
sepersekian detik Adel terdiam, bingung mau ngomong apaan tapi yang jelas kata-kata yang keluar dari mulut David itu berasa mengandung makna yang tersirat dan tersurat. perlahan ia meletakkan sendok yang ia pegang dan duduk lebih manis dengan wajah polos, Adel mendongakkan kepalanya dan menatap sepasang mata yang terlihat jelas sangat lelah.
"Begini, terimakasih buat semua yang telah om lakuin buat Adel. walau kita bukan siapa-siapa tapi om udah baik banget sama Adel. Adel gak tau gimana harus bales kebaikan om, bahkan sekarang dalam keadaan lapar pun om rela biarin Adel makan duluan." katanya tulus dari lubuk hati yang paling dalam, ngerasa gak enak juga.
"Om orang yang sangat baik, bahkan sangat baik." kata Adel lagi dengan mata berkaca-kaca, mengingat apa yang laki-laki itu telah lakukan selama ini membuatnya terharu. bahkan mereka tidak memiliki ikatan darah sama sekali, tapi David seperti seorang ayah yang selalu melindunginya.
Ya Tuhan...
Apa yang ni anak lakuin???
David bertarung dengan dirinya sendiri Sampek puyeng gara-gara liat ekspresi wajah Adel yang benar-benar imut dan menggemaskan.
Masak iman gue goyah gara-gara cewek macam ginian?
di luar sana kan banyak yang lebih tapi kok bisa gue malah panas dingin sama bentuk kayak ginian???
Saking serunya perang argument dalam kepalanya sampai- sampai David tidak mendengar apa yang Adel katakan.
Yang lebih wow di bandingkan ginian tuh banyak di luar sana, masak iya gue....
David menggelengkan kepalanya pelan, mencoba mengusir argument yang entah datang dari mana itu.
Masak iya gue jatuh cinta sama anak di bawah umur???
__ADS_1
Mata David terbelalak setelah berbagai macam istilah-istilah yang berseliweran di kepalanya itu akhirnya menemukan ujung pangkal masalah. dengan menelan ludah ia mengarahkan matanya ke arah Adel yang duduk di lantai beralaskan karpet. mata mereka bertemu dan beradu hingga akhirnya David menyadari kepolosan yang selama ini Adel perlihatkan itu tidak ia temukan pada wanita mana pun yang pernah dekat atau mendekati nya. Sosok Adel yang sederhana dan apa adanya serta seorang wanita yang berjuang untuk hidupnya sendiri membuat David terpesona secara perlahan, perlahan perasaan itu muncul karena kebersamaan. entah itu ketidak sengajaan atau memang rencana Tuhan.
"Gak! Gak mungkin!" katanya menyangkal dengan nada tinggi.
Adel yang dengan niat tulus ngomong kayak tadi langsung kaget, udah semanis madu merangkai kata malah di balas dengan teriakan dan bentakan. stok bikin Adel mengerjap kan matanya dengan cepat dan berulang kali. sampek-sampek Adel mundur dan memberikan jarak di Antara mereka.
"Apa sih yang gue pikirin?!" kata David frustasi dengan mengacak rambutnya dan menepuk jidad nya sendiri, bahkan air soda kemasan ia teguk dengan sekali tegak tanpa menyisakan setetes pun.
"Dimana harga diri Lo sebagai lelaki kalo gini aja Lo udah goyah ?!"
"Lo mau bikin gue malu apa dengan sikap Lo ini hah?!"
"Parah Lo?! parah?!"
Adel mengedarkan ujung matanya untuk mencari sosok yang di maki, tapi hanya ada mereka berdua dalam ruangan tersebut. tapi gak mungkin David menunjukkan apa yang ia katakan pada Adel, soalnya David menggunakan lelaki dan jelas-jelas Adel wanita. tapi.... di sini cuma ada mereka berdua yang artinya....
Langsung merinding bulu kuduk Adel, membayangkan hal-hal kasat mata selain mereka berdua.
David yang merasa kesal dengan apa yang terjadi dengan dirinya itu melampiaskan semuanya tanpa kendali, gak nyadar kalo ada orang lain selain dirinya dalam ruangan yang sekarang lagi ketakutan tanpa alasan. setelah sedikit tenang, David duduk dan mengatur nafasnya. Ia menangkap sosok yang duduk dengan wajah pucat dan syok dengan menatapnya takut, siapa lagi kalo bukan Adel yang sejak tadi menjadi saksi mata tunggal atas apa yang David katakan dan lakukan.
Ya Tuhan....
David menarik nafas panjang dan mengusap wajahnya, gak mungkin juga ia menceritakan pangkal masalah yang bikin David meledak-ledak tak terkendali.
__ADS_1
"Itu..." Cari kata yang tepat itu untuk saat ini menggambarkan apa yang telah terjadi sangat-sangat lah susah. ibarat pepatah seperti mencari jarum di tumpukan jerami.
"Adel cuma makan sedikit kok om, jadi gak usah marah segitunya." kata Adel yang udah berkaca-kaca.
"ini bukan masalah makanan," lebih frustasi memikirkan alasan yang tepat.
"kalo gak masalah makanan terus apa?" udah mau ngetes tuh air mata yang di ujung mata.
"Pokoknya bukan masalah makanan atau apa pun."
"Adel tau kok kalo nyusahin om selama ini, buang-buang waktu berharga orang kayak om." ujarnya yang udah mulai netes tuh air mata. sebenarnya bukan keinginan Adel buat nangis gini, tapi gak tau kenapa air matanya netes sendiri tanpa komando. mungkin karena hati dan fisik Adel yang sangat lelah menghadapi semua itu jadi Adel jauh lebih sensitif di bandingkan biasanya, biasanya Adel adalah sosok yang tegar dan gak bakalan nangis dengan hal yang sangat sepele kayak gini. jangankan cuma di bentak gini dan itu pun bukan untuknya, yang lebih parah juga banyak tapi gak tau kenapa pengen nangis aja. malah pengen nangis kenceng.
"Adel lahir di dunia ini cuma buat nyusahin orang lain, nyusahin mama dan nenek, nyusahin temen-temen Adel dan sekarang nyusahin om."
Makin pusing kepala David menghadapi cewek yang mewek, gak ada pengalaman sebagai buaya buat bujuk cewek. alhasil David panik sendiri.
"hiks_hiks_hiks..." Adel mengusap air matanya yang berjatuhan tersebut.
"Bahkan ayah ninggalin Adel dan mama, ayah lebih memilih orang lain di bandingkan dengan kami."
David membeku mendengarnya, bukan pertama kali ia mendengar kata-kata yang sama namun tetap saja itu bagaikan sebuah pisau tajam yang menusuk hatinya.
"Adel gak berguna dan cuma nyusahin orang ! kenapa Adel harus lahir kalo cuma kayak gini. huwa.....!!!" meledak lah air mata yang di tahan sejak tadi, Adel menangis sejadi-jadinya tanpa permisi dan malu-malu. udah banyak beban yang ia tanggung dan rasanya menyesakkan sekali, sangat menyesakkan hingga Adel merasa gak mampu bernafas. Di usianya saat ini, dimana anak lain bermain selayaknya tapi Adel harus menjalani hidup yang cukup berat. jauh dari orang tua dan harus bekerja demi mencukupi hidupnya.
__ADS_1
David perlahan turun, duduk di hadapan Adel yang menangis layaknya anak kecil kehilangan mainan kesayangannya. sungguh pilu mendengarkan tangisan itu, ia mengulurkan tangannya dan merengkuh Adel dalam pelukannya. mengusap punggungnya dengan lembut dan membiarkan bajunya basah oleh air mata Adel yang semakin lama semakin deras.