Kontrak Cinta 100 Hari

Kontrak Cinta 100 Hari
Pertemuan kedua


__ADS_3

Walau ngambil langkah mundur, tapi Bella memperhatikan setiap gerak dan gerik cowok yang ia incar itu dari balik buku yang ia pegang. Buku tu cuma buat kedok doang biar gak terlalu keliatan kalo lagi memperhatikan orang, aslinya dia masuk stand ini emang kepincut sama tu cowok pada pandangan pertama. rasa penasaran bikin Bella ngikutin cowok yang ia lihat dari parkiran itu hingga masuk ke dalam stand.


Yang ada dalam pikiran Bella saat ini adalah mereka berdua adalah kakak beradik, keliatan banget gimana cowok ganteng itu memperlakukan cewek yang ada di depannya dengan tatapan mata hangat dan melindungi bukan tatapan cinta yang biasa di lihat pasangan kekasih. apa lagi teori Bella di kuatkan dengan perlakukan tu cowok yang mengusap lembut kepala cewek yang bersama nya. walau Bella sendiri gak bisa dengar dengan jelas apa yang mereka katakan tapi dengan apa yang ia lihat sudah menjadi bukti yang akurat untuk menarik kesimpulan.


kesimpulan pertama kalau mereka adalah saudara dan kesimpulan kedua ia harus bisa berteman dengan cewek imut itu kalau ingin mendapatkan perhatian tu cowok.


********


David pulang dengan perasaan kecewa dan marah, udah bela-belain pulang cepat dan ninggalin pekerjaan cuma buat ketemu cewek yang tempo hari menabrak mobilnya tapi tu cewek malah gak ada di tempat dan David harus pulang dengan tangan kosong. kekesalannya itu ia lampiaskan dengan mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi di jalanan yang lumayan padat hingga membuat David mendapat banyak teriakan dan makian dari pengguna jalan lainnya yang udah jantungan karena aksi balap yang David lakukan.


"Dasar bocah gend*ng?!" maki seorang ibu yang mobilnya di tikung tajam oleh pengendara motor ugal-ugalan di tikungan, dikit aja udah nyenggol.


"Emang jalan punya nenek moyang kamu apa hah?! seenaknya di jalan gak sayang apa sama nyawa?!" umpatnya kesal dengan mengarahkan telunjuk tangan ke arah pengendara yang udah hilang di balik tikungan.


"Nyebut le.... nyebut....." kata seorang laki-laki setengah baya yang di salip motor balap yang udah kayak angin, gak keliatan motornya tapi suaranya doang yang kedengaran.


"Dasar s*tan Lo?! untung gue udah insyaf jadi preman kalo gak bakal gue bikin Lo kayak bubur sumsum."

__ADS_1


itu cuma sebagian umpatan yang di tujukan buat David dan masih banyak lagi umpatan, makian dan sumpah serapah yang ia dapatkan sepanjang perjalanan yang ia lewati. orang yang ngumpat tapi David nya mana dengar.


Cowok yang dulunya mantan pembalap jalanan itu tersenyum puas, menikmati setiap kelokan yang ia buat dengan mendahului pembalap lainnya dan merasakan deru angin yang menyentuhnya. Dulu, David memiliki cita-cita menjadi seorang pembalap profesional dan memiliki bengkel motor balap sendiri tapi cita-cita itu kandas karena David anak tunggal dari kedua orang tuanya yang seorang pebisnis ulung dengan memiliki ratusan ribuan karyawan yang tersebar di beberapa negara Asia membuat David mau tak mau harus mewarisi kerajaan bisnis keluarga yang telah turun temurun tersebut. walau semua cita-cita yang ia miliki harus di kubur dalam-dalam namun David masih memiliki waktu menikmati hobby nya tersebut di sela kesibukannya, sesibuk-sibuknya David bekerja ia masih menyempatkan waktu untuk menikmati hal yang paling ia sukai di dunia ini seperti yang ia lakukan saat ini. Semarang apa pun, saat David berada di jalan dengan kecepatan penuh ia dapat melupakannya dan moodnya kembali seperti sedia kala. semua beban ia lepaskan begitu saja layaknya angin yang membawa semua itu hilang tanpa bekas dan jejak.


Cit.......


Untung refleks David sangat baik, saat seseorang menyebrang jalan cepat dan tepat di depannya David mencengkram rem sekuat tenaga hingga membuat asap dari gesekan ban dan aspal jalan. Tidak ada yang terluka karena kemampuan David yang sangat luar biasa tersebut, David berjalan ke arah wanita yang hampir ia tabrak itu tanpa membuka kaca helmnya untuk memarahinya. tindakan yang ia lakukan sangat berbahaya, bukan hanya untuk dirinya sendiri tapi untuk orang lain dan itu sangat ceroboh.


******


"Iya sama-sama."


Adel melambaikan tangannya saat Azkha menyalakan mesin mobilnya, "Hati-hati."


Azkha mengangguk pelan, dapat ucapan kayak gini aja udah berasa dapat perhatian yang menyentuh hingga ke dalam sanubari. emang lebay ya kalo orang jatuh cinta itu, yang biasa aja jadi keliatan luar biasa. semuanya serba berlebihan di mata orang yang lagi jatuh cinta.


Saat Mobil yang Azkha tumpangi telah hilang, Adel bersiap untuk menyebrang jalan. ia melihat ke sekitar dan setelah semua aman ia melangkahkan kakinya. belum sempat melakukannya tiba-tiba Adel melihat seekor kucing yang datang ke arahnya dengan berlari, dari arah belakang seekor kucing yang lebih besar mengejarnya. Adel hanya melihat semua itu dan tersenyum, rupanya ada aksi kejar-kejaran antar kucing alias mereka lagi marahan. udah biasa lah kucing kalo bertengkar kayak gitu, pas di tengah jalan mereka berhenti dan langsung pasang aksi. entah apa yang mereka (para kucing) perdebatkan karena menurut kita-kita manusia yang gak ngerti bahasa kucing kedengarannya sama aja cuma intonasinya itu yang naik turun, udah kayak dinosaurus yang bulunya berdiri sama buntutnya kayak kemoceng. satu lagi, kalo para kucing lagi bertengkar mereka menutup mata alias merem. itu juga yang terjadi, dua kucing yang lagi pasang aksi itu gak liat kalo dari arah lain melintas motor dengan kecepatan penuh, Adel udah teriak-teriak tapi mereka gak dengerin yang akhirnya Adel mengambil keputusan lempar batu dari pinggir jalan. bukannya kena tu batu malah meleset dan kucing-kucing itu masih dalam posisi semula dengan memperlihatkan betapa hebatnya mereka yang gak ada bisa menandingi. Adel menaruh tas yang isinya buku itu di pinggir jalan, pengen numpuk mereka pakek ranting yang ada di dekatnya, tapi soal bukannya tu ranting yang di lempar malah kakinya sendiri ke injek tali sepatu yang lepas. pas genting-gentingnya kayak gini malah Adel yang kepeleset dan terjerembab ke jalan, pas motor itu hanya berjarak beberapa ratus meter dari tempatnya jatuh Adel pasrah dan menutup matanya. mau hidup atau mati sekarang tinggal nunggu nasib, soalnya gak tau harus gimana lagi dan buat menghindar gak mungkin bisa karena udah Deket banget.

__ADS_1


Tuhan....


kalau hari ini aku harus pergi dari dunia ini, tolong jaga nenek dengan baik.


Batinnya dalam hati dengan doa.


"Loe mau mati hah?!" bentak David melampiaskan kekesalannya, seandainya hal buruk terjadi itu semua bukan kesalahannya tapi bagaimana pun David lah yang salah di mata hukum.


"Loe pikir punya nyawa berapa ?!" Menatap tajam cewek yang ada di depannya yang diam tak berkutik dengan memeluk lututnya.


"Loe tau gak kalo tindakan loe itu bisa membahayakan dan merugikan orang lain, kalo loe udah bosan hidup silahkan mau bunuh diri. tapi jangan di sini dan nyusahin orang lain?!"


Adel yang syok karena motor melaju kencang dan ke arahnya akhirnya hanya bisa memeluk lututnya dengan erat dan berdoa untuk mendapatkan keajaiban untuk bisa selamat. saking syok nya, Adel sampek mati rasa dan gak bisa dengar apa pun dari sekitarnya. bahkan ia merasa tiba-tiba semua menjadi remang-remang, yang mampu ia lihat adalah sesosok laki-laki berpakaian layaknya pembalap datang ke arahnya dengan mengatakan entah apa itu karena Adel gak bisa dengar dengan jelas. Dengan sisa tenaga yang ia miliki Adel berusaha mengangkat wajahnya untuk melihat siapa laki-laki tersebut sebelum semuanya gelap.


David terdiam melihat wajah pucat dengan pandangan mata kosong yang menatapnya, tak ada satu kata pun yang mampu keluar dari mulutnya saat melihat wajah seputih kertas itu dan bahkan bibirnya pun sama putihnya. tapi bukan itu yang membuat David terdiam, ia ingat dengan betul mata yang kini menatap layaknya mayat hidup tersebut.


"Adelia?" bisiknya.

__ADS_1


__ADS_2