidak mengenali siapa pria itu.


"Coba tebak yank siapa Mas ini?" tanya Malik.


Aluna memperhatikan dengan teliti tapi dia sulit mengenali siapa pria yang ada dihadapannya. Kamal tersenyum dengan ramah.


"Mas Kamal yank" ucap Malik.


"M... Mas Kamal?" tanya Aluna tak percaya.


Kamal menganggukkan kepalanya lalu tersenyum ramah.


"Ya Allah alhamdulillah, Mas sudah keluar" sambut Aluna.


"Alhamdulillah Lun, sudah satu bulan yang lalu. Setelah istirahat di rumah mengurus Mama dan Papa aku beranikan diri untuk datang ke sini dan bertemu dengan kalian" ungkap Kamal.


"Alhamdulillah.. Mama gimana kabarnya Mas?" tanya Aluna.


"Alhamdulillah baik" jawab Kamal.

__ADS_1


"Aku sampai gak kenal lihat penampilan Mas Kamal sekarang" ujar Aluna.


Kamal tersenyum mendengar ucapan Aluna.


"Semua melewati proses yang panjang Lun. Alhamdulillah aku bisa keluar dari jerat kehidupan dulu. Allah sudah memberikan aku kesempatan untuk hidup. Aku tidak boleh menyia - nyiakannya. Dan seperti inilah tampilan aku sekarang" jawab Kamal.


"Alhamdulillah Mas, semoga istiqomah" sambut Aluna.


"InsyaAllah. Selain silaturahmi, aku datang ke sini sekalian untuk mengundang kalian. Bulan depan aku akan menikah" ungkap Kamal sambil menyodorkan kertas undangan kepada Malik.


"Alhamdulillah.. " sambut Malik.


"Mama pasti senang sekali ya Mas" ujar Aluna.


"Pasti donk, apalagi aku akan menikah dengan wanita pilihan Mama" jawab Kamal.


"Waaah selamat Mas. InsyaAllah kami akan datang" sahut Aluna.


Alarik menarik jilbab Aluna.


"Eh sayang maaf Mama sampai lupa. Ayo salim dulu gih, Pakde" perintah Aluna.


Alarik berjalan malu - malu menghampiri Kamal. Kamal tersenyum menyambut Alarik lalu menyodorkan tangannya untuk menjabat tangan Alarik.


"Siapa nama kamu sayang?" tanya Kamal.


"Alaliik" jawab Alarik.


"Alarik Om" potong Aluna.


"Alarik, namanya yang bagus ya" puji Kamal.


Aluna, Malik dan Kamal terlibat pembicaraan tentang perjalanan hidup Kamal yang berubah sehingga seperti sekarang ini.


Hingga akhirnya dia keluar dari penjara dan menjalani ta'aruf dengan seorang wanita yang dikenalkan Lila, Mama Kamal.


Kini tampilan Kamal sangat berbeda dengan dulu dan dia terlihat benar - benar telah berubah.


Perjalanan panjang seorang ga* yang berjuang untuk kembali ke kodratnya sebagai seorang pria. Walau sangat berat tapi Kamal berhasil melaluinya.


Kini Kamal seperti lahir kembali menjadi pria tulen dan sebentar lagi akan menjalani jenjang pernikahan.


Tidak ada yang tidak mungkin, seperti kisah cinta Aluna dan Malik yang dulu sangat berat bertahun - tahun melawan restu agama dan keluarga.


Akhirnya kini mereka bisa hidup dengan bahagia didampingi keluarga masing-masing yang masih berbeda dengan mereka.


Perbedaan untuk saling menghormati dan berjalan berdampingan saling dukung dan saling melengkapi.


.


.


SELESAI


Mudah - mudahan kisah di dalam novel ini bisa membawa pelajaran hidup bagi para pembaca.


Mohon maaf jika ada tulisan saya yang salah atau menyinggung pihak atau agama manapun.


Kisah ini terinspirasi dari kisah hidup beberapa teman - teman saya yang menjalani hubungan seperti Aluna dan Malik.


Dan tentang kisah Kamal sebenarnya saya juga terinspirasi dari kisah seseorang tapi maaf saya tidak bisa sebutkan secara terang - terangan disini.


Semoga cerita ini bisa menghibur teman - teman semua.


Terimakasih 🙏🙏🙏


(Sampai jumpa di cerita saya berikutnya. Tunggu kehadirannya ya teman-teman)

__ADS_1


__ADS_2