
David masih berdiri di depan teras rumahnya, melihat cewek pengantar makanan yang pergi gitu aja darinya. Uang yang tadi ia berikan masih ada di tangan, baru kali ini ada seseorang yang menolak uang tip yang ia berikan dengan jumlah yang menurutnya gak sedikit. Bukan itu yang membuat David terdiam cukup lama, tapi ia merasa wajah wanita itu pernah ia lihat sebelum mereka bertemu hari ini tapi David lupa di mana mereka pernah bertemu. Alih-alih memikirkannya dan bingung sendiri David lebih memilih untuk menyantap makanan yang telah ia pesan karena perutnya udah mulai konser dan keroncongan di bandingkan terkurung dalam memori yang gak jelas, mau di paksa tapi tetep aja gak ingat jadi biarin aja lah.
Adel yang keluar dari rumah besar, mewah nan megah itu sesekali melihat ke arah pintu pagar yang udah ke tutup. Jantungnya masih aja deg-deg ser liat pemandangan aduhai yang menggoda iman tersebut, gimana bisa tu cowok dengan santai dan cueknya keluar rumah cuma pakek baju setengah bahan yang menyilaukan dunia? Untung aja yang datang bukan tante-tante girang, kalo gak bakalan langsung di terkam dan di makan hidup-hidup tu cowok. Tapi gimana pun Adel mengakui dalam hati tu cowok emang ganteng banget, bikin mentega langsung meleleh di atas penggorengan. "Hari ini mata gue selain ternoda juga dapat pencerahan, tapi kalo inget duit dua ratus ribu yang tadi bikin hati gue langsung membeku. Ha ha ha ha ha...," Adel mentertawakan dirinya sendiri yang sok gengsi buat nerima tip padahal kalo udah kayak gini nyesel sendiri jadinya. Di bandingkan mikirin tip yang udah melayang karena di tolak itu mendingan sekarang Adel balik lagi buat kerja.
*******
"Gimana?" David berjalan mengitari meja kerja nya menuju sofa yang ada di ruang kerjanya itu, di sana duduk Andre dengan membawa amplop berwarna coklat yang ia letakkan di atas meja.
"Sudah tuan, saya susah mendapatkan semua informasi yang tuan inginkan di dalam sini." Menepuk amplop yang ia bawa, Andre merasa sedikit heran dengan bosnya itu yang menyuruhnya untuk mencari dan menginginkan informasi seorang wanita hingga sangat detail. Bertahun-tahun ia bekerja baru kali ini mendapatkan tugas yang membuatnya cukup heran, gimana gak heran kalau seorang bos penggila kerja tiba-tiba memerintahkan mencari informasi tentang seorang wanita yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas dengan sangat detail tanpa ada yang tertinggal.
David melonggarkan ikat dasinya sebelum mengambil amplop coklat yang kali ini jadi pemeran utama di sini, membuka tali yang tersemat dengan cepat-cepat dan gak sabaran dan melihat isi dalamnya. Hal yang pertama ia lihat adalah foto wanita berseragam yang tengah naik sepeda di pinggir jalan. "Jelaskan." Perintahnya dengan melihat dan mengambil beberapa foto yang ada di sana.
"Nama wanita itu adalah Adelia Putri, orang-orang memanggilnya dengan nama Adel."
__ADS_1
"Adel...," Ujarnya seperti gumaman yang terdengar.
"Iya, Adel bersekolah di SMA Tunas Bangsa."
"Bukankah itu sekolah tempat yayasan kakek?" Tanya David yang sedikit ragu, soalnya David gak berkecimpung dalam dunia sosial dan hanya fokus dengan dunia bisnis yang ia geluti. Kakek David adalah seorang laki-laki berjiwa sosial tinggi dengan memiliki beberapa yayasan sosial yang bernaung di bawah nama besarnya. Walau selama ini beliau pakum dari dunia bisnis yang telah membesarkan namanya dan di gantikan oleh satu-satunya cucu laki-lakinya tersebut namun Kakek aktif dalam dunia sosial.
"Benar sekali tuan, wanita itu berada di sana sebagai siswi penerima bea siswa dengan prestasi yang cemerlang. Bisa di bilang Adel ini adalah siswi terpintar yang sekolah itu miliki." Andre memperhatikan ekspresi wajah bosnya itu di sela-sela penjelasannya, tampak biasa saja dan tidak ada berubah dengan wajah datar tersebut.
"Lanjutkan."
"Jadi, ayah Adel merahasiakan anaknya dari istri dan keluarga barunya?"
"Betul tuan, itu yang saya dapatkan karena selama ini keluarga tersebut tidak pernah menyebutkan nama dan mengenalkan Adel ke publik."
__ADS_1
Keluarga Hermawan adalah keluarga yang kiprah bisnisnya sudah terkenal di mana-mana, sepak terjangnya dalam dunia bisnis bukan dalam hitungan tahun dan semua orang mengetahui hal tersebut.
David menyunggingkan bibirnya, seorang ayah yang membuang anaknya demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik lagi sangat memalukan dan membuatnya mual. Bagaimana mungkin bisa seorang ayah melakukan hal itu terhadap darah dagingnya sendiri. "Lanjutkan."
"Ibu Adel kini menikah lagi dengan seorang perwira polisi yang bernama Brigadir Jendral Polisi (Brigjen Pol) Adi putra Waseno dan memiliki dua orang anak."
"Apakah Ibunya juga melakukan hal yang sama dengan ayahnya?"
"Tidak tuan, Ibu Adel mengakui keberadaan sang putri kepada suami dan keluarga barunya. Bahkan Ayah tiri Adel sangat menyayangi putri tirinya tersebut, terlihat beberapa kali ia membawa dan mengenalkan kepada publik bahwa Adel adalah putri tertuanya."
David menganggukkan kepalanya, ia sedikit mengenal Brigjen Pol Adi putra Waseno. Mereka beberapa kali bertemu dalam beberapa kesempatan dan beliau adalah orang yang sangat hangat dan bersahabat jadi bisa di tebak bahwa mendapatkan satu orang putri tak akan mempengaruhinya. "Lanjutkan."
"Adel kini duduk di bangku kelas dua dan memiliki hanya satu orang sahabat di sana, di kucilkan dari pergaulan karena berasal dari kelas ekonomi bawah. Selain itu setiap pulang sekolah ia juga bekerja di sebuah cafe. Setiap hari ia akan berangkat setelah selesai sekolah dan bekerja hingga malam hari."
__ADS_1
Foto seorang wanita yang tengah memakai seragam pelayan cafe kini ada di tangannya dengan membawa nampan yang berisi beberapa makanan dan minuman, tampak senyum yang sangat manis terlihat di sana. Kali ini David dapat mengingat dengan jelas foto wajah yang ada di tangannya, Bukannya ini pengantar makanan yang kemarin??? Memperhatikan dengan teliti, Iya benar memang dia yang datang kemarin. Batinnya lagi setelah yakin, pantas saja David merasa familiar dengan pengantar makanan kemarin dan ternyata itu orang yang sama dengan yang menabraknya tempo hari. "Baiklah, cukup untuk informasi kali ini. Kembali bekerja dan ingat jangan ceritakan kepada siapa pun mengenai hal ini." Kata David mengingatkan untuk merahasiakan informasi yang ia inginkan.
"Baik tuan, anda bisa mempercayakannya kepada saya." Ujarnya dengan berdiri dan keluar dari ruang kerja bosnya itu tanpa berani bertanya.