Kontrak Cinta 100 Hari

Kontrak Cinta 100 Hari
First kiss


__ADS_3

Entah karena bawaan lapar atau emang bubur yang David kasih beneran enak, Adel makan dengan sangat lahap. Makannya cepat banget lagi, udah kayak balap karung pas acara 17an di kampung.


Dengan ujung ekor matanya, David memperhatikan ujung sendok Adel yang gak berhenti sampai semua isi mangkok itu berpindah ke dalam perutnya. Kalo di lihat dari badan, gak bakalan mungkin ni cewek makan sebanyak itu. tapi di lihat dengan mata dan fakta lapangan semua itu terbantahkan dengan mulus.


"Terimakasih untuk sarapan, makan siang plus makan malamnya." kata Adel yang udah sangat kenyang itu, gimana gak kenyang kalo satu mangkok besar porsi kuli bangunan itu langsung ia habiskan tanpa sisa.


David tersenyum tipis hampir tak terlihat, bagaimana bisa Adel yang tadi udah kayak mau mati dan dalam hitungan detik langsung segar bugar kayak gak terjadi apa pun. Emang luar biasa pertahanan nie cewek.


"Untuk malam ini kita menginap disini dan besok pagi pindah ke apartemen gue."


"Hah?"


"Semua barang punya loe udah gue suruh orang buat pindahin dan sisanya sudah di urus asisten gue."


"Tung Tunggu dulu...."


"Kita tinggal satu apartemen gitu maksudnya?" tanya Adel lagi untuk memastikan apa yang ia dengar barusan itu bukan salah paham.


"Kita berdua?"


"Emang loe mau tinggal di parkiran apartemen gue?"

__ADS_1


"Bukan gitu juga, tapi kan...."


"Secara agama kita sudah resmi menjadi suami istri. jadi gak ada salahnya kalau kita satu atap."


Kata-kata yang David ucapkan itu benar tak terbantah kan. tapi tetap aja buat Adel gak terima, itu sudah menyimpang dari perjanjian kontrak yang mereka lakukan sebelumnya.


"Tapi kesepakatan kita dulu ...."


"Tenang aja, gue gak bakal ngelakuin hal yang sebenarnya halal dan boleh gue lakuin karena loe istri gue. mengingat loe masih di bawah umur dan kita menjalani ini bukan karena cinta jadi gue gak bakal nyentuh loe sebagai suami istri pada umumnya meski gue kasih nafkah full buat loe dan seharusnya itu hak gue." David diam sebentar, "kecuali gue dapat ijin dari loe buat ngelakuin semu itu." sengaja menyelipkan kalimat yang ia yakini mampu membuat Adel gak berkutik.


Adel menelan ludah mendengar penjelasan David yang panjang tapi ngena banget itu. miris banget kan, pernikahan yang dinantikan sekali seumur hidup malah jadi mainan kayak gini. Kalo gak karena tuntutan hidup dan terpaksa Adel gak bakal mau ngelakuin hal yang gak masuk akal ini, dan apa itu???


ijin apaan coba yang tu cowok maksud kan???


Lega denger penjelasan terakhir barusan, setidaknya masih ada harapan masa depan Adel yang terselamatkan.


"Tapi, kalo ada yang liat kita keluar bareng?" tanya nya lagi untuk mengantisipasi hal yang tidak di inginkan karena kesempatan selalu ada setiap saat tanpa terduga.


"Cukup ngomong kalo elo keponakan gue." Agak seret David ngomong kayak gitu, dari berbagai alasan yang ia cari, keponakan adalah hal yang paling mendekati karena usia mereka yang terpaut cukup jauh. padahal pengen banget mengumumkan ke semua orang tentang hubungan mereka secara resmi, apa boleh kalau itu semua tidak memungkinkan saat ini dan memerlukan waktu.


Adel tertawa kecil mendengarnya, ide yang sangat baik. Sama sekali gak terpikirkan sebelumnya.

__ADS_1


"Tidurlah," suara David melembut, "ini hari yang cukup berat buat loe." ujarnya dengan menatap lembut manik mata Adel yang terlihat sangat menawan. mata yang indah dengan bulu mata lentik nan elok. Seketika David memalingkan wajahnya, mencoba untuk menjaga pikirannya tetap waras. entah sejak kapan, iya mencintai dan menginginkan wanita yang telah menjadi istri itu untuk selamanya dalam hidupnya.


Sepeninggalan David yang memilih duduk di sofa dan kini telah tenggelam dengan dunianya sendiri, Adel merebahkan badannya. emang beda hotel bintang lima, kasurnya aja lembut dan nyaman. tapi itu semua gak bisa menyamai dengan enaknya kasur yang selama ini menemaninya. Adel merasa sedih harus meninggalkan rumah yang selama ini ia tinggali dengan nenek. Adel rasanya kangen banget saat-saat bersama nenek, untuk saat ini gak mungkin menemani nenek di rumah sakit karena ia masih sedikit lemas.


Adel perlahan terlelap dengan memandang David yang tengah asik dengan pekerjaan nya, dimana ada waktu cowok itu tidak pernah melewatkan pekerjaan nya. mungkin benar apa yang dulu David katakan bahwa ia tidak memiliki waktu untuk mencari seorang wanita, melihat bagaimana ia selalu sibuk setiap saat bahwa di semua kesempatan. Tampak sangat keren di mata Adel, seorang laki-laki matang dan berumur sedang bekerja dengan sangat serius. sesekali membenarkan letak kacamatanya dan itu membuat wajah Adel memerah karenanya.


*Ya Tuhan...


Jenis siksaan apa lagi ini....


jangan terlalu berharap Del....


sadar diri*....


Adel memejamkan dan menggelengkan kepalanya cepat, mengusir semuanya untuk tetap bisa berpikir normal dan menyadari bahwa semua itu hanyalah hayalan.


David merentangkan kedua tangannya, meluruskan pinggang serta otot-otot badannya yang sedikit kaku. lima jam berlalu begitu saja tanpa terasa, semua dokumen telah ia periksa satu persatu dan kini waktunya untuk beristirahat. besok siang ia harus pergi keluar kota untuk perjalanan bisnis, meski sebenarnya David tidak ingin melakukannya tapi itu harus ia lakukan karena Andre memiliki pekerjaan lain yang tidak bisa di tinggalkan untuk menggantikannya.


Wajah polos yang sangat mungil dan cantik itu yang pertama kali ia lihat saat memalingkan wajah, suara nafas yang teratur dan juga kedua kelopak mata tertutup rapat menandakan bahwa Adel tertidur cukup pulas. Dokter memberikan obat tidur agar Adel dapat beristirahat dengan maksimal, David memperhatikan wajah itu dengan berjongkok di samping tempat tidur. tanpa sadar ia mengulurkan tangannya dan mengelus lembut pipi Adel penuh kasih sayang, ia benar-benar mencintai wanita itu dan ingin melindungi sepenuhnya agar tetap aman dalam pelukannya.


"Loe itu kalo tidur kayak malaikat, tapi kalo udah kumat bikin gue pusing." katanya dengan tersenyum kecil mengingat berbagai tingkah polah adel yang tidak ia temui pada wanita lainnya, "tapi gue selalu menanti tingkah Lo yang abnormal itu."

__ADS_1


Semenjak Adel masuk dalam hidupnya, David merasakan berbagai macam perasaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.


Tanpa ragu, ia menempel bibirnya dan mencium bibir Adel dengan lembut.


__ADS_2