Kontrak Cinta 100 Hari

Kontrak Cinta 100 Hari
Kesepakatan


__ADS_3

Adel yang masih syok itu diam di tempat tanpa bergerak, cuma bernapas dengan wajah khas orang yang baru sadar dari mimpi dan pindah ke dunia nyata.


"Kok bisa....."


David yang udah biasa dengan teriakan-teriakan setelah bertemu dan mengenal Adel itu pun duduk di pinggir tempat tidur dengan santai. udah kayak gak terjadi apa pun, padahal baru aja tadi dia ngebanting anak orang.


"Gue keluar dan nyuruh Lo buat nunggu, gue balik dan Lo ketiduran. gue pindahin dari kursi di balkon ke kamar karena gue gak mau Lo sakit gara-gara gue." ucapnya dengan merapikan kancing baju atasnya yang terlepas tanpa ekspresi.


"A-apa?!"


Dua orang beda ekspresi, yang satu udah panik level tertinggi tapi yang satunya santai banget kayak gak ngelakuin dan terjadi apa pun.


"Gue cuma nidurin Elo di sini." menepuk tempat tidur yang empuk, "gue adalah lelaki yang bertanggung jawab, jadi niat awal gue pengen tidur di sofa."


Ella mengerjakan matanya dengan mulut terbuka, dengan sendiri dan liat sendiri ekspresi cowok di depannya itu bikin Adel merasa horor. setelah apa yang terjadi tapi santainya gak ketulungan. ucapan Davis seolah-olah semua ini adalah kesalahan yang Adel bikin.


"tapi pas gue mau pergi, tiba-tiba elo narik tangan gue dan...." David menghentikan ucapannya, bayangan wajah Adel yang sangat menyedihkan semalam langsung terekam jelas di benaknya.


"Dan apaan?!" kata Adel yang antara horor plus penasaran, masalahnya Adel sama sekali gak ingat kejadian setelah dia tidur. kalo sebelum tidur ingat dengan sangat jelas, tapi setelahnya Adel sama sekali lupa.


"Sudah lah, gak perlu bahas masalah ini. yang jelas kita cuma tidur bareng dan gak ngelakuin hal-hal yang lebih." ujar David berdiri menuju kulkas. David perlu meminum minuman dingin untuk menyegarkan kepalanya yang sedikit pusing, ia merutuki dirinya sendiri kenapa kok bisa ngelakuin hal seperti ini. walau pun kenyataan nya mereka gak ngelakuin apa pun selain cuma tidur bareng.


"Cuma?" menirukan ucapan David yang terasa ringan di telinga.


"Lo gak mikir apa gimana nasib gue seterusnya setelah apa yang terjadi?"


"Nasib yang mana? lagian apa yang terjadi?" tanya David yang gak ngerasa ngelakuin hal-hal buruk sama anak orang.


"Gue gak bakal laku om buat nikah kalo cowok di luar sana tau pernah tidur sama om." ujar Adel dengan wajah putus asa. saking putus asanya pengen banget nyunsep ke dalam bagian bumi yang paling dalam Sampek gak ada yang bisa nemuin.


David tertawa kecil mendengarnya, nih cewek terlalu polos apa emang otaknya konslet ngomong kayak gitu. Tuduhan Adel udah kayak melakukan dosa yang gede banget, padahal cuma hal sederhana yaitu tidur bareng. iya cuma tidur bareng....


"masa iya seumur hidup jomblo?!"


udah lah, David gak bisa lagi nahan buat gak ketawa.


"Ha ha ha ha ha ha ha...."


"jahat banget sih?! orang serius malah di ketawain?!"


Cowok jangkung itu berbalik dan berdiri di hadapan Adel yang udah kusam, tu rambut udah kayak sarung burung gara-gara di garuk sendiri sebagai tanda frustasi.


"Mana ada cowok yang mau sama elo kalo penampilan elo aja kayak gini?" David berjongkok dan menatap Adel dengan tatapan mata serius. "Lagi pula, elo gak perlu penilaian dan pendapat dari cowok lain. elo juga gak perlu pusing mikirin jomblo seumur hidup atau enggak karena gue bakal tanggung jawab dan nikahin Lo."


"Hah?"


Adel menatap balik mata tersebut dan ia melihat kesungguhan. walau omongannya meyakinkan tapi bagi Adel tetap aja gak bisa dipercaya.


"bukannya gue udah ngasih kesepakatan? kontrak kita?" kata David mengingatkan lagi.


Adel hampir lupa dengan kontrak yang pernah cowok itu berikan, tadi udah nanggepinnya kalo nikah betulan.


nyadar dong Del....


mana mungkin cowok macam kayak gini mau nikahin cewek macam Lo....


tentu aja lah seleranya gak kayak elo, jauh banget gitu di atas elo.

__ADS_1


gak tau malu ya elo, masih ngarepin yang gak bakalan terjadi.


"iya, kontrak itu ..."


David berdiri dan berjalan pelan ke arah sofa, duduk dengan santai.


seketika Adel tersihir dengan pemandangan di depannya, kalau selama ini di mata Adel seorang David hanyalah laki-laki dengan selisih umur yang cukup jauh dan ekspresi wajah datar tapi kali ini ia melihat sosok laki-laki keren layaknya di film-film. ada aura dan kharisma yang membuatnya tersihir dan berbeda di bandingkan biasanya.


"Gue ngajak elo ketemu tadi malam buat kesepakatan kontrak yang pernah gue ajukan, bukannya elo juga mengajukan syarat ketentuan nominal uang yang Lo minta?"


Adel menunduk dan mengangguk malu, emang Adel pernah mengajukan jumlah nominal yang ia yakini cukup untuk pengobatan nenek dan juga ayah sambungnya. Bagi Adel gak ada pilihan lain selain kontrak pernikahan yang cukup menjanjikan dan David telah memberikan uang yang Adel minta. uang sebanyak itu David berikan tanpa bertanya apa pun dan Adel tau kini di mata cowok tersebut Adel hanya cewek matre yang menginginkan uang dari pria kaya demi kepentingan dirinya sendiri.


"Jadi mari kita bahas tentang isi kontrak kita, bukannya elo sudah terima uang yang Lo minta?"


Gak ada pilihan lain buat Adel selain menyetujui, cewek itu mengangguk dengan patuh dan duduk manis di atas tempat tidur dengan rambut yang berantakan tapi itu sangat manis di mata David. David harus memalingkan wajahnya itu menahan diri untuk tidak menerkam cewek di bawah umur itu, bagaimanapun David adalah laki-laki normal namun ia sadar bahwa ia juga laki-laki yang harus menjunjung tinggi moral dan etika.


"Apa ada yang elo ajukan selain isi kontrak itu?"


Adel mengangkat wajahnya, "itu....." gimana mau ngomongnya, Adel merasa canggung banget buat bahas masalah ini.


"Lo bakal tinggal di sini, di apartemen gue."


"Hah???"


"orang tua gue pasti bakal protes dan tau kalau kita hanya nikah bohongan kalau Lo masih tinggal di rumah Lo. gue nikah sama Lo karena alasan terkuat gue mereka." ujar David.


"Tapi bagaimana bisa kita....."


"Pernikahan kita bakalan resmi secara agama, walau gue tau Lo masih di bawah umur dan kita gak bakal bisa nikah secara hukum tapi kita nikah secara siri dan sah secara agama." kata David menjelaskan.


apaan ini....


Gak se simpel yang adel bayangkan sebelumnya, mana duit udah di pakek buat biaya berobat nenek dan di kasihkan ke mama. buat mundur gak bakalan bisa karena gak bisa balikin duit yang udah di kasih.


"orang tua gue selalu mendesak gue buat nikah dan kalau gue gak bisa bawa calon dan nikah dalam waktu dekat, mereka bakal nikahin gue sama wanita pilihan mereka." kata David menjelaskan dengan jujur.


"kenapa gak nikah aja, kalau orang tua Om cariin wanita yang menurut mereka layak.... bukannya itu lebih baik. bukan wanita sembarangan yang tentu aja menurut mereka layak buat anak mereka dengan kriteria tertentu." kata Adel.


"Lo kira pernikahan itu main-main? gue gak bakal mau nikah sama cewek yang gak gue kenal dan gue cinta. gue cuma mau nikah sama cewek yang gue mau, walau bukan sekarang."


"Ha ha ha ha ha ha...." Adel memegangi perutnya, rasanya geli banget denger kata-kata kayak gini dari orang yang nganggap pernikahan sakral dan bukan main-main.


David menatap Adel sekilas, ketawanya cukup nyaring dan meyakinkan kalo sekarang tu anak lagi ngejek dirinya.


Setelah puas ketawa tanpa gangguan akhirnya Adel membenarkan posisi duduknya, "Emang yang kita lakukan sekarang ini bukan main-main? mana ada pernikahan edisi kontrak terbatas kayak gini." kata Adel yang menohok hingga ke dalam Sukma.


"jadi pernikahan serius sama yang main-main itu gimana sih dalam pikiran om?"


Apa yang Adel ucapkan adalah kebenaran, tidak ada satu kalimat pembelaan yang keluar dari mulut David atas apa yang Adel katakan. ekspresi wajah David pun seperti biasa, datar dan tanpa ada emosi di dalamnya.


Mungkin bagi Adel pernikahan mereka adalah sebuah permainan, permainan di atas sebuah kertas kontrak yang akan berakhir setelah tiga bulan. tapi bagi David, itu adalah awal dalam mengambil hati wanita tersebut. Bukan perkara yang mudah untuk menaklukkan dan memiliki Adel secara penuh dan iya menyadari.


"Selama Lo jadi istri gue, bersikaplah yang baik. jangan Sampek Lo bikin nama gue jelek di depan publik."


"Tunggu dulu...."


"Apaan itu nama jelek di depan publik? gue gak mau ada yang tau perihal masalah ini. Lo mau gue di cap sebagai cewek gak tau malu yang ngerayu om-om?"

__ADS_1


"Apa?" rasanya surprise banget dengernya, gimana bisa anak ingusan itu punya pemikiran tersebut.


"iya lah, bagaimanapun pandangan publik bakalan jelek nya itu ke pihak ceweknya di bandingkan cowok. apa lagi om adalah orang yang punya kedudukan dan juga uang, pasti semua orang bakal nilai jelek nya ke Adel." ujar Adel mengemukakan pendapatnya.


"Lagian, coba om pikir. cowok matang dan mungkin bakal kelewat matang mau punya hubungan sama anak di bawah umur yang masih sekolah. belum lagi latar belakang keluarga kita yang beda, anda dari kasta bangsawan dan saya dari kasta rakyat jelata."


Davis tersenyum kecil mendengar ucapan Adel, bahasanya udah kacau balau. dari yang elo gue, om dan akan bawah umur Sampek ini pakek sebutan anda dan saya.


"Dari segi umur, kasta, pendidikan dan juga kehidupan kita adalah dua orang yang bertolak belakang. itu udah bukti kalo semua tuduhan jelek bakal di arahkan buat Adel." ucapnya penuh dengan keyakinan kalau pendapatnya itu benar.


"Jadi Adel mau, pernikahan kita di rahasiakan. kecuali hanya beberapa pihak yang tau, pihak yang emang bersangkutan dengan kontrak kita."


"siapa pihak tersebut?" kata David yang berusaha mendengarkan keinginan Adel.


"Tentu aja keluarga om dan kita berdua."


"lalu keluargamu?"


"lagi pula Adel gak punya keluarga, nenek yang sekarang gak sadar kan diri." katanya dengan sedih.


"orang tua lo?" bukannya Adel memiliki orang tua kandung yang masih lengkap dan hidup meski mereka tidak hidup bersama, David tidak bisa mengindahkan keberadaan mereka begitu saja.


"mama sekarang sedang sibuk banget dan gak bisa di ganggu," Rasanya Adel gak mungkin menambah beban pikiran mama, saat ini mama sedang berjuang untuk mendampingi papa. sama seperti nenek, papa juga sedang berjuang untuk tetap bertahan hidup dan dapat membuka mata kembali. kalo Adel ngomong bakal nikah dan itu pun hanya pernikahan sementara, pasti bakal nambah pikiran mama dan Adel gak mau membebani mama saat ini.


"Ayah..." Adel menggantungkan kata-katanya, rasanya berat dan males banget mengungkit tentang Ayah. Sosok yang seharusnya ada bersamanya dan melindungi Adel, tapi apa mau di kata jika semua itu hanyalah sebuah mimpi.


"Ayah saat ini sedang bekerja di luar negeri, rasanya gak mungkin buat pulang." kata-kata itu yang Adel pilih, walau sebenarnya Adel yakin bahwa David mengetahui segalanya tapi Adel lebih memilih untuk berpura-pura semua baik-baik saja.


"Lagi pula, kita hanya pasangan palsu yang terikat oleh sebuah pernikahan kontrak." ujarnya dengan memelankan suara.


Entah kenapa, David merasa geram dan ingin meledak saat mendengar Adel mengucapkan hal tersebutlah meski itu adalah kenyataan yang mereka hadapi.


Tak ada yang bisa David lakukan selain menarik nafas panjang dan berusaha untuk menyimpan rasa kecewanya tersebut dan mengemasnya dalam raut wajah tanpa ekspresi.


"Baiklah, gue gak akan menyentuh kehidupan Lo saat ini. Lo akan sekolah seperti biasanya tapi gue gak akan membiarkan Lo bekerja di cafe. gue hanya ingin Lo fokus belajar dan juga mengurus nenek."


Adel mengangguk patuh, syarat yang gak susah dan kalo di lihat dari segala sisi ia tidak di rugikan.


"Kita akan merahasiakan pernikahan kita dari publik, dari relasi bisnis gue, temen-temen gue, atau orang lain kecuali keluarga gue. itu pun berlaku buat elo, saat di luar kita hanya orang asing tanpa saling kenal." ujar David berusaha menjaga suaranya tetap stabil.


"Tapi, selama lo jadi istri gue meski itu hanya kontrak gue harap Lo tau posisi Lo."


"Gue tau, walau gak terlalu ngerti sih...."


Adel sedikit banyak tau bagaimana tugas seorang istri yang harus membersihkan rumah dan keperluan suami.


"Setiap pagi Adel bakal bikin sarapan sebelum berangkat sekolah, bakal bikinkan bekal buat ke kantor, cuci baju, membersihkan rumah dan hal-hal lainnya." kata Adel dengan raut wajah merona, gak pernah membayangkan kalau itu semua terjadi begitu cepat. dulu aja bayangin buat main masak-masakan dan rumah-rumahan, ini mainnya udah hampir kayak beneran.


"Semua perkejaan bakal Adel lakuin,"


David terdiam, awalnya David tidak memasukkan daftar tersebut dalam pernikahan kontrak mereka. Semua pekerjaan rumah di lakukan oleh asisten rumah tangga.


"Jangan pandang badan Adel yang kecil, Adel punya tenaga yang lebih kalo cuma buat ngelakuin itu semua." katanya meyakinkan.


"Lagi pula Adel di sini gak gratis kok, om udah bayar Adel cukup banyak."


********

__ADS_1


__ADS_2