Kontrak Cinta 100 Hari

Kontrak Cinta 100 Hari
Perjanjian


__ADS_3

Mata bulat Adel bergerak secara beraturan kayak mesin ketik (dari kanan ke kiri dan kiri ke kanan) membaca kata demi kata, kalimat demi kalimat dan baris demi baris dari sebuah kertas yang ada di tangannya. Setelah semua selesai ia baca tanpa melewatkan satu patah kata pun, Adel mengerjapkan matanya yang dari tadi gak berkedip karena konsentrasi penuh.


"Ini maksudnya apa?"


Adel meletakkan kertas yang kini ada di atas meja dan meletakkan nya dalam keadaan terbalik.


"Perjanjian yang aku tawarkan." kata David santai dengan menyeruput kopi yang ia pesan. setelah drama yang terjadi, akhirnya mereka mampu duduk seperti manusia pada umumnya.


"Tunggu dulu, ini perjanjian buat apaan ya?" kata Adel yang masih belum paham, sekilas membaca dan itu bikin otaknya langsung gak nalar.


David meletakkan cangkir yang separuh isinya telah habis itu dan duduk dengan santai menghadap Adel, raut wajah cewek itu kelihatan jelas banget kalo lagi bingung.


"100 hari, selama 100 hari kamu jadi tunangan gue." katanya dengan wajah serius.


"Iya, itu aku tau. tapi maksudnya buat apa? lagian kita gak saling kenal, kalau pun kenal kita gak dekat dan kenapa juga aku harus tunangan?" kata Adel yang gak ngerti jalan cerita dan skenario yang tertulis di atas kertas.


Mau gimana pun itu kayak hal yang mustahil, serasa bumi dan langit.


"Masak iya sih om mau sama anak ingusan macam Adel? masih anak sekolahan dan kita juga...." Adel menggantungkan kata-kata nya karena sadar status mereka yang berbeda.


"Huh..."


David mengeluarkan nafas panjang, penolakan yang Adel lakukan sudah ia perkirakan. mau gimana pun mereka bukan dua orang yang dekat, dalam tahap PDKT atau pun lagi pacaran. persis yang Adel bilang kalo mereka cuma kenal biasa aja dan gak ada hubungan apa-apa.


"Kedua orang tua gue selalu menuntut gue buat nikah dengan alasan gue udah gak muda lagi, bahkan salah satu adik gue udah nikah." kata David menjelaskan, setidaknya ada penjelasan yang harus Adel terima.


"Trus hubungan sama aku?" tanya Adel yang masih gak ngerti.


"Itu..." David kesulitan mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan apa yang ia maksudkan.


"harusnya om tunangan sama pacar om, bukannya aku. itu yang bener om..."


"Masalah nya itu aku gak punya pacar."

__ADS_1


"Heh?????" Adel melotot, mau percaya sama omongan ni cowok berasa mustahil tapi gak percaya kenyataan menawarkan sesuatu yang bikin otak Adel gak bisa mencerna.


"Kenapa? ngomong aja." ujar David melihat mimik wajah Adel yang gak percaya.


"Gak mungkin orang kayak om gak punya pacar, gebetan atau apa lah itu namanya."


"Gak mungkin kenapa?"


"Gini ya om, secara fisik aja om udah punya nilai plus dari cowok rata-rata di luar sana. yah walau pun kalo Adel ngasih nilai dari 1 sampai 10 adel bakal ngasih nilai 8."


cuma delapan, berarti gue bukan kategori sempurna dan kriteria ni bocah??? Batin David yang ngerasa agak gimana dengan nilai yang Adel kasih.


"Dari penampilan om, udah keliatan banget kalo om itu bukan kalangan ekonomi kelas bawah. sekilas aja orang-orang tau kalo om adalah tipe-tipe laki-laki mapan dan berduit." kata Adel.


David menggerakkan kepalanya sedikit dan tersenyum kecil, setidaknya penilaian Adel kali ini cukup memuaskan.


"Jadi masalahnya dimana? kok bisa orang kayak om ini gak punya pacar, gebetan atau selingkuhan?"


Dengar kata selingkuhan bikin David geli, geli pengen nelan ni bocah yang kelewat jujur.


"Om, kalo ngeles itu yang elit dikit."


"Gue gak perlu ngeles, kalo gue punya waktu buat apa gue nawarin perjanjian kayak gini sama elo? gue gak punya waktu luang buat jalan dan cari cewek."


Iya mulutnya ngomong gitu, berbanding terbalik sama fakta di lapangan.


" lah ini om lagi punya waktu buat ketemu Adel."


"itu karena gue ada keperluan sama elo."


Adel mencibir, "waktu mahal malah ngelakuin hal gak berguna."


"gue gak mau berdebat, mau gak mau pokoknya Lo harus setuju."

__ADS_1


"mana bisa gitu om...." protes Adel yang tentu aja itu pemaksaan, mau gak mau tapi harus mau. hukum apaan coba itu?


"itu namanya gak adil, maksa dan melanggar hak Adel sebagai manusia yang punya hati dan kehidupan."


"hak apa yang gue langgar?" David mengambil kertas yang ia sodorkan dan mengetuk poin demi poin yang tertulis disana.


"bukannya itu tertulis dengan jelas keuntungan-keuntungan yang di tawarkan?"


"iya sih .." menggaruk kepalanya sendiri, emang poin-poin yang tertulis di lihat dari segi mana pun secara finansial menguntungkan bagi Adel.


" tapi jatuhnya kayak jual beli hati."


"gini ya, gue milih elo karena dilihat dari segala sudut pandang elo satu-satunya cewek yang memenuhi kriteria."


"jadi selera om daun muda gitu kayak Adel?"


"Bukan daun muda, tapi kalo gue lihat elo itu tipis, muka standar, gak modis, gak seksi dan masih anak sekolah." kata-kata jujur yang menyakitkan.


"gak usah ngomong dengan jelas gitu ya udah tau." gumam Adel yang sadar banget, sadar kalo semua itu adalah benar.


"selama ini yang deketin gue adalah cewek cantik, seksi, pintar, dewasa dan mereka juga satu ruang bisnis sama gue."


Sebel banget Adel dengarnya, perbandingan yang sangat bertolak belakang dan antara bumi juga langit.


"Kalo Lo muncul sebagai tunangan gue maka mereka gak bakal ganggu gue, tugas Lo adalah sebagai tameng buat ngusir mereka semua."


Adel berdiri dan meletakkan tangannya di dahi tu cowok, buat meriksa kadar suhu tubuhnya yang normal apa demam.


"Om normal gak sih? di deketin cewek kayak mereka malah nolak, atau jangan-jangan om punya kelainan kalo penyuka sesama...." belum kelar ngomong, David terlebih dulu mendekap mulut Adel sebelum semua orang mendengar. kalo Sampek keceplosan dan jadi berita bakal runyam.


"gue normal, kalo Lo gak percaya kita coba entar di hotel." bisik nya, sengaja biar ni anak mulutnya diem. "Tapi kalo Lo gak sabaran, di sini juga gak pa-pa."


Mata Adel melotot, langsung merah merona wajahnya mendengar kata-kata yang keluar dari mulut cowok tersebut. Dengan cepat Adel menggelang kan kepalanya sebagai tanda penolakan. anak di bawah umur macam Adel denger kata-kata itu langsung bikin buku kuduknya merinding. beda sama yang ngucapin, masih dengan wajah santai dan di tambah dengan senyum manis yang bikin Adel langsung horor.

__ADS_1


******


__ADS_2