Kontrak Cinta 100 Hari

Kontrak Cinta 100 Hari
Mr.Perfectionis


__ADS_3

Di bandingkan membuang waktu dengan tidak melakukan apa pun, David mengisinya dengan mengecek setiap email yang masuk. email yang tentu aja berkaitan dengan kerjaannya, kalo enggak ngapain mau repot-repot ngelakuin hal tersebut di tengah waktu luangnya yang sangat berharga itu, saking berharganya Sampek gak ada waktu luang buat David. keliatan banget wajahnya yang jengkel saat sebuah email ia buka dan baca dengan cepat, hanya bola matanya yang bergerak mengikuti tanpa ada suara dan gerakan tapi rasa jengkel itu terlihat jelas di wajahnya. gimana gak jengkel kalo satu proyek yang tengah ia garap sekarang dalam keadaan kurang memuaskan, mungkin bagi orang awam atau pemula laporan yang ia baca sangat sempurna tanpa cela tapi itu tidak berlaku buat David yang kesalahan atau kekeliruan sekecil apa pun bakal ia lihat. itu adalah kelebihan yang ia miliki, tuan perfectionis adalah julukan untuknya. di mana semua pekerjaan harus sempurna hingga detail-detail yang orang lain anggap tidak penting tapi hal kecil itu bagi David dapat merusak kualitas serta kuantitas pekerjaannya. Hanya orang-orang yang memiliki mental baja dan fisik yang tangguh yang dapat berdiri kokoh di sampingnya, menjadi orang kepercayaan sang tuan perfectionis yang selalu menuntut kesempurnaan dalam keadaan apa pun.


"Andre, besok pagi datang ke kota D. periksa proyek yang tengah kita kerjakan di sana, ada yang gak beres di lapangan. cek setiap detailnya dan berikan laporan setelahnya."


Andre, sekertaris merangkap asisten pribadi David. orang yang sangat ia percaya dalam urusan bisnis dan bahkan urusan pribadinya, karater Andre yang tidak banyak bicara dan bertanya tapi langsung bertindak adalah keunggulan yang ia miliki. Andre dapat melakukan tugasnya dengan cekatan dan tentu saja dengan sempurna pula, tidak mudah mendapatkan orang semacam Andre. David bahkan harus mendidiknya bertahun-tahun untuk bisa menjadi bayangannya secara penuh, mengikuti semua cara mainnya dalam dunia bisnis dan mampu menyeimbangkan langkahnya agar mampu berjalan tepat di samping seorang David sebagai bayangan sempurnanya.


"Gunakan uang pribadi gue buat perjalanan bisnis kali ini, sekalian Lo pulang ke rumah Lo beberapa hari setelah selesai masalah ini." ujarnya yang ingat secara penuh bahwa kota yang akan Andre tandangi adalah kota kelahirannya, walau Andre tidak memiliki sosok ibu yang telah lama meninggal tapi masih ada sosok ayah yang selalu menantinya. bagi David, ayah Andre adalah ayahnya juga. Bagaimana pun ia meminjam putranya selama ini dan gak mungkin buat David melupakan sosok ayah yang sangat luar biasa tersebut, ayah yang telah merelakan anak semata wayangnya untuk ia sita waktu, tenaga dan bahkan kehidupan pribadinya.


Tak ada kata yang dapat Andre katakan selain mata yang berkaca-kaca, ia merasa sangat terharu dengan apa yang ia dengar. bagaimanapun tingkah dan kelakuan tuan mudanya yang kadang bikin dongkol itu tapi di balik sikapnya itu ia selalu ingat tentang sosok ayahnya, bahkan bosnya itu tidak pernah berkata tidak saat berurusan dengan ayahnya. pengobatan dan juga biaya hidup di tanggung secara penuh bahkan kehidupan ayahnya menjadi sangat terjamin atau bisa di bilang lebih dari cukup.

__ADS_1


"Bilangin samq beliau, maaf gue gak bisa ikut dan jenguk. lain kali kalau gak sibuk gue bakal jenguk beliau," ucapnya dengan nada suara rendah dan penuh penyesalan. mengenal Andre bukan hanya hitungan tahun, mereka telah lama kenal dan menjadi sahabat yang akhirnya persahabatan mereka berakhir menjadi rekan bisnis yang sangat erat hingga semua orang mengakui mereka berdua adalah pebisnis muda yang layak untuk di perhitungkan oleh orang-orang yang lebih tua umurnya.


"Beli beberapa oleh-oleh dengan duit gue, kalo Lo mau beli yang lain pakek aja duit Lo sendiri."


David mengerjapkan matanya perlahan, mendengarkan dengan cermat karena gak ada suara apa pun dari seberang sana.


"Dre, Lo tidur apa pingsan sih?"


"Enggak, gue masih stay kok."

__ADS_1


David mengangkat sebelah alisnya, sepertinya ia mendengar suara Andre sedikit berubah di bandingkan dengan sebelumnya.


"Lo nangis?" hal itu yang David simpulkan, David tau banget siapa Andre yang gampang mewek dengan hal-hal sederhana. padahal kalo udah di balik tumpukan kertas, laptop dan di lapangan berubah drastis. jangankan mewek, senyum aja gak pernah sekali pun. muka dan siafat nya langsung berubah kalo udah berurusan dengan pekerjaan, gak bakalan ada yang nyangka dengan sensitifnya hati seorang Andre yang gampang mewek dengan hal-hal kecil.


"Kata siapa?" kilahnya.


"Ya kata gue lah..." menahan senyum, "Gue tuh kenal Lo dari ingusan Sampek sekarang, jadi gue tau lah siapa Lo sebenarnya." apa yang David katakan bukan hal yang berlebihan, soalnya selain dia siapa lagi yang bisa mengenal Andre dengan sangat baik.


"Itu bisa-bisanya Lo ngarang." Andre tersenyum malu, walau gak ada yang liat tapi tetep aja berasa malu. Kalo Sampek orang lain liat bakal hancur image yang ia bangun selama ini, bukan cuma hancur tapi malah jadi bual-bualan rekan bisnisnya. tapi sekonyol-konyolnya David, tu orang untungnya mulutnya gak ember. jadi gak bakal ada yang tau dengan kebiasaannya itu.

__ADS_1


"Mana ad gue ngarang, udah gak usah pakek aja terharu dan terhura. kemasi yang perlu bawa, gue bakal siapin semua dokumen dan file yang Lo perlukan. gue kirim ke email Lo malam ini juga, Lo baca dan pelajari jadi Lo tau di mana letak kesalahan yang gue maksud. gue yakin ada permainan di lapangan yang bikin gue dongkol, kalo gak ada urusan gue sendiri yang turun dan membereskan nya."


"Iya, percaya sama gue. besok gue berangkat dan membasmi hama pengganggu."


__ADS_2