
Bu Maysaroh dan Aluna mempersiapkan hidangan sarapan pagi mereka. Malik istirahat di kamar Said sembari menunggu sarapan pagi disiapkan.
Aluna dan Mamanya sedang sibuk di dapur. Lula membantu mereka merapikan meja makan.
"Mas Malik makan gagah aja ya Kak Lun" Ujar Lula.
"Hus kamu masih anak kecil" Potong Bu Maysaroh.
"Aku kan sudah SMU Ma. Udah bisa donk lihat mana cowok ganteng atau tidak" Sahut Lula.
Lula duduk di depan meja makan.
"Gimana ceritanya Mas Malik bisa dapat hidayah?" Tanya Lula.
"Kakak juga belum tanya secara detail, dia hanya bilang setelah Kakak menikah dia dapat mimpi. Tapi Kakak belum tau cerita mimpinya" Jawab Aluna.
"Bapaknya Malik kapan meninggalnya Lun?" Tanya Bu Maysaroh.
"Beberapa bulan yang lalu Ma" Jawab Aluna.
Bu Maysaroh menarik nafas panjang sambil memasak.
"Beginilah perjalanan hidup. Dulu saat kalian masih pacaran, hati Malik belum terketuk dan belum mendapatkan hidayah. Mungkin ada keinginan saat itu tapi hanya karena ingin seagama dengan kamu. Tapi akhirnya dia kalah karena restu orang tua. Tapi begitu hidayah itu menghampirinya dia tidak perduli apa tanggapan keluarganya. Ibu sangat yakin pasti Bapak dan Ibunya sangat menentang keputusannya. Tidak ada orang tua yang ikhlas anaknya berpindah agama dari agama yang sudah mereka kenalkan pada anak - anaknya sedari anak itu lahir" Ujar Bu Maysaroh.
"Iya Bu, Malik bilang Bapaknya sangat marah saat itu. Bahkan Malik di tampar dan diusir dari rumah. Tapi Malik tidak pantang menyerah, dia terus dan tetap mengunjungi keluarganya. Akhirnya Bapaknya sakit dan Malik membawa Bapaknya berobat ke Ibukota" Sambung Aluna.
"Harus seperti itu lah memang, berbakti pada orang tua walau sudah tidak seakidah. Dan orang tua mana yang sanggup marah terus pada anaknya. Mungkin saat mereka murka semua kata - kata kasar diucapkan tapi sebenarnya hati mereka sakit. Semarah apapun orang tua pasti mereka tetap menyayangi anaknya. Untung tindakan Malik benar, dia tetap mendekati keluarganya bukan memusuhinya. Dan cepat atau lambat hati orang tuanya pasti akan luluh dan menerimanya" Sambung Bu Maysaroh.
Aluna memeluk Mamanya dari belakang.
"Terimakasih ya Ma sudah menyayangi aku dan adik - adik. Maaf kalau kami belum bisa membahagiakan Mama lebih. Maaf kami sudah banyak membuat Mama kecewa dan sedih khususnya aku" Ucap Aluna dengan nada sedih.
Bu Maysaroh mematikan api kompor lalu berbalik badan memeluk Aluna.
"Mama bahagia dan bangga memiliki kalian semua. Mama sangat bersyukur Allah memberikan anak - anak yang baik - baik seperti kalian. Harta Mama hanya kalian, kebahagiaan Mama berasal dari kalian. Kalau kalian bahagia, Mama akan jauh lebih bahagia. Mama tau cinta kamu hanya untuk Malik sejak dulu. Walau dulu memang berat berpisah dengannya tapi kamu mau mengikuti permintaan Mama untuk putus dengannya. Mama sayang kamu Nak, Mama tidak sanggup seperti orang tua Malik yang merelakan kamu pindah agama. Apa yang harus Mama katakan pada Papa kalian saat Mama bertemu dengan dia di akhirat. Mama gagal sebagai orang tua menjaga dan mendidik anak - anaknya" Ungkap Bu Maysaroh.
Air mata Bu Maysaroh jatuh perlahan.
"Sekarang tidak ada penghalang lagi bagi kalian untuk bersatu. Mama ikhlas dan restui niat baik kalian. Menikahlah dan bahagialah Nak, sudah waktunya kamu bahagia. Lupakan kesedihan masa lalu kamu, tinggalkan semua dan sambut masa depan kamu dengan suka cita. Mama akan mendukung semua keinginan kalian kali ini" Tegas Bu Maysaroh.
__ADS_1
"Terimakasih Ma" Jawab Aluna.
"Nanti saat kamu jadi menantu dikeluarga Malik anggap mereka sebagai orang tua kamu walau agama mereka berbeda. Kamu tetap harus berbakti pada Ibunya karena dia adalah mertua kamu" Pesan Bu Maysaroh.
"Iya Ma akan aku ingat itu" Jawab Aluna.
"Sekarang panggil Malik, kita sarapan. Lula panggil Kakak kamu Said" Perintah Bu Maysaroh.
"Iya Ma" Sahut Aluna dan Lula bersamaan.
Bu Maysaroh menatap kepergian Aluna dari dapur. Kini dia bisa bernafas lega, sebentar lagi akan mengantarkan putrinya ke gerbang kebahagiaan.
Kali ini Bu Maysaroh merasa sangat yakin Aluna akan bahagia. Dari raut wajahnya saja Bu Maysaroh bisa melihat kebahagiaan Aluna.
Malik juga tampak lebih dewasa dan lebih berkharisma. Mungkin dengan bertambahnya usia dan pengalaman kerja. Kalau dari pangkat Malik jauh lebih tinggi kedudukannya dari Aluna.
Tak lama kemudian anak - anak Bu Maysaroh sudah kembali ke ruangan makan dan mereka sudah duduk di depan meja makan. Hidangan sudah selesai disiapkan Bu Maysaroh.
"Sebentar lagi kita akan menjadi keluarga Lik, Ibu harap kamu tidak perlu sungkan lagi. Ayo makan" Ajak Bu Maysaroh dengan ramah.
Malik sarapan pagi dengan lahap sekali. Mereka makan bersama - sama pagi ini dengan suasana hati yang sedang riang gembira.
"Boleh" Jawab Malik.
"Istirahat dulu Kak, kalian kan tidak tidur semalaman. Nanti sakit lho dua - duanya. Kan mau nikah, harus jaga kesehatan" Pesan Said.
"Iya Lun, biarkan Malik istirahat dan tidur dulu beberapa jam" Sambut Bu Maysaroh.
"Iya Ma, ziarahnya nanti sore kok" Jawab Aluna.
Setelah selesai sarapan, Malik kembali istirahat di kamar Said dan Aluna juga kembali ke kamarnya. Hingga jam sebelas siang barulah mereka bangun, mandi dan duduk santai di depan teras rumah Aluna.
"Said besok kamu ada kuliah gak?" Tanya Malik.
"Ada Mas, emangnya kenapa?" Tanya Said.
"Gimana kalau kita pulang besok aja?" Tanya Malik.
"Boleh, besok aku cuma satu mata kuliah. Aku bisa izin" Sambut Said.
__ADS_1
Malik melirik ke arah Aluna.
"Besok kita izin aja yuk, kita tambah satu malam lagi di sini biar bisa lebih santai. Nanti sore kita mau ziarah. Malamnya aku ingin berkeliling kota bareng keluarga kamu" Ujar Malik.
"Boleh, nanti aku bisa izin sama Pak Baskoro" Jawab Aluna.
"Ya sudah kalau begitu semua beres" Sambut Malik sambil tersenyum tipis.
Malik melihat Lula baru saja pulang sekolah.
"Lula kok sekolah, ini kan hari minggu?" Tanya Malik.
"Ada kegiatan Mas di sekolah" Jawab Lula.
"Ooo" Sambut Malik.
"Lula udah kelas berapa?" Tanya Malik.
"Kelas tiga SMU Mas" Jawab Lula.
"Berarti tahun ini kuliah donk" Ujar Malik.
"Iya, sebentar lagi aku akan nyusul Kak Said dan Kak Luna ke Ibukota" Ucap Lula semangat
"Kasihan Ibu tinggal sendirian di sini. Gimana kalau kita ajak aja pindah ke Ibukota. Kalau rumah kamu tidak muat Ibu dan adik - adik kamu kan bisa tinggal di rumah kamu. Biar kita pindah ke rumah aku. Lagian jarak rumah kita juga tidak terlalu jauh" Ajak Malik.
"Nanti aja Lik di pikirkan, masih lama juga Lula tamat sekolah" Balas Aluna.
"Tapi aku setuju Kak dengan usul Mas Malik. Kalau Lula kuliah kasihan Ibu tinggal sendiri di sini. Ibu kan juga gak ada kegiatan lagi di sini hanya jagain Lula. Lebih baik kita kumpul semua di Ibukota. Kuliahku juga tahun ini InsyaAllah akan selesai. Aku akan cari kerja, selain gaji pensiun Papa aku bisa bantu - bantu Ibu nanti setelah aku kerja" Ujar Said.
Aluna terdiam sesaat.
"Nanti kita bicarakan sama Ibu ya. Hal ini biar Ibu yang memutuskan" Jawab Aluna.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1