Kontrak Cinta 100 Hari

Kontrak Cinta 100 Hari
paper bag


__ADS_3

"Siapa Del cowok ganteng yang tadi?"


Jiwa kepo Siska meronta-ronta tak tertahankan melihat pemandangan langka di depan matanya tersebut. Gimana gak langka kalo selama bertahun-tahun kenal Adel gak pernah dengar kabar atau gosip apa pun tentang dia yang ada sangkut pautnya sama makhluk berjenis kelamin cowok dan sekarang muncullah cowok ganteng bak pangeran cariin dia, udah kayak sim salabim keluar dari labu (Kayak cerita timun emas dan perpaduan cinerella😂).


Adel yang baru aja masuk itu kaget luar biasa, gimana gak kaget tiba-tiba aja Siska nongol pas banget di depan hidungnya gak pakek komando sama sekali.


"Lo Sis, ngagetin gue aja." Mundur beberapa langkah buat menghindari tabrakan, tadi udah nabrak tembok masak iya mau nabrak Siska lagi?


"Lo mau bikin gue jantungan apa?" sungut Adel yang kaget, cuma kaget Sampek ke level marah.


"Sorry Del, saking semangatnya gue. He he he he he...." menggaruk kepala yang gak gatal sama sekali itu. "Cowok Lo?" itu pertanyaan pertama yang ada dalam pikirannya buat di lontarkan sama Adel.


"Bukan, kakak kelas gue." Sambil jalan ke arah ruang ganti pakaian yang di sediakan cafe yang diikuti di sama Siska. Ni anak ngekori udah kayak anak ayam aja, iya lah ngekori ada maunya kan?


"Kakak kelas?" Tanya Siska sedikit heran, ada cowok sekeren itu ternyata di sekolah Adel.


"Iya, emang kenapa?"


"Gue gak percaya."


"Terserah Lo mau percaya apa enggak, emang fakta dan realita nya kek gitu."


"Ok gue percaya deh kalo gitu."


Emang plin plan ni anak, baru aja ngomong gak percaya tapi belum satu menit udah berubah haluan. "Menurut gue dia suka sama Lo Del." menurut kaca mata cinta versi Siska.


"Tau dari mana Lo?" Ucap Adel sangsi, gimana gak sangsi coba....

__ADS_1


kalo posisi Siska sendiri tu jomblo masih bisa ngomong kek gitu yang kayak udah senior dalam percintaan.


"Mana ada coba cowok yang nyamperin cewek kalo gak punya perasaan suka?"


"Ada, contohnya Ikhsan yang sering banget elo. malah setiap waktu dan setiap ada kesempatan." Balas adel gak mau kalah.


"Ikhsan itu gak usah Lo itung sebagai cowok, lagian bukan cuma cewek tapi juga tiang listrik bakal ikhsan samperin."


Adel tersenyum, yang di bilang Siska ada bebernya juga. Ikhsan sama semua orang emang suka sok kenal sok deket.


"Dia ngajak gue ke bazar buku, sekalian mau beli kado buat sepupu atau siapa gitu gue lupa."


Ujar Adel yang mencoba menerka-nerka, pikunnya makin lama makin akut.


"Kalian temen Deket?"


"Fix! Dia suka sama Lo. Kali ini gue yakin banget, gak cuma seratus persen tapi udah ke seribu persen." sambil ngangguk-ngangguk untuk meyakinkan apa yang ia katakan, yakin dengan penuh bangga.


"Kak Azkha? Suka sama gue?"


entah pertanyaan itu di lontarkan buat Siska atau dirinya sendiri yang jelas denger Siska ngomong kek gitu bikin Adel ngerasa aneh aja.


Mana mungkin lah sosok Azkha yang ternyata di gandrungi hampir seluruh populasi cewek di sekolahnya itu naksir sama cewek kucel dan miskin macam Adel.


impossible....


kek bumi dan langit yang jauh banget.

__ADS_1


"Mustahil...."


Adel melepaskan seragam kerjanya yang masih Setia di dampingi oleh Siska di sampingnya, semacam pengawal yang lagi bertugas buat mastiin gak ada yang lecet.


"Kok mustahil? percaya deh sama intuisi gue." Sok yakin banget Siska ngomong nya.


"Eh non, intuisi Lo tuh eror dan gak bisa di percaya." Adel membuka paper bag yang dari tadi di tenteng itu, pemberian dari Azkha yang lagi duduk manis di depan. Ternyata isi dari paper bag itu adalah hodie berwarna putih dan juga celana jeans.


Mata Siska yang cepat tanggap itu langsung on pas liat isi paper bag yang Adel tenteng, gimana gak on kalo Siska tau banget tu hodie yang ada di tangan Adel adalah keluaran label ternama yang buat beli aja Siska harus nabung gajih nya kerja di sini selama tiga bulan. apa lagi itu keluaran terbaru yang gak banyak di produksi.


"Ajib... Lo dapat dari mana?" Langsung merebut dari tangan Adel buat mastiin asli apa enggak, tapi kalo di liat dari tempatnya sih emang asli no kaleng-kaleng.


"Di kasih sama kak Azkha, emang kenapa?" heran aja tu anak muterin hodie Sampek di bolak-balik gak karuan. kalo aja tu bisa ngomong bakalan teriak kencang-kencang protes sama apa yang Siska lakuin.


"Serius Lo?" Matanya Siska udah kayak telor ceplok dengernya. gak di ragukan lagi kalo cowok yang namanya Azkha itu selain suka juga tajir, bukan cuma hodie tapi celana jins keluaran terbaru dengan label yang sama. kebayang berapa uang yang di keluarin buat buat dua benda itu.


"Lo nyebelin, dari tadi nanya serius Lo? serius Lo?" Adel ngambil balik tu hodie dari tangan Siska, kapan gantinya kalo nge-gosip terus.


"Gue mau ganti, gak kelar ngomong sama Lo terus kayak gini."


******


Azkha mengambil hp yang ia taruh di dalam kantong hodie yang ia pakai, nunggu Adel buat ganti Azkha memilih buat liat kerjaannya. walau masih anak sekolahan Azkha udah punya usaha sendiri, cowok keren itu terbiasa bermain saham untuk kerjaan sampingan selain membantu ayahnya mengerjakan beberapa pekerjaan kantor saat ia memiliki waktu luang. Azkha telah terbiasa melakukannya untuk di persiapkan sebagai penerus dari ayahnya, karena ia hanya memiliki satu orang saudara perempuan yang masih kecil. sebagai anak tertua dan seorang laki-laki Azkha di berikan kepercayaan menggantikan ayahnya suatu hari nanti saat ia dinyatakan layak dan mampu mengambil semua tanggung jawab tersebut.


Sederet angka yang muncul mampu membuat Azkha tersenyum puas, puas dengan apa yang ia dapatkan hari ini. perhitungan yang ia lakukan gak pernah meleset dan itu sangat menguntungkan untuk menambah pundi-pundi rupiah ke dalam rekeningnya, bermain saham adalah keahlian yang Azkha miliki. Dengan begitu Azkha mampu membeli apa pun yang ia inginkan dan mencukupi segala keperluan hidupnya tanpa harus tergantung pada kedua orang tuanya. Pada usianya saat ini Azkha mampu membeli apartemen, mobil dan beberapa properti yang ia miliki dengan hasil kerjanya. ayahnya pun memberikan uang untuk pekerjaan yang ia lakukan di kantor, walau pun Azkha terlahir dari keluarga berada dan terpandang itu tidak membuatnya tumbuh dan menjadi pria pemalas yang menggantung kan hidupnya kepada orang tuanya.


"Kak?"

__ADS_1


__ADS_2